(RajaDumay.com)
Keluguan laki-laki Badui
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang menyampaikan hadits, sementara di dekatnya ada seorang laki-laki Badui.
“Salah seorang penghuni surga meminta izin kepada Rabb-nya untuk bercocok tanam. Allah berfirman kepadanya: ‘Bukankah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu idam-idamkan?’ Hamba itu menjawab: ‘Benar sekali. Tetapi aku gemar bercocok tanam.’
(Setelah diizinkan) hamba itu menaburkan benih tanaman, dan dalam sekejap tanaman itu tumbuh tinggi dan siap dipanen. Bahkan tingginya seperti gunung.
Allah berfirman: ‘Ambillah itu, hai anak Adam! Sesungguhnya tidak ada yang bisa membuatmu kenyang.’”
Tiba-tiba laki-laki Badui tadi menimpali ucapan Nabi dengan mengatakan, “Demi Allah, hamba yang dimaksud itu pasti dari keturunan Quraisy atau kaum Anshar. Sebab, merekalah yang gemar bercocok tanam. Sedangkan kami, (orang Badui) bukan orang yang gemar bercocok tanam.”
Mendengar komentar laki-laki Badui itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun tertawa.
Nafkah lebih Istri Nabi dan Umar
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita:
Suatu ketika, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk masuk ke rumah beliau. Saat itu, Abu Bakar mendapati orang-orang duduk di dekat pintu rumah beliau, karena tidak seorang pun dari mereka yang diperkenankan masuk.
Lalu Abu Bakar diperkenankan masuk.
Tidak lama berselang, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu datang. Dia meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk masuk, dan beliau memperkanankannya.
Setelah di dalam rumah, Umar mendapati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang duduk dan hanya diam seribu bahasa, sementara ada istri-istri beliau di sekitarnya.
Melihat situasi seperti itu, Umar bergumam, “Akan kuucapkan sesuatu yang dapat membuat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tertawa.
Lalu Umar berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya Binti Kharijah (istrinya) meminta nafkah (lebih) kepadaku, niscaya aku aku akan berdiri menghampirinya dan memukul tengkuknya!”
Spontan saja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tertawa dan berkata, “Sebagaimana yang kamu lihat, mereka yang di sekelilingku ini (istri-istri Nabi) sedang meminta nafkah (lebih) kepadaku.” (H.R. Muslim)
Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan, “Salah satu kesimpulan hukum hadits ini adalah jika seseorang berbicara dengan perkataan yang sebenarnya (bukan dibuat-buat) untuk membuat orang lain tertawa, maka itu bukan dosa. Kesimpulan ini ditunjukkan oleh perkataan canda dari Umar kepada Rasulullah ketika beliau marah kepada beberapa istrinya.” (Rudi Hendrik)


0 komentar:
Posting Komentar