Nasib Buruk Berlanjut, Bab7 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Radit berjalan memasuki gudang pabrik dengan langkah agak terpincang. Semua karyawan yang ditemuinya memandanginya.

“Katanya kecelakaan, Pak?” tanya salah satu karyawan gudang yang sebelumnya sudah dapat kabar tentang Radit.

“Iya, lagi apes,” jawab Radit singkat.

Setibanya di meja kerjanya, Radit segera mengirim pesan ke beberapa orang yang memesan hp kredit kepadanya, yang hari itu dia bawa barangnya.

Dia memerintah seorang stafnya untuk mengambilkan obat merah dan minyak gosok. Kondisi kakinya yang sakit memaksa Radit untuk menahan diri dari gerilya marketing-nya. Dia tidak mau kakinya tambah bengkak.

Untungnya, hari itu atasan tidak mempermasalahkan keterlambatannya. Ketika Bos beberapa kali meneleponnya, hanya menanyakan masalah barang yang ada di gudang. Urusan bongkar muat barang pun ditangani oleh wakilnya. Dia memilih lebih banyak duduk di meja kerjanya.

Pada jam istirahat pun dia menyuruh anak buahnya membelikannya makan di kantin.

Apa yang dia alami pagi ini sangat mengganggu pikirannya, terutama kemarahan istri dan keluarga istrinya yang dia anggap berlebihan.

“Kalau menunggu sampai urusan ke pinjol selesai baru aku boleh ketemu Andini, bisa selama satu tahun. Mereka pikir burungku bisa puasa selama itu? Kalau aku main perempuan, aku juga yang tersalah,” pikir Radit tidak habis pikir.

Radit semakin pusing ketika sudah bisa mengkalkulasikan keuangannya. Dia masih bisa aman jika semua angsuran kredit hp terbayar pada awal bulan, tapi dengan risiko dia tidak akan memiliki uang belanja.

“Lebih baik nanti aku prioritaskan bayar cicilan pinjol. Aku rasa Erwin bisa kasih keringanan, ini kan baru yang pertama karena kondisiku lagi kacau,” batin Radit.

Meski hitung-hitungan keuangan Radit sudah jelas angkanya, tetapi kekurangan yang dia alami tetap menjadi beban pikiran. Bunga yang berlipat dan pengeluaran biaya sepeda motor menjadi faktor besar dari kekurangannya pada bulan ini.

“Aku harus cari konsumen kredit yang banyak biar angsuran awal bisa menutupi,” pikir Radit. “Pulang kerja, coba aku tawarin ke Pak RT. Dari Pak RT, nanti informasinya bisa cepat nyebar.”

Trinot trinot…!

Nomor Pak Suhardi selaku manajer di perusahaan tersebut menelepon hp Radit di saat sedang dipakai lihat status-status orang lain di media sosial.

“Ya, hallo, Pak?” sapa Radit setelah menempelkan gawainya di telinga.

“Dit, tolong sebelum jam pulang, elu ke ruangan gua dulu!” perintah Suhardi.

“Siap, Pak,” jawab Radit.

Hanya itu isi percakapannya. Singkat sekali, tapi meninggalkan buntut tanda tanya yang panjang di dalam kepala Radit.

Singkat waktu. Dua puluh menit sebelum sirene pulang berbunyi, Radit beranjak dari kursinya.

“Aduh! Kok tambah sakit? Kayaknya tambah bengkak,” ucap Radit kepada dirinya sendiri saat merasakan sakit yang meningkat ketika ia melangkah.

Namun, mau tidak mau dia harus pergi menghadap ke manajer yang ruang kantornya cukup jauh di gedung utama perusahaan. Untuk sampai ke sana, Radit harus berjalan melewati bagian produksi potong, bagian jahit, bagian gosok, hingga bagian pengepakan. Turun naik tangga pula.

“Apa boleh buat,” ucap Radit.

Akhirnya Radit pergi berjalan melintasi bagian demi bagian dari pabrik dan perusahaan itu. Melihat Radit berjalan terpincang, para karyawan yang sebentar lagi pulang jadi memerhatikan.

Sebenarnya bukan karena faktor pincang saja yang membuat Radit menjadi pusat perhatian, tetapi ada faktor lain, yaitu berita tentang dirinya yang terjerat pinjol telah menjadi topik utama gosip hari itu. Hanya, Radit tidak tahu dan tidak sadar bahwa dirinya telah menjadi buah bibir di lingkungan perusahaan. Karena seharian memilih duduk di meja kerjanya di gudang, dia tidak mendengar banyak informasi.

“Kenapa, Pak Radit?” tanya seorang karyawan bagian pengepakan saat berpapasan dengannya di lorong pabrik.

“Kaki bengkak, habis kecelakaan,” jawab Radit.

“Kalau bengkak dipakai jalan jauh dari gudang, nanti tambah parah, Pak,” kata karyawan itu mengingatkan.

“Sudah tahu, Anjir!” rutuk Radit, tapi hanya di dalam hati. Adapun katanya kepada karyawan itu, “Habis bagaimana, dipanggil Bos?”

Ada beberapa karyawan yang bertanya ketika bertemu dengan Radit. Pertanyaannya sama, tentang kondisi kepincangan Radit. Tidak ada yang bertanya tentang pinjaman online, meskipun ada yang gatal ingin bertanya.

Hampir semua karyawan tadi pagi sempat melihat keberadaan dua orang besar dekat pos satpam, yang kemudian terkonfirmasi dari obrolan bahwa dua orang itu adalah debt collector yang mencari Radit.

Sebenarnya Radit merasa risih ketika dia lewat, para karyawan menengok memandangnya. Durasi pandangan mereka pun sedikit lebih lama dari sekedar melihat sepintas lalu.

Semakin banyak yang bertanya ketika Radit masuk ke area kantor. Sebagai kepala gudang, tentu dia kenal banyak staf dan pejabat setara atau lebih tinggi. Jelas banyak yang bertanya mengenai kondisinya, karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu Radit pada hari itu.

Mau tidak mau Radit pun menjawab satu per satu atau secara umum. Jelas tidak ada alasan bagi Radit untuk marah meskipun dia kesal di dalam hati. Pertanyaan itu jelas bagian dari perhatian mereka kepada rekan kerja.

Tok tok tok!

Assalamu ‘alaikum, Pak!” salam Radit setelah mengetuk pintu ruangan Pak Suhardi.

Wa ‘alaikum salam. Masuk!” sahut suara dari dalam ruangan berkaca gelap dari luar, tetapi transparan dari dalam.

Radit membuka pintu sendiri, lalu masuk dengan gestur yang santun.

Di dalam ada Pak Suhardi yang adalah lelaki tinggi besar berusia separuh abad. Lelaki berkulit putih bersih itu ditemani oleh seorang sekretaris di meja lain yang sedang bekerja di belakang komputer.

“Duduk, Dit!” perintah Suhardi.

“Iya, Pak,” jawab Radit mengangguk, sambil berjalan terpincang ke kursi depan meja kerja manajernya.

“Elu pincang karena kecelakaan itu?” tanya Suhardi.

“Iya, Pak,” jawab Radit yang sudah duduk di kursi.

“Jadi begini, Dit. Gua langsung aja karena waktu memang sudah mepet mau pulang,” kata Suhardi.

“Iya, Pak,” ucap Radit yang tegang di dalam hati. Sepertinya nasib buruknya hari ini akan berlanjut jam tayangnya.

“Kondisi perusahaan dan pabrik sedang tidak bagus….”

Deg!

Terhentak jantung Radit. Benar dugaannya.

“Enggak mungkinlah kalau aku dirumahkan, aku kan kepala gudang…,” pikir Radit saat itu.

“Bukan hanya saat ini, perkiraan dalam setahun ke depan perusahaan akan sepi orderan. Mitra utama kita dari Jepang dan dan Australia resmi memutuskan kerja sama. Mereka tidak akan order lagi ke kita. Sejak kemarin sekitar dua ratus karyawawan harian sudah diberhentikan oleh perusahaan….”

“Dari kemarin, Pak?” sebut ulang Radit terkejut. Ada kepanikan yang lebih tinggi muncul dalam benaknya.

“Iya. Elu enggak tahu, Dit? Beberapa staf kantor juga hari ini dirumahkan. Sebenarnya, elu enggak termasuk yang dirumahkan, waktu penilaian sebulan lalu. Tapi … karena elu jualan di dalam pabrik, Dewan Direksi sepakat memasukkan elu ke dalam kelompok yang dirumahkan….”

“Tu-tu-tunggu, Pak!” seru Radit agak keras karena terkejut, sampai-sampai sekretaris jadi memandang kepada Radit. Lalu tanyanya, “Jadi cuma karena aku jualan di dalam pabrik, aku dipecat, Pak?”

Wajah Radit menunjukkan ketidaksukaan dan sikap duduknya sudah tidak bisa tenang.

“Ini keputusan bersama, Dit. Gua juga enggak bisa bela. Memang selama elu promosiin hp kredit elu, kerjaan elu di gudang enggak ada masalah besar. Namun, itu melanggar aturan perusahaan. Di jam kerja pun elu nawarin hp ke karyawan. Semua staf yang dirumahkan itu dipilih atas dasar pertimbangan bersama, bukan pertimbangan personal gua saja. Dan ada satu faktor juga yang baru diketahui hari ini tentang elu, yaitu elu terlibat pinjol…”

“Tapi, Pak….”

“Memang itu urusan elu sama pihak pinjolnya, tetapi nanti kalau elu enggak bisa bayar, dampaknya bisa ke lingkungan pabrik. Buktinya tadi pagi, dua orang debt collector sudah nongkrong di pos satpam. Gua enggak mau ada gangguan ketenangan di lingkungan pabrik,” tandas Suhardi, kali ini dengan tatapan serius.

“Justru itu, Pak. Kalau aku dipecat, justru tambah susah aku bayar angsuran,” kata Radit yang sudah berkeringat dingin di dahinya karena pikirannya begitu kalut.

“Mohon maaf, Dit. Ini sudah keputusan perusahaan. Mudah-mudahan usaha kredit elu bisa berkembang bagus. Senin depan, elu bisa ambil uang konpensasi di Mirna,” kata Suhardi. Lalu katanya kepada sekretarisnya, “Tina, kasih surat pemberhentian Radit.”

Setelah itu, Radit tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia pasrah. Dia berharap masih ada jalan keluar ke depannya. Toh, nanti dia akan dapat uang pesangon tiga kali jumlah gajinya. Itu angka yang cukup untuk menutupi masalah keuangan bulan ini. (RH)


Catatan: Novel di kategori Lambat adalah novel baru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

  1. Makanya kalo jualan jangan di kantor.. Mending di halaman kantor 😂😂😂

    BalasHapus
  2. Jalan keluar selalu ada pak radit... Td masuk lewat mana? Silahkan keluar lewat jalan yang sama 🤣🤣🤣

    BalasHapus