Melawan Janji Setan

(Dok.IslamPos.com)
(RajaDumay.com) --- World Bank (Bank Dunia) pada 2013 mengabarkan saat itu ada sekitar 1.1 milyar orang di seluruh dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan absolut  dengan daya beli kurang dari US$ 1 per hari. 

Institusi yang sama juga mengungkapkan bahwa saat itu ada sekitar 923 juta orang dari seluruh dunia kekurangan gizi.

Masih banyak krisis-krisis lain seperti energi, finansial, keamanan, kemanusiaan dan lain-lain yang semua mengarah pada kehidupan yang semakin sulit dan bumi terasa semakin sempit untuk ditinggali. 

Gambaran tentang kesulitan dan kesempitan hidup di dunia ini memang benar adanya, penyebabnya pun jelas yaitu dari kerusakan-kerusakan yang diciptakan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. 

Kondisi ini juga telah diberitahukan ke kita sejak 1,400 tahun lebih dalam firman-Nya:


 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum [30] ayat 41)

Fakta bisa sama tetapi sikap bisa berbeda. Bagi orang-orang yang tidak beriman, fakta krisis pangan, krisis energi dlsb. menjadikannya jalan menghalalkan segala  cara untuk mengamankan pasokan pangan dan energy untuk kepentingannya sendiri. Mereka bisa mencurangi, mengadu domba, memerangi sampai juga menjajah negeri-negeri yang berpotensi untuk dijadikan penyuplai kebutuhan pangan dan energi-nya.

Orang-orang beriman juga melihat fakta yang sama, tetapi langkah yang dilakukannya yang akan berbeda. Sebagaimana ayat di atas, mereka akan ‘kembali ke jalan yang benar’. Mereka akan bekerja keras untuk memperbaiki kerusakan yang ada, menyuburkan kembali lahan-lahan yang rusak, menghijaukan kembali hutan-hutan yang gundul, membersihkan kembali air-air yang tercemar danseterusnya.

Bila  pada umumnya orang melihat dunia menuju satu arah yaitu semakin rusak, semakin sempit, semakin kompetitif, semakin miskin dan seterusnya, maka memang inilah yang dikehendaki setan – supaya manusia menghalalkan segala cara agar untuk menghindari kemiskinan ini.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاء وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2] ayat 268).

Janji-janji setan inilah yang antara lain juga membuat kampanye program Keluarga Berencana sukses, karena orang mudah untuk dibuat takut miskin – takut tidak bisa menyekolahkan anak, dan lain sebagainya.

Lantas dengan demikian apakah pemerintahan suatu negeri seharusnya membiarkan  saja jumlah penduduk meledak tanpa kendali? Fokus programnya yang harus dirubah, bukan jumlah penduduknya yang ditekan – karena setelah ditekan selama sperempat abad lebih-pun penduduk miskin kita juga terus bertambah.
Tetapi sumber-sumber kemakmurannya yang harus terus digali. 

Bila Allah berjanji “…dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka…” (QS Al-An'an [6] ayat 151), maka Dia pasti penuhi janjiNya, sumber-sumber rezeki itu akan tersedia cukup untuk kita, anak-anak kita bahkan sampai cucu cucu kita kelak sampai akhir jaman.

Syaratnya adalah kita tidak terus berbuat “…kerusakan di darat dan di laut…” dan kita mulai menjalankan fungsi kita diciptakan di muka bumi, yaitu “…menjadi pemakmurnya…”. Jadi jalan untuk memakmurkan bumi ini yang harus menjadi fokus utama – karena itulah kita diciptakan, bukan sebaliknya untuk mengerem pertumbuhan penghuninya.

Allah punya cara tersendiri untuk mengendalikan jumlah penduduk di muka bumi ini, ada yang diberi satu anak, dua anak dan ada yang diberi 11 dan 13, tetapi semuanya di cukupiNya, bila kita mengikuti perintahNya untuk memakmurkan bumi.

Persaingan untuk memperoleh sekolah yang baik? Sekolah bisa kita buat sendiri dengan cara yang lebih murah dan insyaallah lebih baik membekali anak-anak dengan keimanan dan kemandiriannya.

Siapa bilang anak-anak harus berkompetisi mencari lapangan pekerjaan? Dengan teknologi yang ada di jaman ini, mestinya akan lebih mudah mencari atau bahkan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Bila setelah bekerja keras untuk memakmurkan bumi ini kemiskinan masih juga membayang di depan mata kita, Allah-pun memberikan solusinya…yaitu "banyak-banyaklah kita beristigfar". (Rudi Hendrik)

Ingin tulisan Anda dimuat di RajaDumay.com? Salurkan tulisan ringkas tentang ilmu Islam ke rudihendrik004@gmail.com!
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar