Walung memiliki keinginan kuat untuk pergi memancing besok pagi di Telaga Bolong agar bertemu lagi dengan Arda Handara.
Namun,
kejadian aneh tadi siang jelas sangat mengganggu pikiran gadis cantik itu.
Sampai-sampai dia sulit tidur sampai waktu subuh.
“Bagaimana
mungkin Sumila tidak melihat Arda, padahal sangat jelas aku bersama Arda? Aku
bisa memarahinya, bisa memegang tangannya, dan bisa mencubitinya. Bahkan Ayang mesum
sebagai saksi,” pikir Walung di tengah malam itu, di dalam gelapnya rumah yang
tanpa penerangan karena semua anggota keluarganya sudah tidur.
Pikiran dan
tanda tanya itu bukan baru kali ini muncul, tetapi pertanyaan itu sudah berulang
kali dia lontarkan kepada dirinya sendiri sejak dia berpisah dengan Sumila.
Karena selalu dia pikirkan, jadi selalu dia pertanyakan juga.
“Apakah
benar Arda itu dedemit? Tetapi kenapa dedemit tampan. Dia minum kopi, berbicara,
berjalan, seperti manusia. Mana mungkin dedemit pandai membuat hati wanita bahagia?”
Di
sela-sela kepusingannya di dalam kegelapan itu, Walung juga bisa tersenyum
sendiri.
Iiik!
Terdengar
suara derit dipan saat Walung berganti posisi tubuhnya. Sebentar kemudian
terdengar lagi suara derit dipan bambu tersebut, menunjukkan bahwa dia berubah
posisi lagi, memberi kesan bahwa dirinya gelisah.
“Tapi tidak
mungkin aku jatuh hati kepada Arda yang jauh lebih muda dariku. Arda itu juga tidak
jelas asal usulnya. Jika dia tinggal di puncak gunung, kenapa baru sekarang
munculnya? Tidak mungkin dia tahu-tahu keluar dari telur di atas gunung, lalu
tumbuh berkembang, lalu sekarang waktunya keluyuran turun ke telaga dan Desa
Peyek. Jika dia orang dari luar Desa Peyek, seharusnya dia pertama kali muncul
ya di desa, bukan langsung di atas,” pikir Walung, berdebat dengan pikirannya
sendiri.
Iiik!
Terdengar lagi
suara dipan yang ditiduri oleh Walung dan Klimot.
“Walung!”
panggil Tamira dari ruang sebelah yang juga gelap gulita.
Walung agak
terkejut mendapat panggilan, tetapi dia memilih diam agar tidak ketahuan bahwa
ia belum tidur.
“Walung,
kau belum tidur?” tanya Tamira dengan suara yang serak dan berat, tanda bahwa
ia usai tidur lelap.
Lagi-lagi Walung
tidak menjawab. Dia mematung dan tidak mau bergerak lagi. Dia sadar bahwa
ibunya terbangun karena mendengar suara derit dipannya.
Karena tidak
dijawab, Tamira pun berhenti bertanya dan melanjutkan tidurnya karena ayam
belum berkokok.
Walung pun
melanjutkan debat di dalam pikirannya.
“Aku sangat
yakin. Sumila pasti sengaja mengerjaiku. Dia pasti melihat Arda pergi di saat
aku sedang berbicara kepadanya. Jelas-jelas Arda menyapa warga yang berpapasan
dengannya. Itu menunjukkan bahwa warga pun melihat Arda bersamaku. Arda harus
menjelaskannya kepadaku kenapa ini terjadi. Jadi aku harus bertemu dengannya
besok.”
Walung terdiam
sebentar, tetapi kembali berpikir.
“Tapi
bagaimana kalau dia memang dedemit? Jadi selama ini aku berbicara dengan
dedemit, yang hanya aku yang bisa melihatnya, menyentuhnya, mencubitnya, orang
lain tidak bisa melihat keberadaannya seperti Sumila. Tapi … jelas-jelas Ayang
berbicara dengan Arda, tertawa bersama, bahkan Ayang menyuguhkan susunya kepada
Arda. Tidak, tidak, tidak. Tidak bisa terus seperti ini. Aku yang pusing. Besok
aku harus bertemu dengan Arda. Apalagi aku merasa rindu ingin terus bertemu
dengannya. Aku rindu bertengkar dengannya.”
Di dalam keterdiamannya
itu Walung kembali tersenyum. Dia merasa lucu mengingat momen-momen ketika ia
dan Arda bertengkar dan berdebat.
“Besok
pagi, jika bertemu dengan Arda, aku akan tanya tentang dirinya yang tidak bisa
dilihat oleh Sumila. Jika dia tidak mau menjawab dan berbelit-belit, aku akan
iming-imingi dia sesuatu yang membuatnya senang. Aku akan menawarkan diriku
untuk menjadi kekasihnya. Aku sangat cantik dan tidak akan ada lelaki yang
menolak, termasuk lelaki dedemit. Jika Arda mau menjadi kekasihku, jadi aku
punya dua kekasih, yaitu Kakang Baden Ronto dari jenis manusia, dan Arda dari
jenis dedemit. Hahaha!”
Walung
tertawa keras di dalam kepalanya karena membayangkan dipeluk dan disayang oleh
dua orang pemuda tampan dalam satu waktu.
“Aku yakin,
meski seorang dedemit, Arda adalah jenis dedemit yang sangat baik. Buktinya dia
menolongku di telaga, membayarkan kopi dan getukku, dan suka memujiku cantik
dan manis. Dia juga lucu dan konyol. Mana mungkin kopi menjadi manis hanya
karena yang meminumnya semanis aku. Betul juga kata Ayang, meski Arda masih
bocah, tetapi satu dua tahun bisa panen. Hahaha!”
Lagi-lagi
Walung tertawa di dalam kepalanya.
Sadar atau
tidak sadar, Walung sebenarnya sudah jatuh hati kepada Arda Handara yang notabene
jauh lebih muda darinya. Itu terbukti dari isi kepalanya yang selalu tentang pemuda
sakti itu.
“Tadi malam
kau tidak tidur, Walung?” tanya sang ibu saat mereka berdua mencuci pakaian di parit
irigasi sawah. “Kau bahkan tertawa cekikan sendiri.”
“Hah! Aku
tertawa, Ibu?” kejut Walung. Sebab dia tidak merasa tertawa dengan bersuara.
“Iya. Ibu
mendengar jelas kau tertawa, tapi ditahan. Jadi tawamu seperti tikus kawin, kecil
tapi berisik,” gerutu Tamira sambil membanting-banting kain cuciannya di batu.
Walung
terdiam mendengar kesaksian ibunya.
“Jangan-jangan
tanpa sadar suara tawaku sampai bocor tadi malam,” batin Walung karena
ketahuan.
“Kau kenapa
sampai tertawa seperti itu dan tidak tidur?” tanya Tamira lagi.
“Yaaa, jika
aku tertawa, berarti aku bahagia, Bu,” jawab Walung, yang secara tidak langsung
membenarkan kesaksian ibunya yang ternyata mendengarnya tertawa tadi malam. “Tapi
aku juga tidur, Bu. Buktinya Ibu yang membangunkanku.”
“Tapi tadi
susahnya minta ampun,” kata Tamira. “Jadi kau nanti siang bisa mengantarkan
makan siang untuk ayah dan kakekmu?”
“Belum
bisa.”
“Bukankah
perasaanmu sudah bahagia?”
“Iya,
karena itu. Sebab, aku harus pergi ke Telaga Bolong usai mencuci ini. Sekalian aku
mau mandi di sana saja agar lebih segar.”
“Ibu itu bingung
denganmu, Walung. Sepertinya kau mulai berubah. Biasanya jika kau sudah nyaman,
kau betah di rumah. Tapi sekarang, kau tetap pergi ke Telaga Bolong,” keluh
Tamira.
Walung
hanya tertawa kecil mendengar keluhan ibunya.
Akhirnya
mereka selesai mencuci. Hanya mereka yang mencuci di irigasi itu. Warga yang
lain di sumur atau di sungai. Setelah mencuci, Tamira mandi di tempat itu juga.
Tempat itu sepi dan terlindung, jadi tidak perlu takut ada lelaki yang akan
mengintip. Itu memang spot rahasia ibu dan anak tersebut untuk mandi dan
mencuci baju, meski jaraknya agak jauh dari rumah.
Benar saja,
Walung benar-benar menjalankan agendanya. Dalam kondisi belum mandi, dia
membawa kail untuk naik ke gunung. Walung memang berbeda pilihan. Warga Desa Peyek
yang suka memancing lebih memilih pergi ke sungai. Memancing di Telaga Bolong
bukanlah pilihan yang populer bagi mancing mania.
Walung juga
membawa pakaian ganti, sehingga dia pergi seperti seorang gadis pengembara. Itu
memancing warga jadi menyapa dan bertanya tentang tujuannya. Ketika Walung
menjawab “mau memancing di telaga”, maka dia pun mendapat pesan dari setiap
orang agar berhati-hati. Tidak jarang dia diberi cerita lagi tentang tiga
lelaki pemberani Desa Peyek yang pulang dalam kondisi ketakutan, seolah-olah
dia orang terakhir yang belum tahu ceritanya. (RH)

.webp)
0 komentar:
Posting Komentar