Akhir Pengembaraan Panjang Dalang Serangan Paris

Abdelhamid Abaaoud (Telegraph.co.uk)

Oleh: Melisa Riska Putri

Rumah bata merah itu sarat corengan hitam dan lubang bekas tembakan senjata. Bangunan di Verviers, bagian timur Belgia tersebut, menjadi tempat bagi Abdelhamid Abaaoud merancang serangan di seluruh Eropa, termasuk Paris, sebelas bulan lalu.

Dia bersama dua rekannya tinggal di sana. Namun, rumah tersebut tak lama menjadi markas Abaaoud. Sebab pada 15 Januari 2015, polisi Belgia menyerbu bangunan itu. Dua rekan Abaaoud tewas, tetapi dia lolos dari maut, sebab saat penyerangan dia tidak berada di sana.

Seorang pejabat senior antiterorisme Belgia menuturkan, jejak tersisa dari Abaaoud hanyalah panggilan berisi instruksi kepada dua rekannya yang berada di rumah bata merah. Lalu pada 18 November, lima hari setelah serangan di Paris, jejak Abaaoud terendus saat polisi Perancis mengepung apartemen di Saint-Denis, Paris.

Pengepungan bermula pada pukul 04.30 waktu setempat. Semula polisi Perancis hanya melacak Salah Abdeslam, pimpinan serangan Paris. Namun, akhirnya mereka juga berhasil melacak dalang serangan, Abaaoud, yang berada di apartemen yang sama.

Ketika penyergapan, polisi berusa meledakkan pintu apartemen. Ledakan pertama tak mampu membuka pintu, kemudian dilanjutkan dengan ledakan kedua.
Tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari dalam apartemen. Polisi meyakini Abaaoud dan teman-temannya telah siap menghadapi gempuran polisi. Pada saat yang sama penembak jitu polisi beraksi.
Tiga jam berselang, operasi berakhir. Polisi menangkap tujuh orang dan dua orang tewas, salah satunya seorang perempuan yang tak lain adalah Hasna Aitboulahcen. Akhirnya jasad kedua terungkap identitasnya, yaitu buronan nomor satu dari serangan di Paris, Abdelhamid Abaaoud.
Prosesnya, pihak berwenang mengambil sampel kulit dari jasad Abaaoud yang ditemukan direruntuhan apartemen. Tubuhnya berlubang.
“Kami tidak tahu apakah Abaaoud juga meledakkan dirinya sendiri,” kata Jaksa Paris Francois Molin.
Belum ada kepastian penyebab kematian Abaaoud, apakah karena peluru polisi, atau penembak jitu atau bom bunuh diri.
Abaaoud meninggalkan Brussels, Belgia, menuju Suriah pada akhir 2013 setelah ia terasing dari keluarganya. Keluarga Belgia-Maroko tempat ia dibesarkan merupakan kelas menengah. Ia bahkan sempat mengenyam pendidikan di sebuah sekolah Katolik ternama pada 1999, saat usianya 12 tahun. Namun dia drop out setelah satu tahun hidup di jalanan Distrik Molembeek, Brussels, dan kerap melakukan kejahatan dan kekerasan. Abaaoud bertemu Salah Abdeslam di jalanan.
Pada 2011, Abaaodu mendekap di penjara karena merampok. Saat dia memutuskan ke Suriah, dia melalui Jerman. Tidak ada yang tahu, apa yang mempengaruhinya untuk pergi ke Suriah.
Polisi Jerman mengungkapkan, mereka pernah menanyainya di Bandara Cologne-Bonn pada 20 Januari 2014, sebelum memasuki pesawat terbang ke Istanbul, Turki. Dia dibiarkan melenggang karena Pemerintah Belgia tidak memerintahkan penahanan.
Kehadiran Abaaoud di Suriah dipantau oleh Kepala Perbatasan ISIS, Abu-Muhammad Al-Shimali, orang yang bertanggung jawab memudahkan perjalanan militan asing dari kota perbatasan Turki, Gaziantep, ke kota perbatasan Suriah yang dikuasai ISIS.
Di lingkaran ISIS, kedudukan Abaaoud cepat menanjak. Ia ditunjuk jadi kepala unit yang bertanggung jawab mengirim kembali relawan dari Eropa pulang ke negaranya masing-masing untuk melakukan serangan.
Abaaoud diyakini kembali ke Eropa pada 2014 bersama dua rekannya yang berencana melakukan serangan di Belgia. Tidak jelas bagaimana mereka bisa sampai ke Eropa. Namun, kepada majalah ISIS, Dabiq, ia menyatakan perjalanannya sarat rintangan. Dia kemudian berhasil mendapat senjata dan membangun rumah persembunyian.
Ada dua teori bagaimana Abaaoud bisa sampai ke Eropa. Pertama, dia memakai paspor palsu dan kemudian menggunakan paspor relawan ISIS dari Eropa. Biasanya, mara militan dari Eropa harus menyerahkan paspornya saat tiba di markas ISIS.

Sebelum serangan Paris, negara-negara Eropa berpikir Abaaoud masih berada di Suriah.

(Sumber: Republika)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar