Jilbab yang Direnggut (Bag.1)

Ilustrasi Muslimah berlesung pipi. 
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"



Jumat pagi ini, cukup berbeda dari pagi-pagi biasanya. Meski jam menunjukkan 20 menit lagi bel masuk akan berbunyi, tapi suasana di pinggir lapangan sudah ramai. Di pinggiran lantai dua dan tiga pun penuh ditempati oleh para siswi dan siswa yang berseragam batik. Seolah mereka sedang menyaksikan sesuatu di tengah lapangan.

Namun, tidak ada pertunjukan apapun di lapangan yang membuat mereka berkumpul. Hanya murid-murid yang baru berdatangan yang mereka saksikan berjalan dari tempat parkir langsung ke gedung atau dari gerbang langsung ke gedung.

Sebagaimana biasanya, Geng Bintang Tujuh sudah berkumpul di tiang besi besar, di bawah keranjang lapangan basket. Di parkiran berkumpul anak-anak SMU dari Geng Amos. Jumlahnya lebih dari sepuluh siswa. Mereka tampak sibuk mengumpulkan uang di tangan Edo Gundala, Ketua Geng Amos.

Di pinggiran lantai tiga, sekelompok siswa SMK kelas tiga akuntansi juga berkumpul. Mereka adalah anggota Geng J-Ray. Di salah satu sudut agak terpisah di pinggiran lantai tiga, tampak siswi baru berambut pirang, Silva Monica, berdiri bersama teman sebangkunya yang gemuk, Saskia.

“Ada apa sih, Sas? Kok ramai betul?” tanya Silva yang aksen bulenya masih tersisa di kalimatnya.

“Kamu tahu Rina yang kemarin ribut dengan Pak Suryo?” Saskia malah bertanya.

“Ya, aku tahu,” jawab Silva.

“Yang di tempat parkiran adalah Geng Amos alias Anak Monster. Mereka ngumpulin uang taruhan. Yang disamping sana,” Saskia menunjuk agak jauh ke samping dengan pandangannya. “Itu Geng J-Ray. Yang di bawa keranjang basket itu, teman-teman sekelas kita juga, adalah anggota Geng Bintang Tujuh, yang ketuanya adalah Rina. Dan yang lainnya. Mereka sedang menunggu dan bertaruh, apakah Rina hari ini masuk pakai jilbab atau tidak, atau tidak masuk sekolah setelah kejadian kemarin."

"Oh,” desah Silva manggut-manggut.

“Woi!” seorang siswa tiba-tiba berteriak di tengah lapangan sambil memandang ke lantai atas. Ia adalah Teguh, siswa yang kemarin mengumumkan dari kelas ke kelas SMK bahwa Rina Ketua Geng Bintang Tujuh telah berjilbab. Setelah mendapat perhatian, Teguh yang masih menyandang tas sekolah, melanjutkan teriakannya, “Rina pakai jilbaaab!”

Semua mata seketika fokus tertuju ke arah gerbang. Mereka menunggu kemunculan Rina dari luar gerbang, sebab Rina setiap pagi selalu diantar oleh mobil dan turun di depan gerbang.

Seorang siswi berjilbab hitam berseragam batik muncul dengan menggoes sepeda, tapi itu bukan Rina yang mereka tunggu, melainkan Barada. Setelah tahu yang datang adalah Barada, bukannya Rina, terdengarlah suara kecewa dari para siswa yang menanti.

“Hahaha!” Teguh yang masih di tengah lapangan tertawa sendiri.

Seorang anggota Geng Amos bahkan membuka sepatunya lalu dilemparkan ke Teguh dan mengenai kepala.

“Aw!” pekik Teguh hingga terbungkuk.

“Hahaha...!” meledaklah tawa para siswa sekalian melihat insiden penimpukan itu.

Teguh segera mencari penimpuknya sambil pegangi kepalanya dan wajah mengerenyit. Setelah tahu bahwa yang melemparnya adalah anggota Geng Amos, Teguh segera berlari pergi meninggalkan lapangan.

Mendengar keributan yang tercipta, Barada yang tidak sadar apa yang terjadi, hanya memandang heran ke seantero lapangan dan gedung. Dalam hati ia hanya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, tapi ia tidak begitu tertarik untuk mencari tahu. Tanpa sepengetahuan Barada, rupanya keenam anggota Geng Bintang Tujuh memperhatikannya.

“Ayo!” kata Novi Andria memberi komando.

Keenam siswi cantik berok pendek itu lalu beranjak dari pangkalannya. Mereka meninggalkan pinggir lapangan dan masuk ke dalam gedung sekolah.

“Itu Rina?” tanya Silva kepada Saskia.

“Bukan, itu Badar, anak dua akuntansi,” jawab Saskia.

Sambil berjalan menuju lorong gedung, Barada sejenak memandangi atas gedung lantai dua dan tiga. Barada langsung menuju ke tangga.

“Hei, Badar!” panggi seorang siswi sebelum Barada tiba di anak tangga.

Barada pun berhenti dan menengok siapa yang memanggilnya. Yang memanggilnya memang satu orang siswi, yaitu Windi Anggita, tapi ada lima siswi lain yang bersamanya.

“Ye?” sahut Barada bertanya dengan mimik wajahnya.

Sambi senyum-senyum, Windi dan Ade Irma menghampiri Barada. Lalu tiba-tiba keduanya mencekal kuat kedua tangan Barada dan menariknya dengan paksa. Barada ditarik hingga ke toilet khusus wanita.

Setibanya di luar toilet, tubuh Barada langsung didorong hingga siswi berjilbab itu tersudut di tembok. Keenam siswi anggota Geng Bintang Tujuh itu langsung mengurung posisi Barada.

“Tenang, teman-teman!” kata Barada seraya tersenyum manis. “Jelaskan dulu dong, apa masalahnya.”

“Elu yang bikin Rina jadi gila sama jilbab, kan?” tanya Novi Andria menuding.

“Lu apain Rina sampai tiba-tiba berubah seperti itu?” tanya Iyut Nirmala.

“Benar. Kalau enggak lu apa-apain, gak mungkin Rina tiba-tiba jadi alim begitu!” kata Ade Irma.

“Lu main dukun, ya?” tuduh Windi pula.

“Waduh, tuduhan kalian berat betul,” kata Barada mendelik, tapi tidak merasa tertekan dengan kondisi itu. Perasaannya masih bisa tenang.

“Heh Badar! Lu lihat kan kemarin, bagaimana Rina dipermalukan? Lu harus buat Rina kembali lagi seperti dulu!” kata Novi bernada lebih tinggi.

“Maaf, teman-teman cantik. Masalahnya, Rina mau memakai jilbab atas kemauan dan keputusannya sendiri,” kata Barada.

“Lu jangan lepas tanggung jawab!” sentak Ristana, lalu tangannya berkelebat mencoba menampar wajah Barada.

Barada segera memasang tangan kirinya di sisi wajah, sehingga tamparan Ristana yang tomboy itu tertahan.

Buk!

Namun, Novi Andria dan Iyut Nirmala secara bersamaan menendang perut Barada. Barada tidak mengelak atau menangkis. Tendangan ganda itu membuat Barada terbungkuk menahan sakit. Ternyata cewek-cewek geng itu tidak berhenti. Mereka mencoba menampar dan menjambak jilbab Barada.

Sementara itu, terjadi keriuhan di lapangan. Ramai tepuk tangan dilakukan oleh sebagian siswa, sebagian lagi merasa kecewa karena kalah bertaruh.

Rina telah datang. Dugaan sebagian besar siswa ternyata meleset. Rina datang dengan tetap memakai jilbab. Sebagian siswa bertepuk tangan memuji keputusan Rina karena memilih tetap bertahan. Di sisi lain, banyak siswa dan bahkan siswi yang kalah bertaruh, karena memang banyak yang memilih bahwa Rina akan masuk hari ini tanpa jilbab.

“Hahaha!” yang menang taruhan pun tertawa terbahak-bahak, menertawakan temannya yang kalah.

Melihat situasi yang tidak disangka olehnya, Rina hanya bisa berdiri diam sejenak, tertegun. Tepuk tangan sebagian siswa untuknya, cukup menghibur perasaannya.

“Ke mana anak-anak?” tanya Rina dalam hati, karena ia tidak mendapati keberadaan keenam sahabat gengnya di tiang keranjang basket.

Tidak mau menjadi pusat perhatian, Rina segera berjalan masuk ke gedung. Rina berbelok menuju toilet wanita, karena memang ia ingin merapikan sedikit jilbabnya yang terasa sedikit tidak pas.

Namun, setibanya di area toilet siswi, Rina dibuat terkejut melihat teman-temannya sedang mengeroyok Barada.

“Berhenti!” teriak Rina menggelegar, seketika kemarahannya tersulut naik.

Teriakan itu spontan menghentikan keroyokan para anggota Geng Bintang Tujuh.

Plak! Plak!

Baru saja Novi dan Iyut menengok ke belakang, sebuah tamparan tiba-tiba sudah mendarat di wajah keduanya.

Tak ayal lagi, semua siswi yang mengeroyok Barada terkejut bukan main dan terdiam. Terlebih bagi Novi dan Iyut yang mendapat tamparan. Sedikit pun mereka tidak menyangka, Rina yang adalah sahabat mereka, tega dan berani menampar.

Sementara Barada yang masih bisa menyelamatkan wajah dan jilbabnya, meski tubuhnya beberapa kali terkena tendangan dan pukulan, segera berdiri dari ketersudutan.

“Lu semua keterlaluan! Badar enggak salah sedikit pun dalam masalah gua!” bentak Rina.

Rina lalu menerobos kepungan terhadap Barada. Ia meraih tangan kanan Barada dan menariknya untuk pergi.

“Rina!” Indah dan Ristana segera menghadang Rina dan Barada.

“Demi dia elu tega nampar sahabat-sahabat elu!” kata Ristana tidak kalah garang.

“Kalian memang sahabat-sahabat gua. Tapi lu semua juga harus tahu, Badar sekarang seperti satu darah sama gua!” kata Rina.

Rina lalu maju dan menerobos hadangan Indah dan Ristana yang semakin terkejut dengan pernyataan Rina.

Akhirnya, keenam anggota Geng Bintang Tujuh itu terdiam dalam kegeraman dan ketidakmengertian. Bagaimana bisa Rina memilih seorang Barada yang baru diakrabinya dibandingkan mereka berenam yang sejak kelas satu  mereka sudah bersahabat dan sama-sama melakukan suka duka?

Untuk pertama kalinya pula, Rina melakukan penamparan terhadap sesama anggota Bintang Tujuh. Itu adalah tindakan yang sangat menyakiti persahabatan mereka, terutama bagi Novi dan Iyut.

Iyut akhirnya menangis. Indah segera memeluk Iyut.

“Elu luka?” tanya Rina kepada Barada sambil menaiki tangga menuju lantai tiga.

Bukannya menjawab, Barada malah tertawa kecil.

“Koq elu malah ketawa, Badar?” tanya Rina kesal.

“Akhirnya saya merasakan keganasan Geng Bintang Tujuh, setelah sekian lama hanya dengar cerita teman-teman yang pernah kalian intimidasi,” kata Barada.

“Gua pikir elu perempuan yang bisa berantem,” kata Rina.

“Tidak mungkin saya harus berantem dengan sesama teman. Tapi, mungkin akan beda jika mereka tadi berhasil lepas jilbab saya, karena harga jilbab bagi seorang Muslimah itu sangat mahal,” kata Barada. “Saya jadi khawatir, Rin, tindakan kamu tadi kepada mereka akan mengancam kelompok kalian.”

“Sepertinya ancaman perpecahan itu enggak bisa gua hindari,” kata Rina.

Teeet! Teeet! Teeet!

Tiga kali jeritan bel listrik terdengar panjang-panjang. Tandanya masuk untuk mulai belajar di hari itu.

“Rina!” panggil seorang perempuan seraya mendatangi Rina yang baru sampai di lantai tiga. Siswi teman sekelas Rina itu mengatakan maksudnya, “Lu dipanggil menghadap ke ruang Kepala Sekolah!”

“Kasus!” desis Rina pelan. Di pikirannya langsung terbayang tentang masalah kemarin.

“Saya yakin kamu bisa, Rin,” kata Barada memberi semangat.

Rina hanya tersenyum kecil. Ia lalu memberikan tasnya kepada siswi yang bernama Alya itu.

“Tolong bawain tas gua ke kursi, Al,” katanya.

“Hati-hati, tadi gua lihat ada Pak Suryo di ruangan Pak Didi!” pesan Alya lalu beranjak pergi menuju kelasnya.

“Jangan pakai emosi, Rin. Dan mengalah kepada orang tua, itu langkah bijak,” pesan Barada.

“Sip!” ucap Rina optimis, meski wajahnya menyiratkan ketegangan.

Karena ruang kepala sekolah ada di lantai bawah, mau tidak mau Rina harus turun lagi. Dan ternyata, ia harus berpapasan dengan keenam sahabatnya yang sedang naik. Mereka pun saling berhenti dan saling memandang. Keheningan dan ketegangan tercipta.

“Gua minta maaf kepada elu semua, terutama kepada Ofi dan Ala!” ucap Rina. “Gua nyesel sudah keras sama kalian. Tapi tolong, jangan ganggu gua hari ini.”

Keenam sahabat Rina itu hanya terdiam.

“Terus elu mau ke mana?” tanya Indah.

“Gua dipanggil Kepala Sekolah,” jawab Rina, lalu ia melanjutkan menuruni tangga melewati teman-temannya. (RH)

(Bersambung: Jilbab yang Direnggut Bag.2)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar