![]() |
| Ilustrasi penyesalan seorang Muslimah. (Foto: dok. maisyarahpradhitasari.wordpress.com) |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Rina Terdampar Di Malam Religius
Rina Viona, Ketua Geng Bintang Tujuh, tidak sedikit pun
berniat untuk menangis. Namun, entah kenapa perasaan sensitif kekelaman
hidupnya di dalam kekayaan dan kepopuleran di antara teman-teman sekolahnya,
memaksanya untuk menangis.
Tangisnya memuncak ketika bersujud di rakaat kedua salat
Isya yang diimami oleh Latifa, ibu dari Barada. Belum pernah ia menangis
sedemikian hebatnya. Meskipun ia menangis setelah ditampar oleh Rio di jembatan
tadi sore, tapi tangisannya di kala itu penuh dengan dendam.
Di rakaat ketiga, tangis Rina mereda. Berulang kali ia harus
menyeka air mata dan air liur hidungnya. Namun, di rakaat keempat, tangis Rina
kembali memuncak.
Hingga Latifah selaku imam salat mengucapkan salam kedua,
Rina masih menangis. Latifah langsung bergerak dan memeluk Rina. Tangis yang
sudah panjang selama tiga rakaat salat ia tumpahkan dalam pelukan seorang ibu
yang baru ia kenal kurang dari setengah jam.
Lama sudah Rina tidak mendapat pelukan dari seorang ibu,
mungkin sudah tiga tahun. Ia hanya pernah dipeluk oleh Rio yang kemudian
menghancurkan cinta, hati dan perasaannya.
Barada hanya duduk melihat ibunya berusaha menenangkan Rina.
“Kalau kamu masih ingin menangis, tumpahkan saja, agar
lega,” kata Latifah, meskipun ia tidak tahu apa yang membuat Rina bisa menangis
sedemikian hebatnya. Lalu katanya kepada Barada, “Badar, ambilkan air putih
hangat.”
Barada lalu bangkit dan masuk ke dapur. Fath Gazza yang
berdiri di ambang pintu dapur karena merasa terusik oleh suara tangis Rina,
segera mengikuti adiknya ke dapur untuk mengambilkan air putih hangat.
“Kenapa sampai menangis hebat seperti itu?” tanya Gazza
kepada adiknya, agak berbisik.
“Tidak tahu,” jawab Barada. “Abang kan wartawan, wawancara
aja.”
“Wartawan tidak boleh mewawancarai sumber yang sedang
tertekan batinnya, jawabannya bisa emosional. Karenanya, saya tanya kepada
orang kepercayaannya,” kilah Gazza, tetap berbisik-bisik.
“Saya tidak tahu, itu jawabannya,” kata Barada. Lalu ia
berhenti bergerak dan menatap curiga kepada Gazza, sementara tangannya sudah
memegang gelas besar berisi air putih hangat. “Jangan katakan jika Abang Gazza
naksir teman sekolah saya itu dan menduakan cinta Rika.”
“Jangan keras-keras!” desis Gazza berusaha sepelan mungkin.
“Siapa yang mengatakan Rika cinta saya?”
“Abang kan wartawan, harus cek langsung ke narasumbernya
agar tidak menulis apa kata orang,” kata Barada lalu berlalu ke ruang tengah.
Rina sudah berhenti menangis, meski masih ada sisa-sisa
sesegukannya.
“Yakinilah bahwa segala permasalahan datangnya dari Allah
dan sepatutnyalah kita kembalikan semuanya kepada Allah. Allah tidak pernah
sedikit pun bermaksud mencelakai hamba-Nya, meskipun masalah yang diberikan
terasa sangat berat,” kata Latifah memberi sedikit bekal keimanan.
“Minum dulu, Rin,” kata Barada seraya menyodorkan gelas di
tangannya kepada Rina yang duduk tertunduk.
Sementara Gazza hanya memandang dari pintu dapur. Mau tidak
mau, ada gejolak sesaat di dalam hatinya. Melihat seorang gadis cantik yang
dirundung kesedihan yang berat, menurutnya sangat menyentuh hati.
Gazza akhirnya memilih berlalu ke ruang depan. Ruang depan
rumah itu tidak memiliki kursi, hanya hamparan karpet berbulu. Separuh sisi
dari ruangan itu ditempati oleh lemari besar dan satu lemari sederhana.
Dengan duduk di atas bantal dan bersandar pada dinding
ruangan, seorang lelaki berbaju gamis abu-abu dan berkopiah putih seperti pak haji, sedang menekuni sebuah kitab tebal, tapi bukan Al-Quran. Meski wajahnya
tampak keras dan berkulit hitam, tapi wajah 50 tahun itu tampak memancarkan
cahaya iman. Ada bekas hitam dijidatnya sebagai bekas sujudnya. Jenggotnya cukup
lebat tanpa kumis yang sudah dipangkas bersih. Ia adalah Muttaqin, kepala
keluarga di rumah itu, sekaligus ayah dari Gazza dan Barada. Warga sekitar
menyebutnya “ustad” meskipun ia bukan guru mengaji, tapi ia adalah imam tetap
di Masjid Al-Jihad yang berada tepat di depan rumah.
Muttaqin sebenarnya juga mendengar suara tangisan hebat Rina
dari ruang sebelah, tapi ia tidak begitu mengindahkannya. Ia yakin, isterinya
yang tersayang bisa mengatasinya.
“Dunia ada berita apa, Gazza?” tanya Muttaqin beralih kepada
anak sulungnya itu.
“Di Suriah, kampanye pemilu legislatif sudah dimulai secara
sepihak oleh rezim Bashar Al-Assad, tapi oposisi menentang. Pemungutan suara nantinya
hanya akan dilaksanakan di daerah yang dikuasai oleh pemerintah. Pemilu tidak
akan dilaksanakan di provinsi Raqqa dan Idlib yang dikuasai oleh ISIS dan
Al-Qaeda. Di sisi lain, pasukan pemerintah menemukan kuburan massal di Palmyra,
korbannya tentara hingga warga sipil, diduga kuat korban pembantaian ISIS,”
jawab Gazza sambil duduk di kursi kayu di depan lemari yang memiliki meja
belajar.
Gazza membuka laptop miliknya.
“Bagaimana dengan Palestina?” tanya Muttaqin lagi.
“Belum ada kemajuan signifikan, Puang,” jawab Gazza dengan
menyebut ayahnya “Puang”, sebuah sebutan gelar dalam masyarakat suku Bugis yang
memiliki garis nasab tembus ke keluarga kerajaan atau berdarah bangsawan di
Sulawesi Selatan. “Israel menghentikan pengiriman semen ke Jalur Gaza, kecuali
untuk proyek pembangunan milik PBB. Tentara Yahudi Israel masih sewenang-wenang
merubuhkan rumah warga Palestina. Perundingan rekonsiliasi antara Hamas dan
Fatah masih belum ada hasil.”
“Bagaimana dengan perang di Yaman?” tanya Muttaqin lagi.
“Wakil Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman
mengatakan, ada kemajuan signifikan dalam upaya menuju perundingan damai dengan
kelompok Houthi, setelah delegasi kelompok itu datang ke Riyadh. Gambaran ke
depannya, akan ada gencatan senjata yang kemudian akan dilanjutkan perundingan
damai. Mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang jadi sekutu utama Houthi, merasa
ditinggalkan oleh Houthi, karena Houthi memutuskan ke Riyadh tanpa berunding
dengannya.”
“Bagaimana perkembangan 10 WNI yang disandera oleh Abu Sayyaf?”
tanya Muttaqin merujuk pada kelompok militan di Filipina yang membajak kapal
milik Indonesia dan menangkap 10 anak buah kapalnya.
“Intinya Pemerintah Indonesia bekerja keras dengan
mengutamakan jalur dialog. Adapun pasukan penyelamat TNI tinggal menunggu izin
dari Filipina agar bisa masuk,” jawab Gazza.
“Ada berita panas yang lain?” tanya Muttaqin yang
mendengarkan dengan khidmat segala penjelasan anaknya.
“Perang antara militer Armenia dan Azerbaijan pecah sejak
Sabtu lalu di daerah sengketa Nagorno-Karabakh. Sudah lebih 30 tentara dari
kedua negara yang tewas. Karabakh adalah wilayah Azerbaijah yang dikuasai oleh
milisi pro-Armenia.”
Seperti itulah percakapan rutin antara bapak dan anak bila
bertemu. Sebagai seorang wartawan, Gazza menjadi sumber untuk bertanya Muttaqin
dan Barada untuk mengetahui perkembangan dunia. Karena memang, di rumah itu
tidak ada televisi dan radio. Bukan karena tidak mampu membelinya, tapi karena
kebijakan kepala keluarga.
Sementara itu, Rina sudah berada di kamar Barada. Rina sudah
berhenti menangis, sepasang kelopak matanya menjadi sedikit bengkak. Adapun
Latifah pergi membuat teh hangat untuk suaminya.
“Menginap di sini, ya Rin?” kata Barada yang membutuhkan
jawaban.
Rina tersenyum, lalu jawabnya, “Besok kan harus sekolah.”
“Nginap saja, nanti Subuh saya antar pulang, sekalian
berangkat. Besok di upacara jatah dua akuntansi yang jadi petugas,” ujar Barada.
“Tapi lu bisa antar gua pulang malam ini? Kalau enggak, gua
telepon sopir gua,” kata Rina.
“Sangat bisa!” sahut Barada dengan senyum cerianya.
“Bagaimana ceritanya gua bisa ada di rumah elu, Badar?”
tanya Rina akhirnya.
“Tadi sore, saya dan rombongan pulang dari acara Silaturahmi Pesilat Nusantara di
Jakarta Selatan. Pas lewat di jembatan, saya lihat ada cowok tampar cewek.
Waktu itu saya enggak tahu kalau cewek itu adalah kamu. Lalu, tiba-tiba kita
lihat beberapa lelaki menculik kamu. Kami pun mengejar mobil penculik itu. Dan
berhasil membebaskan kamu. Barulah saya tahu kalau korbannya adalah kamu. Lalu
saya minta supaya kamu dibawa ke rumah saya saja agar nanti bisa saya antar
pulang,” tutur Barada.
Rina terdiam sejenak, ia tidak bisa membayangkan apa yang
terjadi ketika Barada bersama guru dan teman-teman seperguruannya berjuang
menyelamatkannya.
“Gua minta tolong ke elu, jangan cerita kepada siapa-siapa
kejadian itu,” kata Rina.
“Insya Allah. Kalaupun suatu saat
nanti cerita itu bocor, saya pastikan itu bukan dari bibir saya,” kata Barada
optimis.
“Lu bisa antar gua pulang
sekarang?” tanya Rina.
“Bisa,” jawab Barada cepat. “Tapi,
saya ada permintaan ke kamu. Boleh?”
“Apa?”
“Kita kan naik motor ke rumah
kamu, sedangkan kamu pakai rok belahannya panjang, bisakah sementara kamu pakai
celana panjang dan rok saya?”
Rina diam sejenak berpikir.
Memang, jika ia tidak mengganti roknya, paha putihnya akan terpampang ke
mana-mana. Jika Barada dan orang tuanya bukan keluarga yang religius, mungkin
ia akan menolak permintaan itu.
“Gak masalah,” jawab Rina.
Barada lalu bergerak ke lemarinya
lalu mencari rok panjang dan celana panjang untuk dalaman. Rina pun membuka
mukena yang dikenakannya. Maka tampaklah Rina kembali kepada wujud asalnya.
“Saya mau minta kunci dulu ke
Abang,” kata Barada setelah memberikan rok hitam dan celana panjang bermotif
batik bunga.
Barada pergi keluar meninggalkan
Rina untuk bersalin pakaian bawah.
Di ruang depan, Barada meminta kunci motor kepada Gazza.
“Rina tidak menginap, Badar?” tanya Latifah.
“Tidak, Ummi. Sebab besok sekolah,” jawab Barada.
“Kenapa bukan saya aja yang ngantar?” tanya Gazza kepada
Barada dengan nada bercanda.
“Belum halal,” kata Barada sambil tertawa kecil. “Awas,
nanti saya ceritakan ke Rika bahwa Rhoma Iramanya mengidap penyakit cinta
segitiga.”
Muttaqin dan isterinya hanya tertawa mendengar candaan kakak
adik itu.
“Puang, katanya orang tuanya Rika mau datang bicarakan
tanggal ya?” tanya Barada kepada ayahnya, bermaksud menggoda Gazza yang sudah
memberikan kunci motornya.
“Tanggal apaan?” tanya Gazza cepat menunjukkan keterkejutan.
“Hahaha!” tertawa kencanglah Barada dengan keterkejutan
Gazza.
“Badar,” tegur Muttaqin kepada puterinya itu.
Barada pun segera menahan tawa kerasnya, berubah menjadi
cekikikan. Ia lalu membuka mukena yang masih ia kenakan.
Dari dalam muncul Rina tanpa bermukena lagi. Rambut ikalnya
terurai indah dengan baju berwarna kuning dan rok hitam. Ia membawa tas kulit
mungilnya.
Melihat kemunculan Rina, Gazza jadi terdiam bengong.
“Kira saya dia berhijab,” membatin Gazza.
“Kenapa tidak menginap saja, Nak Rina?” tanya Latifah sambil
bangkit berdiri mendatangi Rina yang berdiri diam, kikuk.
“Maaf, Bu, khawatir orang rumah mencari,” kilah Rina seraya
tersenyum.
Latifah lalu menyalami tangan Rina dan cipika-cipiki. Lalu
nasehatnya kepada Rina, “Hati-hati dalam hidup, bersabarlan dan ingat Allah.”
“Iya, Bu,” Rina mengangguk. Nasehat Latifah terasa penuh
kasih sayang, berbeda ketika ia mendengar nasehat sebelum-sebelumnya dari orang
lain atau bahkan dari orang tuanya sendiri.
“Sebelum pulang, Rin, saya kenalkan ini Puang atau ayah
saya. Dan yang itu, Daeng Gazza, abang tua saya,” kata Barada memperkenalkan.
“Rina ucapkan terima kasih banyak atas bantuan Bapak dan
Ibu. Maaf jika saya merepotkan,” kata Rina yang membuat mereka tertawa kecil.
“Badar, pastikan Rina masuk dengan aman ke pintu rumahnya!”
pesan Muttaqin.
“Siap, Puang!” pekik Barada seperti prajurit, membuat
suasana tawa tercipta.
“Rina pamit, Pak, Bu,” ucap Rina lalu bergerak hendak
bersalaman kepada Muttaqin.
Tapi Muttaqin hanya merapatkan kedua tapak tangannya di
depan dada dan menghindari tangan lembut Rina. Sementara wajahnya tetap
tersenyum.
Tindakan kecil itu membuat Rina jadi agak kecewa, karena
ayah Barada tidak mau menyentuh tangannya. Kejadian yang serupa terjadi ketika
Rina mencoba menyalami Gazza. Pemuda itu juga memilih menghindari sentuhan
dengan tangan Rina. Gazza hanya memberi senyum manis.
“Hati-hati,” pesannya kepada Rina.
Meski “kecele”, tapi Rina tetap mengedepankan senyumnya.
“Hati-hati, Badar, apalagi sudah malam,” pesan Latifah.
“Siap, Ummi!” sahut Barada. Ia lalu membungkuk seperti orang
Jepang kepada Latifah dan mengulangnya kepada ayahnya. Lalu ucapnya, “Assalamu ‘alaikum!”
Gadis berjilbab itu lalu beranjak keluar. Di luar terparkir
sebuah motor bebek merah.
“Assalamu ‘alaikum!” Rina juga memberi salam.
“Wa ‘alaikum salam,”
jawab yang lainnya.
Latifah ikut mengantar ke depan rumah. Muttaqim memilih
konsen ke kitab bacaannya sambil meneguk teh hangatnya. Sementara Gazza tetap
di kursinya, tapi pandangannya mengikuti melalui jendela.
“Ehhem!” dehem Muttaqin tiba-tiba sambil tetap fokus ke
kitabnya.
Deheman itu membuat Gazza memandang ayahnya, karena merasa
deheman itu untuknya. Gazza pun melengos berbalik seraya tarik sudut bibirnya,
ia kembali fokus kepada pekerjaan daringnya. (RH)
(Bersambung: Satu Jam Lebih Dekat Bersama Barada)


SARAN!!!
BalasHapusSaya sudah baca sebagian, cuman kalau boleh setiap episiode cerita diberi "Episiode ke BERAPA ... ?, agar diketahui awal ceritanya, sehingga para pemirsanya bisa kembali langsung dari awal cerita.... Syukran, Jazakallahu Khayran
Jazakallahu khairan.
BalasHapus