Penembakan Pesawat Rusia Panaskan Konfrontasi NATO-Rusia

(Beforeitsnews.com)

Oleh: Justin Bronk, Analis Riset Ilmu Militer di Royal United Services Institute

Penembakan terhadap Sukhoi Su-24 milik Angkatan Udara Rusia oleh jet tempur F-16 Turki terjadi setelah dilaporkan melanggar wilayah udara Turki. Ini adalah eskalasi berbahaya dalam konteks melanjutkan konfrontasi Rusia dengan NATO di Eropa Timur dan Suriah.

Namun itu bukanlah hal yang mengejutkan.

Pemerintah Turki menyatakan, pesawat tempur pembom Su-24 telah mengabaikan 10 kali peringatan selama lima menit pada Selasa 24 November 2015 dan kemudian ditembak jatuh setelah melanggar wilayah udara Turki di dekat Yayladagi, provinsi Hatay.

Sementara Rusia mengklaim, Su-24 tidak menyeberangi perbatasan Suriah-Turki, karena itu, adalah ilegal menembaknya.

Pada Oktober 2014 dan tahun ini di bulan Juni dan Juli, misalnya, pesawat militer Rusia berulang kali melanggar wilayah udara Estonia. Sejak 2013 Rusia telah melanggar wilayah udara negara mitra-NATO, yaitu Swedia dan Finlandia.

Pada tanggal 3 dan 4 November, jet Su-30SM dan Su-24 melanggar wilayah udara Turki berulang kali di provinsi yang sama, Hatay, sama dengan ketika Turki mengklaim wilayah udaranya dimasuki jet Su-24 pada Selasa, sebelum ditembak jatuh.

Selama pelanggaran wilayah udara pada Oktober, Rusia mengakui bahwa sebuah jet tempurnya, Su-30SM, terkunci aktif oleh jet F-16 Turki yang dikirim untuk mencegat dengan radar selama lebih dari lima menit.

Meskipun tindakan itu provokatif, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan saat itu, pelanggaran wilayah udara Turki berturut-turut pada awal Oktober adalah hal yang tidak disengaja, karena pilot tersesat.

Ini bukan penjelasan yang kredibel, karena pesawat tempur modern seperti Su-30SM memiliki sistem navigasi yang canggih dan awak Angkatan Udara Rusia yang dikirim ke Suriah akan sangat terlatih dan dipilih. Terlebih karena lingkungan operasional di Suriah sangat padat dan sangat sensitif.
Dalam kasus insiden Selasa (24/11), beberapa potongan rekaman yang menunjukkan Su-24 jatuh ditembak di langit biru yang jernih.

Dengan kata lain, Rusia telah menyelidiki wilayah udara dan kesabaran Turki sejak Oktober tahun ini, dan wilayah udara NATO lebih lama dari itu.

Namun, itu tidak menjadi kejutan bahwa pelanggaran lebih lanjut akan membuat pesawat Rusia ditembak jatuh.

Turki secara konsisten menanggapi serangan yang datang dari Suriah dengan menggunakan pesawat tempur F-16 untuk menembak jatuh penyusup.

Pada 2013, sebuah helikopter Mi-17 dan jet tempur pembom Mig-23 milik Angkatan Udara Suriah hancur dalam dua insiden terpisah setelah mereka memasuki wilayah udara Turki.

Angkatan Udara Turki menembak jatuh pesawat Mig-23 Suriah yang lain pada Maret 2014 setelah pesawat mengabaikan peringatan berulang-ulang.

Selanjutnya, pada 16 Oktober, sebuah pesawat tak berawak (drone) asing ditembak jatuh dengan cara yang sama. Pemerintah Ankara meyakini drone itu milik Rusia.

Suriah juga sebelumnya pernah menembak jatuh pesawat militer Turki yang telah memasuki wilayah udaranya.

Dengan kata lain, wilayah udara di perbatasan Suriah-Turki adalah garis depan tegangan tinggi yang diketahui ada kekuatan mematikan yang akan digunakan jika peringatan diabaikan.

Turki dan NATO menegaskan, pelanggaran oleh Rusia tersebut harus berhenti dan pengulangan apa pun akan "sangat berbahaya".

Sekarang akan tergantung pada bagaimana Turki dan NATO dapat menunjukkan apakah jet Rusia memang masuk wilayah udara Turki, dan bagaimana Kremlin memberikan cerita sebaliknya bagi  masyarakat Rusia.

Putin kemungkinan besar tahu bahwa provokasi rutin telah dilakukan pesawatnya. Untuk kali ini, ditindak dengan kekuatan. Namun, ia tidak dapat dilihat akan mengakui hal seperti itu di depan umum.

Oleh karena itu, ia harus terus mengklaim secara terbuka bahwa Turki telah menusuk Rusia di belakang, di tengah-tengah pertempuran heroik melawan kelompok Islamic State (ISIS/Daesh).

Faktanya, tidak ada kekuatan ISIS berada di dekat perbatasan Suriah-Turki, dan Su-24 Rusia kemungkinan besar terlibat dalam serangan udara lanjutan Rusia terhadap pemberontak Turkmen yang memerangi Presiden Bashar Al-Assad sebagai bagian dari Tentara Suriah Merdeka (FSA).


Dalam kasus apa pun, sangat penting dalam beberapa hari mendatang, para pemimpin kedua negara menghindari retorika lebih sensitif dan menghindari ketegangan lebih lanjut. (Rudi Hendrik)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar