![]() |
| Menikah. (Foto: Dianpelangi.com) |
(Sebelumnya: Berjuta Pahala Menikah (Bag.1))
Kelima, dengan menikah, adanya saling nasehat-menasehati. Menikah, membuka kesempatan ladang pahala yang luas untuk saling tawa shaubil haq wa tawa shaubis shabr (nasihat-menasihati untuk menetapi kebenaran dan nasihat-menasihati untuk menetapi kesabaran). Sungguh indah bukan? Saat pertama kali ijabsah diucapkan, maka setelah itu pahala akan terus mengalir ketika suami istri saling memberi nasihat dan motivasi agar lebih tekun dalam ibadah dan meraih kesuksesan.
Keenam, bisa mendakwahi orang yang dicintai. Dengan menikah, justeru peluang untuk mendakwahi orang yang dicintai (suami atau istri) semakin besar. Jika sebelum menikah hanya mampu memberi saran dan nasihat ala kadarnya, namun setelah menikah bisa saling mendakwahi dengan leluasa dan sepuas hati. Lebih dari itu, keduanya bisa saling melengkapi untuk program dakwah kepada keluarga keduanya dan orang lain.
Ketujuh, pahala memberi contoh yang baik. Dalam pernikahan, ada perlombaan dalam kebaikan di sana. Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ”Siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun?” (HR. Muslim).
Bila seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya tentu pahala akan diberikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepadanya. Sebaliknya, ketika seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya, tentu dosa akan ditanggungnya kelak di akhirat karena ia memberi teladan keburukan.
Kedelapan, seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama, dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah.
Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bersabda, ”Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu?” (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).
Seorang suami yang menafkahkan hartanya untuk keluarganya dari pada orang lain tentu lebih utama karena beberapa alasan, di antaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajibannya, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.
Muawiyah bin Haidah ra., pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?” Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, ”Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Jangan kamu menjelekkan wajahnya, jangan kamu memukulnya, dan jangan kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka?” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya, bila seorang suami tidak mau memberi nafkah kepada keluarganya, maka ia termasuk pelaku dosa. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Seseorang cukup dianggap berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberi belanja (dalam tanggungannya)?” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, masih adakah yang meragukan janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang akan diberikannya kepada orang yang menikah? Berjuta pahala itu akan Anda dapatkan setiap saat ketika Anda menikah semata-mata untuk meraih kesempurnaan dalam beragama. Teruslah berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk meminta pendamping hidup yang shalih/shalihah agar kelak bisa tetap bersama di surga-Nya. Wallahua’lam.


0 komentar:
Posting Komentar