*Miliarder Ular Biru*
Hari ini Radit
Kuncoro sedang bersemangat. Pasalnya, selain dapat layanan terbaik dari
istrinya di ranjang tadi malam, hari ini dia akan memulai menjual kredit hp
milik temannya. Sudah ada lima pemesan dari rekan kerja dan juga anak buahnya
di perusahaan. Lima pesanan itupun dia dapat di saat dia belum menyebarkan
secara luas ke para karyawan perusahaan.
Karena Radit sibuk
mencari kantong plastik yang bagus untuk membawa lima kotak hp baru yang sudah
ada padanya, Andini Karina berpamitan berangkat lebih dulu karena Luna sudah
datang menjemput.
Andini memang pergi
kerja bersama Luna, sesama karyawan toko kosmetik. Jadi dia tidak perlu diantar
oleh Radit, terlebih arah ke tempat kerja keduanya berlawanan dan ada beberapa
titik jalan yang suka macet jika volume kendaraan telah padat.
“Aku pergi duluan,
Mas,” ucap Andini sambil meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya.
“Iya. Hati-hati,”
pesan Radit seraya tersenyum. Tidak lupa dia memberi kecupan di kening istrinya
yang bedaknya tebal.
Lima belas menit
setelah kepergian istrinya, Radit pun sudah bersiap di sepeda motornya. Selain
tas, ada sekantong plastik yang dia bawa, berisi lima kotak hp baru.
Namun, belum lagi
Radit menjalankan sepeda motornya, ada satu motor merah berhenti di depan pintu
pagar, posisinya pun terkesan menutupi akses ke luar.
Yang buat jantung
berdebar adalah pengemudinya seorang wanita berjaket merah gelap dan memakai
rok pendek setengah paha. Jelas sekali paha yang menggoda iman. Setelah
memarkirkan sepeda motornya menutupi jalan, wanita itu lalu membuka helmnya.
Sangat cantik dengan rambut lurus selurus jalan tol. Dandanan make-up
wajahnya tidak kalah dari Andini.
Meski terpesona
melihat gadis muda itu, Radit tetap kerutkan kening. Dia tidak kenal dengan
wanita itu, tapi kenapa kesannya niat sekali mampir di depan rumahnya.
“Assalamu ‘alaikum!”
salam gadis itu seraya tersenyum kepada Radit, karena pemuda sudah beristri
itulah manusia lain satu-satunya yang ada di tempat tersebut.
“Wa ‘alaikum salam!”
jawab Radit seraya tersenyum canggung.
“Pak Radit, ya?”
terka wanita itu seraya tersenyum manis.
“Iya, benar.”
Radit semakin
penasaran. Diam-diam ada rasa suka bahwa dirinya dikenal oleh gadis cantik
lain, meski tidak kenal.
“Namaku Lidya, Pak.
Aku dari PT. Kucur Kilat, tempat Pak Radit melakukan pinjaman online
tiga bulan lalu.”
Deg!
Terhentak jantung
Radit mendengar itu, tetapi dia berusaha bersikap tenang. Kesenangannya karena
dikenal oleh seorang gadis cantik mendadak luntur.
“Ini ID aku, Pak,”
kata Lidya sambil menunjukkan kartu identitas yang dilengkapi foto yang mirip
dengan wajahnya.
Sejenak Radit
memusatkan pandangannya kepada ID tersebut. Dia sadar bahwa untuk tagihan bulan
ini dia belum bayar.
“Lalu bagaimana ya,
Mbak?” tanya Radit.
“Kedatangan aku itu
hanya untuk mengingatkan Pak Radit, bahwa Bapak sudah melewati jatuh tempo
pembayaran. Kebijakan dari perusahaan, sebagaimana yang juga tertera dalam
poin-poin yang disepakati, bunga pinjaman Bapak akan naik menjadi dua kali
lipat,” jelas Lidya.
“Tapi aku baru telat
satu hari, Mbak. Malam ini juga nanti aku bayar tagihan bulan kemarin kok,”
kata Radit dengan kening mengerut.
“Mohon maaf, Pak
Radit. Meski sudah berlalu satu detik, tetap judulnya adalah telat. Jadi aku
harap Pak Radit tidak menunda lagi untuk bulan berikutnya, karena risikonya bunga
akan dilipatkan lagi. Hanya itu yang ingin aku sampaikan, Pak,” jawab Lidya
tetap ramah dan santun.
“Iya. Nanti aku
enggak telat lagi kok,” tandas Radit.
“Kalau begitu, aku
permisi, Pak,” izin Lidya.
“Iya,” ucap Radit
yang otaknya mulai dilanda ketidaknyamanan.
Sebenarnya Radit
kesal, pasalnya dia baru nunggak satu hari, belum satu bulan, tapi pihak
piutang sudah kirim orang untuk memberi peringatan. Tidak peduli dengan si
pemberi peringatan adalah seorang gadis cantik.
“Baru juga satu hari
telat, sudah seperti telat satu tahun saja. Aku selingkuhin baru tahu rasa
dia,” rutuk Radit, lalu menyalakan sepeda motornya.
Sementara itu, Lidya
sudah pergi dari pandangan mata Radit.
Namun, setibanya di
pabrik tempat dia bekerja sebagai Kepala Gudang, Radit kembali senang hatinya.
Hp yang dia jual kredit sudah diberikan kepada masing-masing pemesan. Dia pun
mendapat uang angsuran pertama.
Setelah memegang uang
hasil angsuran pertama dari penjualan hp, Radit pun berpikir.
“Aku kan sudah
tercatat nunggak, kalau aku bayar sekarang atau akhir bulan ya sama saja dong.
Mendingan sekalian aku bayar rapel nanti. Duit ini aku setor saja ke Erwin,
biar dia tambah percaya ke aku. Hari ini aku gerilya dulu ke karyawan bagian
produksi.”
Maka, hari itu juga,
Radit tidak diam di belakang mejanya, dia turun bergerilya. Pastinya dia
dimodali buku katalog, sehingga calon konsumen bebas melihat-lihat dan bebas
memilih. Bukan hanya anak buahnya di bagian gudang yang dia tawari, tapi juga
di bagian produksi yang memiliki banyak karyawan.
Beruntungnya Radit,
pada hari pertama saja, ada sebelas orang yang positif pesan. Melihat prospek
itu, riang gembiralah hati Radit.
Sepulang kerja, dia
langsung pergi menemui Erwin Bujana untuk ambil barang.
Erwin adalah seorang
pemuda gemuk, usianya lebih tua dari Radit sebanyak satu digit saja.
“Tenang saja.
Kemungkinan konsumen gagal bayar itu hanya 20 persen, tapi itu bisa ditutupi di
angsuran berikutnya atau diperpanjang masa angsurannya dengan syarat penambahan
satu setengah kali angsuran. Kalau sampai nunggak setengah tahun, baru algojo
gua turun tangan,” kata Erwin pada malam itu.
Radit pun hanya
manggut-manggut mengiyakan sambil senyum-senyum. Rencana jangka panjang
langsung terlukis di dalam otaknya. Dengan tekunan dunia barunya itu, mau tidak
mau dia harus menjadi tukang tagih. Jabatannya sebagai kepala gudang yang cukup
dihormati membuatnya mudah untuk melakukan penagihan.
Hari itu Radit sampai
pulang malam dan terlihat cukup lelah.
“Alhamdulillah,
kayaknya prospeknya bagus, Mas,” komentar Andini saat melihat barang bawaan
suaminya.
“Alhamdulillah, Din. Memang
benar, pernikahan itu ada rezekinya sendiri,” kata Radit seraya tersenyum
lebar.
“Aku panasin air dulu
ya, Mas. Mandi biar segar, biar malamnya juga bisa tambah panas,” kata Andini
seraya tersenyum bahagia.
“Hahaha!” tawa Radit.
“Oh ya, Mas. Kata
Warsina tetangga kita, tadi pagi ada cewek yang nemuin Mas sebelum berangkat
ya. Siapa?” tanya Andini sambil menuang air ke dalam cerek untuk dipanaskan.
“Oooh, itu karyawan
di pabrik bawa kunci gudang. Dia izin enggak masuk hari ini!” sahut Radit
berdusta.
Kemahiran Radit dalam
mengarang cerita pendek membuat sang istri percaya. Andini yakin, status mereka
yang masih pengantin baru dan dirinya yang juga cantik, rasanya belum
memungkinkan untuk membuat suaminya memilih selingkuh. Apalagi layanan
ranjangnya tidak jelek dan tidak monoton.
Usaha kredit hp
memberi harapan baru untuk kemajuan ekonomi keluarga mereka.
“Nanti kalau kreditan
ini sudah maju dan luas, kita bisa rekrut sales sendiri, jadi kita yang stok
barang,” kata Radit kepada istrinya, memberi harapan cerah. (RH)

.jpeg)
Ngayal ketinggian si Radit 😁
BalasHapushal yang umum bagui manusia
HapusCoba komen dulu, Om. 2 bab sebelumnya gak jebol😭
BalasHapus