| Ilustrasi Muslimah berlesung pipi. |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab pertama: Kejutan Untuk Geng Bintang Tujuh
Bab sebelumnya: "Gua Enggak Layak Berjilbab"
Jumat pagi ini, cukup berbeda
dari pagi-pagi biasanya. Meski jam menunjukkan 20 menit lagi bel masuk akan
berbunyi, tapi suasana di pinggir lapangan sudah ramai. Di pinggiran lantai dua
dan tiga pun penuh ditempati oleh para siswi dan siswa yang berseragam batik.
Seolah mereka sedang menyaksikan sesuatu di tengah lapangan.
Namun, tidak ada pertunjukan
apapun di lapangan yang membuat mereka berkumpul. Hanya murid-murid yang baru
berdatangan yang mereka saksikan berjalan dari tempat parkir langsung ke gedung
atau dari gerbang langsung ke gedung.
Sebagaimana biasanya, Geng
Bintang Tujuh sudah berkumpul di tiang besi besar, di bawah keranjang lapangan
basket. Di parkiran berkumpul anak-anak SMU dari Geng Amos. Jumlahnya lebih
dari sepuluh siswa. Mereka tampak sibuk mengumpulkan uang di tangan Edo
Gundala, Ketua Geng Amos.
Di pinggiran lantai tiga,
sekelompok siswa SMK kelas tiga akuntansi juga berkumpul. Mereka adalah anggota
Geng J-Ray. Di salah satu sudut agak terpisah di pinggiran lantai tiga, tampak
siswi baru berambut pirang, Silva Monica, berdiri bersama teman sebangkunya
yang gemuk, Saskia.
“Ada apa sih, Sas? Kok ramai
betul?” tanya Silva yang aksen bulenya masih tersisa di kalimatnya.
“Kamu tahu Rina yang kemarin
ribut dengan Pak Suryo?” Saskia malah bertanya.
“Ya, aku tahu,” jawab Silva.
“Yang di tempat parkiran adalah
Geng Amos alias Anak Monster. Mereka ngumpulin uang taruhan. Yang disamping
sana,” Saskia menunjuk agak jauh ke samping dengan pandangannya. “Itu Geng
J-Ray. Yang di bawa keranjang basket itu, teman-teman sekelas kita juga, adalah
anggota Geng Bintang Tujuh, yang ketuanya adalah Rina. Dan yang lainnya. Mereka
sedang menunggu dan bertaruh, apakah Rina hari ini masuk pakai jilbab atau
tidak, atau tidak masuk sekolah setelah kejadian kemarin."
"Oh,” desah Silva
manggut-manggut.
“Woi!” seorang siswa tiba-tiba
berteriak di tengah lapangan sambil memandang ke lantai atas. Ia adalah Teguh,
siswa yang kemarin mengumumkan dari kelas ke kelas SMK bahwa Rina Ketua Geng
Bintang Tujuh telah berjilbab. Setelah mendapat perhatian, Teguh yang masih
menyandang tas sekolah, melanjutkan teriakannya, “Rina pakai jilbaaab!”
Semua mata seketika fokus tertuju
ke arah gerbang. Mereka menunggu kemunculan Rina dari luar gerbang, sebab Rina
setiap pagi selalu diantar oleh mobil dan turun di depan gerbang.
Seorang siswi berjilbab hitam
berseragam batik muncul dengan menggoes sepeda, tapi itu bukan Rina yang mereka
tunggu, melainkan Barada. Setelah tahu yang datang adalah Barada, bukannya
Rina, terdengarlah suara kecewa dari para siswa yang menanti.
“Hahaha!” Teguh yang masih di
tengah lapangan tertawa sendiri.
Seorang anggota Geng Amos bahkan
membuka sepatunya lalu dilemparkan ke Teguh dan mengenai kepala.
“Aw!” pekik Teguh hingga
terbungkuk.
“Hahaha...!” meledaklah tawa para
siswa sekalian melihat insiden penimpukan itu.
Teguh segera mencari penimpuknya
sambil pegangi kepalanya dan wajah mengerenyit. Setelah tahu bahwa yang
melemparnya adalah anggota Geng Amos, Teguh segera berlari pergi meninggalkan
lapangan.
Mendengar keributan yang
tercipta, Barada yang tidak sadar apa yang terjadi, hanya memandang heran ke
seantero lapangan dan gedung. Dalam hati ia hanya bertanya-tanya tentang apa
yang terjadi, tapi ia tidak begitu tertarik untuk mencari tahu. Tanpa
sepengetahuan Barada, rupanya keenam anggota Geng Bintang Tujuh
memperhatikannya.
“Ayo!” kata Novi Andria memberi
komando.
Keenam siswi cantik berok pendek
itu lalu beranjak dari pangkalannya. Mereka meninggalkan pinggir lapangan dan
masuk ke dalam gedung sekolah.
“Itu Rina?” tanya Silva kepada
Saskia.
“Bukan, itu Badar, anak dua
akuntansi,” jawab Saskia.
Sambil berjalan menuju lorong
gedung, Barada sejenak memandangi atas gedung lantai dua dan tiga. Barada
langsung menuju ke tangga.
“Hei, Badar!” panggi seorang
siswi sebelum Barada tiba di anak tangga.
Barada pun berhenti dan menengok
siapa yang memanggilnya. Yang memanggilnya memang satu orang siswi, yaitu Windi
Anggita, tapi ada lima siswi lain yang bersamanya.
“Ye?” sahut Barada bertanya
dengan mimik wajahnya.
Sambi senyum-senyum, Windi dan
Ade Irma menghampiri Barada. Lalu tiba-tiba keduanya mencekal kuat kedua tangan
Barada dan menariknya dengan paksa. Barada ditarik hingga ke toilet khusus
wanita.
Setibanya di luar toilet, tubuh
Barada langsung didorong hingga siswi berjilbab itu tersudut di tembok. Keenam
siswi anggota Geng Bintang Tujuh itu langsung mengurung posisi Barada.
“Tenang, teman-teman!” kata
Barada seraya tersenyum manis. “Jelaskan dulu dong, apa masalahnya.”
“Elu yang bikin Rina jadi gila
sama jilbab, kan?” tanya Novi Andria menuding.
“Lu apain Rina sampai tiba-tiba
berubah seperti itu?” tanya Iyut Nirmala.
“Benar. Kalau enggak lu
apa-apain, gak mungkin Rina tiba-tiba jadi alim begitu!” kata Ade Irma.
“Lu main dukun, ya?” tuduh Windi
pula.
“Waduh, tuduhan kalian berat
betul,” kata Barada mendelik, tapi tidak merasa tertekan dengan kondisi itu.
Perasaannya masih bisa tenang.
“Heh Badar! Lu lihat kan kemarin,
bagaimana Rina dipermalukan? Lu harus buat Rina kembali lagi seperti dulu!”
kata Novi bernada lebih tinggi.
“Maaf, teman-teman cantik.
Masalahnya, Rina mau memakai jilbab atas kemauan dan keputusannya sendiri,”
kata Barada.
“Lu jangan lepas tanggung jawab!”
sentak Ristana, lalu tangannya berkelebat mencoba menampar wajah Barada.
Barada segera memasang tangan
kirinya di sisi wajah, sehingga tamparan Ristana yang tomboy itu tertahan.
Buk!
Namun, Novi Andria dan Iyut
Nirmala secara bersamaan menendang perut Barada. Barada tidak mengelak atau
menangkis. Tendangan ganda itu membuat Barada terbungkuk menahan sakit.
Ternyata cewek-cewek geng itu tidak berhenti. Mereka mencoba menampar dan menjambak
jilbab Barada.
Sementara itu, terjadi keriuhan
di lapangan. Ramai tepuk tangan dilakukan oleh sebagian siswa, sebagian lagi
merasa kecewa karena kalah bertaruh.
Rina telah datang. Dugaan
sebagian besar siswa ternyata meleset. Rina datang dengan tetap memakai jilbab.
Sebagian siswa bertepuk tangan memuji keputusan Rina karena memilih tetap
bertahan. Di sisi lain, banyak siswa dan bahkan siswi yang kalah bertaruh,
karena memang banyak yang memilih bahwa Rina akan masuk hari ini tanpa jilbab.
“Hahaha!” yang menang taruhan pun
tertawa terbahak-bahak, menertawakan temannya yang kalah.
Melihat situasi yang tidak
disangka olehnya, Rina hanya bisa berdiri diam sejenak, tertegun. Tepuk tangan
sebagian siswa untuknya, cukup menghibur perasaannya.
“Ke mana anak-anak?” tanya Rina
dalam hati, karena ia tidak mendapati keberadaan keenam sahabat gengnya di
tiang keranjang basket.
Tidak mau menjadi pusat
perhatian, Rina segera berjalan masuk ke gedung. Rina berbelok menuju toilet
wanita, karena memang ia ingin merapikan sedikit jilbabnya yang terasa sedikit
tidak pas.
Namun, setibanya di area toilet
siswi, Rina dibuat terkejut melihat teman-temannya sedang mengeroyok Barada.
“Berhenti!” teriak Rina
menggelegar, seketika kemarahannya tersulut naik.
Teriakan itu spontan menghentikan
keroyokan para anggota Geng Bintang Tujuh.
Plak! Plak!
Baru saja Novi dan Iyut menengok
ke belakang, sebuah tamparan tiba-tiba sudah mendarat di wajah keduanya.
Tak ayal lagi, semua siswi yang
mengeroyok Barada terkejut bukan main dan terdiam. Terlebih bagi Novi dan Iyut
yang mendapat tamparan. Sedikit pun mereka tidak menyangka, Rina yang adalah
sahabat mereka, tega dan berani menampar.
Sementara Barada yang masih bisa
menyelamatkan wajah dan jilbabnya, meski tubuhnya beberapa kali terkena tendangan
dan pukulan, segera berdiri dari ketersudutan.
“Lu semua keterlaluan! Badar
enggak salah sedikit pun dalam masalah gua!” bentak Rina.
Rina lalu menerobos kepungan
terhadap Barada. Ia meraih tangan kanan Barada dan menariknya untuk pergi.
“Rina!” Indah dan Ristana segera
menghadang Rina dan Barada.
“Demi dia elu tega nampar
sahabat-sahabat elu!” kata Ristana tidak kalah garang.
“Kalian memang sahabat-sahabat
gua. Tapi lu semua juga harus tahu, Badar sekarang seperti satu darah sama
gua!” kata Rina.
Rina lalu maju dan menerobos
hadangan Indah dan Ristana yang semakin terkejut dengan pernyataan Rina.
Akhirnya, keenam anggota Geng
Bintang Tujuh itu terdiam dalam kegeraman dan ketidakmengertian. Bagaimana bisa
Rina memilih seorang Barada yang baru diakrabinya dibandingkan mereka berenam
yang sejak kelas satu mereka sudah
bersahabat dan sama-sama melakukan suka duka?
Untuk pertama kalinya pula, Rina
melakukan penamparan terhadap sesama anggota Bintang Tujuh. Itu adalah tindakan
yang sangat menyakiti persahabatan mereka, terutama bagi Novi dan Iyut.
Iyut akhirnya menangis. Indah
segera memeluk Iyut.
“Elu luka?” tanya Rina kepada
Barada sambil menaiki tangga menuju lantai tiga.
Bukannya menjawab, Barada malah
tertawa kecil.
“Koq elu malah ketawa, Badar?”
tanya Rina kesal.
“Akhirnya saya merasakan
keganasan Geng Bintang Tujuh, setelah sekian lama hanya dengar cerita
teman-teman yang pernah kalian intimidasi,” kata Barada.
“Gua pikir elu perempuan yang
bisa berantem,” kata Rina.
“Tidak mungkin saya harus
berantem dengan sesama teman. Tapi, mungkin akan beda jika mereka tadi berhasil
lepas jilbab saya, karena harga jilbab bagi seorang Muslimah itu sangat mahal,”
kata Barada. “Saya jadi khawatir, Rin, tindakan kamu tadi kepada mereka akan
mengancam kelompok kalian.”
“Sepertinya ancaman perpecahan
itu enggak bisa gua hindari,” kata Rina.
Teeet! Teeet! Teeet!
Tiga kali jeritan bel listrik
terdengar panjang-panjang. Tandanya masuk untuk mulai belajar di hari itu.
“Rina!” panggil seorang perempuan
seraya mendatangi Rina yang baru sampai di lantai tiga. Siswi teman sekelas
Rina itu mengatakan maksudnya, “Lu dipanggil menghadap ke ruang Kepala
Sekolah!”
“Kasus!” desis Rina pelan. Di
pikirannya langsung terbayang tentang masalah kemarin.
“Saya yakin kamu bisa, Rin,” kata
Barada memberi semangat.
Rina hanya tersenyum kecil. Ia
lalu memberikan tasnya kepada siswi yang bernama Alya itu.
“Tolong bawain tas gua ke kursi,
Al,” katanya.
“Hati-hati, tadi gua lihat ada
Pak Suryo di ruangan Pak Didi!” pesan Alya lalu beranjak pergi menuju kelasnya.
“Jangan pakai emosi, Rin. Dan
mengalah kepada orang tua, itu langkah bijak,” pesan Barada.
“Sip!” ucap Rina optimis, meski
wajahnya menyiratkan ketegangan.
Karena ruang kepala sekolah ada
di lantai bawah, mau tidak mau Rina harus turun lagi. Dan ternyata, ia harus
berpapasan dengan keenam sahabatnya yang sedang naik. Mereka pun saling
berhenti dan saling memandang. Keheningan dan ketegangan tercipta.
“Gua minta maaf kepada elu semua,
terutama kepada Ofi dan Ala!” ucap Rina. “Gua nyesel sudah keras sama kalian.
Tapi tolong, jangan ganggu gua hari ini.”
Keenam sahabat Rina itu hanya
terdiam.
“Terus elu mau ke mana?” tanya
Indah.
“Gua dipanggil Kepala Sekolah,”
jawab Rina, lalu ia melanjutkan menuruni tangga melewati teman-temannya. (RH)
(Bersambung: Jilbab yang Direnggut Bag.2)

0 komentar:
Posting Komentar