![]() |
| Serangan Israel ke Pemukiman Shaikh Zaid, 200 meter didepan RS Indonesia, 9 Juli 2014. (Foto: MINA) |
Oleh Rudi Hendrik, wartawan Mi’raj Islamic News Agency
(MINA)
Ketika ide pembangunan sebuah rumah sakit di Jalur Gaza ini
pertama mengemuka dari dr Henry Hidayatullah, ide ini dianggap “gila”.
Bahkan komentar kedua menanggapi ide pembangunan rumah sakit
di daerah konflik itu adalah “tidak mungkin terwujud”.
“Gila, itulah tanggapan pertama yang saya terima ketika
pertama mencetuskan ide pembangunan RS Indonesia ini,” kata Henry yang kini
menjabat sebagai Ketua Umum Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) pada 1 Mei 2014 lalu.
“Disebut ‘gila’ karena memang tidak mudah, di negeri orang,
daerah konflik dan perang serta dengan dana yang tidak sedikit,” katanya.
Dr Joserizal Jurnalis, Anggota Presidium MER-C lainnya
bahkan menyebut pembangunan RS Indonesia adalah “mission imposible”.
“Sangat sulit untuk masuk ke Gaza dan ketika berhasil masuk,
sangat sulit untuk keluar, karena daerah ini diblokade sangat ketat, baik itu
oleh penjajah Israel dan pemerintah Mesir. RS Indonesia dibangun di daerah yang
tidak ada kepastian selamat, daerah yang sedang dibombardir kala itu oleh
pesawat-pesawat tempur Israel,” ujar Joserizal kepada MINA.
Sementara itu, Anggota Presidium MER-C Ir. Faried Thalib
mengungkapkan, ketika dirinya mendengar ide tersebut, dia tidak menentang, tapi
pesimis.
“Dalam hati saya bertanya-tanya, ‘Apa mungkin?’ Namun saya
melihat ketulusan, ketawadhuan, keseriusan seluruh rekan dan masyarakat, semangat teman-teman
begitu kuat, sehingga pembangunan ini pelan-pelan terwujud dan akhirnya
terwujud. Kita hanya bergantung pada tali Allah,” kata Faried.
Menurut Henry, hal yang menyebabkan mimpi gila itu terwujud
adalah karena kebutuhan yang sangat tinggi dan kondisi di sana membutuhkan
sebuah sarana rumah sakit yang lebih baik dari yang sudah ada.
Adapun mantan relawan pembangunan gelombang pertama,
Darusman, mengatakan bahwa ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri,
ternyata masyarakat Indonesia bisa berbuat yang tidak bisa dilakukan oleh negara-negara
lain.
![]() |
| Dari kanan ke kiri: dr. Yogi Prabowo, dr. Arief Rachman, Ir. Faried Thalib, Ir. Edy Wahyudi, Miyanto, dan Karidi. (Foto: Rudi/MINA) |
Tiga Relawan Terakhir
Telah Pulang
Pada Ahad, 14 Februari 2016, tiga relawan MER-C terakhir
yang masih di Jalur Gaza akhirnya bisa keluar dari Palestina melalui perbatasan
Rafah yang hanya dibuka selama dua hari saat itu.
Kesempatan itu muncul setelah beberapa bulan menunggu
gerbang Rafah dibuka oleh otoritas Mesir. Ketiganya berada di Jalur Gaza selama
1,5 tahun.
Pada Selasa malam, 16 Februari, ketiga relawan yang terdiri
dari Site Manager Proyek Pembangunan Rumah Sakit Indonesia Ir. Edy Wahyudi (46),
Karidi (33) dan Miyanto (30), tiba di tanah air setelah mendarat di Bandara
Internasional Soekarno-Hatta.
Dengan pulangnya ketiga relawan ini, maka selesailah tugas
para “mujahid profesional” dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia,
yang dalam era 2010 hingga 2016 jumlahnya puluhan orang yang dikirim ke Jalur
Gaza membangun RS Indonesia untuk rakyat Palestina.
Sebelumnya, pada 15 Juni 2015, MER-C yang diwakili oleh para
relawan di Gaza menyerahkan RS Indonesia kepada rakyat Palestina.
Pada 24 Desember 2015, RS Indonesia pun mulai beroperasi
dengan melakukan operasi bedah pertama yang disiarkan langsung dari Gaza ke
Jakarta, kantor pusat MER-C.
Pada 9 Januari 2016 di Jakarta, secara simbolis Pemerintah
Indonesia menyerahkan RS Indonesia kepada rakyat Palestina yang diwakili oleh
Menteri Kesehatan Palestina yang datang ke Jakarta, Indonesia.
Gaza Blokade yang Terlupakan
Edy Wahyudi mengatakan bahwa seluruh relawan, terutama yang
mengalami masa perang Gaza tahun 2012 dan 2014, mengalami kesulitan yang di
luar dari kemampuan mereka.
“Yang banyak dilupakan, Gaza adalah blokade dunia, Gaza
adalah tempat perang tingkat dunia, karena seluruh dunia hadir di sana,” kata
Edy sehari setelah tibanya di tanah air.
“Kondisinya (Jalur Gaza) luar biasa, tapi dikecil-kecilkan
oleh negara-negara yang ingin mengecilkan” katanya.
Menurut insinyur yang dua kali ke Gaza itu, membangun sebuah
rumah sakit di daerah yang diblokade itu adalah yang paling sulit, karena
kebutuhannya komplek. Di saat yang sama, kemampuan para relawan yang diutus
untuk membangun sangat minim.
“Kita mendapat jatah listrik hanya empat jam sehari. Untuk
mendapatkan gas 60 kg harus menunggu selama dua bulan, itu pun belum tentu
terisi,” kata Edy.
Menurut Edy, awalnya Pemerintah Palestina tidak percaya diri
bahwa rumah sakit akan berhasil berdiri. Justeru para relawan yang mendukung
dan meyakinkan Pemerintah Palestina di Gaza bahwa itu bisa.
Intervensi Manajemen
Allah
Misi pembangunan menjadi “tidak mungkin” karena Jalur Gaza
adalah daerah perang yang bisa hancur lebur oleh kebiadaban militer Israel, Jalur
Gaza adalah daerah terblokade. Biaya pembangunan tidak kecil, sementara MER-C
hanya bermodalkan dana bantuan dari donasi. Tidak ada jaminan keselamatan bagi
para relawan yang diterjunkan membangun rumah sakit. Rumah sakit yang dibangun
pun tidak ada jaminan akan selamat dari hujan bom jet tempur Israel ketika
perang besar terjadi.
Karenanya, dengan selesainya RS Indonesia dibangun dan sudah
beroperasi dengan jumlah pasien 400 jiwa per hari, Presidium MER-C Ir. Faried
Thalib mengatakan bahwa kesuksesan itu tidak lepas dari intervensi “manajemen
Allah”.
“Ini adalah satu prestasi dan keberhasilan yang betul-betul
intervensi manajemen Allah. Ini tidak bisa dipungkiri,” kata Faried saat
konferensi pers di kantor pusat MER-C pada Rabu, 17 Februari 2016.
Kini RS Indonesia yang awalnya dianggap proyek “mission
inposible” berdiri megah dan indah di Gaza Utara, sebagai rumah sakit khusus
untuk korban perang.
Hasil yang diberikan oleh para relawan dalam membangun
sebuah bangunan yang megah dan kokoh yang belum pernah ada sebelumnya di sana,
membuat jajaran MER-C yang mayoritas adalah aktivis medis, geleng-geleng
kepala. Mereka tidak menyangka para relawan yang berasal dari berbagai latar
belakang bisa membuat sebuah bangunan rumah sakit yang dikagumi oleh para
insinyur di Palestina. Dan itu murni karya putera Indonesia.
Dokter-dokter Palestina dan dari negara-negara Barat yang
berkunjung ke RS Indonesia, mengaku takjub. Terlebih RS Indonesia dilengkapi
alat-alat kesehatan serba canggih. Bahkan pada 9 Februari 2016, untuk pertama
kalinya bedah tumor otak yang tidak pernah dilakukan di Jalur Gaza, Palestina,
sukses dilaksanakan di Rumah Sakit (RS) Indonesia. Hal bisa dilaksanakan karena
tunjangan peralatan medis yang canggih dan modern.
Mantan menteri sekaligus Anggota Dewan Kehormatan Ikatan
Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat, Adi Sasono mengatakan, baru kali
ini Indonesia melalui dana masyarakatnya sendiri mendirikan sebuah rumah sakit
di Gaza, Palestina.
(Sumber: MirajNews.com)



0 komentar:
Posting Komentar