![]() |
| Ilustrasi. (http://zetrum.deviantart.com) |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Heboh Pirang VS Heboh Jilbab
Teeet!
Bel listrik berbunyi sekali,
sebagai tanda jam kedua mata pelajaran pagi itu berakhir dan akan beralih ke
mata pelajaran lain, artinya pun akan berganti guru yang mengajar.
Sebelum guru yang baru datang ke
kelas, Edo Gundala segera ambil
kesempatan untuk segera keluar dari kelas. Siswa kelas tiga IPA itu
berperawakan tinggi besar dengan lengan yang cukup kekar bagi seorang pelajar.
Kepalanya berambut model botak tumbuh. Dua lengan bajunya sedikit di gulung
agar terlihat lebih macho maksudnya. Ujung bajunya dibiarkan berada di luar
celana. Ia membawa sebuah buku di tangannya.
Semua siswa yang bersekolah di
gedung itu sangat mengenal Edo sebagai Ketua Geng Anak Monster (Amos).
Tindakannya ternyata diikuti oleh beberapa siswa kelas tiga lainnya, sehingga
ada lima orang yang meninggalkan kelas sebelum guru datang mengajar.
Ketika mereka melewati kelas tiga SMU lainnya, beberapa siswa yang tergabung sebagai anggota Amos, segera terpancing
untuk keluar dan bergabung, hingga jumlah mereka sepuluh anak yang dipimpin
oleh Edo. Dari lantai dua mereka naik ke lantai tiga.
Beruntung, kelompok ini tidak
menemui hambatan dalam perjalanannya menuju ke kelas dua SMK jurusan sekretaris
A. Aksi bergerombol mereka cukup jadi perhatian murid-murid SMK di kelas yang
mereka lalui.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Edo setengah berteriak saat masuk ke
kelas dua sekretaris A. Namun, tidak ada yang menjawab salam itu.
Saat itu, guru pengganti belum
tiba untuk mengajar pelajaran berikutnya. Para siswi cukup terkejut dengan
kedatangan Geng Amos tersebut di saat jam pelajaran.
“Hahaha!” Edo dengan gaya
jagoannya tertawa sambil menghampiri meja tempat Rina Viona dan Indah Pertiwi
duduk. Tawa Edo juga didukung oleh tawa beberapa anggota Amos lainnya.
Kedatangan Geng Amos yang
kemudian tertawa, jelas bagi Rina dan anggota Geng Bintang Tujuh lainnya dinilai sebagai ejekan. Jelas, tidak ada bahan ejekan yang bisa mereka tertawakan, kecuali
karena jilbab yang Rina kenakan.
“Wow! Ada cewek baru nih!” kata
Edo sambil melirik kepada Silva Monica yang sangat mencolok dengan rambut
kuningnya. Tapi, Edo segera beralih kembali kepada Rina yang menatap tajam
kepadanya, “Tapi jujur, Rin, kita-kita harus akui, elu kelihatan lebih cakep
dengan jilbab gitu. Ya enggak, Bro?”
Edo berpaling kepada
teman-temannya meminta dukungan atas penilaiannya.
“Yo i, Bang Edooo!” sahut siswa
bertubuh mungil pendek berwajah tua sambil cengengesan di sisi Edo.
“Tapi kita juga harus akui, Rin,
elu jadi enggak pantas nyandang status anak geng dengan jilbab itu,” ujar Edo.
Pak!
Indah yang terpancing emosinya
sejak kedatangan Geng Amos ke kelas itu, tiba-tiba berdiri sambil gebrak meja.
Lalu teriak, “Maksud lu apa, Do?!”
“Wow!” seru Edo berlagak terkejut
oleh sentakan Indah.
Ketegangan itu membuat lima
anggota Geng Bintang Tujuh bangkit dari duduknya dan bergerak berkumpul di
sekitar Rina dan Indah, meski mereka baru saja bersitegang dengan Rina.
“Oooh!” desah para anggota Geng
Amos melihat Geng Bintang Tujuh yang cantik-cantik berkumpul satu.
“Lantas, mau apa elu semua datang
ke depan gua?” tanya Rina akhirnya, setelah tanpa henti menahan gejolak amarah
di dalam dada dan kepalanya.
“Sangat jelas Amos dan Bintang
Tujuh enggak ada masalah. Amos, Bintang Tujuh dan J-Ray masih sepakat saling
menghormati. Tapi gua benar-benar merasa terusik, pas dengar berita duka bahwa
Ketua Geng Bintang Tujuh pakai jilbab. Sebagai insan yang berpekerti, tentunya
gua mau cek dan lihat langsung dong, apakah benar Rina hari ini sanggup pakai
jilbab. Dan ternyata benar, beritanya kagak bohong. Jelas berita elu ini lebih
heboh dibandingkan berita Michael Jackson hidup lagi,” ujar Edo yang kemudian
diikuti oleh tawa mereka bersepuluh yang sudah mirip tawa kaum dedemit siang
bolong.
“Kalau elu cuma mau ngomongin itu
dan ngetawain gua, mendingan lu semua balik ke alam lu di lantai dua!” kata
Rina bernada tinggi, wajah cantiknya begitu menegang.
Edo lalu berbalik menghadap
kepada kesembilan temannya. Lalu tanyanya, “Anak Amos berani bertaruh?”
“Yap, berani!” jawab mereka
serentak, seperti satu regu tentara.
Edo lalu beralih kembali kepada
Rina dan katanya, “Anak Amos berani taruhan, kalau elu sanggup dalam lima hari
bertahan pakai jilbab, seluruh anak Amos akan lari gak pakai baju keliling
lapangan 20 kali. Tapi kalau enggak, elu harus pertimbangin lagi status elu
sebagai Ketua Geng Bintang Tujuh!”
“Hei! Ada apa ini, hah?!”
Tiba-tiba satu bentakan
mengejutkan mereka. Seorang guru pria berkulit hitam masuk dengan ekspresi
wajah tidak senang melihat kondisi yang tidak pantas terjadi di saat jam
pelajaran, terlebih di jam pelajaran miliknya. Guru berkumis tipis berpotongan
rambut cepak seperti ABRI itu adalah Pak Suryo
Manutdilogo, guru matematika.
“Maaf, Pak, kita datang mau pinjam
buku,” kata Edo mendadak sopan, sambil menunjukkan buku yang sejak tadi
dipegangnya.
“Cepat keluar!” bentak Pak Suryo.
Kesepuluh anak geng itu pun
segera berhamburan keluar dari kelas. Personil Geng Bintang Tujuh kembali pula
ke kursinya masing-masing.
Pak Suryo adalah guru yang
termasuk ditakuti dan terkenal sebagai bertipe “killer”. Meski kualitas
pengajarannya bagus, tapi gaya penyampaiannya yang terkadang kasar ke siswa,
membuat siswa pada umumnya ilfil terhadapnya.
Maka tidak heran jika siswa yang ahli pelajaran matematika di bawah binaannya,
hampir tidak ada.
Pak Suryo meletakkan buku
bawaannya ke meja guru setengah dilempar. Ia memilih tetap berdiri.
“Hari ini, seluruh siswa dibuat
heboh. Termasuk dewan guru pun jadi heboh. Bapak rasa kalian semua sudah tahu
apa sumber kehebohan itu. Sumber kehebohan itu hanya dipicu oleh selembar
jilbab yang dipakai Rina. Tapi Bapak tidak mengerti, apa istimewanya jilbab
yang dipakai Rina sehingga begitu memberi efek kekacauan yang besar? Tadi,
Bapak memang tidak lihat langsung kekacauan yang terjadi di jajaran kelas di
SMK ini. Tapi Pak Haris cerita ke Bapak, dia dibuat marah besar kepada anak
tiga akuntansi yang ribut seperti rumah sakit jiwa, hanya karena menonton Rina
berjilbab,” kata Pak Suryo kepada para siswi yang diam mendengarkan.
“Berengsek! Gua disalahin karena
gara-gara gua pakai jilbab!” maki Rina, tapi dalam hati. Golakan darah di dalam
dadanya kian mendidih. Ia merasa muak jika melihat wajah guru yang kini ada di
depannya itu, terlebih arah bicara Pak Suryo menyerang jilbabnya.
“Bapak tidak anti-jilbab atau
anti-hijab. Bapak tidak pernah mempermasalahkan beberapa siswi yang eksis
berjilbab di sekolah ini, seperti Badar, Maya, Dina dan Inur. Jilbab itu
sesuatu yang mulia, hanya pantas untuk perempuan-perempuan yang hatinya sudah
terbekali oleh ilmu agama yang baik. Tapi kalau dipakai hanya buat gaya-gayaan,
biar dibilang cantik, salih, cewek alim, mendingan jangan deh, itu sama saja
melecehkan makna dari jilbab itu sendiri. Jadi....”
“Jadi, gua enggak pantas pakai
jilbab cuma karena gua belum salat? Begitu kan, Pak?!” teriak Rina tiba-tiba
memotong kata-kata Pak Suryo. Rina berdiri dengan tatapan nanar, menahan
sebuncah genangan air mata yang siap meluncur di pipi halusnya. Bibirnya
bergetar menahan emosi yang sudah memuncak. Pikirannya tidak lagi
mempertimbangkan kepada siapa ia sedang berkata keras.
“Rin!” sebut Indah sambil
memegang tangan Rina, bermaksud menyuruhnya tidak bersikap kasar kepada guru.
“Gua enggak pantas pakai jilbab
karena gua anak geng! Kalau gua yang pakai jilbab, gua melecehkan kemuliaan
jilbab! Dan Rina enggak pantas jadi mulia! Begitu kan, Pak?” teriak Rina.
Tiba-tiba Rina merenggut kain
jilbabnya dan menariknya hingga lepas. Maka terbukalah rambut Rina, jatuh ikal
tergerai. Dengan penuh kemarahan, Rina melempar jilbab putihnya ke depan kaki
Pak Suryo.
Tindakan Rina itu membuat Pak
Suryo mendelik marah dan juga mengejutkan semua siswi yang ada. Rina ambil
tasnya dan dengan cepat berjalan keluar tanpa memperdulikan keberadaan gurunya lagi.
Rina tidak bisa menahan lagi luapan air matanya yang kemudian jatuh tanpa
suara. Perasaannya begitu sakit. Sakit yang tercipta sejak pagi, terasa
klimaksnya begitu pedih dan perih ketika kata-kata Pak Suryo begitu merendahkan
dirinya. Ini lebih sakit dibandingkan ketika Rio mengkhianati cintanya.
“Kalian lihat, apakah pantas anak
kurang ajar seperti itu memakai jilbab?!” tanya Pak Suryo dengan nada tinggi
kepada anak-anak yang diam tidak menjawab.
Kalimat itu masih terdengar oleh
Rina yang sudah ada di luar. Dan pertanyaan Pak Suryo terdengar berulang-ulang
di telinga Rina. Kalimat itu benar-benar menjadi tamparan yang begitu mematikan
baginya.
“Permisi, Pak!” ucap Indah kepada
gurunya, lalu bergerak memungut jilbab Rina yang tercampakkan.
Indah segera berlari keluar
mengejar Rina.
Kondisi setiap kelas yang fokus
pada pelajaran yang sedang berlangsung, membuat Rina tidak terperhatikan oleh
siswa-siswa yang kelasnya dilalui oleh Rina. Namun demikian, tetap saja ada
satu dua siswa yang menangkap kelebatan sosok Rina yang lewat tanpa berjilbab
lagi. Sebar bisikan pun terjadi di antara para siswa, tapi tidak bisa
menciptakan kehebohan seperti pagi tadi.
“Rin, elu mau ke mana?” tanya
Indah yang berhasil menyusul Rina di tangga.
“Pulang,” jawab Rina sambil menyeka
air matanya. “Gua bisa mati kalau seharian di sini.”
“Elu benar-benar serius sama
jilbab elu?” tanya Indah, tangannya menyodorkan jilbab yang tadi Rina
campakkan.
“Gua enggak tahu, Wi. Terserah
kalian mau ambil keputusan apa tentang gua,” kata Rina.
“Pakailah!” kata Indah
menyarankan. Hatinya begitu terenyuh melihat Rina menangis, sebab baru kali
inilah ia melihat gadis garang itu menangis.
“Mungkin gua belum pantas pakai
jilbab,” kata Rina, lalu terus menuruni tangga meninggalkan Indah yang terpaku
di tempatnya.
Setibanya di lantai bawah, Rina
langsung menuju ke pintu gerbang. Di sana ada seorang satpam yang tergolong
sudah mulai tua. Satpam berperut gendut itu berseragam biru gelap. Namanya Rustam Efendi, tapi anak-anak suka
memanggilnya Pak Pepen.
“Pak Pepen, bukain gerbang!”
pinta Rina.
“Mau ke mana, Neng?” tanya
Rustam.
“Pulang.”
“Surat izin pulangnya mana?”
tanya Rustam.
“Buka, Paaak! Gua mau pulang
sekarang!” kata Rina agak keras, karena kesal.
“Oh maaf, Neng. Kalau tidak ada
surat izin pulang, Bapak tidak bisa buka. Itu aturannya!” tandas Rustam.
Rina pun naik pitam. Saking
kesalnya, ia menendang tembok yang ada sambil berteriak pendek.
“Gua mau pulang!”
Akhirnya Rina membentak keras
kepada Rustam, membuat orang tua itu jadi emosi juga.
“Anak kurang ajar!” geram Rustam
dengan gigi atas bawah saling menekan.
Tiba-tiba seorang siswi berteriak
memanggil Pak Rusam.
“Pak Pepen!”
Rustam dan Rina segera menengok.
Mereka melihat seorang siswi berjilbab berlari ke arah mereka. Siswi itu tidak
lain adalah Barada.
Barada tiba dengan senyuman,
seolah menyiram padam api emosi Rustam dan Rina.
“Rina lagi sakit, Pak. Nih surat
izinnya,” kata Barada lalu menyodorkan selembar kertas yang memang merupakan
surat izin pulang.
Rina agak terkejut melihat Barada
bisa punya surat izin.
Setelah menerima dan membaca
surat izin tersebut, Pak Rustam pun lalu bergerak ke gerbang dan membuka gembok
yang mengunci pintu gerbang.
“Saya cuma ngantar, Pak, nanti
balik lagi!” kata Barada.
“Badar, nasehati Rina supaya
sopan kepada orang tua!” kata Rustam yang masih menunjukkan wajah marah.
“Maklum, kalau sakit, cuaca susah
dibaca, Pak,” kilah Barada. “Terima kasih, Pak. Assalamu ‘alaikum!”
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Rustam.
Barada lalu membungkuk seperti
orang Jepang menghormat kepada Rustam. Kemudian ia dan Rina keluar dari
sekolah.
Tanpa mereka ketahui, dari
pinggiran lantai dua, Indah Pertiwi menyaksikan kepergian Rina dan Barada.
“Pagi yang berat ya, Rin?” tanya
Barada sambil keduanya berjalan.
“Terlalu berat. Semuanya nyakitin
gua, terutama Pak Suryo berengsek!” maki Rina.
Rina tidak langsung pulang ke
rumah, tapi dia mengajak Barada minum jus tidak jauh dari sekolah.
Setelah dua jus telah tersaji di
meja mereka, Rina mendadak menepuk dahinya.
“Elu puasa, kan?” tanya Rina yang
baru teringat bahwa kebiasaan Barada adalah puasa Senin dan Kamis.
“Enggak masalah. Bismillah,” kata Barada lalu lebih dulu
menyedot jusnya, membatalkan puasanya demi menemani dan membuat nyaman Rina.
“Bagaimana elu bisa dapat surat
izin, Badar?” tanya Rina.
“Saya sempat lihat kamu waktu
lewat tanpa jilbab dan bawa tas. Saya tebak saja dan menyimpulkan bahwa Pak
Pepen tidak akan buka pagar kalau tidak ada surat izin. Jadi saya mintakan atas
nama kamu dengan alasan sakit.”
Pada kesempatan itu, Rina pun
menumpahkan seluruh sakit hati yang ia rasakan, terutama perkataan-perkataan
Pak Suryo yang begitu membunuh semangatnya untuk berjilbab. Barada menjadi
pendengar yang baik.
“Saya sih tidak setuju pemikiran
yang menyebutkan bahwa percuma pakai jilbab kalau tidak salat. Memang mungkin
pahala tidak dapat, karena salat tidak dilaksanakan, tapi tetap ada efek
positifnya kepada orang lain. Dengan berhijab, setidaknya kamu membantu mata
kaum lelaki terhindar dari zina mata,” kata Barada.
“Menurut elu, omongan Pak Suryo
itu enggak benar?” tanya Rina, ia benar-benar merasa sewot dengan guru
matematika itu.
“Kebenaran hanya berdasarkan
Al-Quran. Sebagaimana yang tadi malam saya sampaikan ke kamu, Rin. Kalau kata
Al-Quran A, berarti ya A. Al-Quran bilang B, ya B. Al-Quran bilang yang benar itu
Rina, ya Rina. Kebenaran bisa datang dari sahabat-sahabat kamu, dari seluruh
siswa, bahkan dari Pak Suryo, jika apa yang mereka nyatakan cocok dengan kata
Al-Quran. Tetapi demikian sebaliknya. Meskipun yang berpendapat saya atau Ustad
Mukhtar, tapi tidak cocok dengan apa yang dikatakan Al-Quran, ya tetap salah,”
ujar Barada.
“Bagaimana dong, gua kan enggak
tahu sedikit pun apa yang Al-Quran omongin?” tanya Rina dengan mimik putus asa.
“Ya kamu harus mempelajari
Al-Quran. Pastinya kamu tidak bisa langsung tahu semua, perlu waktu. Tapi itu
bukan alasan kamu bisa menunda satu kebaikan yang sudah kamu ketahui, seperti
betapa wajibnya perempuan Muslim berhijab dan betapa mulia dan agungnya
Muslimah berjilbab. Kamu tinggal pilih, mau jadi kotoran di antara kotoran di
comberan atau menjadi mutiara di antara kotoran di comberan. Eh, maaf ya, saya
ngomong comberan,” jelas Barada lalu cengengesan. “Sementara ini kamu bisa
percaya kepada orang-orang yang menurut kamu tahu Al-Quran bicara apa, seperti
Ustad Mukhtar atau Pak Abdurrahman. Kalau kamu sungkan dengan keduanya, kamu
bisa konsul ke Bu Nurhayati, beliau juga banyak hapal Al-Quran.”
“Tapi gua benar-benar enggak bisa
menghadapi kondisi seperti tadi. Gua enggak pernah mengalami yang lebih buruk
dari itu sebelumnya. Bahkan ini lebih sakit dibandingkan ketika gua dikhianati
sama pacar gua, Badar. Gua benar-benar merasa konyol banget memilih pakai
jilbab.”
“Saya mungkin melihat kondisi
kamu dengan penilaian berbeda. Bagi saya kamu tampil begitu luar biasa,
meskipun pada kahirnya kamu menyerah dengan melepas jilbab kamu hari ini. Tapi
itulah ujian yang Allah berikan. Dengan ujian seberat itu, Allah mau melihat,
apakah kamu memang layak atau tidak. Jika kamu berhasil melewati itu semua, itu
menunjukkan kamu wanita yang memang pilihan. Atau gagal sehingga kamu akan
menjadi pecundang....”
“Dan gua memang pecundang
akhirnya, kan?” potong Rina.
“Bisa dibilang iya. Tapi status
hari ini akan terus melekat di hari-hari esok, jika kamu tetap memilih tidak
berhijab lagi dan menyerah hanya sampai hari ini. Namun, jika kamu mau mengubah
label pecundang itu, kamu harus mencobanya lagi hingga semua anak YAKIN
mengakui bahwa kamu memang layak menjadi seorang Muslimah. Sehingga Pak Suryo
tidak pantas lagi untuk merendahkan kamu. Saya ingat satu ayat Allah yang
mengatakan, Allah tidak akan membiarkan seorang hamba mengaku telah beriman
tanpa diuji. Semakin berat ujian yang Allah berikan, maka semakin besar pahala
yang ditawarkan dan semakin tinggi derajat yang diberikan.”
Barada kembali menyedot nikmatnya
jus alpukat di gelasnya.
“Bola itu ada di tangan kamu.
Semua tergantung kamu. Saya hanya menyampaikan ke kamu apa yang saya sudah
ketahui. Apapun keputusan kamu nantinya, baik buruknya, kamulah yang menerima
dan menanggungnya. Apapun keputusan kamu nantinya, Badar akan tetap menjadi
dirinya. Saya rasa cukup untuk hari ini, saya harus kembali lagi ke sekolah.”
Rina terdiam tanpa senyum.
Pikirannya bekerja dengan lebih encer. Masukan dari Barada memang meringankan
beban hatinya, meski kejadian hari ini masih terlalu sakit.
(RH)
(Bersambung: Jilbab yang Direnggut)


Bagus ceritanya, insya'a Allah semoga menjadi novel Best Seller kelak, Aamiin.
BalasHapusMemang perlu ada cerita2 begini untuk memotivasi para remaja sekarang....
Jazakallah, Akhi. Tinggal proses pembukuannya saja. Semoga jadi terobosan di dunia per-novelan
BalasHapusAamiin Allahumma 'Amiin, semoga lancar nanti dalam rilisnya, insya'a Allah ana akan ikut mempromosikan.... :)
Hapus