| Uly Hutabarat. (Foto: IDC) |
(RajaDumay.com) --- Meski sudah hijrah dari pulau Sumatera ke pulau Jawa, Uly Hutabarat (bukan nama sebenarnya), masih harus menghadapi beberapa ujian yang dirasakannya begitu berat.
Sebelumnya telah dikisahkan dalam "Gadis Batak-4:Usai Digilir, Depresi Berat Seperti Mayat Hidup".
Singkat cerita, Indah bisa lulus kuliah dengan peringkat sangat memuaskan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,49.
Usai kuliah, ia sempat bekerja menjadi asisten pribadi salah seorang wanita karir yang memiliki tiga perusahaan. Dari gajinya, ia bisa mencicil hutang, hingga sisa hutangnya tinggal Rp30 juta-an.
Namun kemudian, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena bosnya adalah seorang Syi’ah yang aktif. Ia tidak mau akidahnya diintervensi oleh orang-orang Syi’ah.
“Gaji saya lumayan sehingga bisa mencicil hutang saya. Tapi belakangan ternyata ibu itu seorang Syiah, tiap shalat dia bawa batu untuk sujud. Akhirnya saya memutuskan keluar,” ungkapnya.
Tanpa penghasilan tetap, ia terus mencari para donatur yang bersedia membantu melunasi hutang-hutangnya. Memang ada beberapa kalangan yang mau membantunya, tapi dengan berbagai syarat yang sulit ia penuhi.
Bersama salah seorang temannya, Uly mencoba bertahan hidup dengan menjual pakaian, makanan, madu, herbal dan sebagainya. Ia berjualan di kalangan pengajian dan arisan ibu-ibu. Namun, hasilnya tak seberapa, sekedar bisa untuk memenuhi kebutuhan menyambung hidup pas-pasan.
Uly tidak mau sedih di malam hari dan terhina di siang hari karena terjerat hutang. Ia juga sudah sangat malu, bosan hidup meminta-minta dan terhina dikejar-kejar hutang.
| Penyerahan bantuan donasi kepada muallaf Uly Hutabarat. (Foto: IDC) |
Akhirnya semua hutang lunas
Perjalanan hidup Uly yang penuh ujian dan memang sangat membutuhkan bantuan, membuat lembaga amal Infaq Dakwah Center (IDC) mempublikasikan kisahnya dengan tujuan penggalangan dana.
Dari hasil penggalangan dana peduli kasih untuk muallaf Uly Hutabarat terkumpul uang dari para dermawan sebesar Rp40.143.000.
Bantuan diserahkan dalam dua tahap. Tahap pertama diserahkan langsung ke rumah kontrakannya pada 14 Oktober 2014, tahap kedua diserahkan sebulan berikutnya.
Dengan bantuan dari kaum Muslimin melalui IDC itu, gadis Batak ini sangat bersyukur. Dia lega karena sudah terbebas dari hutang. “Kesibukan saya sekarang dagang kue pia kurma sama herbal,” ujarnya.
“Terima kasih banyak, Pak. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga saya lunasin hutang. Buat para muhsinin, semoga apa yang telah diberikan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Terima kasih juga buat IDC, mudah-mudahan Allah memudahkan segala urusannya di dunia dan akhirat,” ungkapnya dengan penuh haru.
Usai serah terima dana, esoknya beberapa relawan IDC mengantarkan Indah melunasi hutangnya ke beberapa orang. Ada juga muhsinin yang mengikhlaskan hutangnya sekitar Rp 2 juta. Dengan bantuan dana itu, Indah masih memiliki kelebihan dana Rp12 juta untuk modal usaha dan ingin hijrah ke daerah yang lebih kondusif.
“Ke depan rencananya mau hijrah dari sini, Pak. Selama ini belum bisa hijrah karena terganjal hutang. Kalau saya pindah alamat sebelum melunasi hutang, khawatir dikira melarikan diri dari tanggung jawab,” tuturnya kala itu. “Peluang usaha di sini kelihatannya agak sulit, sementara biaya hidup lumayan tinggi.”
Di tempat yang baru, gadis yang sudah melewati banyak duka nestapa dan kegetiran hidup ini bercita-cita membuka usaha kuliner dengan sisa dana yang masih ada, sembari menyalurkan pendidikannya untuk dakwah. (Tamat)

0 komentar:
Posting Komentar