*Dendam 3 Wanita*
Teng teng teng!
Tiga kali suara dentingan lonceng
terdengar di seantero Sekolah Ksatria Banin. Itu tanda bahwa pelajaran teori
beralih kepada pelajaran praktik ringan.
“Baik, semuanya pergi ke Lapangan
Tiga!” seru Master Holfor kepada seluruh murid Tingkat Lima.
“Siap!” seru seluruh murid, kecuali Akira yang belum tahu tradisi di kelas itu.
Master Holfor berjalan ke luar kelas.
Barulah setelah itu, murid-murid berbaris mengikuti di belakang. Mereka tidak
boleh mendahului guru, kecuali untuk alasan yang mendesak.
Dalam barisan di belakang Master Holfor
itu, murid-murid memiliki waktu untuk saling bercanda dengan sesama temannya.
Akira di antara mereka. Ia berjalan
berdampingan dengan seorang murid perempuan berambut pirang lagi pendek seperti
lelaki. Anak itu lebih besar dan tinggi dibandingkan Akira. Ia memiliki hidung
mancung dan pupil mata cokelat.
“Akira, kenalkan aku Ferilly,” sapa
murid itu sambil mengulurkan tangannya kepada Akira untuk berjabat tangan.
Akira tidak langsung menyambut. Ia yang
sedang waspada dari serangan murid lain, sejenak memandang wajah dan mata
Ferilly yang tersenyum. Melihat ada ketulusan dalam senyum Ferilly, akhirnya Akira
juga tersenyum. Ia menjabat tangan kanan Ferilly.
“Sepertinya Alexandria dan
teman-temannya membencimu?” tanya Ferilly.
“Dia tanpa sengaja kalah dariku saat
pertarungan ujian masuk,” jawab Akira.
“Oh pantas, kau tidak akan dilepaskan
olehnya hingga kau menderita,” kata Ferilly yang memang sudah mengerti karakter
Alexandria.
Saat itu pula, dari barisan belakang,
Rossifa dan Yuyuna berjalan cepat mendekati posisi Akira.
Setibanya di belakang Akira, Rossifa
tiba-tiba mendorong punggung Akira dan kakinya menjegal.
“Ak!” pekik Akira terkejut dengan tubuh
terdorong jatuh ke depan.
Tangan kanan Akira refleks menapak
lantai menahan jatuh tubuhnya, agar wajahnya tidak lebih dulu menghantam
lantai.
Suara kegaduhan yang terjadi di
belakang membuat Master Holfor menengok ke belakang.
Agar tidak dicurigai oleh Master
Holfor, Yuyuna berinisiatif mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Akira
bangun.
Melihat Master Holfor berjalan
mendekat, Akira lalu menyambut uluran tangan Yuyuna. Namun, ada sepentul jarum
terselip di jari-jari tangan kiri Akira. Akira sengaja melakukan dorongan saat
menyambut tangan Yuyuna, membuat jarum yang terselip di jari tertusuk masuk.
“Akk!” jerit Akira tiba-tiba.
Jeritan Akira itu mengejutkan Yuyuna,
Rossifa, Ferilly, Alexandria, Master Holfor dan murid lainnya.
Yuyuna yang lebih terkejut. Ia
buru-buru menarik lepas tangannya dari tangan Akira. Ia tadi memang merasakan
ada benda runcing yang menusuk telapak tangannya, tetapi tidak sampai menembus
kulit.
“Apa yang kau lakukan, Yuyuna?!” teriak
Ferilly sambil menarik lengan Yuyuna hingga tertarik ke belakang.
Yuyuna dan yang lainnya lebih terkejut
saat melihat ada sebatang jarum berekor yang menancap cukup dalam di telapak
tangan kiri Akira. Itu adalah jarum sumpit milik Yuyuna yang tadi di kelas
menyerang lambung kiri Akira.
Yang terjadi sebenarnya adalah Akira
memasang jarum berbuntut itu dalam posisi terbalik, ketika ia melakukan tekanan
pada tangan Yuyuna, jarum itu terdorong dan menusuk tangan Akira sendiri.
“Yuyuna! Apa yang kau lakukan?!” bentak
Master Holfor marah.
“Aku....” Yuyuna tidak bisa berkata
apa-apa. Meski insiden jarum itu merupakan trik Akira, tetapi jarum itu adalah
miliknya dan korbannya adalah Akira.
Tiba-tiba Ferilly mendorong bahu kiri
Yuyuna, membuat sahabat Alexandria itu terdorong dan menabrak Rossifa yang
berdiri di belakangnya.
“Hari ini kau menggunakan jarum untuk
mencelakai Akira, mungkin besok kau menggunakan senjata tajam!” bentak Ferilly.
Yuyuna jadi pucat dan menunduk. Ia
tidak berani memandang Master Holfor.
Master Holfor lalu mencabut jarum di
telapak tangan kiri Akira, membuat darah mengalir keluar, tetapi sedikit. Akira
segera menutup luka itu dengan tekanan ibu jari tangan kanannya.
“Yuyuna, apakah ini jarum milikmu?”
tanya Master Holfor.
“Itu jarum sumpit, Master. Yuyuna pasti
memiliki jarum yang lain atau sumpit,” adu Ferilly. Dia berani menuding karena
ia melihat dan tahu bahwa jarum itulah yang disumpitkan oleh Yuyuna saat di
kelas.
“Ferilly, periksa badan Yuyuna!”
perintah Master Holfor.
Ferilly menatap tajam mata Yuyuna
sambil tangannya bergerak memeriksa pinggang Yuyuna. Ferilly menemukan satu
benda asing di pinggang belakang Yuyuna. Dengan paksa ia mencabut benda kecil
panjang itu.
Sebuah sumpit berlubang kecil. Itulah
benda yang diambil oleh Ferilly dari pinggang belakang Yuyuna. Ferilly kemudian
menyerahkan benda itu kepada Master Holfor.
Yuyuna hanya bisa menatap benci kepada
Ferilly.
“Sial, ternyata Akira tidak boleh
dianggap remeh!” rutuk Alexandria yang berada di barisan belakang.
“Anak itu licik juga,” kata teman
Alexandria yang berdiri di sisi kanan. Gadis berambut keriting berkulit agak
gelap itu bernama Nadin Hen.
“Sebaiknya kita hentikan dulu
mengganggunya, sangat berisiko saat ada Master Holfor,” kata murid perempuan
lainnya yang berdiri di sisi kiri Alexandria. Ia bernama Finna Riwe. Dialah
yang memiliki alat lontar pengait yang menyerang satu kaki Akira saat di kelas,
sehingga jatuh menabrak Master Holfor.
“Yuyuna! Pergi melapor ke Master Gorang
dan terima hukumanmu!” perintah Master Holfor.
“Baik, Master,” ucap Yuyuna patuh.
Yuyuna lalu membungkuk hormat kepada
Master Holfor, kemudian pergi meninggalkan barisan itu.
Setiap kelas di Sekolah Ksatria Banin
memiliki seorang Hakim Kelas yang berarti ada lima Hakim Kelas di sekolah itu
dan satu orang Hakim Sekolah. Hakim Kelas bertugas menjatuhkan hukuman kepada
murid yang melakukan pelanggaran atau kesalahan berat. Biasanya, murid akan
melapor sendiri dengan jujur. Jika memberi laporan dusta, akan berpotensi
mendapat hukuman yang lebih berat. Guru yang memberi perintah melapor selalu
akan mengonfirmasi ke Hakim Kelas tentang murid yang melapor tadi.
Master Gorang adalah Hakim Kelas Putih,
satu jabatan yang berada di dalam bidang kesiswaan.
“Itu luka ringan,” kata Master Holfor
kepada Akira lalu berbalik pergi menuju depan barisan.
“Kau memilih menjadi musuh kami,
Ferilly!” kecam Rossifa.
“Kalianlah yang memilih mencari musuh.
Katakan kepada Alexa, orang jahat akan selalu berakhir buruk!” kata Ferilly
lantang, ia mendelik menatap Rossifa yang lebih tinggi darinya itu.
Rossifa adalah murid perempuan
tertinggi di Tingkat Lima itu.
“Waspadalah kalian berdua!” ancam
Rossifa dengan tatapan penuh kebencian. Dengan kesal ia lalu berbalik pergi ke
barisan belakang.
“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Ferilly
kepada Akira.
“Tidak apa-apa karena aku sendiri yang
menusuk tanganku dengan jarum,” jawab Akira seraya tersenyum.
Mendeliklah Ferilly mendengar pengakuan
Akira.
“Sebenarnya kau cerdik atau licik?”
tanya Ferilly.
“Hahaha!” Tawa Akira mendadak meledak
pendek mendengar pertanyaan sahabat barunya itu.
Tawa Akira cukup membuat sejumlah mata
murid yang lain memandang kepadanya sejenak. Pada dasarnya Akira memang
memiliki karakter yang gampang tertawa.
“Jika tidak begitu, sebagai murid baru,
rasanya sulit aku untuk melawan intimidasi dari para murid senior,” kilah Akira.
“Jangan khawatir, kita sudah
bersahabat, aku akan berada di sisimu jika Alexandria mencoba mencelakaimu,”
tandas Ferilly.
“Terima kasih, Ferilly,” ucap Akira
seraya tersenyum lebar kepada gadis berambut pirang itu.
Sementara itu di belakang, Rossifa
berbicara kepada Alexandria.
“Alexa, lebih baik kita tahan dulu, Akira
sedang dalam kondisi waspada. Jika waktu bebas atau di dalam permainan, barulah
kita beri pelajaran yang keras,” ujar Rossifa.
Alexandria hanya mengangguk.
“Akira dan Ferilly,” ucap Rossifa lagi.
Memang, ketika kelas praktik di Lapangan Tiga, Akira tidak mengalami gangguan apa pun dari Alexandria dan teman-temannya. Namun, itu menjadi keuntungan bagi Akira. Beberapa murid memilih mengakrabkan diri dengan Akira sebagai murid dan teman baru mereka. Salah satunya adalah Gugum, Ketua Tingkat Lima dan murid unggulan di kelas itu. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar