Pinjol Demi Nikah, Bab2 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Radit mengeklik tulisan “confirm” pada layar ponselnya. Jantungnya berdebar kencang saat mengeklik itu.

Dalam hitungan setengah detik saja, muncul notifikasi yang berbunyi “pengiriman berhasil”.

Seketika gembiralah Radit dengan wujud senyumnya yang begitu sumringah. Dia segera beralih untuk melihat saldo di dalam rekeningnya. Dalam hitungan detik, dia pun bisa melihat sederetan angka sebanyak delapan digit.

“Yess yess!” pekik girang Radit sambil tangan kirinya menggenggam kuat tanpa ada yang digenggam.

Dia lalu menempelkan layar ponselnya ke bibirnya yang monyong-monyong, tanpa takut terkena radiasi. Itu wujud dari kegembiraannya setelah pengajuan pinjamannya sebesar 30 juta rupiah berhasil dengan mudah.

“Yess yess, no no! Yess yess, no no!” ucapnya sambil berdiri dan menghentak-hentakkan pinggulnya ke depan berulang-ulang.

“Eh, lagi ngapain, Mas?” tanya satu suara wanita tiba-tiba dari sisi belakang.

Terkejut Radit dan sontak berhenti bergerak plus menengok. Dia langsung tersenyum kuda, menunjukkan bahwa dia sedang malu kepada gadis cantik berambut sebahu yang berdiri di dekat pintu kamar.

Gadis itu memandang curiga tapi juga ingin tertawa karena menganggap kelakuan tunangannya itu lucu.

Gadis yang bernama Andini Karina itu dalam kondisi sudah berpakaian bagus dan berdandan sangat cantik. Di bahunya sudah menggantung tas cantik kulit warna hitam mengilap.

“Hahaha!” tawa Radit kemudian. Lalu katanya, “Latihan untuk malam pertama, Din.”

“Hahaha!” Meledaklah tawa Andini, tapi pendek.

Melihat calon istrinya sudah siap, Radit pun berjalan mendekati gadis yang wanginya sudah melebihi aroma durian bokor.

“Ih, ada-ada saja Mas Radit,” kata Andini setelah tawanya reda.

“Hahaha! Ayo!” tawa Radit, lalu dengan entengnya merangkul bahu calon istrinya. Sepekan lagi mereka akan menikah.

Sambil tertawa, Andini pun menurut berjalan menuju pintu.

“Aku barusan dapat bonus dari perusahaan,” kata Radit dengan nada berbisik.

“Ah? Alhamdulillaaah!” pekik Andini terkejut tapi gembira.

“Pokoknya, masalah biaya nikah, gak usah risau. Kita enggak akan kekurangan biaya,” kata Radit.

“Nah gitu dong, Mas. Tahu aja ibuku, urusan uang sensitif banget. Tapi, Mas dapat bonus karena apa?”

“Prestasilah,” jawab Radit sambil melepaskan rangkulan tangannya.

Mereka sudah keluar ke teras. Radit segera pergi menghampiri seorang ibu yang sedang menjemur pakaian di samping rumah.

“Bu, Radit berangkat dulu. Mau tambah cetakan undangan yang kurang sama ke rental baju,” ujar Radit sambil datang mengulurkan tangannya, bermaksud salim tangan.

“Ibu tinggal terima beres ya, Dit,” kata Rukmah, ibu dari Andini. Dia memberikan tangan basahnya untuk dicium oleh Radit.

“Beres, Bu. Urusan keuangan pokoknya semua terkendali. Aman,” kata Radit setelah mencium punggung tangan kanan Rukmah. Dia tersenyum memberi ketenangan kepada calon mertuanya.

Andini pun melakukan salim kepada ibunya.

“Aku pergi dulu, Bu,” izin Andini, lalu mencium pula tangan ibunya.

“Iya, hati-hati. Ingat, seminggu lagi,” pesan Rukmah.

“Iya, Bu,” jawab Andini dengan senyum merengut.

Setelah itu, pasangan calon pengantin tersebut pergi dengan mengendarai sepeda motor untuk menyelesaikan sejumlah urusan terkait acara akad dan pesta pernikahan mereka.

Dengan bermodal uang tabungan yang sudah ada dan ditambah pinjaman yang sudah cair, Radit tidak menemukan kendala berarti dalam pengurusan berbagai persiapan pernikahannya. Benar kata pepatah “uang itu minyak pelumas”.

Namun, Radit tidak pernah menceritakan perihal pinjaman online-nya kepada siapa pun. Ia tipe orang yang sangat tidak ingin malu. Dia wajib tampil mumpuni di mata kekasihnya, terkhusus pula di mata calon mertua. Kepada sahabat pun dia tidak cerita. Dia lebih memilih prinsip “biarlah ada rahasia di antara kita”.

Singkat cerita.

“Saaah!” sorak saksi dan para hadirin ketika Radit Kuncoro dengan lancar mengucapkan ijab kabulnya.

“Hahaha…!” tawa para hadirin ikut bahagia dengan pengesahan Radit Kuncoro sebagai suami dari Andini Karina.

Pak Ustaz pun segera membacakan doa untuk kedua mempelai.

Setelah prosesi akad nikah di masjid setempat, acara kemudian dilanjutkan resepsi di kediaman pengantin wanita.

Singkat cerita.

Di saat pesta pernikahan telah selesai dan malam sedang melintasi alam, masuklah kedua mempelai ke kamar pengantin.

Di tengah suasana rumah yang ramai, kedua pengantin pun merujak bersama di atas kasur.

Sementara Rukmah dan kerabat perempuan dari keluarga Andini sibuk menghitung ratusan amplop yang berisi uang. Yang lain merobek amplop, sementara Rukmah mencatat nama dan nominal uang per amplop.

Radit tidak peduli lagi dengan uang hasil pemberian dari para undangan, yang dia prioritaskan adalah mencetak gol di laga pertama, meski itu laga tandang. Dia masih ingin membuat mertuanya senang dengan kebebasan dalam urusan uang.

Sekedar informasi, tapi penting. Radit sudah tidak memiliki ibu. Ayahnya pun baru sampai kemarin dari kampung nun jauh di ujung Pulau Jawa. Di Jakarta Radit murni adalah anak rantau.

Setelah hari pernikahannya, Radit segera memboyong istrinya ke rumah kontrakan yang dia sewa dengan durasi satu tahun. Radit berpikir, untuk satu tahun dia harus tenang dulu dari tagihan sewa agar suasana tahun pertama rumah tangganya berjalan damai dalah hal keuangan. Namun, dia justru tidak mempermasalahkan tagihan utang yang akan datang per bulan.

Sebagai kepala gudang di sebuah perusahaan garment, tidak berlebihan jika dia mengontrak rumah tipe 45.

Selagi belum hamil, Andini pun belum mau melepas pekerjaannya sebagai karyawan toko kosmetik.

Sebagai pengantin baru, keduanya menjalani bulan-bulan awal dengan bahagia tanpa masalah. Para tetangga menjadi saksi kemesraan keduanya. Jika berpisah untuk bekerja dan bertemu sepulang bekerja, Andini selalu cium tangan sebagai istri yang taat dan hormat kepada suami. Canda-canda mesra dan tawa bahagia kerap terdengar sampai ke rumah tetangga.

Bulan pertama dan bulan kedua Radit masih bisa membayar utang pinjaman online-nya dengan tanpa masalah.

“Din, aku ngasih uang belanja segini dulu, bulan ini aku lunasin utang perbaikan saluran kamar mandi sebelum kita tempatin rumah ini,” kata Radit pada dua bulan rumah tangga mereka. Dia memberi uang belanja hanya dua per tiga dari bulan pertama.

“Oh, Mas punya utang?” tanya Andini agak terkejut. Sebab, sejauh ini dia tidak pernah mendengar Radit cerita tentang utang.

“Cuma utang sama tukang. Waktu milih rumah ini, saluran kamar mandinya kurang bagus. Jadi aku minta tukang bikin saluran baru biar lancar dan di belakang enggak becek. Sudah aku lunasi. Gak ada utang lagi,” jelas Radit enteng. Sepertinya dia sudah menyusun narasi tentang kekurangan nafkah dapur bagi mereka.

“Ya enggak apa-apa. InsyaAllah cukuplah. Kalau kurang sedikit kan aku juga punya uang pribadi dari gajiku,” kata Andini legowo.

“Hmm, makin cinta kalau istriku nerimo begini,” kata Radit. Sembari tersenyum dia mencolek hidung berlubang istrinya.

“Yaaa, tapi jangan sering-sering juga kurang begini. Masa iya kepala gudang sampai bisa ngasih jatah kurang,” kata Andini.

“Tenang saja, Sayangku. Minggu depan aku juga mulai kreditin hp di perusahaan. Kita modal promosi doang. Ada yang pesan, baru ambil barang. Enggak butuh modal. Modal waktu sama mulut doang. Jatah 20 persen,” kata Radit.

“Alhamdulillah, Mas,” ucap Andini sumringah. “Yang punya barang siapa?”

“Teman kerja waktu aku pertama datang ke Jakarta. Waktu kita nikah, aku sempat ngobrol sebentar sama dia. Usahanya gitu. Baru seminggu belakangan ini aku telepon dia. Sekedar ngobrol. Dia nyetok barang, yang jualin orang kenalannya. Sistemnya kredit. Harganya beda seratus dua ratus sama harga toko. Sistem kredit begitu cepat lakunya, soalnya terjangkau buat karyawan. Aku pikir bisa nih, karena enggak ganggu waktu kerja,” kata Radit lagi memperjelas.

Untuk urusan mau jualan kredit hp Radit tidak berdusta atau mengarang cerita.

“Mudah-mudahan jalan bagus, Mas. Jadi, kalau nanti aku hamil, terus berhenti kerja, aku bisa tenang,” kata Andini.

Radit tersenyum lalu menjawab dengan peluk cium, meski keduanya sama-sama bau asam karena baru sama-sama pulang kerja. Mungkin rumusnya: asam X asam = wangi. (RH)


Catatan: Novel di kategori Lambat adalah novel baru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

5 komentar:

  1. Oohh cerita ini.. Bab ini sdh baca dulu

    BalasHapus
  2. Coba komentar di bab ini, Om. Masuk gak ini komen?🤔

    BalasHapus
  3. Mungkin juga berlaku rumus Tua × Agak Tua = Muda Dikit, Om🤧

    BalasHapus