Yang Kentut Silahkan Berdiri

(RajaDumay.com)

Oleh Drs. Syamsuddin Ahmad

Dikisahkan pada suatu hari para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang berkumpul di masjid. Lalu terciumlah bau kentut di antara mereka, sehingga membuat para sahabat tidak tahan dengan bau tersebut. 

Salah seorang dari mereka berdiri dan berkata, “Barangsiapa yang kentut, silakan bangun.”
Hening, tak seorang pun berdiri.
Ketika datang waktu Isya mereka berkata, “Orang yang kentut pasti akan berwudu setelah ini. Orang itulah yang kentut.”
Setelah itu, para sahabat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang keluar. Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak dari tempat duduknya, mungkin malu. 

Lalu Bilal bangun untuk mengumandangkan azan. Tapi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata, “Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudu lagi."

Para sahabat pun ikut berwudu dan akhirnya tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu.
Subhanallah. Sungguh, dalam diri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam terdapat teladan yang baik bagi kita semua.

Pada hari yang lain, usai salat Ashar di masjid Quba, seorang sahabat mengundang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam beserta jamaah untuk menikmati hidangan daging unta di rumahnya. 

Ketika sedang makan, ada tercium aroma tidak sedap. Rupanya di antara yang hadir ada yang buang angin. Para sahabat saling menoleh. Wajah Rasulullah sedikit berubah tanda tidak senang. 

Maka tatkala waktu salat Maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah berkata, "Barangsiapa yang makan daging unta, hendaklah ia berwudu."

Mendengar perintah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudu. Dan terhindarlah aib orang yang buang angin tadi.

Kisah tentang menjaga perasaan saudara seiman pun juga terjadi pada seorang ulama, yaitu Syaikh Abdurrahman Hatim bin Alwan. Beliau merupakan salah satu ulama besar di Khurasan pada zamannya. Dikenal dengan sebutan Hatim Al A’sham, yang artinya Hatim Si Tuli.
Suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui beliau. Namun, tanpa sengaja ia kentut dengan suara yang cukup keras. Wanita itu salah tingkah, menahan malu. Lalu Syaikh ini pura-pura tuli dan meminta si wanita mengulangi pertanyaannya. 

Dengan sikap sang Syaikh, wanita itu pun merasa sedikit lega. Ia mengira sang Syaikh benar-benar tuli. Lalu mereka berbicara dengan saling meninggikan suara.
Wanita itu hidup selama lima belas tahun setelah kejadian tersebut. Selama itu pula Syaikh Hatim pura-pura tuli. Hingga wanita itu meninggal, ia tak pernah tahu kepura-puraan beliau.

Tiga kisah di atas menceritakan bagaimana seharusnya seorang muslim untuk menjaga kehormatan saudaranya. Bukan malah menertawakannya atau menyebarkan aibnya.
Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. 


“... Dan barang siapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” (Muttafaq alaih)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar