| (ArtikelMuslimah.com) |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Geger Jilbab Rina
Drs. Didi Sudrajat, MM adalah sosok kepala sekolah yang
berperawakan sedang. Kepala Sekolah SMK IP YAKIN ini tidak jangkung, tidak
pendek. Tidak kurus, tidak juga gemuk dan gendut. Rambutnya tersisir rapih
jatuh ke samping, seolah mengikuti arah tiupan angin hari ini. Wajah 45
tahunnya yang berkulit putih meski ada sedikit bopeng bekas lahan jerawat,
tampak ganteng dengan kaca mata berbingkai emas sepuhan. Gagah dengan kemeja
putih mulus dan bersih lengkap dasi bercorak bulatan-bulatan planet di
antariksa malam. Sebuah pena bagus cantik terselip di bibir kantong kemejanya. Celana
hitamnya mulus rapih berujung pada sepatu hitam yang mengkilap oleh semiran
Kamis pagi. Gesper putih berkepala cetakan harimau tampak gagah seperti sabuk
sakti warisan leluhur.
Untuk sampai ke kelas dua jurusan sekretaris A, Didi harus
melalui lima kelas dari sembilan kelas yang dimiliki SMK.
Seiring berlalunya Didi di depan kelas-kelas itu, terjadi
kehebohan yang tidak biasa. Bagi kelas yang sedang diajar oleh gurunya,
murid-murid hanya bisa memandang keluar melalui jendela atau pintu yang terbuka
dari tempat duduknya masing-masing. Sejenak beralih dari penjabaran guru di
depan kelas. Untuk melihat jelas, mereka sampai berdiri dari duduknya, terutama
mereka yang duduk di dekat jendela. Mau tidak mau, guru-guru yang mengajar
hanya bisa tarik napas dan geleng-geleng dengan heboh dadakan para murid seiring
melintasnya kepala sekolah.
Berbeda dengan kelas tiga akuntansi yang gurunya tidak
hadir. Kelas ini lebih banyak murid lelakinya dibanding murid wanitanya. Sontak
semuanya berhamburan ke pintu dan jendela-jendela kelas, sehingga mereka
menumpuk seperti penumpang kereta api di waktu mudik. Tawa mereka tercipta
riuh, tidak peduli bahwa yang berlalu adalah kepala sekolah mereka.
“Rambutmu membuatku klepek-klepek!” terdengar teriakan dari
seorang murid lelaki, entah dari sebelah mana.
“Huuu...!” sorak para murid perempuan.
“Target terkunci, target terkunci!” celetuk murid lelaki
yang lainnya meniru laporan pilot jet tempur yang siap membidik pesawat
penyusup musuh.
“Hahaha...!” meledaklah tawa di kelas paling senior di SMK
itu.
“Torpedo Agus siap ditembakkan!” sahut lelaki yang lain
menyambut candaan temannya.
“Hahaha...!” tawa satu kelas kian kencang, karena pikiran
mereka langsung mengasumsikan sesuatu yang kotor.
“Semuanya kembali ke bangku masing-masing!” seru Didi agak
marah dengan candaan para siswa.
Siswa kelas tiga itu pun seketika berhamburan kembali ke
kursi masing-masing. Tawa riuh mereka seketika hilang berganti sisa-sisa
cekikikan.
“Cowok tiga akuntansi yang merasa ganteng, kumpuuul!” seru
seorang murid lelaki di depan kelas. “Kompetisi
Jerat Kalkun membuka pendaftaran.”
Akhirnya Didi Sudrajat tiba di pintu kelas dua sekretaris A.
“Assalamu ‘alaikum!”
salam Didi.
“Wa ‘alaikum salam!”
jawab murid-murid dan seorang guru perempuan yang sedang mengajar di depan
kelas.
“Wah!” desah murid-murid kelas dua sekretaris itu, tapi
tidak begitu kencang. Mata mereka semua tertuju kepada tamu yang datang.
Perhatian mereka bukan pada sosok kepala sekolah mereka,
tetapi kepada sosok siswi yang datang bersama Pak Didi.
Siswi yang bersama kepala sekolah adalah seorang gadis
berkulit putih bersih dengan wajah cantik layaknya wajah-wajah orang kaya yang
selalu hidup di bawah hembusan angin AC. Berseragam putih lengan panjang dengan
dasi panjang berwarna hitam berlogo sesuatu. Rok abu-abunya juga panjang,
berbeda dengan siswi lainnya yang hampir semua memakai rok selutut. Ia
mengenakan sepatu hitam bergaris putih bermerek punya luar negeri. Tangan
kanannya menjinjing tas berwarna merah dengan hiasan gantungan kunci berbandul
miniatur gitar listrik.
Selain wajah cantiknya yang laksana bintang kejora di langit
malam tanpa awan, wajahnya sangat mirip dengan seorang aktris Korea Selatan
ternama. Namun, yang lebih membuat gadis ini menjadi pusat magnet di pagi itu
karena rambut sebahunya yang berwarna kuning emas seperti orang bule.
Gadis inilah yang membuat lima kelas yang dilalui kepala sekolah
tadi menjadi heboh. Terlebih-lebih kelas tiga akuntansi.
“Han Ga-in banget,” ucap seorang siswi pemuja
bintang-bintang Korea Selatan dengan menyebut nama artis yang dimiripi oleh
wajah gadis berambut kuning itu.
Kelas dua sekretaris A memiliki 30 murid, hanya satu di
antaranya murid lelaki.
“Silahkan masuk, Pak,” kata Ibu Salihah Ayutrisri, guru Bahasa Indonesia yang berusia 41 tahun
dengan perawakan agak jangkung. Rambutnya lurus pendek seleher, mengenakan
longdress merah lengan panjang, karena perutnya sedang mengandung bayi
keempatnya yang berusia lima bulan. Kondisi hamilnya seakan membuat dandanan
make-up di wajahnya terlihat cantik.
Pak Didi pun berdiri di depan kelas menghadap kepada para
siswi. Sementara siswi berambut pirang berdiri dengan senyuman
kecil yang ditahan stabil di sisi kanan kepala sekolah. Namun, ada sejumlah
kursi murid yang kosong dari penghuninya.
“Ini kenapa pada kosong?” tanya Didi seraya telunjuknya
menunjuk salah dua kursi yang kosong di satu meja.
“Geng Bintang Tujuh belum pada masuk, Pak!” jawab salah satu
siswi, membuat sebagian siswi tertawa rendah.
“Memang tidak masuk semuanya?” tanya Didi lagi.
“Kata anak-anak, mereka tadi ada di lapangan, hanya belum
masuk ke kelas,” jawab Bu Salihah.
“Baik, anak-anakku tercinta,” kata Didi memulai maksudnya.
“Hari ini, kalian mendapat teman baru, pindahan dari jauh. Sebagai awal
keakraban, Bapak persilahkan kepadanya untuk memperkenalkan dirinya sendiri
kepada kalian.”
Didi pun lalu menepi untuk memberi ruang bebas kepada siswi
berambut pirang cantik yang dibawanya ke kelas itu.
Namun, sebelum siswi baru tersebut mulai bicara, tiba-tiba
kebisingan terdengar begitu heboh dari kelas-kelas tetangga. Terutama dari
kelas tiga akuntansi yang masih belum kedatangan guru. Suara kegaduhannya lebih
dahsyat dari sebelumnya, ketika kepala sekolah dan siswi baru melintas di depan
kelas mereka.
Dua menit sebelumnya. Ketika Rina yang memendam kemarahan
terhadap sahabat-sahabatnya sedang menaiki tangga, dari arah bawah terdengar
suara sepatu berlari menaiki tangga. Hingga akhirnya, pemilik sepatu yang
adalah murid laki-laki itu melewati Rina.
Sebelum berbelok naik ke lantai tiga, siswa itu sempat
menengok kepada Rina, hingga keduanya bertemu pandang. Rina mengenal siswa itu
sebagai murid kelas tiga akuntansi, namanya Teguh.
Teguh yang tangan kanannya membawa beberapa spidol besar,
sejenak berusaha mengenali siswi berjilbab yang sepertinya baru kali ini ia
lihat.
“Lu Rina, ya?” tanya Teguh agak ragu.
Rina tidak menjawab. Pertanyaan itu justeru menambah keruh
dan kusut gejolak perasaan dan batinnya saat itu.
“Lu pakai jilbab, Rin?” tanya Teguh lagi, setengah ingin
tertawa.
Rina hanya menatap tajam pemuda yang berdiri beberapa anak tangga di
atasnya.
Setelah yakin bahwa itu memang Rina yang terkenal sebagai
Ketua Geng Bintang Tujuh, Teguh kemudian berlari naik sambil tertawa.
Setibanya di lantai tiga, Teguh bukannya langsung ke
kelasnya, tapi ia justeru berhenti di pintu kelas tiga sekretaris A.
“Assalamu ‘alaikum, Pak Widodo!” salam Teguh kepada pak guru
yang sedang mengajar.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Pak Widodo, guru mata pelajaran
sejarah.
“Pak, Ketua Geng Bintang Tujuh sekarang pakai jilbab!” kata
Teguh memberi tahu tanpa masuk ke kelas.
Selanjutnya, Teguh berlari ke kelas tiga sekretari B. Hal
yang sama ia lakukan seperti di kelas pertama. Berbeda ketika ia berada di pintu kelasnya yang tanpa guru.
“Woi! Ketua Geng Bintang Tujuh sudah taubat, sekarang dia
pakai jilbab. Noh, lagi jalan!” teriak Teguh kepada teman-teman sekelasnya
dari pintu kelas. Pengumuman Teguh itu menghentikan kehebohan mereka yang masih
tersisa tentang siswi baru berambut pirang barusan.
Setelah itu, Teguh tidak berhenti. Ia terus ke kelas dua
akuntansi tempat Barada berada dan kelas dua sekretaris B. Ia memberikan
pengumuman yang sama. Namun, ia tidak ke kelas dua sekretaris A.
Berita tentang “Ketua Geng Bintang Tujuh pakai jilbab”,
ditambah embel-embel “sudah taubat”, bukanlah berita biasa. Bagi sekolah IP
YAKIN yang menaungi SMU dan SMK, itu adalah berita besar dan sangat
mengejutkan. Selama ini mereka sangat tahu tentang Geng Bintang Tujuh yang
tersohor dengan kecantikan para anggotanya. Meski geng itu nyaris tidak pernah
bermasalah dengan jajaran dewan guru, tapi mereka diketahui ditakuti oleh adik
kelas dan seangkatan, serta disegani oleh kakak kelas. Geng Anak Monster (Amos) di SMU dan Geng J-Ray di SMK turut hormat sebagai sesama kelompok geng. Tiga
geng yang ada di lingkungan sekolah itu telah sepakat tidak saling ganggu dan
ribut.
Di kelas yang ada gurunya, para murid tidak berani
meniggalkan kursinya ketika siswi cantik berambut pirang melintas di depan
kelas bersama kepala sekolah tadi, cukup berdiri melihat dari tempatnya
masing-masing. Akan tetapi, tidak bagi mereka yang ingin melihat Ketua Geng
Bintang Tujuh mengenakan jilbab. Hampir semua murid beranjak dari kursinya dan
berebut tempat di pintu dan jendela-jendela kelasnya. Mereka sangat ingin
melihat Rina.
Mau tidak mau, para guru harus mengelus dada dan
geleng-geleng, karena merasa terabaikan oleh sebab kepopuleran Rina.
Seiring itu pula, Rina telah sampai di lantai tiga dan
sedang berjalan menuju kelasnya yang posisinya paling ujung.
Rina sempat berhenti ketika melihat situasi kacau di setiap
pintu dan jendela kelas yang akan dilaluinya. Semuanya terlihat begitu antusias
untuk melihat wujud barunya. Kondisi itu menjadi pukulan dahsyat bagi jantung
dan nyali Rina. Ia benar-benar tidak menyangka akan seheboh ini respon penghuni
sekolah.
Tekadnya seketika ambruk ke dasar. Ia tidak berani memandang
wajah-wajah massa yang seolah menatap setajam pedang. Pandangan mereka
benar-benar menusuk batin Rina.
“Gak mungkin gua lari pulang. Badar, apa elu pernah ngalamin
yang kayak gini?” membatin Rina yang seketika teringat Barada, sahabat barunya
yang tadi malam telah memberi dorongan moril dan pencerahan kepadanya.
Tidak mungkin bagi Rina untuk berbalik dan berlari pulang,
terlebih ia adalah ketua geng. Ia tidak mau jadi pecundang.
Akhirnya Rina memutuskan maju untuk melalui jalan yang
baginya penuh dengan bara yang membakar perasaannya dan penuh dengan pedang
yang menyayati jiwanya. Rina terus melangkah dengan wajah menunduk. Baru kali
ini ia berjalan dengan wajah tertunduk, padahal sebelumnya adalah pantang
baginya.
“Assalamu ‘alaikum!” tiba-tiba terdengar beberapa siswi dari
dalam kelas tiga sekretaris B mengucapkan salam, tapi dalam nada nyanyian.
“Wa ‘alaikum salam!” sambut siswi-siswi yang lain dengan
bernyanyi pula.
“Hahaha...!”
Lagu sindiran dari dalam kelas itu langsung disusul oleh
tawa satu kelas.
“Nanti siang lu semua harus salat, sebab besok mau kiamat!”
teriak satu suara siswi lagi dari dalam kelas, entah suara siapa.
“Hahaha...!”
Suara tawa kian menjadi mengiringi langkah Rina. Meski pada
hakekatnya itu adalah candaan mereka, tapi bagi Rina itu adalah olok-olok
terhadapnya. Itu sungguh menyakiti hatinya, sangat menyakitkan.
“Elu udah berbuat konyol dengan jilbab elu, Rin!” kata batin
Rina menyalahkan keputusannya.
Godaan tidak berhenti hanya di kelas tiga sekretaris yang
semua muridnya perempuan. Serangan psikis yang terhebat datang dari murid-murid
kelas tiga akuntansi yang masih tanpa guru.
“Subhanallah! Cantiknya!” ucap para kaum lelaki bersamaan
yang berjubel di pintu kelas tiga akuntansi.
Meski itu terdengar pujian, tapi Rina yakin itu adalah
ejekan untuknya.
“Oh Rina, jilbabmu membunuhku!” teriak siswa yang lain di
jendela kelas, jelas disusul dengan tawa menggelegar.
Tiba-tiba satu suara menggelegar laksana pidato Bung Tomo di
Surabaya pada 10 November.
“Ini aroma surga, saudara-saudara! Sudah waktunya kita
memilih masa depan yang cerah, kekasih dunia akhirat! Allahuakbar!”
Tawa pun terdengar memekakkan telinga Rina. Serasa telah
terbakar kedua telinganya yang apinya menjalar melalui seluruh saraf tubuh yang
kemudian ramai-ramai menyerang jantung.
“Ini mah bukan Geng Bintang Tujuh, tapi Muslimah Bintang
Tujuh!” teriak yang lain.
“Gua ikhlas putus sekolah, Rin. Asal pengantinnya elu!”
“Ya Allah! Kumpulkan hamba-Mu bersamanya!”
Tiba-tiba dari dalam kelas dua akuntansi keluar seorang guru
bertampang sangar berperut gendut. Matanya mendelik marah. Guru akuntansi
bernama Haris Nasution itu sejenak berdiri memandang kepada Rina. Setelah itu
ia beralih kepada murid-murid kelas tiga akuntansi yang tidak terkendali
ributnya.
“Hei!” bentak Haris keras, melotot kepada murid-murid kelas
tiga. Pria Batak itu segera menuju ke pintu kelas tiga akuntansi.
Tak ayal lagi, murid-murid di kelas tiga kocar-kacir, buru-buru kembali ke kursinya masing-masing. Pak Haris terkenal sebagai guru
terkemuka yang ditakuti di sekolah itu.
Ketika melalui depan pintu kelas dua akuntansi, Rina sedikit
menengok. Dilihatnya sosok siswi berjilbab lainnya yang tidak lain adalah
Barada. Gadis manis itu melemparkan senyum damai kepada Rina, membuat lesung
pipinya tampil cantik. Kemudian Barada menggerakkan wajahnya dari agak menunduk
lalu naik agak mendongak, sebagai isyarat agar Rina mengangkat wajahnya dan
percaya diri.
Isyarat kecil itu ternyata kena di hati Rina. Ia pun
memberanikan diri mengangkat wajahnya, meski sakit yang begitu memilukan masih
dirasakan oleh perasaannya.
Karena yang sedang mengajar mereka adalah Pak Haris, jadi
anak-anak dua akuntansi tidak ada yang berani berseloroh terhadap penampilan
mengejutkan Rina.
Di depan pintu kelas dua sekretaris A telah berdiri Kepala
Sekolah Didi Sudrajat. Ia memandang kepada kedatangan Rina. Keributan di kelas
tiga yang tidak terkendali mendorong Didi keluar untuk melihat apa yang
terjadi.
“Selamat pagi, Pak!” sapa Rina kepada Didi.
“Pagi,” jawab Didi.
Rina yang ingin masuk ke kelasnya, terhenti di pintu.
Dilihatnya semua mata hanya tertuju kepadanya. Tampak sebagian teman-teman
sekelasnya saling berbisik dan senyum-senyum seraya memandanginya. Suasana yang
tadinya hening berubah bak sarang lebah.
“Anak-anak!” tegur Bu Salihah datar, tapi seketika
melenyapkan suara berisik di dalam kelas itu.
Rina juga sejenak diam memandang sosok siswi baru yang masih
berdiri di muka kelas tapi belum sempat perkenalkan diri, karena kehebohan
parah lebih dulu tercipta di luar sana.
Rina lalu melangkah dan duduk dikursinya. Kursi di
sampingnya masih kosong bersama tujuh kursi lainnya.
Setelah kondisi di setiap kelas terkendali dengan baik,
keenam anggota Geng Bintang Tujuh lainnya, yang tadi sempat menyaksikan Rina
ditertawakan secara massal dari dekat tangga, berjalan menuju kelasnya. Pak
Didi pun menunggu hingga Novi Andria dan lainnya tiba lalu masuk ke kelasnya.
Rina memandangi keenam sahabatnya yang pergi menduduki
kursinya masing-masing. Tatapan Rina begitu dingin. Sorot mata tajam juga
diperlihatkan oleh Ristana kepada Rina ketika berlalu ke kursinya yang ada di
paling belakang. Indah Pertiwi duduk di sebelah Rina.
Indah meletakkan tangannya di atas punggung tangan Rina yang
ada di atas meja, lalu jari-jarinya menepuk-nepuk tangan sahabatnya itu. Rina
membiarkan Indah memberikan sedikit dukungan moril kepadanya.
Kini di kelas itu tinggal ada satu kursi yang kosong, yang
nantinya jelas diperuntukkan siswi baru.
“Silahkan, Nak!” kata Didi kepada siswi baru berambut
kuning.
“Teman-teman baru sekalian!” sapa siswi baru seraya kembali
tersenyum setelah senyum itu sempat menghilang oleh suasana kacau di luar tadi.
“Namaku Silva Monica. Aku lahir dan besar di London. Aku sebelumnya sekolah di
London. Karena orang tuaku ditugaskan di Jakarta, jadi aku dan keluarga ikut ke
sini. Aku harap, teman-teman bersedia membantuku dalam proses belajar dan
beradaptasi. Aku rasa sekian dan thank’s.”
“Wow! UK, boo!” desis seorang siswi berbisik kepada
temannya.
“Pak, tanya!” seru seorang siswi sambil acung pulpen di
jarinya, ia bernama Rahmah Alaina, ketua kelas.
“Silahkan,” kata Didi.
“Memang boleh rambut dicat gitu, Pak? Sebab saya yakin itu
bukan warna rambut asli,” kata Rahmah.
“Tidak boleh, tapi Silva akan merubahnya lagi menjadi
hitam,” jawab Didi. “Baik, anak-anakku tercinta, agar tidak terlalu memakan jam
pelajaran, Bapak rasa cukup!”
“Silva bisa duduk di samping Saskia,” kata Bu Salihah seraya
menunjuk kursi yang kosong yang di sebelahnya duduk wanita gemuk berambut
kepang.
Setelah izin kepada Bu Salihah, Pak Didi pun melangkah
keluar untuk kembali ke kantornya. (RH)
(Bersambung: "Gua Enggak Layak Berjilbab")

0 komentar:
Posting Komentar