![]() |
| Ilustrasi baptis. (Foto: dok. RobertJournal.wordpress.com) |
Di bangku SMA ia banyak berinteraksi, bertanya dan belajar kepada guru-guru yang beragama Islam. Keyakinannya kepada kebenaran Islam pun terus bertumbuh. Menginjak kelas 2 SMA, ia mengikrarkan dua kalimat syahadat.
“Kepada ibu guru di SMA, saya banyak tanya tentang Islam, apa itu Islam, mengapa kita harus menutup aurat dan lain-lain. Lalu ketika saya duduk di kelas 2 SMA, barulah saya berani meyakinkan diri bahwa Islam itu adalah agama yang benar,” ucapnya.
Ia sudah membayangkan bahwa pilihan hijrah memeluk agama Islam akan menyulitkan posisinya untuk bersatu dengan keluarga besarnya yang Kristen fanatik. Terbayang di matanya betapa besar risiko dan tekanan keluarga yang akan dihadapinya.
Dengan dorongan iman yang meluap-luap tak tertahankan, tak pikir panjang lagi ia nekat melarikan diri dari rumah demi mempertahankan Islam-nya. Namun, rencananya terendus keluarga. Usahanya gagal setelah travel yang dinaikinya dicegat di tengah jalan oleh pihak keluarga.
“Paman saya bersama beberapa orang mencari saya. Ketika saya sudah naik travel menuju Dumai, dicegat di tengah jalan. Saya pun dipaksa keluar dan dipulangkan kembali ke rumah,” tuturnya.
Berita kabur dari rumah yang gagal tersebut tersebar juga ke sekolah dan membuat heboh. Akhirnya ia dipanggil guru agama Islam yang juga menjabat sebagai guru BP guna memberikan nasihat tentang resiko dan konsekuensi masuk Islam.
Dibaptis ulang
Ia semakin menyadari risiko pilihan hidupnya. Namun, tekadnya sudah bulat, tantangan di depan mata tidak menggoyahkan keyakinannya untuk memeluk Islam.
Ia terus mencari cara untuk lari dari rumah, supaya kegagalan lari dari rumah sebelumnya, tidak terulang lagi. Ia minta tolong kepada teman-temannya untuk membawa tas kosong supaya saya bisa menitipkan surat-surat penting, ijazah, akte kelahiran dan lain-lain. Setelah baju-baju dan surat-surat itu dikumpulkan ia pun keluar dari rumah itu.
Malam itu ia menginap di rumah ibu guru Bahasa Inggrisnya. Pagi harinya diantarkan ke sebuah masjid untuk prosesi pengislaman.
Momen bersejarah dalam hidup Uly pun terjadi tanggal 31 Mei 2005. Ba’da Zhuhur ia lahir baru menjadi Muslimah dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Al-Mukaromah. Uly juga diberi nama hijrah yang tidak penulis sebutkan di sini.
Usai prosesi, Uly pulang ke rumah ibu guru Bahasa Inggrisnya yang kini dianggap sebagai orang tua angkat barunya.
Prosesi pensyahadatan itu ternyata diumumkan secara terbuka di masjid dan beritanya tersebar dari mulut ke mulut, sehingga informasinya sampai kepada keluarga. Uly pun diseret paksa untuk pulang ke rumah keluarga besarnya di Siantar, Sumatera Utara. Uly pun dibaptis ulang di gereja setempat.
“Ayah angkat saya bersama pihak gereja menggeruduk rumah ibu guru Bahasa Inggris saya. Lalu saya diseret paksa dari kamar. Saya pun dipulangkan ke Siantar. Ibu, nenek dan keluarga saya pun kaget dengan keislaman saya. Di sana keluarga besar Hutabarat dan Marpaung memperisiapkan upacara untuk membaptis saya,” paparnya.
Peristiwa ini sangat tidak diinginkan Uly, karena pantang kembali murtad setelah masuk Islam. Ia tidak mau berbelot murtad seperti kitab suci mengibaratkan, “Seperti anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”
Alhamdulillah, pertolongan Allah datang melalui nenek yang sangat menyayangi cucunya. Hatinya luluh mendengar kisah perjuangan cucunya, meski sudah berbeda iman.
“Saya berupaya membujuk opung sampai akhirnya beliau mau mengantarkan saya pergi naik bis dan memberikan ongkos. Saya pun kembali ke Riau, pihak Muslim di sana meminta perlindungan dari aparat. Alhamdulillah selama setahun tidak terjadi apa-apa,” ungkapnya.
Namun, pada akhir 2006, dua orang lelaki menculiknya. (Bersambung...)
(Sumber: MirajNews.com/id)


0 komentar:
Posting Komentar