Dalam hitungan setengah detik saja, muncul notifikasi
yang berbunyi “pengiriman berhasil”.
Seketika gembiralah Radit dengan wujud senyumnya yang
begitu sumringah. Dia segera beralih untuk melihat saldo di dalam rekeningnya.
Dalam hitungan detik, dia pun bisa melihat sederetan angka sebanyak delapan
digit.
“Yess yess!” pekik girang Radit sambil tangan kirinya
menggenggam kuat tanpa ada yang digenggam.
Dia lalu menempelkan layar ponselnya ke bibirnya yang
monyong-monyong, tanpa takut terkena radiasi. Itu wujud dari kegembiraannya
setelah pengajuan pinjamannya sebesar 30 juta rupiah berhasil dengan mudah.
“Yess yess, no no! Yess yess, no no!” ucapnya sambil
berdiri dan menghentak-hentakkan pinggulnya ke depan berulang-ulang.
“Eh, lagi ngapain, Mas?” tanya satu suara wanita
tiba-tiba dari sisi belakang.
Terkejut Radit dan sontak berhenti bergerak plus
menengok. Dia langsung tersenyum kuda, menunjukkan bahwa dia sedang malu kepada
gadis cantik berambut sebahu yang berdiri di dekat pintu kamar.
Gadis itu memandang curiga tapi juga ingin tertawa
karena menganggap kelakuan tunangannya itu lucu.
Gadis yang bernama Andini Karina itu dalam kondisi
sudah berpakaian bagus dan berdandan sangat cantik. Di bahunya sudah
menggantung tas cantik kulit warna hitam mengilap.
“Hahaha!” tawa Radit kemudian. Lalu katanya, “Latihan
untuk malam pertama, Din.”
“Hahaha!” Meledaklah tawa Andini, tapi pendek.
Melihat calon istrinya sudah siap, Radit pun berjalan
mendekati gadis yang wanginya sudah melebihi aroma durian bokor.
“Ih, ada-ada saja Mas Radit,” kata Andini setelah
tawanya reda.
“Hahaha! Ayo!” tawa Radit, lalu dengan entengnya
merangkul bahu calon istrinya. Sepekan lagi mereka akan menikah.
Sambil tertawa, Andini pun menurut berjalan menuju
pintu.
“Aku barusan dapat bonus dari perusahaan,” kata Radit
dengan nada berbisik.
“Ah? Alhamdulillaaah!” pekik Andini terkejut tapi
gembira.
“Pokoknya, masalah biaya nikah, gak usah risau. Kita
enggak akan kekurangan biaya,” kata Radit.
“Nah gitu dong, Mas. Tahu aja ibuku, urusan uang
sensitif banget. Tapi, Mas dapat bonus karena apa?”
“Prestasilah,” jawab Radit sambil melepaskan rangkulan
tangannya.
Mereka sudah keluar ke teras. Radit segera pergi
menghampiri seorang ibu yang sedang menjemur pakaian di samping rumah.
“Bu, Radit berangkat dulu. Mau tambah cetakan undangan
yang kurang sama ke rental baju,” ujar Radit sambil datang mengulurkan
tangannya, bermaksud salim tangan.
“Ibu tinggal terima beres ya, Dit,” kata Rukmah, ibu
dari Andini. Dia memberikan tangan basahnya untuk dicium oleh Radit.
“Beres, Bu. Urusan keuangan pokoknya semua terkendali.
Aman,” kata Radit setelah mencium punggung tangan kanan Rukmah. Dia tersenyum
memberi ketenangan kepada calon mertuanya.
Andini pun melakukan salim kepada ibunya.
“Aku pergi dulu, Bu,” izin Andini, lalu mencium pula
tangan ibunya.
“Iya, hati-hati. Ingat, seminggu lagi,” pesan Rukmah.
“Iya, Bu,” jawab Andini dengan senyum merengut.
Setelah itu, pasangan calon pengantin tersebut pergi
dengan mengendarai sepeda motor untuk menyelesaikan sejumlah urusan terkait acara
akad dan pesta pernikahan mereka.
Dengan bermodal uang tabungan yang sudah ada dan
ditambah pinjaman yang sudah cair, Radit tidak menemukan kendala berarti dalam
pengurusan berbagai persiapan pernikahannya. Benar kata pepatah “uang itu
minyak pelumas”.
Namun, Radit tidak pernah menceritakan perihal
pinjaman online-nya kepada siapa pun. Ia tipe orang yang sangat tidak
ingin malu. Dia wajib tampil mumpuni di mata kekasihnya, terkhusus pula di mata
calon mertua. Kepada sahabat pun dia tidak cerita. Dia lebih memilih prinsip
“biarlah ada rahasia di antara kita”.
Singkat cerita.
“Saaah!” sorak saksi dan para hadirin ketika Radit Kuncoro
dengan lancar mengucapkan ijab kabulnya.
“Hahaha…!” tawa para hadirin ikut bahagia dengan
pengesahan Radit Kuncoro sebagai suami dari Andini Karina.
Pak Ustaz pun segera membacakan doa untuk kedua
mempelai.
Setelah prosesi akad nikah di masjid setempat, acara
kemudian dilanjutkan resepsi di kediaman pengantin wanita.
Singkat cerita.
Di saat pesta pernikahan telah selesai dan malam sedang
melintasi alam, masuklah kedua mempelai ke kamar pengantin.
Di tengah suasana rumah yang ramai, kedua pengantin
pun merujak bersama di atas kasur.
Sementara Rukmah dan kerabat perempuan dari keluarga Andini
sibuk menghitung ratusan amplop yang berisi uang. Yang lain merobek amplop,
sementara Rukmah mencatat nama dan nominal uang per amplop.
Radit tidak peduli lagi dengan uang hasil pemberian
dari para undangan, yang dia prioritaskan adalah mencetak gol di laga pertama,
meski itu laga tandang. Dia masih ingin membuat mertuanya senang dengan
kebebasan dalam urusan uang.
Sekedar informasi, tapi penting. Radit sudah tidak
memiliki ibu. Ayahnya pun baru sampai kemarin dari kampung nun jauh di ujung
Pulau Jawa. Di Jakarta Radit murni adalah anak rantau.
Setelah hari pernikahannya, Radit segera memboyong
istrinya ke rumah kontrakan yang dia sewa dengan durasi satu tahun. Radit
berpikir, untuk satu tahun dia harus tenang dulu dari tagihan sewa agar suasana
tahun pertama rumah tangganya berjalan damai dalah hal keuangan. Namun, dia
justru tidak mempermasalahkan tagihan utang yang akan datang per bulan.
Sebagai kepala gudang di sebuah perusahaan garment,
tidak berlebihan jika dia mengontrak rumah tipe 45.
Selagi belum hamil, Andini pun belum mau melepas
pekerjaannya sebagai karyawan toko kosmetik.
Sebagai pengantin baru, keduanya menjalani bulan-bulan
awal dengan bahagia tanpa masalah. Para tetangga menjadi saksi kemesraan
keduanya. Jika berpisah untuk bekerja dan bertemu sepulang bekerja, Andini
selalu cium tangan sebagai istri yang taat dan hormat kepada suami. Canda-canda
mesra dan tawa bahagia kerap terdengar sampai ke rumah tetangga.
Bulan pertama dan bulan kedua Radit masih bisa
membayar utang pinjaman online-nya dengan tanpa masalah.
“Din, aku ngasih uang belanja segini dulu, bulan ini aku
lunasin utang perbaikan saluran kamar mandi sebelum kita tempatin rumah ini,”
kata Radit pada dua bulan rumah tangga mereka. Dia memberi uang belanja hanya
dua per tiga dari bulan pertama.
“Oh, Mas punya utang?” tanya Andini agak terkejut.
Sebab, sejauh ini dia tidak pernah mendengar Radit cerita tentang utang.
“Cuma utang sama tukang. Waktu milih rumah ini,
saluran kamar mandinya kurang bagus. Jadi aku minta tukang bikin saluran baru
biar lancar dan di belakang enggak becek. Sudah aku lunasi. Gak ada utang
lagi,” jelas Radit enteng. Sepertinya dia sudah menyusun narasi tentang
kekurangan nafkah dapur bagi mereka.
“Ya enggak apa-apa. InsyaAllah cukuplah. Kalau kurang
sedikit kan aku juga punya uang pribadi dari gajiku,” kata Andini legowo.
“Hmm, makin cinta kalau istriku nerimo begini,” kata
Radit. Sembari tersenyum dia mencolek hidung berlubang istrinya.
“Yaaa, tapi jangan sering-sering juga kurang begini.
Masa iya kepala gudang sampai bisa ngasih jatah kurang,” kata Andini.
“Tenang saja, Sayangku. Minggu depan aku juga mulai kreditin
hp di perusahaan. Kita modal promosi doang. Ada yang pesan, baru ambil barang.
Enggak butuh modal. Modal waktu sama mulut doang. Jatah 20 persen,” kata Radit.
“Alhamdulillah, Mas,” ucap Andini sumringah. “Yang
punya barang siapa?”
“Teman kerja waktu aku pertama datang ke Jakarta. Waktu
kita nikah, aku sempat ngobrol sebentar sama dia. Usahanya gitu. Baru seminggu
belakangan ini aku telepon dia. Sekedar ngobrol. Dia nyetok barang, yang jualin
orang kenalannya. Sistemnya kredit. Harganya beda seratus dua ratus sama harga
toko. Sistem kredit begitu cepat lakunya, soalnya terjangkau buat karyawan. Aku
pikir bisa nih, karena enggak ganggu waktu kerja,” kata Radit lagi memperjelas.
Untuk urusan mau jualan kredit hp Radit tidak berdusta
atau mengarang cerita.
“Mudah-mudahan jalan bagus, Mas. Jadi, kalau nanti aku
hamil, terus berhenti kerja, aku bisa tenang,” kata Andini.
Radit tersenyum lalu menjawab dengan peluk cium, meski
keduanya sama-sama bau asam karena baru sama-sama pulang kerja. Mungkin
rumusnya: asam X asam = wangi. (RH)
Catatan: Novel di kategori Lambat adalah novel baru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.


Oohh cerita ini.. Bab ini sdh baca dulu
BalasHapusBab pertamanya tambahan baru, jadi kayak alur flashback
HapusKak!
HapusCoba komentar di bab ini, Om. Masuk gak ini komen?🤔
BalasHapusMungkin juga berlaku rumus Tua × Agak Tua = Muda Dikit, Om🤧
BalasHapus