*Sembilan Ketukan*
Sutrisno: Ko, jujur
nih. Sepertinya saya agak ragu bisa menyelesaikan proyek ini.
Eko: Jangan begitu
dong, begitu saja takut. Sudah, tenang saja. Nanti saya temanin di sini. Kamu
mau ke kamar mandi, saya temanin, tapi dikelarin dulu kerjanya.
Sutrisno: Habis
begitu sih. Baru kali ini saya digangguin, digodain seperti ini.
Eko: Tri, sabarlah.
Dipercepat saja, nanti saya bantuin semua.
Sutrisno: Tapi kamu
janji ya, syaratnya seperti itu. Tapi kalau saya digangguin lagi, saya cabut
dari pekerjaan ini. Masalahnya saya benar-benar ketakutan.
Malamnya, Sutrisno
kembali bermalam. Namun kali ini, ada dua tetangga yang ikut menemani, begadang
dan menginap di sana.
Tok tok tok! (3X)
Saat mereka masih
begadang, sekitar jam 10 malam, kembali terdengar suara ketukan sembilan kali,
tapi kali ini di tembok rumah sebelah samping.
Sutrisno dan kedua
tetangga saling pandang.
Eko: Loh, kok sudah
datang jam segini. Biasanya dia datang selepas tengah malam.
Ternyata yang
mengetuk adalah teman yang lain, yang datang ikut bergabung.
Sutrisno: Wah parah,
pakai ngerjain!
Ramai-Ramai: Hahaha!
Di antara mereka,
Sutrisno yang paling pucat.
Mereka melanjutkan
begadang. Sekitar jam 01.00 WIB barulah mereka tidur.
Tetangga 1: Tidurlah,
tidurlah. Nanti ada yang ngetok-ngetok!
Sutrisno: Tidurlah.
Malam ini saya bisa sedikit tenang karena banyak yang temani. Pasti
kuntilanaknya enggak berani datang.
Mereka akhirnya
tidur.
Namun, baru sekitar
kurang dari sejam tidur, Sutrisno terbangun dengan kesal. Ia mendadak ingin
kencing.
Sutrisno: Ko, bangun,
Ko. Temani saya.
Eko pun bangun.
Eko: Temani apa?
Sutrisno: Saya mau
kencing.
Eko: Ah, mau kencing
saja minta ditemani.
Sutrisno: Saya enggak
akan lanjutin pekerjaan nih!
Eko: Iya, iya, iya!
Eko terpaksa menemani
Sutrisno pergi ke kamar mandi.
Eko: Tri, sudah, Tri?
Sutrisno: Sebentar.
Buru-buru amat sih!
Akhirnya Sutrisno
selesai kencing dan keluar. Dia merasa cukup lega.
Eko kembali ke sofa. Sutrisno
kembali rebahan di antara teman-temannya.
Kricik kricik kricik!
Tiba-tiba terdengar
suara seperti langkah kuku tangan di atas genteng. Hanya Sutrisno yang
mendengar, karena yang lainnya sudah tidur.
Sutrisno: Aduh, itu
apa lagi? (Bicara sendiri)
Sutrisno: Ah, mungkin
suara binatang. Asal jangan suara ketukan.
Tok tok tok! (3X)
Namun, baru saja
berpikir seperti itu, Sutrisno kembali mendengar suara ketukan di pintu. Ia pun
terkejut ketakutan.
Sutrisno: Kenapa saya
terus yang dengar?
Clek! Sreeet!
Handle pintu ada yang
menggerakkannya dari luar, lalu mendorong membuka pintu.
Karena banyak yang
menginap di malam itu, pintu tidak dikunci atau lupa dikunci.
Sutrisno semakin
tegang. Dia buru-buru miring ke kiri, membelakangi arah pintu. Ia pejamkan
matanya kuat-kuat. Di depannya ada temannya dan di belakangnya ada temannya
juga yang sedang tidur.
Sutrisno: Itu
kuntilanaknya masuk! Itu kuntilanaknya masuk! (Dalam hati)
Sutrisno mulai
mencium bau wangi, tetapi bikin pusing. Dia tidak tahu bau wangi apa itu.
Setelah itu ada pula bau lumpur atau tanah basah, ditambah bau bangkai kering.
Sutrisno: Sumpah, kuntilanaknya
sudah masuk ini, kuntilanaknya sudah masuk! (Dalam hati)
Namun, setelah sekian
lama, Sutrisno tidak mendengar suara apa-apa. Ia pun penasaran.
Sutrisno membuka
matanya dan pelan-pelan menengok melihat ke belakang dan ke atas kepalanya.
Jreng!
Ternyata sosok
kuntilanak telah berdiri di atas kepala Sutrisno. Sutrisno melihat dengan jelas
wajah kuntilanak itu.
Wajah kuntilanak itu
rata dan berwarna hitam.
Sutrisno: Aakr …!
Aaakr …! (Histeris penuh ketakutan)
Jeritan Sutrisno
mengejutkan dan membangunkan Eko dan teman-teman yang lain.
Eko: Tri, Tri, Tri! Kamu kenapa? Kamu kenapa? (RH)


Itu mbak kunti kenapa iseng banget sama Sutrisno sih? Apa karena dia orang baru?
BalasHapuskuntinya pinter. pasti waktu sekolah rangking 3 besar
Hapus