![]() |
| Cahyono (kiri) dan Jojon (kanan) tahun 1986 (Tempo) |
Islam, baginya, bukan sekadar kebutuhan di dunia dan akhirat, tetapi kesempatan mencurahkan cintanya kepada Allah.
Cahyono lahir di tengah keluarga Nasrani yang taat. Sejak kecil, dia sudah mendapat didikan agama, baik secara formal dan informal. Hingga dewasa dan masa tuanya, personel grup lawak Jayakarta Grup ini, aktif di kegiatan kerohanian.
Jalan berliku harus dilalui Cahyono sebelum memperoleh hidayah Islam. ''Saya Nasrani selama 42 tahun, tapi Alhamdulillah, saya diberikan teman-teman yang luar biasa -- Jojon, Ester, Uu -- di Jayakarta Grup," kisah Cahyono.
Ketiga karibnya ini, menurut Cahyono, taat dalam menjalankan ajaran agama Islam. Mereka, bahkan, telah menunaikan ibadah haji.
''Khusus Jojon, dia itu lulusan Ponpes Wanaraja. Nah dialah yang menjadi guru ngaji saya pada awal-awalnya.'' Kebetulan mereka berjiran.
Periode tahun 1980-1990-an merupakan masa jaya Jayakarta Grup. Tawaran manggung ke luar daerah terus mengalir. Di saat show ke daerah-daerah, Cahyono kerap menemukan sesuatu yang membangkitkan rasa ingin tahunya. Yakni sewaktu melihat ketiga rekannya shalat berjamaah. ''Saya selalu melihat dan mengamati saat mereka bertiga shalat berjamaah. Entah kenapa, tiap kali mereka takbir Allahuakbar, saya berpikir inikah Tuhannya orang Islam,'' katanya.
Suatu hari, rasa ingin tahunya memuncak. Kemudian, usai menyaksikan sahabatnya shalat, dia memberanikan diri bertanya kepada Jojon, ''Itu tadi apa sih Allahuakbar itu?''
Jojon menjelaskan, Allahuakbar merupakan seruan umat Islam mengagungkan Allah Subhana Wa Ta'ala, Tuhan semesta alam. ''Tidak ada Tuhan selain Allah, dan siapa yang menyekutukan Allah, dijamin masuk neraka jahanam,'' Cahyono mengutip ucapan Jojon.
Mendengar uraian itu, Cahyono serasa disambar petir.
Sejak itu, ia banyak merenung. Ia memikirkan tentang konsep trinitas yang dianutnya selama ini. Belum habis rasa gundahnya, tak berapa lama dirinya larut bercanda dengan ketiga sahabatnya, ditambah almarhum H. Benyamin S.
Mendadak Jojon nyelutuk, ''Udahlah, No, bercandanya dihabisin, mumpung masih di dunia. Di akhirat nanti kita nggak ketemu lagi. Kita ke surga, kamu ke neraka.''
Cahyono terdiam dan tak dapat menimpali. Dalam hati ia membatin, Jojon bercanda tetapi nyelekit. ''No, you kan beriman Zabur, Taurat dan Injil, tapi masih ada lagi Al-Qur'an dengan nabi penutup Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Itu dari Allah semua.''
Ucapan Jojon kian menghunjam ke sanubarinya. Cahyono kian ingin mempelajari Islam. Bahkan, suatu malam, ia bermimpi. ''Mungkin mimpi ini yang lantas mengubah pendirian saya,'' kenangnya.
Dalam mimpinya, dia bertemu dan dikejar-kejar mahluk mengerikan. Saking takutnya, Cahyono berdoa dan menyebut nama tuhannya. Namun mahluk itu justru bertambah besar. Semakin lantang disebut nama tuhannya, sang mahluk makin membesar.
''Pada kondisi yang putus asa, saya teringat nama tuhannya Jojon. Sekonyong-konyong, saya takbir dalam mimpi itu, Allahuakbar, dan seketika lenyaplah mahluk tadi,'' kisahnya.
Paginya, Cahyono langsung menemui Jojon. ''Tuhanmu manjur, Jon,'' katanya.
Kendati demikian, akhir 1992, ia menemukan hidayah-Nya. Saat itu ada pertandingan sepakbola antar paguyuban pelawak Ibukota, di Stadion Kuningan Jakarta Selatan.
Hari beranjak petang, matahari pun lingsir. Adzan Magrib mendayu-dayu. Allahuakbar... Allahuakbar! Cahyono tak kuasa mendengarnya. Ia menepi ke pinggir lapangan. Tanpa disadarinya ia sekonyong-konyong bersujud. Ia merasa tak ragu memeluk Islam. Jojon menjadi pembimbingnya. Cahyono resmi memeluk Islam pada Idul Fitri 1992.
(Sumber: Republika.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar