Gadis Batak-3: Karena Islam Uly Diculik, Dihajar, dan Digilir

(RajaDumay.com) --- Uly Hutabarat (bukan nama sebenarnya) tak pernah menyesali keputusannya untuk hijrah memeluk Islam, meski kemudian badai ujian menerpanya bertubi-tubi. Namun ujian dan musibah yang harus diterimanya, justeru kian menguatkan iman dan Islamnya.

Sebelumnya telah dikisahkan awal perjalanan gadis Batak berusia 29 tahun ini memeluk Islam dalam "Gadis Batak-1: Allah-ku, Mengapa Tinggalkan Aku?" dan "Gadis Batak-2: Diseret Pulang, Dibaptis Ulang".

Pada 31 Mei 2005, Uly Hutabarat resmi sebagai muslimah setelah bersyahadat.

Pada akhir 2006, dua orang lelaki menculiknya. Pihak keluarga besarnya yang Kristen diduga terlibat dalam upaya penculikan ini.

“Waktu itu saya tinggal di rumah guru SMA yang menjadi ayah angkat saya. Habis Magrib saya pulang dari les berjalan kaki. Ada satu kendaraan motor dengan dua orang ngikutin saya dari belakang. Tiba-tiba mereka langsung menyergap saya, saya pingsan tak sadarkan diri. Waktu sadar saya sudah berada di satu ruangan sebuah gubuk, kondisinya sudah malam, jilbab saya sudah dilepas,” tutur Uly.

Dalam keadaan setengah sadar Uly akan dibawa pergi menggunakan motor. Beruntung ia bisa kabur dengan menghajar kepala sang pengendara motor menggunakan botol minuman yang berada di kantong sakunya.

“Saya ambil (botol) lalu saya pukul kepala orang itu, kita semua jatuh dari motor. Saya langsung kabur sampai menemukan rumah penduduk dan minta tolong, sampai di rumah itu saya tidak sadar lagi. Ketika tersadar ternyata saya sudah ada di rumah sakit,” ungkapnya.

Paska penculikan pertama, hidup Uly berjalan normal, namun geraknya dibatasi oleh orang tua angkat Muslimnya agar selamat. Ia pun bisa lulus SMA dengan baik, meski dalam situasi yang mencekam.

Setamat SMA, Uly mendapat bantuan pendidikan dari takmir masjid yang dulu mengislamkannya. Ia mengikuti UMPTN dan diterima di Universitas Negeri Padang (UNP).

Dinodai bergilir karena tak mau kembali Kristen

Petaka kembali datang, saat Indah menyiapkan berkas-berkas untuk kuliah di Padang, tiba-tiba ia menerima SMS ancaman yang berbunyi, “Sampai di mana pun kamu pergi, kami akan tetap mencari. Saya akan robek-robek kamu dan apa yang ada dalam diri kamu.”

Setelah menunjukkan SMS kepada orang tua angkat Muslimnya, ia mengabaikan sms itu. Ia pun berangkat ke Padang menggunakan bis umum. Saat menunggu bis, dua pria yang menghampirinya, mengaku mahasiswa di UNP. Tanpa curiga, ia pun bertukar nomor telepon.

“Waktu ngantar berkas-berkas ke kampus, saya mampir ke warnet agak lama, saya melihat dua orang pemuda yang ketemu di terminal bis itu dari jauh. Dia sempat panggil saya tetapi saya tidak pedulikan,” ujarnya.

Kondisi di komplek tempat tinggalnya memang agak sepi jika melewati Maghrib. Uly pulang jalan kaki, tapi terus diikuti kedua pemuda itu. Karena ketakutan, ia pun berlari, tapi dikejar dan tertangkap lalu dipukul hingga pingsan.

“Ketika sadar, saya sudah berada di dalam mobil, saya lihat ada empat orang berperawakan besar dan dua orang pemuda tadi. Saya sempat ambil HP tetapi ketahuan, mereka pukul saya berkali-kali sampai saya tidak sadarkan diri,” ungkapnya.

Ternyata motif para penculik itu memaksanya dengan berbagai cara keji agar kembali kepada agamanya yang lama. Hal ini baru diketahui ketika ia siuman dari pingsan. Ia baru sadar sekarang dirinya berada di dalam sebuah kamar penginapan dengan kondisi tubuh terikat.

“Dari cara bicaranya, saya kira dia orang Batak semua. Saya disekap selama tiga hari, mereka intinya menginginkan saya pulang dan kembali ke agama Kristen. Saya sempat mendengar mereka telepon dengan bahasa Batak. Dia bilang di telepon, ‘Anaknya sudah ada di sini, paksa untuk masuk Kristen lagi, kalau tidak mau bunuh saja’,” papar Uly.

Tak cukup sampai di situ, perlakuan keji dan tak berperikemanusiaan dialami gadis remaja yang baru setahun menjadi muallaf itu. Karena berusaha mempertahankan iman dan Islamnya, ia dipukuli, dipaksa memakan babi dan dicekoki minuman keras.

“Dalam kondisi mabuk mereka menyodorkan daging babi ke mulut saya dan memaksa saya memakannya, tapi saya tetap bertahan. Begitu juga air anggur dipaksa dimasukkan ke mulut saya. Dengan kondisi tangan terikat, saya tendang salah satu dari mereka sampai jatuh, mereka membalas dengan memukul dada saya, sampai akhirnya saya muntah-muntah. Alhamdulillah keluar semua makanan haram tadi saya muntahkan,” paparnya.

Biadabnya, gadis muallaf ini kemudian dinodai secara bergiliran oleh keempat penculiknya hingga pingsan.

“Waktu mereka mabuk, mereka menggilir saya…” ujarnya terbata-bata sambil menangis.

“Saya yakin waktu itu bahwa Allah tetap ada untuk saya. Karena saya pikir saya sudah tanamkan dalam diri saya, agama Islam agama yang benar,” kisahnya sambil menahan tangis.

Uly baru sadar keesokan harinya, ternyata ia berada di sebuah gubuk, di belakang Universitas Jambi. (Bersambung....)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar