![]() |
| Aksi solidaritas untuk Salim Kancil. (OkeZone.com) |
Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, mengatakan, Hariono telah diberhentikan sementara dari jabatan Kades Selok Awar-Awar.
"Saat ini dia kan tersangka, jadi sementara berhenti. Tapi ada penggantinya Sekdes," kata Tjahjo di Jakarta, Jumat (2 Oktober 2015).
Pada Kamis, Polres Lumajang menetapkan status tersangka terhadap Kepala Desa Selok Awar-Awar Hariono.
(Baca juga: Kisah Minuman Terakhir Tukang Bakso)
Menurut Kapolres Lumajang AKBP Faddly Munzir Ismail, dari hasil penyelidikan dan bukti-bukti yang ada, akhirnya yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus pengeroyokan dan pembunuhan aktivis petani.
Kejamnya pembunuhan Salim Kancil
Hasil investigasi Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang menemukan fakta sadisnya penyiksaan para preman tambang terhadap Salim dan Tosan, dua warga penolak tambang. Salim disiksa hingga tewas, sementara Tosan berhasil diselamatkan warga lainnya.
Dalam rilis tertulis tim advokasi yang terdiri dari Laskar Hijau, Walhi Jawa Timur, Kontras Surbaya, dan LBH Disabilitas disebutkan, sebelum tewas dipukul dengan batu dan balok kayu, Salim sempat disetrum dan digergaji.
Tim advokasi menyampaikan, saat 40-an preman datang menyerbu rumahnya, Sabtu (26 September 2015), Salim sedang menggendong cucunya yang berusia 5 tahun.
"Mengetahui ada yang datang berbondong dan menunjukkan gelagat tidak baik Salim membawa cucunya masuk. Gerombolan tersebut langsung menangkap Salim dan mengikat dia dengan tali yang sudah disiapkan," tulis tim advokasi dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (28 September 2015).
Tim advokasi melanjutkan, para preman kemudian menyeret Salim dan membawa dia menuju Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju Balai Desa, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa, disaksikan warga yang ketakutan dengan aksi ini.
"Di Balai Desa, tanpa mengindahkan bahwa masih ada banyak anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran di PAUD, gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya," tulis tim advokasi.
Tim advokasi melanjutkan, di Balai desa, gerombolan ini sudah menyiapkan alat setrum yang kemudian dipakai untuk menyetrum Salim berkali-kali. Tak berhenti sampai di situ, mereka juga membawa gergaji dan dipakai untuk menggorok leher Salim. Namun, upaya mereka seolah tidak melemahkan Salim.
Melihat kenyataan Salim masih sehat, tulis tim advokasi dalam rilisnya, dalam keadaan balai desa yang masih ramai, gerombolan tersebut kemudian membawa Salim yang masih dalam keadaan terikat melewati jalan kampung menuju arah makam yang lebih sepi.
"Di tempat ini mereka kemudian mencoba lagi menyerang salim dengan berbagai senjata yang mereka bawa. Baru setelah gerombolan ini memakai batu untuk memukul, Salim ambruk ke tanah," tulis tim advokasi.
Mendapati itu, menurut keterangan tim advokasi, mereka kemudian memukulkan batu berkali-kali ke kepala Salim. Di tempat inilah kemudian Salim meninggal dengan posisi tertelungkup dengan kayu dan batu berserakan di sekitarnya.
Catatan: Cerita kronologis pembunuhan ini adalah versi tim advokasi yang kemudian ada beberapa poin yang tidak sama dengan cerita anak Salim, Dio 13 tahun yang menyaksikan ayahnya dibawa dari depan rumah.
Penggunaan gergaji pun masih tanda tanya kebenarannya. Sementara untuk penyiksaan di makam yang merenggut nyawa Salim, tidak ada saksi yang melihat persis seperti apa kejadiannya.
(Sumber: SindoNews.com/Republika.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar