*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Setelah membuat Blikik robek celananya dan kesakitan,
Rugi Sabuntel segera ingin bangun dari duduknya di tanah.
Namun, Bendong cepat mengomandoi keempat rekannya yang
lain.
“Tendang ramai-ramai! Jangan biarkan Ikan Hamil
berdiri!”
Tendangan dari Bendong, Supil dan Bojo datang
menyerang badan berlemak Rugi Sabuntel.
“Aww! Akk! Aduh!” jerit Rugi Sabuntel kesakitan dengan
beberapa versi.
Rugi Sabuntel kesulitan untuk berdiri karena tendangan
datang bertubi-tubi kepadanya.
Sambil menjerit-jerit, Rugi Sabuntel nekat melawan.
Dia ingat pesan Ki Robek yang kini menjadi gurunya.
“Jika diam juga membuatmu bisa mati, lebih baik kau
mati dalam keadaan melawan.”
Itulah sekalimat pesan Ki Robek kepada Rugi Sabuntel.
“Hiaaat! Dorong! Dorong! Aww!” teriak Rugi Sabuntel
kencang.
Dengan membabi buta, Rugi Sabuntel berusaha bangun
sambil mendorongkan tubuh gendutnya ke tubuh Supil. Supil pun terdorong dan
hilang keseimbangan.
“Aww!” pekik Supil yang jatuh terjengkang.
“Duduk di kakus! Aww!” teriak Rugi Sabuntel sambil
menjatuhkan pantatnya menduduki wajah Supil.
“Hmmmk!” pekik Supil yang gelagapan karena sulit
bernapas.
“Rasakan ini, Ikan Hamil!” teriak Bojo sambil
mengayunkan tendangannya kepada Rugi Sabuntel.
“Tangkis! Tabrak! Aww!” pekik Rugi Sabuntel sambil
menamengi wajahnya dengan kedua batang tangannya, lalu balas menabrakkan
tubuhnya ke kaki Bojo yang berdiri sendirian.
Tubuh gendut Rugi Sabuntel menindih kaki Bojo dari
arah depan, memaksa Bojo jatuh juga.
“Aaak! Kakiku pataaah! Kakiku pataaah! Aaak!” jerit
Bojo kesakitan campur takut karena dia menduga kakinya benar-benar patah.
Kali ini yang datang adalah tendangan Bendong kepada
Rugi Sabuntel.
“Tangkap! Dorong! Aww!” teriak Rugi Sabuntel sambil
menangkap batang kaki Bendong dengan ketiaknya, lalu mendorong kaki itu.
“Eh eh eh! Aaak! Emaaak!” pekik Bendong panik karena
dia tidak bisa menguasai dirinya ketika satu kakinya ditangkap.
Bendong terdorong jatuh terjengkang, ditambah timpaan
tubuh berat Rugi Sabuntel.
Rugi Sabuntel cepat bergerak bangun dari atas tubuh
Bendong. Namun, ketika hampir berdiri, dia sengaja menjatuhkan lagi tubuhnya
menimpa Bendong dengan sikut menghantam wajah.
“Adduh! Aaak! Emaaak!” jerit Bendong sambil menangis.
Ternyata hantaman sikut Rugi Sabuntel membuat wajah
Bendong berdarah.
Sementara itu, Wiro dan Buarat hanya menonton dengan
wajah meringis sendiri.
“Tarik! Tarik! Tarik!” teriak Rugi Sabuntel sambil
menarik kedua kaki Bendong dan membawanya lari mundur.
“Tolooong! Wiro, tolooong! Buarat, tolooong! Emaaak,
tolooong! Huuu...!” teriak Bendong gelagapan sambil menangis panik.
“Ayo kabur! Ikan Hamil sudah pandai berkelahi!” teriak
Buarat lalu berlari kabur.
“Kabuuur!” teriak Wiro sambil lari terbirit-birit
mengikuti Buarat.
“Tunggu, Wirooo!” teriak Supil.
Supil, Bojo, dan Blikik cepat berlari menyusul Buarat
dan Wiro, meninggalkan Bendong seorang diri.
Tinggallah Rugi Sabuntel dan Bendong. Namun, Rugi
Sabuntel memutuskan untuk berlari meninggalkan Bendong yang menangis sendirian.
Tidak lupa dia membawa singkongnya.
Ketika meninggalkan Bendong, awalnya Rugi Sabuntel
tidak menangis. Namun setelah jauh, dia menangis juga sambil berlari pulang.
Warga desa yang dilalui oleh anak gendut itu hanya
memandangi heran, bahkan yang bertanya pun tidak dijawabnya, maklum dia sedang sibuk
menangis.
Singkat cerita.
Rugi Sabuntel kini berbaring di balai-balai bambu di
teras rumahnya yang berlantai tanah keras. Dia masih menangis di saat kakeknya
yang bernama Sambo sedang membaluri tubuhnya yang lebam-lebam dengan obat dari
dedaunan yang ditumbuk halus.
“Huuu! Sakit, Keeek!” ratap Rugi Sabuntel.
“Haduh, kenapa sampai berkelahi, Rugi?” tanya Kakek
Sambo.
“Kata Ki Robek, jika tidak melawan, aku akan terus
dipukuli oleh Bendong dan teman-temannya. Aduh! Pelan-pelan, Kek!” kata Rugi
Sabuntel.
“Ki Robek?” ucap ulang Kakek Sambo heran.
“Ki Robek menolong aku waktu aku diceburkan ke sungai
oleh Bendong. Ki Robek lalu mengajakku ke rumahnya di hutan, lalu mengajari aku
cara berkelahi,” jelas Rugi Sabuntel. “Kakek kenal dengan Ki Robek?”
“Tidak. Hanya tahu saja.”
“Ternyata Ki Robek orang baik, Kek, walaupun suka
membentak-bentak.”
“Dia memang orang baik dan orang sakti.”
“Kakek Sambo tahu?”
Rugi Sabuntel mendadak berhenti menangis. Dia jadi antusias
karena kakeknya ternyata tahu tentang Ki Robek.
“Dulu sekali, waktu Kakek masih muda, Ki Robek adalah
pendekar hebat yang gagah dan tampan di Desa Buangsetan ini. Dia selalu
membantu dan menolong orang yang kesusahan. Dulu Kakek juga pernah ditolong
olehnya....”
“Tapi, kenapa wajah Ki Robek jadi menyeramkan seperti
itu, Kek?” tanya Rugi Sabuntel memotong.
“Dengarkan Kakek dulu bercerita!” hardik Kakek Sambo.
“Iya, Kek.”
“Ki Robek bahkan menikah dengan putri demang yang
cantik dan memiliki beberapa anak dari pernikahannya. Namun, pada suatu hari,
Kerajaan mengangkat seorang adipati baru yang kejam dan suka membunuh. Adipati
itu suka memeras rakyat, termasuk warga desa ini juga diperas dengan pajak yang
tinggi. Banyak rakyat biasa yang dibunuh karena tidak bisa bayar pajak. Ki
Robek kemudian tergerak hatinya untuk membela rakyat. Banyak rakyat yang
ditolong dari kekejaman pasukan adipati jahat itu. Adipati lalu memfitnah Ki
Robek dengan menyebutnya anggota pemberontak. Ki Robek dilaporkan ke Kerajaan
sehingga Kerajaan memburu Ki Robek. Istri dan anak-anaknya dibunuh semua oleh orang-orangnya
adipati. Sehebat apa pun Ki Robek, Kerajaan terlalu kuat. Ki Robek ditangkap
dan disiksa di penjara. Apa yang kau lihat sekarang pada Ki Robek adalah bekas
siksaan di penjara Kerajaan.”
“Kasihan sekali Ki Robek. Tapi, sekarang Ki Robek
bukan musuh Kerajaan lagi, Kek?” tanya Rugi Sabuntel.
“Setelah dipenjara selama sepuluh tahun, Ki Robek
akhirnya dibebaskan, karena tidak ada bukti bahwa dia adalah seorang
pemberontak. Sejak itu, Ki Robek tinggal menyepi di dalam hutan,” jawab Kakek
Sambo.
“Lalu, bagaimana dengan adipati kejam itu, Kek?” tanya
Rugi Sabuntel kritis.
“Kerajaan telah menghukumnya karena kejahatannya.”
“Kasihan sekali Ki Robek,” ucap Rugi Sabuntel. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar