![]() |
| Seorang jurnalis Suriah berjalan menyandang sebuah kamera dan sebuah senjata api. (Foto: CPJ) |
(RajaDumay.com) --- Dalam
sebuah video terbaru, kelompok Islamic State (ISIS/Daesh) pada Rabu (9/3) mengklaim
bertanggung jawab atas eksekusi ratusan wartawan dan aktivis media Suriah.
Al-Khair Media Center di provinsi Deir ez-Zor timur Suriah
merilis sebuah film pendek yang mendokumentasikan pengeksekusian lebih dari 100
pekerja media Suriah di tangan ISIS.
Al-Khair adalah pusat media yang berhubungan dengan ISIS.
Demikian Mi’raj Islamic News Agency(MINA) memberitakannya.
Video menunjukkan cuplikan wartawan dan aktivis media yang
telah dibunuh oleh ISIS selama dua tahun terakhir di Suriah, sementara sebagian
lainnya ada yang ditembak mati di Turki, negara tempat sebagian besar wartawan
Suriah berbasis.
Melalui video propaganda terbaru itu, ISIS mencoba menunjukkan
bahwa wartawan dan aktivis media Suriah adalah mata-mata untuk pasukan koalisi
pimpinan Amerika Serikat di daerah yang dikuasai oleh ISIS.
Lebih lanjut video itu memberi pesan mengancam. ISIS
menyatakan akan mengejar dan membunuh semua pekerja media yang melaporkan
informasi tentang kejadian sehari-hari di wilayahnya.
Di antara korban adalah beberapa wartawan terkemuka lokal
dan pembuat film, seperti Naji al-Jarf yang dibunuh oleh anggota ISIS di kota
selatan Turki Gaziantep pada Desember 2015. Jerf yang juga seorang kepala
editor majalah Hentah Suriah, dikenal sebagai pembuat film dokumenter yang memusuhi
kelompok itu dan ia adalah anggota dari kelompok media anti-ISIS.
Wartawan Suriah terkemuka lainnya yang dieksekusi oleh ISIS adalah
Ahmed Al-Mussa, Faris Hammadah dan Ibrahim Abdulqadir.
"Pekerja media adalah target utama bagi jihadis ISIS.
Kelompok ini percaya bahwa wartawan independen biasanya bekerja untuk beberapa
pihak yang bermusuhan, terutama koalisi Barat," kata seorang aktivis
hak-hak sipil di Deir ez-Zor kepada ARA
News, berbicara dengan syarat anonimitas.
Menurut sumber itu, bekerja sebagai aktivis media di wilayah
yang dikuasai ISIS adalah “bunuh diri".
"Namun, tanpa para aktivis pemberani dunia, tidak akan ada
akses informasi tentang kekejaman harian di tangan militan ISIS terhadap warga
sipil," katanya.


0 komentar:
Posting Komentar