*Miliarder Ular Biru*
Radit berjalan memasuki gudang pabrik dengan langkah agak terpincang. Semua karyawan yang ditemuinya memandanginya.
“Katanya kecelakaan,
Pak?” tanya salah satu karyawan gudang yang sebelumnya sudah dapat kabar
tentang Radit.
“Iya, lagi apes,”
jawab Radit singkat.
Setibanya di meja
kerjanya, Radit segera mengirim pesan ke beberapa orang yang memesan hp kredit
kepadanya, yang hari itu dia bawa barangnya.
Dia memerintah
seorang stafnya untuk mengambilkan obat merah dan minyak gosok. Kondisi kakinya
yang sakit memaksa Radit untuk menahan diri dari gerilya marketing-nya.
Dia tidak mau kakinya tambah bengkak.
Untungnya, hari itu
atasan tidak mempermasalahkan keterlambatannya. Ketika Bos beberapa kali
meneleponnya, hanya menanyakan masalah barang yang ada di gudang. Urusan
bongkar muat barang pun ditangani oleh wakilnya. Dia memilih lebih banyak duduk
di meja kerjanya.
Pada jam istirahat
pun dia menyuruh anak buahnya membelikannya makan di kantin.
Apa yang dia alami
pagi ini sangat mengganggu pikirannya, terutama kemarahan istri dan keluarga
istrinya yang dia anggap berlebihan.
“Kalau menunggu
sampai urusan ke pinjol selesai baru aku boleh ketemu Andini, bisa selama satu
tahun. Mereka pikir burungku bisa puasa selama itu? Kalau aku main perempuan,
aku juga yang tersalah,” pikir Radit tidak habis pikir.
Radit semakin pusing
ketika sudah bisa mengkalkulasikan keuangannya. Dia masih bisa aman jika semua
angsuran kredit hp terbayar pada awal bulan, tapi dengan risiko dia tidak akan
memiliki uang belanja.
“Lebih baik nanti aku
prioritaskan bayar cicilan pinjol. Aku rasa Erwin bisa kasih keringanan, ini
kan baru yang pertama karena kondisiku lagi kacau,” batin Radit.
Meski hitung-hitungan
keuangan Radit sudah jelas angkanya, tetapi kekurangan yang dia alami tetap
menjadi beban pikiran. Bunga yang berlipat dan pengeluaran biaya sepeda motor
menjadi faktor besar dari kekurangannya pada bulan ini.
“Aku harus cari
konsumen kredit yang banyak biar angsuran awal bisa menutupi,” pikir Radit.
“Pulang kerja, coba aku tawarin ke Pak RT. Dari Pak RT, nanti informasinya bisa
cepat nyebar.”
Trinot trinot…!
Nomor Pak Suhardi
selaku manajer di perusahaan tersebut menelepon hp Radit di saat sedang dipakai
lihat status-status orang lain di media sosial.
“Ya, hallo, Pak?”
sapa Radit setelah menempelkan gawainya di telinga.
“Dit, tolong sebelum jam
pulang, elu ke ruangan gua dulu!” perintah Suhardi.
“Siap, Pak,” jawab
Radit.
Hanya itu isi
percakapannya. Singkat sekali, tapi meninggalkan buntut tanda tanya yang
panjang di dalam kepala Radit.
Singkat waktu. Dua
puluh menit sebelum sirene pulang berbunyi, Radit beranjak dari kursinya.
“Aduh! Kok tambah
sakit? Kayaknya tambah bengkak,” ucap Radit kepada dirinya sendiri saat
merasakan sakit yang meningkat ketika ia melangkah.
Namun, mau tidak mau
dia harus pergi menghadap ke manajer yang ruang kantornya cukup jauh di gedung
utama perusahaan. Untuk sampai ke sana, Radit harus berjalan melewati bagian
produksi potong, bagian jahit, bagian gosok, hingga bagian pengepakan. Turun naik
tangga pula.
“Apa boleh buat,”
ucap Radit.
Akhirnya Radit pergi
berjalan melintasi bagian demi bagian dari pabrik dan perusahaan itu. Melihat
Radit berjalan terpincang, para karyawan yang sebentar lagi pulang jadi
memerhatikan.
Sebenarnya bukan
karena faktor pincang saja yang membuat Radit menjadi pusat perhatian, tetapi
ada faktor lain, yaitu berita tentang dirinya yang terjerat pinjol telah
menjadi topik utama gosip hari itu. Hanya, Radit tidak tahu dan tidak sadar
bahwa dirinya telah menjadi buah bibir di lingkungan perusahaan. Karena
seharian memilih duduk di meja kerjanya di gudang, dia tidak mendengar banyak
informasi.
“Kenapa, Pak Radit?”
tanya seorang karyawan bagian pengepakan saat berpapasan dengannya di lorong
pabrik.
“Kaki bengkak, habis kecelakaan,” jawab Radit.
“Kalau bengkak dipakai jalan jauh dari gudang, nanti
tambah parah, Pak,” kata karyawan itu mengingatkan.
“Sudah tahu, Anjir!” rutuk Radit, tapi hanya di dalam
hati. Adapun katanya kepada karyawan itu, “Habis bagaimana, dipanggil Bos?”
Ada beberapa karyawan yang bertanya ketika bertemu dengan
Radit. Pertanyaannya sama, tentang kondisi kepincangan Radit. Tidak ada yang
bertanya tentang pinjaman online, meskipun ada yang gatal ingin
bertanya.
Hampir semua karyawan tadi pagi sempat melihat keberadaan
dua orang besar dekat pos satpam, yang kemudian terkonfirmasi dari obrolan
bahwa dua orang itu adalah debt collector yang mencari Radit.
Sebenarnya Radit merasa risih ketika dia lewat, para
karyawan menengok memandangnya. Durasi pandangan mereka pun sedikit lebih lama
dari sekedar melihat sepintas lalu.
Semakin banyak yang bertanya ketika Radit masuk ke area
kantor. Sebagai kepala gudang, tentu dia kenal banyak staf dan pejabat setara
atau lebih tinggi. Jelas banyak yang bertanya mengenai kondisinya, karena
sebelumnya mereka belum pernah bertemu Radit pada hari itu.
Mau tidak mau Radit pun menjawab satu per satu atau
secara umum. Jelas tidak ada alasan bagi Radit untuk marah meskipun dia kesal
di dalam hati. Pertanyaan itu jelas bagian dari perhatian mereka kepada rekan
kerja.
Tok tok tok!
“Assalamu ‘alaikum, Pak!” salam Radit setelah
mengetuk pintu ruangan Pak Suhardi.
“Wa ‘alaikum salam. Masuk!” sahut suara dari dalam
ruangan berkaca gelap dari luar, tetapi transparan dari dalam.
Radit membuka pintu sendiri, lalu masuk dengan gestur
yang santun.
Di dalam ada Pak Suhardi yang adalah lelaki tinggi besar
berusia separuh abad. Lelaki berkulit putih bersih itu ditemani oleh seorang
sekretaris di meja lain yang sedang bekerja di belakang komputer.
“Duduk, Dit!” perintah Suhardi.
“Iya, Pak,” jawab Radit mengangguk, sambil berjalan terpincang
ke kursi depan meja kerja manajernya.
“Elu pincang karena kecelakaan itu?” tanya Suhardi.
“Iya, Pak,” jawab Radit yang sudah duduk di kursi.
“Jadi begini, Dit. Gua langsung aja karena waktu memang
sudah mepet mau pulang,” kata Suhardi.
“Iya, Pak,” ucap Radit yang tegang di dalam hati.
Sepertinya nasib buruknya hari ini akan berlanjut jam tayangnya.
“Kondisi perusahaan dan pabrik sedang tidak bagus….”
Deg!
Terhentak jantung Radit. Benar dugaannya.
“Enggak mungkinlah kalau aku dirumahkan, aku kan kepala
gudang…,” pikir Radit saat itu.
“Bukan hanya saat ini, perkiraan dalam setahun ke depan
perusahaan akan sepi orderan. Mitra utama kita dari Jepang dan dan Australia
resmi memutuskan kerja sama. Mereka tidak akan order lagi ke kita. Sejak
kemarin sekitar dua ratus karyawawan harian sudah diberhentikan oleh
perusahaan….”
“Dari kemarin, Pak?” sebut ulang Radit terkejut. Ada
kepanikan yang lebih tinggi muncul dalam benaknya.
“Iya. Elu enggak tahu, Dit? Beberapa staf kantor juga
hari ini dirumahkan. Sebenarnya, elu enggak termasuk yang dirumahkan, waktu
penilaian sebulan lalu. Tapi … karena elu jualan di dalam pabrik, Dewan Direksi
sepakat memasukkan elu ke dalam kelompok yang dirumahkan….”
“Tu-tu-tunggu, Pak!” seru Radit agak keras karena
terkejut, sampai-sampai sekretaris jadi memandang kepada Radit. Lalu tanyanya,
“Jadi cuma karena aku jualan di dalam pabrik, aku dipecat, Pak?”
Wajah Radit menunjukkan ketidaksukaan dan sikap duduknya
sudah tidak bisa tenang.
“Ini keputusan bersama, Dit. Gua juga enggak bisa bela.
Memang selama elu promosiin hp kredit elu, kerjaan elu di gudang enggak ada
masalah besar. Namun, itu melanggar aturan perusahaan. Di jam kerja pun elu
nawarin hp ke karyawan. Semua staf yang dirumahkan itu dipilih atas dasar
pertimbangan bersama, bukan pertimbangan personal gua saja. Dan ada satu faktor
juga yang baru diketahui hari ini tentang elu, yaitu elu terlibat pinjol…”
“Tapi, Pak….”
“Memang itu urusan elu sama pihak pinjolnya, tetapi nanti
kalau elu enggak bisa bayar, dampaknya bisa ke lingkungan pabrik. Buktinya tadi
pagi, dua orang debt collector sudah nongkrong di pos satpam. Gua enggak
mau ada gangguan ketenangan di lingkungan pabrik,” tandas Suhardi, kali ini
dengan tatapan serius.
“Justru itu, Pak. Kalau aku dipecat, justru tambah susah
aku bayar angsuran,” kata Radit yang sudah berkeringat dingin di dahinya karena
pikirannya begitu kalut.
“Mohon maaf, Dit. Ini sudah keputusan perusahaan.
Mudah-mudahan usaha kredit elu bisa berkembang bagus. Senin depan, elu bisa ambil
uang konpensasi di Mirna,” kata Suhardi. Lalu katanya kepada sekretarisnya,
“Tina, kasih surat pemberhentian Radit.”
Setelah itu, Radit tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia pasrah. Dia berharap masih ada jalan keluar ke depannya. Toh, nanti dia akan dapat uang pesangon tiga kali jumlah gajinya. Itu angka yang cukup untuk menutupi masalah keuangan bulan ini. (RH)


Makanya kalo jualan jangan di kantor.. Mending di halaman kantor 😂😂😂
BalasHapusJalan keluar selalu ada pak radit... Td masuk lewat mana? Silahkan keluar lewat jalan yang sama 🤣🤣🤣
BalasHapusOm..Sarang Keong 😍
BalasHapus