*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
“Ayah, apakah tidak
apa-apa Rugi suka pergi ke hutan, ke kediaman Ki Robek?” tanya Mak June, janda
muda yang bisa dibilang cantik untuk ukuran wanita desa. Dia ibu kandung dari
Rugi Sabuntel.
Memang, Rugi Sabuntel
tidak secantik ibunya karena dia anak lelaki.
“Tidak apa-apa. Ki
Robek itu orang baik, wajahnya saja yang menyeramkan,” kata Kakek Sambo.
Sambo adalah ayah
dari Junimi yang lebih keren dipanggil dengan nama June. Karena sudah punya
anak, maka Junimi dipanggil dengan nama Mak June.
“Di masa sekarang
ini, anak-anak butuh kejelasan, nanti besar dia mau jadi apa. Apakah jadi
orang, atau jadi sapi yang ketika kuat disuruh membajak, ketika lemah
disembelih untuk kendurian. Jika hanya menjadi petani kecil seperti kita yang
hanya punya ladang kacang yang kecil, akan selalu dianggap rendah oleh penguasa
dan mudah dizalimi,” tutur Kakek Sambo lagi.
Lelaki tua kurus itu
sedang menguatkan cangkulnya yang longgar.
“Bergaul dengan Ki
Robek, setidaknya Rugi memiliki ilmu cara bertahan dari penindasan. Aku
berharap dia nanti besarnya menjadi seperti Ki Robek waktu muda,” kata Kakek
Sambo.
“Apakah itu tidak
berbahaya? Bagaimana jika dia juga bernasib sama seperti Ki Robek?” tanya Mak
June.
“Menjadi pendekar
atau rakyat biasa sama-sama berbahaya. Menjadi rakyat biasa tidak bisa apa-apa
juga berbahaya jika orang jahat datang pada suatu saat. Seperti yang dialami
oleh bapaknya Rugi, harus mati hanya karena mempertahankan uang penjualan
kacang di pasar,” jelas Kakek Sambo.
Ketika sedang
serius-seriusnya berbincang di dipan dalam rumah, tiba-tiba....
“Permisi, Ki!” ucap
seorang lelaki tua yang menyeramkan wajahnya dan dia bertongkat dalam berjalan.
Orang itu tidak lain adalah Ki Robek yang sedang pemilik rumah perbincangkan.
Terkejutlah Kakek
Sambo dan Mak June lantaran Ki Robek muncul tiba-tiba di depan ambang pintu.
Sosoknya lebih menyeramkan karena dia membelakangi cahaya.
“Ki-ki-ki Robek?”
ucap Kakek Sambo terkejut dan tergagap.
“Benar, Ki,” jawab
lelaki tua berpakaian lusuh itu.
Mak June cepat kabur
pergi ke kamar untuk bersembunyi, tapi kepalanya dilongokkan di celah tirai
yang kusam.
“Hormatku, Ki,” ucap
Kakek Sambo sambil menghormat penuh takzim kepada Ki Robek. “Si-si-silakan
masuk, Ki.”
“Terima kasih, Ki.
Tidak usah. Aku datang hanya untuk meminta izin,” ujar Ki Robek.
“Izin apa, Ki?” tanya
Kakek Sambo heran.
“Aku ingin mengangkat
Rugi sebagai muridku. Aku minta izin untuk mengajaknya tinggal di kediamanku.”
“Oooh. Iya, Rugi
sudah cerita tentang Ki Robek kemarin. Aku sangat mendukung jika Rugi berguru
keapda Ki Robek. Namun, Rugi adalah anaknya June,” kata Kakek Sambo.
Lelaki tua itu lalu
menoleh kepada Mak June.
“Bagaimana, June?
Apakah Rugi kau izinkan berguru kepada Ki Robek?” tanyanya.
“I-i-iya. Aku ikut
kata Ayah. Tapi, apakah Rugi bisa sering pulang?” kata Mak June.
“Iya. Rumahku tidak
begitu jauh. Rugi bisa sering pulang,” jawab Ki Robek.
“Iya, aku
mengizinkannya, Ki. Tolong rawat putraku dengan baik, Ki,” kata Mak June dengan
tetap bertahan di balik tirai nomor satu.
“Baik. Aku permisi,
Ki,” ucap Ki Robek tidak bertele-tele.
“Iya. Terima kasih,
Ki,” ucap Kakek Sambo pula.
Ki Robek lalu
berbalik dan pergi untuk mencari Rugi Sabuntel yang sedang pergi bermain.
Saat itu Rugi
Sabuntel sedang bermain bersama rekan wanitanya, maksudnya sesama anak-anak.
Ada dua anak perempuan yang bermain bersama Rugi.
Ketiganya bermain bola
kayu dengan masing-masing memegang sebatang kayu yang digunakan untuk
menggiring bola kayu sebesar genggaman tangan orang dewasa. Jadi bola kayunya
tidak dilempar atau ditendang, tetapi digiring atau dipukul seperti bermain hockey.
Masing-masing anak memiliki lubang tanah yang muat dimasuki di wilayahnya
masing-masing.
Mungkin ini adalah
cikal bakal permainan olahraga hockey yang populer di negeri masa depan.
Mereka bermain di dekat
sebuah rumah kayu panggung pendek yang bisa disebut rumah mewah jika
dibandingkan rumah warga lainnya.
Saat itu, Rugi
Sabuntel berlari tergeol-geol menggiring bola untuk menyerang ke wilayah Moni
Chan, anak perempuan keturunan negeri seberang lautan.
Moni Chan berkulit
putih dan bermata sipit. Dia mengenakan baju bagus warna merah. Rambutnya
disisir rapi dengan hiasan jepit rambut. Rumah panggung itu adalah rumahnya.
Moni Chan berusaha merebut
atau mengganggu bola kayu dengan ujung kayunya. Hal yang sama dilakukan oleh Surapem,
anak perempuan yang sama dekilnya dengan Rugi Sabuntel.
“Hahaha!” tawa Rugi
Sabuntel karena bisa membawa bola melewati Moni Chan, sehingga gadis kecil itu
berlari mengejar teman gendutnya itu.
Karena terancam
lubangnya akan dimasuki oleh Rugi Sabuntel, Moni Chan yang berlari mengejar
berbuat curang dengan cara menarik celana Rugi.
Bret!
Alangkah terkejutnya
Moni Chan karena tarikan tangan kirinya pada celana Rugi Sabuntel ternyata
merobek celana lusuh itu.
“Hihihi!” tawa Moni
Chan cekikikan lebih dulu setelah terkejut.
Rugi Sabuntel yang
juga terkejut mendengar suara dan merasakan celananya robek, sontak berhenti
berlari dan meraba bokong seksinya.
Surapem yang juga
terkejut mendengar suara robek besar itu segera berlari ke belakang Rugi
Sabuntel dan melihat pantat rekan terganteng mereka.
“Apa yang kau
lakukan, Moni?” tanya Rugi Sabuntel dengan kening berkerut dan bibir meruncing,
setelah tangannya memastikan bisa meraba kulit bokongnya langsung. Celananya
telah robek besar.
“Hihihik...!” Kini
Surapem tertawa cekikikan bersama Moni Chan melihat bokong Rugi Sabuntel.
“Aku tidak bersalah,
Rugi. Tarikanku pelan, celanamu saja yang sudah terlalu usang. Hihihi!” kata
Moni Chan membela diri lalu melanjutkan tertawanya, sampai dia memegangi
perutnya.
“Hihihi! Kau tidak
pakai cawat, Rugi!” pekik Surapem sambil menunjuk bokong Rugi Sabuntel yang berusaha
ditutupi dengan memegangi bagian robeknya.
“Aku mau pulang
dulu!” kata Rugi Sabuntel dengan wajah tetap menunjukkan keambekan.
“Ayahku punya celana
yang sudah tidak dipakai, Rugi. Pasti cocok untukmu karena perutmu gendut,”
kata Moni Chan.
“Benar, Rugi. Baba Mo
Yong itu orangnya kecil, pasti celananya muat untukmu. Kapan lagi kau bisa
punya celana bagus?” timpal Surapem.
“Tapi aku tunggu di
sini saja, ya,” kata Rugi Sabuntel.
“Iya. Tunggu di sini,
aku ambilkan di rumah,” kata Moni Chan, lalu dengan semangat berlari ke
rumahnya. Moni Chan memang anak yang baik. Dia selalu bersemangat jika ingin
berbuat baik.
Tidak berapa lama,
Moni Chan keluar dari rumahnya yang diikuti oleh ayahnya yang berkopiah dan
rambutnya panjang dikepang tunggal. Ayah Moni Chan yang berperawakan kecil juga
bermata sipit dengan kumis halus di atas bibir, bukan di bawah bibir. Dia akrab
disebut dengan nama Baba Mo Yong.
Namun, Moni Chan
harus menahan langkahnya untuk meninggalkan rumahnya, padahal tangannya sudah
memegang selipatan kain hitam.
“Di mana temanmu itu,
Moni?” tanya Baba Mo Yong dengan aksen yang berbeda dari warga lokal. Dia tidak
melihat keberadaan Rugi Sabuntel atau Surapem di sekitar halaman rumah.
“Loh, ke mana Rugi
dan Apem?” ucap Moni Chan bingung.
Ketika Moni Chan
masuk ke rumahnya, Ki Robek datang menemui Rugi Sabuntel. Kemunculan Ki Robek
membuat Surapem lari ketakutan, tetapi tidak bagi Rugi Sabuntel.
Rugi lalu pergi ikut
dengan Ki Robek.
“Kenapa kau bermain
dengan anak perempuan, Rugi?” tanya Ki Robek.
“Sebab mereka tidak
akan meledek dan memukuliku, Ki,” jawab Rugi Sabuntel. “Dan aku akan menjadi
yang paling tampan. Hehehe!”
“Mulai berani genit
kau.” (RH)


0 komentar:
Posting Komentar