Usaha Kredit, Bab3 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Hari ini Radit Kuncoro sedang bersemangat. Pasalnya, selain dapat layanan terbaik dari istrinya di ranjang tadi malam, hari ini dia akan memulai menjual kredit hp milik temannya. Sudah ada lima pemesan dari rekan kerja dan juga anak buahnya di perusahaan. Lima pesanan itupun dia dapat di saat dia belum menyebarkan secara luas ke para karyawan perusahaan.

Karena Radit sibuk mencari kantong plastik yang bagus untuk membawa lima kotak hp baru yang sudah ada padanya, Andini Karina berpamitan berangkat lebih dulu karena Luna sudah datang menjemput.

Andini memang pergi kerja bersama Luna, sesama karyawan toko kosmetik. Jadi dia tidak perlu diantar oleh Radit, terlebih arah ke tempat kerja keduanya berlawanan dan ada beberapa titik jalan yang suka macet jika volume kendaraan telah padat.

“Aku pergi duluan, Mas,” ucap Andini sambil meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya.

“Iya. Hati-hati,” pesan Radit seraya tersenyum. Tidak lupa dia memberi kecupan di kening istrinya yang bedaknya tebal.

Lima belas menit setelah kepergian istrinya, Radit pun sudah bersiap di sepeda motornya. Selain tas, ada sekantong plastik yang dia bawa, berisi lima kotak hp baru.

Namun, belum lagi Radit menjalankan sepeda motornya, ada satu motor merah berhenti di depan pintu pagar, posisinya pun terkesan menutupi akses ke luar.

Yang buat jantung berdebar adalah pengemudinya seorang wanita berjaket merah gelap dan memakai rok pendek setengah paha. Jelas sekali paha yang menggoda iman. Setelah memarkirkan sepeda motornya menutupi jalan, wanita itu lalu membuka helmnya. Sangat cantik dengan rambut lurus selurus jalan tol. Dandanan make-up wajahnya tidak kalah dari Andini.

Meski terpesona melihat gadis muda itu, Radit tetap kerutkan kening. Dia tidak kenal dengan wanita itu, tapi kenapa kesannya niat sekali mampir di depan rumahnya.

“Assalamu ‘alaikum!” salam gadis itu seraya tersenyum kepada Radit, karena pemuda sudah beristri itulah manusia lain satu-satunya yang ada di tempat tersebut.

“Wa ‘alaikum salam!” jawab Radit seraya tersenyum canggung.

“Pak Radit, ya?” terka wanita itu seraya tersenyum manis.

“Iya, benar.”

Radit semakin penasaran. Diam-diam ada rasa suka bahwa dirinya dikenal oleh gadis cantik lain, meski tidak kenal.

“Namaku Lidya, Pak. Aku dari PT. Kucur Kilat, tempat Pak Radit melakukan pinjaman online tiga bulan lalu.”

Deg!

Terhentak jantung Radit mendengar itu, tetapi dia berusaha bersikap tenang. Kesenangannya karena dikenal oleh seorang gadis cantik mendadak luntur.

“Ini ID aku, Pak,” kata Lidya sambil menunjukkan kartu identitas yang dilengkapi foto yang mirip dengan wajahnya.

Sejenak Radit memusatkan pandangannya kepada ID tersebut. Dia sadar bahwa untuk tagihan bulan ini dia belum bayar.

“Lalu bagaimana ya, Mbak?” tanya Radit.

“Kedatangan aku itu hanya untuk mengingatkan Pak Radit, bahwa Bapak sudah melewati jatuh tempo pembayaran. Kebijakan dari perusahaan, sebagaimana yang juga tertera dalam poin-poin yang disepakati, bunga pinjaman Bapak akan naik menjadi dua kali lipat,” jelas Lidya.

“Tapi aku baru telat satu hari, Mbak. Malam ini juga nanti aku bayar tagihan bulan kemarin kok,” kata Radit dengan kening mengerut.

“Mohon maaf, Pak Radit. Meski sudah berlalu satu detik, tetap judulnya adalah telat. Jadi aku harap Pak Radit tidak menunda lagi untuk bulan berikutnya, karena risikonya bunga akan dilipatkan lagi. Hanya itu yang ingin aku sampaikan, Pak,” jawab Lidya tetap ramah dan santun.

“Iya. Nanti aku enggak telat lagi kok,” tandas Radit.

“Kalau begitu, aku permisi, Pak,” izin Lidya.

“Iya,” ucap Radit yang otaknya mulai dilanda ketidaknyamanan.

Sebenarnya Radit kesal, pasalnya dia baru nunggak satu hari, belum satu bulan, tapi pihak piutang sudah kirim orang untuk memberi peringatan. Tidak peduli dengan si pemberi peringatan adalah seorang gadis cantik.

“Baru juga satu hari telat, sudah seperti telat satu tahun saja. Aku selingkuhin baru tahu rasa dia,” rutuk Radit, lalu menyalakan sepeda motornya.

Sementara itu, Lidya sudah pergi dari pandangan mata Radit.

Namun, setibanya di pabrik tempat dia bekerja sebagai Kepala Gudang, Radit kembali senang hatinya. Hp yang dia jual kredit sudah diberikan kepada masing-masing pemesan. Dia pun mendapat uang angsuran pertama.

Setelah memegang uang hasil angsuran pertama dari penjualan hp, Radit pun berpikir.

“Aku kan sudah tercatat nunggak, kalau aku bayar sekarang atau akhir bulan ya sama saja dong. Mendingan sekalian aku bayar rapel nanti. Duit ini aku setor saja ke Erwin, biar dia tambah percaya ke aku. Hari ini aku gerilya dulu ke karyawan bagian produksi.”

Maka, hari itu juga, Radit tidak diam di belakang mejanya, dia turun bergerilya. Pastinya dia dimodali buku katalog, sehingga calon konsumen bebas melihat-lihat dan bebas memilih. Bukan hanya anak buahnya di bagian gudang yang dia tawari, tapi juga di bagian produksi yang memiliki banyak karyawan.

Beruntungnya Radit, pada hari pertama saja, ada sebelas orang yang positif pesan. Melihat prospek itu, riang gembiralah hati Radit.

Sepulang kerja, dia langsung pergi menemui Erwin Bujana untuk ambil barang.

Erwin adalah seorang pemuda gemuk, usianya lebih tua dari Radit sebanyak satu digit saja.

“Tenang saja. Kemungkinan konsumen gagal bayar itu hanya 20 persen, tapi itu bisa ditutupi di angsuran berikutnya atau diperpanjang masa angsurannya dengan syarat penambahan satu setengah kali angsuran. Kalau sampai nunggak setengah tahun, baru algojo gua turun tangan,” kata Erwin pada malam itu.

Radit pun hanya manggut-manggut mengiyakan sambil senyum-senyum. Rencana jangka panjang langsung terlukis di dalam otaknya. Dengan tekunan dunia barunya itu, mau tidak mau dia harus menjadi tukang tagih. Jabatannya sebagai kepala gudang yang cukup dihormati membuatnya mudah untuk melakukan penagihan.

Hari itu Radit sampai pulang malam dan terlihat cukup lelah.

“Alhamdulillah, kayaknya prospeknya bagus, Mas,” komentar Andini saat melihat barang bawaan suaminya.

“Alhamdulillah, Din. Memang benar, pernikahan itu ada rezekinya sendiri,” kata Radit seraya tersenyum lebar.

“Aku panasin air dulu ya, Mas. Mandi biar segar, biar malamnya juga bisa tambah panas,” kata Andini seraya tersenyum bahagia.

“Hahaha!” tawa Radit.

“Oh ya, Mas. Kata Warsina tetangga kita, tadi pagi ada cewek yang nemuin Mas sebelum berangkat ya. Siapa?” tanya Andini sambil menuang air ke dalam cerek untuk dipanaskan.

“Oooh, itu karyawan di pabrik bawa kunci gudang. Dia izin enggak masuk hari ini!” sahut Radit berdusta.

Kemahiran Radit dalam mengarang cerita pendek membuat sang istri percaya. Andini yakin, status mereka yang masih pengantin baru dan dirinya yang juga cantik, rasanya belum memungkinkan untuk membuat suaminya memilih selingkuh. Apalagi layanan ranjangnya tidak jelek dan tidak monoton.

Usaha kredit hp memberi harapan baru untuk kemajuan ekonomi keluarga mereka.

“Nanti kalau kreditan ini sudah maju dan luas, kita bisa rekrut sales sendiri, jadi kita yang stok barang,” kata Radit kepada istrinya, memberi harapan cerah. (RH)


Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar: