![]() |
| Pegunungan Papua Nugini (Photo Mood/OkeZone) |
Kemudian Sahabat Umar pun bercerita. ”Dahulu sebelum aku mengenal Islam, aku membuat patung berhala dari manisan. Lalu aku pun menyembah patung manisan itu. Demi Lata, Uzza, Mannat, engkau lah yang mulia, beri aku makanan sebagai rizki darimu” kataku.
"Waktu itu aku menyembah patung namun perutku sedang lapar. Selesai menyembah berhala aku menuju dapur, tak kudapatkan makanan di sana lalu aku kembali ke ruangan persembahyangan. Tak ada makanan selain tuhan sesembahanku, akhirnya dengan rasa sesal aku memakan tuhanku sendiri yang kusembah-sembah sebelumnya. Aku memakan berhala tersebut mulai dari kepalanya, terus tangannya hingga habis tak tersisa.”
Mendengar cerita Umar Rasul tertawa hingga kelihatan gigi grahamnya, Beliaupun bertanya,
”Di mana akal kalian waktu itu?”
Umar Menjawab, “Akal kami memang pintar, namun sesembahan kami yang menyesatkan kami.”
Lalu Umar bercerita lagi, "Dahulu aku punya seorang anak perempuan, aku ajak anak tersebut kesuatu tempat. Tiba di tempat yang aku tuju, aku mulai menggali sebuah lubang. Setiap kali tanah yang aku gali mengenai bajuku, maka anak perempuanku membersihkannya. Dia tidak mengetahui sesungguhnya lubang yang aku gali adalah untuk menguburnya hidup-hidup, untuk persembahan berhala. Selesai menggali lubang, aku melempar anak perempuanku kedalam lubang. Dia menangis kencang sambil menatap wajahku. Masih terngiang wajah anakku yang masih tidak mengerti apa yang dilakukan ayahnya sendiri dari bawah lubang."
Mendengar cerita itu meneteslah air mata Rasul. Begitupun dengan Umar menyesali perbuatan Jahiliyyahnya sebelum dia mengenal Islam. (Rudi Hendrik)


0 komentar:
Posting Komentar