![]() |
| (jpl.nasa.gov) |
(RajaDumay.com) --- Suatu hari, Khalifah Abdul Malik bin Marwan tiba-tiba terbangun dari tidur siangnya. Ia segera memanggil penjaga, “Wahai Maisarah!"
Penjaga sultan yang tegap dan gagah pun segera datang, “Ada apa Amirul mukminin?” tanyanya.
“Pergilah ke Masjid Nabawi dan undanglah kemari salah seorang ulama di sana untuk memberikan peringatan di istana,” pinta Khalifah.
Maisarah pun segera ke masjid. Namun, di sana hanya ada seorang syeikh yang usianya telah sepuh, tapi auranya penuh wibawa dan karismatik. Orang-orang menghormatinya karena ilmunya yang tinggi.
Melihatnya, Maisarah pun mendekat majelis sang syeikh. Ia menunjukkan jarinya memberikan tanda kepada syeikh. Namun, syeikh tak menghiraukannya. Karena tak dipedulikan, Maisarah akhirnya menghampiri sang syeikh.
“Tidakkah Anda melihat saya menunjuk kepada Anda?” ujarnya.
Sang syeikh pun menjawab, “Anda menunjuk saya?”
“Ya.”
Syeikh pun kembali bertanya, “Apa keperluan Anda?”
Maisarah menjawab, “Amirul Mukminin memintaku untuk pergi ke Masjid Nabawi dan membawa seorang ulama untuk mengajarkan hadis untuknya.”
Syeikh itu menjawab ringan, “Bukan saya orang yang beliau maksud.”
“Tapi Amirul Mukminin menginginkan seorang ulama untuk berbincang dengannya.”
Namun, syeikh hanya menjawab, “Barangsiapa yang menghendaki sesuatu, maka seharusnya dialah yang datang. Masjid ini memiliki ruangan yang luas. Jika beliau ingin, datanglah. Selain itu, hadis lebih layak untuk didatangi, tapi beliau enggan mendatanginya,” kata syeikh.
Maisarah pun kembali ke istana tanpa membawa seorang ulama. Ia menemui Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan mengisahkan pertemuannya dengan seorang syeikh sepuh tadi.
Mendengar kisah Maisarah, Ibn Marwan pun menebak, “Pasti dia adalah Syeikh Sa’id bin Musayyab.”
Amirul Mukminin pun meninggalkan tempatnya dan kembali ke kamar.
Ketika Khalifah telah masuk, anak-anaknya pun saling membicarakan kisah Maisarah yang mereka pun mendengarnya. Putra bungsu Khalifah pun geram.
“Siapakah orang yang berani menentang Amirul Mukminin dan menolaknya. Padahal dunia tunduk padanya, raja-raja Romawi pun gentar karena wibawanya?” ujar si bungsu heran.
Kakaknya menimpali, “Dia adalah syeikh yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, Al Walid. Namun syeikh menolak pinangan itu.”
Si bungsu makin terheran-heran. “Benarkah itu? Dia menolak menikahkan putrinya dengan putra mahkota?” ujarnya.
Nmaun, sang kakak tak tahu bagaimana peristiwa penolakan itu terjadi. Lalu seorang pengasuh putra Khalifah pun berkata bahwa ia mengetahui kisah itu.
“Sekiranya diizinkan, saya akan menceritakan seluruh kisah itu,” ujarnya.
Sang pengasuh kemudian mengisahkannya kepada kedua putra Khalifah.
“Gadis putri sang syiekh telah menikah dengan seorang pemuda di kampung saya bernama Abu Wada’ah. Kebetulan dia adalah tetangga dekat saya. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis seperti yang diceritakan Abu Wada’ah sendiri kepada saya,” ujar sang pengasuh.
Abu Wada'ah merupakan salah seorang murid Syeikh Sa’id bin Musayyab. Ia tak pernah absen di setiap majelis beliau. Hingga suatu hari, ia tak menghadiri majelis selama beberapa hari. Tak ada kabar datang darinya.
Lalu ketika Abu Wada’ah telah mendatangi majelis, ia segera mendapat sapaan dari syeikh. “Ke mana saja kau, wahai Abu Wada’ah?” tanya syaikh.
“Saya sibuk mengurus jenazah istri saya yang meninggal,” jawabnya.
Syeikh pun berkata, “Jika kau memberi kabar, pastilah aku akan takziyah dan membantu kesulitamu.”
Abu Wada’ah pun merasa berterima kasih atas kebaikan syeikh. Saat majelis telah usai, syeikh kembali menyapanya. Ia meminta Abu Wada’ah duduk sejenak untuk berbincang.
“Apa kau tak berfikir untuk menikah lagi?” tanya syeikh.
Mendengarnya tentu Abu Wada’ah terkejut.
"Semoga Allah merahmati Anda, wahai Syeikh. Siapa yang mau menikahkan putrinya dengan saya sementara saya ini hanyalah pemuda yatim dan hidup dalam kondisi fakir. Saya hanya memiliki harta dua atau tiga dirham,” ujarnya.
Namun jawaban syeikh sangat mengejutkan, “Aku akan menikahkanmu dengan putriku.”
Abu Wada’ah tentu saja heran bukan kepalang. Ia sangat kaget mendengarnya. “Anda wahai Syeikh? Anda berkenan menikahkan putri Anda denga saya sementara Anda tahu betul kondisi saya?”
“Ya benar. Jika ada seorang datang dan saya menyukai agama dan akhlaknya, maka saya akan menikahkan putri saya dengannya. Dan kau adalah orangyang saya sukai agama dan akhlaknya,’ jawab Syeikh.
Putri Syeikh pun kemudian menikah dengan Abu Wada’ah. Dalam membangun rumah tangga, Syeikh selalu siap membantu rumah tangga putri dan murid kesayangannya.
Mendengar kisah Abu Wada’ah itu, para putra Khalifah pun terkejut.
“Orang itu sungguh mengherankan,” ujar si bungsu, tak habis pikir dengan sikap Syeikh Sa’id.
Namun sang pengasuh yang bercerita menimpali, “Apa yang mengherankan, wahai Tuan? Syeikh memang manusia yang menjadikan dunia hanya sebagai kendaraan dan perbekalan untuk akhirat. Demi Allah, bukan karena beliau tak suka putra Amirul Mukminin. Hanya saja, Syeikh memandang Al Walid tak sebanding dengan putrinya. Syeikh hanya khawatir putrinya akan tergoda dengan fitnah dunia.”
Si pengasuh pun melanjutan kisahnya, bahwa Syeikh Sa'id pernah ditanya mengapa menolak pinangan Amirul Mukminin dan justru memilih menikahkan putri dengan seorang awam yang miskin.
Dengan mantap Syeikh menjawab, “Putriku adalah amanat di leherku, maka kupilihkan apa yang sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya. Bagaimana pendapat kalian jika ia pindah ke istana Bani Umayyah lalu bergelimang harta? Bagaimana keteguhan agamanya nanti?”
(Sumber: Republika.co.id)


0 komentar:
Posting Komentar