![]() |
| Cahyono menjadi dai |
''Papa masuk Islam pasti mau kawin lagi,'' tuding istrinya sinis.
Cahyono berusaha menjelaskan. ''Saya masuk Islam karena mendapat hidayah dari Allah. Saya nggak mau ke neraka, sebab selama ini sudah di jalan yang salah.''
Cahyono pun mengajak istri dan anaknya mengikutinya masuk Islam. Permintaan yang sangat sulit karena mereka penganut Nasrani yang taat.
Tak menemui kata sepakat, mereka pisah ranjang. Beberapa lama kemudian, keduanya bertemu lagi dan tetap dengan sikap masing-masing. Tapi, Cahyono telah berketetapan hati. ''Benar Mah, di hadapan orang-orang kau adalah istriku, tapi di hadapan Allah kau bukan istriku.''
''Kalau begitu bagaimana caranya supaya kita bisa rukun lagi,'' tanya istrinya.
''Kita kawin lagi tapi syaratnya harus masuk Islam.''
Sang istri menampik.
Suatu hari, ketika rekaman di Purnama Record, Cahyono duduk termenung. Ia hampir putus asa menghadapi kekerasan istrinya. Tiba-tiba seorang tukang sapu di studio itu menyapa, ''Kenapa, Pak Cahyono?''
Tak dapat memendam galau, Cahyono mengisahkan problema rumah tangganya. Seusai mendengarnya, tukang sapu itu sembari tetap memegang sapu, tegas mengatakan, ''Buang yang haram, cari yang halal."
Cahyono kembali ke rumah berbekal ultimatum. Ada tiga bulan ia memberi batas waktu bagi istrinya. ''Kalau Mama tetap dengan keyakinan selain Islam, berarti bukan jodoh saya. Tapi kalau Mama mau ikut masuk Islam, maka Mama memang jodoh saya.''
Batas waktu terlampaui. Istrinya mengatakan, ''Aku nggak bisa masuk Islam.''
Maka berakhirlah pernikahan yang dibina selama sekitar 20 tahun.
"Aku cinta istri dan anak-anak, tapi lebih cinta Allah.''
Setelah mengucap kalimat tersebut, Cahyono bergegas meninggalkan rumah dan seluruh isinya.
Waktu terus bergulir. Selama waktu itu, Cahyono memutuskan tinggal di pondok pesantren untuk memperdalam Islam. Beberapa saat kemudian, dia melaksanakan ibadah haji.
Dua tahun dia menduda. Suatu ketika saat rekaman di salah satu stasiun televisi swasta, ia bertemu wanita yang menjadi murid sebuah pesantren. Cahyono langsung terpaut hatinya. ''Mau nggak kawin sama saya,'' pintanya tanpa basa-basi. Si wanita merespon positif, ''kalau Bapak mau, saya juga mau.''
Beberapa hari kemudian, dia pergi melamar dan diterima baik oleh orang tua si wanita. Kini pasangan ini telah dikaruniai dua putra.
Setelah mengharungi jalan berliku untuk mendapatkan hidayah-Nya, apa yang terpetik pria berpostur tinggi-besar ini? Ia merasa yang paling mahal di dunia dan akhirat adalah nikmat Islam. Ia pun menyitir ayat Al-Qur'an, "Hai orang yang beriman, taqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali Imran [3] ayat 102)
Sekarang ini waktunya banyak diisi dengan kegiatan dakwah. Latar belakangnya sebagai artis menjadikan Cahyono kerap diminta hadir mengisi acara agama di berbagai tempat. Ini merupakan berkah tersendiri karena memaparkan kebenaran agama kepada umat.
(Sumber: Republika.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar