Awalnya Inggris-Perancis yang Menipu Penguasa Arab

(DreamsTime.com)
(RajaDumay.com) --- Perjanjian Sykes-Picot atau The 1916 Asia-Minor Agreement yang merupakan perjanjian rahasia Inggris-Perancis, membahas soal pembagian wilayah bekas Turki Utsmani. Meski begitu, tidak satu pun penguasa Arab lokal di Timur Tengah yang dilibatkan.

Perjanjian Sykes-Picot menetapkan pembagian wilayah Bulan Sabit menjadi dua negeri jajahan atau protektorat.

Perjanjian rahasia ini menyisakan beberapa efek samping. pasalnya setahun sebelumnya (1915), Inggris telah menjanjikan sebuah negara Arab merdeka, dimana Inggris mendukung upaya Syarif Husain dari Makkah untuk melepaskan diri dari Turki Utsmani. Perjanjian itu dibuat melalui Korespondensi Komisioner Tinggi Inggris yang berkedudukan di Mesir, yaitu Sir Henry McMahon dengan Syarif Husain.

Pada Juni 1916, janji itu memang terwujud, Syarif Husain dinobatkan menjadi raja di Hijaz atas dukungan Inggris.

Setelah tentara Utsmani kalah pada oktober 1918, anak Syarif Husain, Faisal, dilantik menjadi raja di Damaskus pada Maret 1920. Namun kedudukan Faisal hanya bertahan empat bulan, sebab pada bulan Juli Raja Faisal dipaksa mengundurkan diri atas desakan tentara Perancis yang mengambil alih kekuasaan di Suriah.

Tindakan Perancis ini sebenarnya telah direncanakan bersama Inggris dan Sekutu dalam Konferensi San Remo, April 1920.

Konferensi tersebut juga memutuskan, Inggris jadi pemegang mandat di Palestina dan Mesopotamia (Irak), sedangkan Perancis di Suriah dan Lebanon. 

Inggris juga menjanjikan bagi kaum Yahudi untuk mendapatkan sebuah negeri melalui Deklarasi Balfour pada November 1917.

Raja Syarif Husain sebenarnya sadar sepenuhnya bahwa Inggris tidak benar-benar berniat memenuhi janjinya.

Harapan para penguasa Arab untuk melepaskan diri dari Turki Utsmani justeru berujung pada campur tangan Barat di Timur Tengah.

Ketika Turki Utsmani yang berkoalisi dengan Jerman dan Austria-Hungaria kalah, banyak wilayah kekuasaan Turki jatuh ke tangan tentara Sekutu, membuat jalan Inggris-Perancis untuk menguasai Timur Tengah semakin mulus. Maka muncullah negara-negara baru yang direncanakan oleh Inggris dan Perancis. (Rudi Hendrik)

(Sumber: Islam Digest Republika)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar