Pendekar Santai: Takut Tapi Rindu (10)

Ilustrasi Walung Gigil (Gambar: Dreamina)

Walung memiliki keinginan kuat untuk pergi memancing besok pagi di Telaga Bolong agar bertemu lagi dengan Arda Handara.

Namun, kejadian aneh tadi siang jelas sangat mengganggu pikiran gadis cantik itu. Sampai-sampai dia sulit tidur sampai waktu subuh.

“Bagaimana mungkin Sumila tidak melihat Arda, padahal sangat jelas aku bersama Arda? Aku bisa memarahinya, bisa memegang tangannya, dan bisa mencubitinya. Bahkan Ayang mesum sebagai saksi,” pikir Walung di tengah malam itu, di dalam gelapnya rumah yang tanpa penerangan karena semua anggota keluarganya sudah tidur.

Pikiran dan tanda tanya itu bukan baru kali ini muncul, tetapi pertanyaan itu sudah berulang kali dia lontarkan kepada dirinya sendiri sejak dia berpisah dengan Sumila. Karena selalu dia pikirkan, jadi selalu dia pertanyakan juga.

“Apakah benar Arda itu dedemit? Tetapi kenapa dedemit tampan. Dia minum kopi, berbicara, berjalan, seperti manusia. Mana mungkin dedemit pandai membuat hati wanita bahagia?”

Di sela-sela kepusingannya di dalam kegelapan itu, Walung juga bisa tersenyum sendiri.

Iiik!

Terdengar suara derit dipan saat Walung berganti posisi tubuhnya. Sebentar kemudian terdengar lagi suara derit dipan bambu tersebut, menunjukkan bahwa dia berubah posisi lagi, memberi kesan bahwa dirinya gelisah.

“Tapi tidak mungkin aku jatuh hati kepada Arda yang jauh lebih muda dariku. Arda itu juga tidak jelas asal usulnya. Jika dia tinggal di puncak gunung, kenapa baru sekarang munculnya? Tidak mungkin dia tahu-tahu keluar dari telur di atas gunung, lalu tumbuh berkembang, lalu sekarang waktunya keluyuran turun ke telaga dan Desa Peyek. Jika dia orang dari luar Desa Peyek, seharusnya dia pertama kali muncul ya di desa, bukan langsung di atas,” pikir Walung, berdebat dengan pikirannya sendiri.

Iiik!

Terdengar lagi suara dipan yang ditiduri oleh Walung dan Klimot.

“Walung!” panggil Tamira dari ruang sebelah yang juga gelap gulita.

Walung agak terkejut mendapat panggilan, tetapi dia memilih diam agar tidak ketahuan bahwa ia belum tidur.

“Walung, kau belum tidur?” tanya Tamira dengan suara yang serak dan berat, tanda bahwa ia usai tidur lelap.

Lagi-lagi Walung tidak menjawab. Dia mematung dan tidak mau bergerak lagi. Dia sadar bahwa ibunya terbangun karena mendengar suara derit dipannya.

Karena tidak dijawab, Tamira pun berhenti bertanya dan melanjutkan tidurnya karena ayam belum berkokok.

Walung pun melanjutkan debat di dalam pikirannya.

“Aku sangat yakin. Sumila pasti sengaja mengerjaiku. Dia pasti melihat Arda pergi di saat aku sedang berbicara kepadanya. Jelas-jelas Arda menyapa warga yang berpapasan dengannya. Itu menunjukkan bahwa warga pun melihat Arda bersamaku. Arda harus menjelaskannya kepadaku kenapa ini terjadi. Jadi aku harus bertemu dengannya besok.”

Walung terdiam sebentar, tetapi kembali berpikir.

“Tapi bagaimana kalau dia memang dedemit? Jadi selama ini aku berbicara dengan dedemit, yang hanya aku yang bisa melihatnya, menyentuhnya, mencubitnya, orang lain tidak bisa melihat keberadaannya seperti Sumila. Tapi … jelas-jelas Ayang berbicara dengan Arda, tertawa bersama, bahkan Ayang menyuguhkan susunya kepada Arda. Tidak, tidak, tidak. Tidak bisa terus seperti ini. Aku yang pusing. Besok aku harus bertemu dengan Arda. Apalagi aku merasa rindu ingin terus bertemu dengannya. Aku rindu bertengkar dengannya.”

Di dalam keterdiamannya itu Walung kembali tersenyum. Dia merasa lucu mengingat momen-momen ketika ia dan Arda bertengkar dan berdebat.

“Besok pagi, jika bertemu dengan Arda, aku akan tanya tentang dirinya yang tidak bisa dilihat oleh Sumila. Jika dia tidak mau menjawab dan berbelit-belit, aku akan iming-imingi dia sesuatu yang membuatnya senang. Aku akan menawarkan diriku untuk menjadi kekasihnya. Aku sangat cantik dan tidak akan ada lelaki yang menolak, termasuk lelaki dedemit. Jika Arda mau menjadi kekasihku, jadi aku punya dua kekasih, yaitu Kakang Baden Ronto dari jenis manusia, dan Arda dari jenis dedemit. Hahaha!”

Walung tertawa keras di dalam kepalanya karena membayangkan dipeluk dan disayang oleh dua orang pemuda tampan dalam satu waktu.

“Aku yakin, meski seorang dedemit, Arda adalah jenis dedemit yang sangat baik. Buktinya dia menolongku di telaga, membayarkan kopi dan getukku, dan suka memujiku cantik dan manis. Dia juga lucu dan konyol. Mana mungkin kopi menjadi manis hanya karena yang meminumnya semanis aku. Betul juga kata Ayang, meski Arda masih bocah, tetapi satu dua tahun bisa panen. Hahaha!”

Lagi-lagi Walung tertawa di dalam kepalanya.

Sadar atau tidak sadar, Walung sebenarnya sudah jatuh hati kepada Arda Handara yang notabene jauh lebih muda darinya. Itu terbukti dari isi kepalanya yang selalu tentang pemuda sakti itu.

“Tadi malam kau tidak tidur, Walung?” tanya sang ibu saat mereka berdua mencuci pakaian di parit irigasi sawah. “Kau bahkan tertawa cekikan sendiri.”

“Hah! Aku tertawa, Ibu?” kejut Walung. Sebab dia tidak merasa tertawa dengan bersuara.

“Iya. Ibu mendengar jelas kau tertawa, tapi ditahan. Jadi tawamu seperti tikus kawin, kecil tapi berisik,” gerutu Tamira sambil membanting-banting kain cuciannya di batu.

Walung terdiam mendengar kesaksian ibunya.

“Jangan-jangan tanpa sadar suara tawaku sampai bocor tadi malam,” batin Walung karena ketahuan.

“Kau kenapa sampai tertawa seperti itu dan tidak tidur?” tanya Tamira lagi.

“Yaaa, jika aku tertawa, berarti aku bahagia, Bu,” jawab Walung, yang secara tidak langsung membenarkan kesaksian ibunya yang ternyata mendengarnya tertawa tadi malam. “Tapi aku juga tidur, Bu. Buktinya Ibu yang membangunkanku.”

“Tapi tadi susahnya minta ampun,” kata Tamira. “Jadi kau nanti siang bisa mengantarkan makan siang untuk ayah dan kakekmu?”

“Belum bisa.”

“Bukankah perasaanmu sudah bahagia?”

“Iya, karena itu. Sebab, aku harus pergi ke Telaga Bolong usai mencuci ini. Sekalian aku mau mandi di sana saja agar lebih segar.”

“Ibu itu bingung denganmu, Walung. Sepertinya kau mulai berubah. Biasanya jika kau sudah nyaman, kau betah di rumah. Tapi sekarang, kau tetap pergi ke Telaga Bolong,” keluh Tamira.

Walung hanya tertawa kecil mendengar keluhan ibunya.

Akhirnya mereka selesai mencuci. Hanya mereka yang mencuci di irigasi itu. Warga yang lain di sumur atau di sungai. Setelah mencuci, Tamira mandi di tempat itu juga. Tempat itu sepi dan terlindung, jadi tidak perlu takut ada lelaki yang akan mengintip. Itu memang spot rahasia ibu dan anak tersebut untuk mandi dan mencuci baju, meski jaraknya agak jauh dari rumah.

Benar saja, Walung benar-benar menjalankan agendanya. Dalam kondisi belum mandi, dia membawa kail untuk naik ke gunung. Walung memang berbeda pilihan. Warga Desa Peyek yang suka memancing lebih memilih pergi ke sungai. Memancing di Telaga Bolong bukanlah pilihan yang populer bagi mancing mania.

Walung juga membawa pakaian ganti, sehingga dia pergi seperti seorang gadis pengembara. Itu memancing warga jadi menyapa dan bertanya tentang tujuannya. Ketika Walung menjawab “mau memancing di telaga”, maka dia pun mendapat pesan dari setiap orang agar berhati-hati. Tidak jarang dia diberi cerita lagi tentang tiga lelaki pemberani Desa Peyek yang pulang dalam kondisi ketakutan, seolah-olah dia orang terakhir yang belum tahu ceritanya. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar