“Klimot, apakah kau bertemu kakakmu?” tanya Tamira kepada putra mudanya saat matahari berposisi di waktu asar.
“Tidak, Bu,” jawab Klimot yang pulang bersama Angkur,
sahabatnya. Setelah minum, keduanya kembali pergi untuk bermain.
“Klimot, apakah kau sudah bertemu kakakmu?” tanya
Tamira lagi kepada putranya yang pulang seorang diri sambil membawa mainan
kuda-kudaan dari tangkai daun pisang. Saat itu waktu sedang mendekati magrib.
“Belum, Bu,” jawab Klimot yang membuat sang ibu
berubah menjadi agak khawatir.
Tidak berapa lama, Gegaba dan Sakuret pulang dari
sawah dan kebun, beberapa menit sebelum matahari terbenam di barat.
“Ayah, Sakuret, apakah kalian bertemu dengan Walung
hari ini?” tanya Tamira dengan rona muka yang sudah menunjukkan kecemasan.
“Tidak,” jawab Gegaba tanpa mengindahkan ekspresi
wajah menantunya.
“Sejak dia masih tidur sampai sekarang Walung tidak
bertemu denganku. Tidak usah dicemaskan, tidak biasanya kau khawatir, Tamira.
Sebentar lagi juga pulang. Dia bahkan pernah pulang malam-malam,” kata Sakuret
santai sambil meletakkan perkakasnya di pojok dekat pintu dan pergi duduk di
dipan dengan punggung bersandar pada tiang bambu rumah.
“Tadi pagi dia bilang mau memancing di Telaga Bolong
dan mandi di sana,” kata Tamira, masih resah meski suami dan ayahnya tidak ada
yang khawatir.
“Klimot, coba kau keliling desa. Cari kakakmu!”
perintah Sakuret.
“Biasanya kalau pulang malam, pasti sedang bersama
Baden Ronto. Kakang Baden kemarin lusa pergi ke Ibu Kota membawa bambu weling. Mungkin
sudah pulang dan melepas rindu dengan Kakak,” kata Klimot seperti kereta api
berjalan.
“Eeeh, malah dia yang panjang bicaranya. Sudah, pergi
sana!” sergah Sakuret agak kesal.
Tanpa berkata lagi, Klimot segera pergi ke luar lalu menjauh
untuk keliling desa dalam suasana yang sudah remang-remang.
Karena sudah mulai malam, suasana desa pun mulai sepi
dengan nyala obor milik warga di beberapa sudut desa. Klimot tetap berjalan.
“Kak Semilir, apakah kau melihat kakakku?” tanya
Klimot kepada seorang gadis teman Walung yang sedang dduk di teras rumahnya.
“Tidak pernah,” jawab Semilir.
Klimot melanjutkan ekspedisinya melewati jejalanan
desa. Ia pun lewat di depan Kedai Mak Kuwat.
Kedai itu menyala terang dan ramai oleh pengunjung
yang semuanya lelaki. Suara tawa para lelaki dewasa itu terkesan bahwa mereka
sangat bahagia makan dan minum di kedai tersebut.
“Hihihik…!” Ada juga suara tawa beberapa perempuan
yang terkesan genit, tetapi mereka bukan pelanggan. Mereka adalah pelayang
kedai.
Benar kata Walung kepada Arda Handara pada hari
kemarin, di saat waktu sore hingga malam, pelayan di Kedai Mak Kuwat tidak
hanya Ayang, tapi ada dua wanita lain. Mereka sama-sama genit dalam melayani
dan berpenampilan lumayan terbuka, terutama area dada dan paha.
Meski demikian, ada aturan tidak tertulis yang berlaku
ketat di kedai tersebut, satu colekan saja terhadap para pelayan, akan dihitung
kepengnya. Apalagi jika main pegang-pegang, bayarannya mahal.
Klimot mendatangi seorang lelaki separuh baya yang
dikenalnya.
“Paman Jambong!” panggil Klimot kepada lelaki besar
yang duduk di dekat pintu masuk kedai.
Jambong adalah salah satu lelaki pemberani Desa Peyek
yang pernah pulang ketakutan dari atas gunung.
“Eh, sedang apa kau di sini, Klimot? Ini bukan tempat
anak kecil. Nanti aku laporkan kepada ayahmu,” kata Jambong agak terkejut
melihat keberadaan anak kecil itu.
“Justru Ayah yang menyuruhku,” jawab Klimot.
“Wah, tidak benar si Sakuret menyuruh anaknya datang
ke sini,” rutuk Jambong.
“Paman, apakah Paman melihat kakakku?” tanya Klimot.
“Lihat, tapi kemarin,” jawab Jambong. “Kenapa mencari
Walung?”
“Sejak pagi belum pulang-pulang, Paman,” jawab Walung.
“Woi!” teriak Jambong tiba-tiba dengan keras kepada
para manusia di dalam kedai.
Teriakan keras itu mengejutkan semuanya, membuat
suasana kedai mendadak hening. Semua mata segera menengok kepada Jambong.
“Apakah di antara kalian ada yang melihat Walung?
Putri cantiknya Sakuret. Kekasihnya Baden Ronto!” tanya Jambong dengan
berteriak.
Tidak ada yang langsung menjawab pertanyaan Jambong.
Para lelaki pengunjung kedai saling pandang sejenak dengan rekannya yang tidak
bisa memberi jawaban.
“Walung tidak perlu dicari, nanti dia pulang sendiri.
Dia itu sudah besar,” kata satu orang pengunjung menjadi penanggap pertama dari
pertanyaan Jambong.
“Waktu pergi, kakakmu izin ke mana, Klimot?” tanya
yang lain langsung kepada Klimot.
“Kata Ibu pergi memancing di Telaga Bolong,” jawab
Klimot.
“Jika begitu, pergilah cari ke Telaga Bolong!” kata
lelaki itu lagi dengan nada yang lebih keras.
“Klimot!” panggil satu suara perempuan. Dia adalah
Ayang. “Mungkin Walung kabur bersama teman lelakinya yang sangat tampan itu.”
Terkejut Klimot mendengar perkataan Ayang yang tampil
cerah menggoda di malam itu. Tidak hanya Klimot yang terkejut, para lelaki desa
itu juga jadi dilanda rasa penasaran.
“Siapa, Ayang?” tanya Jambong cepat.
“Kemarin, ada aden pendekar, tampan sekali seperti
anak bangsawan. Aku saja sampai jatuh hati walaupun umurnya masih belasan
tahun. Sedikit lebih dewasa dari Klimot. Dia dan Walung minum kopi pahit di
sini. Mereka berdua akrab sekali, seperti sepasang kekasih, walaupun si aden
itu lebih muda, tapi sangat tampan. Mereka berdua pergi bersama. Mungkin Walung
dibawa kabur oleh pendekar muda itu.”
Semua pelanggan mendengarkan cerita Ayang dengan
serius dan khidmat sampai Ayang berhenti bicara.
“Iya, iya. Aku kemarin juga melihat Walung berjalan
bersama pemuda tampan itu. Mereka sangat akrab di jalan,” kata seorang
pelanggang lain.
“Klimot,” kata Jambong sambil memegang bahu si anak lelaki.
“Yang jelas, Walung tidak ada di kedai ini. Mungkin benar kata Ayang, kakakmu
itu dibawa pergi oleh teman lelakinya. Atau kau keliling desa lagi untuk
mencarinya.”
“Baik, Paman Jambong. Terima kasih,” ucap Klimot
patuh.
Jambong hanya manggut-manggut.
Klimot memutuskan untuk pergi mencari lagi. Tempat
terakhir yang ia datangi adalah kediaman Juragan Sugarap Bondo. Namun, Klimot
tidak masuk ke halaman kediaman sang juragan yang masih banyak aktivitas para
pekerja, yang bisa disebut sedang lembur.
Klimot berdiri di dekat gerbang pagar halaman sambil
matanya mencari-cari. Namun, ia segera ditemukan oleh seseorang.
“Heh, sedang apa kau di sini, Nak?” tanya seorang
lelaki sambil memegang bahu Klimot dari belakang.
Agak terkejut Klimot karena posisinya memang seperti
maling yang sedang mengintai. Dia menengok dan memandang wajah temaram si
lelaki dewasa dan berkumis itu.
“Anu, Kakang. Aku mencari kakakku,” jawab Klimot.
“Siapa kakakmu?” tanya lelaki yang merupakan salah
satu karyawan Juragan Sugarap tersebut.
“Kak Walung.”
“Oooh, kakakmu yang katanya kekasih Den Baden Ronto?”
terka si pemuda.
“Benar, Kakang.”
“Tidak ada. Aden Baden juga belum pulang dari Ibu
Kota,” kata si pemuda.
“Oh, jadi belum pulang ya? Aku kira sudah pulang dan
Kakak sedang bersama Kakang Baden,” ucap Klimot.
Akhirnya Klimot pulang tanpa menemukan kakaknya.
Namun, dia mendapatkan informasi penting dari Kedai Mak Kuwat. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar