Kuliah Hijab Satu Malam (Bag.1)

Ilustrasi. Foto Anna Gilbert. (Foto: Egambar.net)
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"


Untuk kedua kalinya, Barada berada di depan rumah besar dan mewah itu. Cahaya lampu-lampu yang memukai masih menjadi modal dasar dalam memberikan unsur utama dalam keindahan malam di rumah tersebut.

Untuk kali ini, gadis cantik berjilbab kuning besar itu ada bersama Muttaqin, ayahnya yang mengantarkan sampai depan pagar saja. Dalam hati pria berusia 50 tahun itu diterpa rasa kagum melihat kemewahan rumah tersebut, tapi tidak ditampakkannya dalam ekspresi atau ucapan.

Tiit tiiit!

Muttaqin menekan klakson dua kali setelah diminta oleh puterinya.

Barada yang mengenakan rok panjang merah berkaos kaki hitam belang-belang putih, turun dari belakang ayahnya.

“Puang bisa pulang,” kata Barada sambil menyalim tangan Muttaqin.

“Hati-hati,” pesan Muttaqin sambil melihat sekali lagi kemewahan rumah orang kaya itu. “Assalamu ‘alaikum!”

Wa ‘alaikum salam,” jawab Barada lalu membungkuk seperti orang Jepang kepada kepergian ayahnya yang mengendarai motor bebek biru yang sudah mulai usang.

Dari dalam rumah muncul seorang wanita berusia 30-an. Wanita yang beberapa malam lalu juga membukakan pintu pagar, ketika Barada mengantar pulang Rina Viona. Dengan setengah berlari, wanita yang rambutnya agak tidak rapih itu datang ke pintu gerbang dan membuka kunci.

Assalamu ‘alaikum, Bu!” ucap Barada seraya tersenyum ramah kepada wanita yang adalah salah satu pembantu di rumah itu.

Wa ‘alaikum salam, Neng. Neng Rina sudah dari tadi nunggu,” kata wanita itu dengan senang, karena sapaan ramah Barada.

“Panggil saya Badar saja, Bu,” pesan Barada sambil bergerak masuk.

“Saya Lina,” kata wanita itu senang memperkenalkan diri juga. Sebab, jarang-jarang ada teman Rina yang semodel malam ini.

Dari dalam rumah muncul Rina yang dengan gembira melambai memanggil Barada, “Sini masuk, Badar!”

Rina muncul dengan hanya mengenakan t-shirt putih dan bercelana pendek seatas lutut, membuat Barada dalam hati berucap “wow”.

Barada segera mendatangi Rina di teras utama rumah. Ekspresi Rina terlihat begitu gembira dengan kedatangan Barada. Sementara Barada hanya tersenyum dan menyambut kegembiraan teman yang sebenarnya tidak akrab dengannya. Pandangannya sesekali menjelajah melihat kemewahan yang ada di rumah itu.

Rina meraih tangan Barada dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Nyes! Hawa dingin ruangan ber-AC seketika dirasakan oleh Barada. Dan ia kini berada di ruang tamu yang cukup luas. Ada dua set kursi sofa mahal untuk tamu dengan jenis yang berbeda. Lain lagi dengan setingan kursi yang menghadap ke lemari kayu besar dan bagus. Di tengah-tengah lemari ada televisi besar seperti bioskop mini. Lemari itu tidak satu pun menampung adanya buku, melainkan berbagai keramik dan pajangan dari bahan kristal.

Beberapa ukuran lukisan terpajang di dinding ruangan. Termasuk foto besar keluarga dipajang di dinding dekat tangga yang menuju ke lantai dua. Lampu kristal mewah dan besar menggantung di langit-langit pusat ruang tamu.

“Siapa, Rin?” tanya seorang lelaki yang muncul dari ruang dalam.

Lelaki berusia 50-an itu berkepala agak botak bagian depannya, seiring rambutnya yang memang menipis kelebatannya. Ia mengenakan kaos oblong kuning, membuat perut gendutnya jelas menonjol. Memakai celana pendek gombrong hitam yang punya dua kantong belakang dan dua kantong kanan-kiri. Kulitnya putih bersih. Sebuah jam tangan emas melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dua buah hp tergenggam di tangan kanannya. Ia adalah Dedy Sirana, ayah Rina. Tak ada senyum di wajahnya.

“Teman gua, Pa,” jawab Rina yang terhenti di tangga bersama Barada karena pertanyaan Dedy itu.

Assalamu ‘alaikum, Pak!” salam Barada lalu membungkuk seperti orang Jepang kepada Dedy.

Lelaki kaya itu hanya mendelikkan mata menarik alis melihat gaya yang dilakukan oleh Barada.

Wa ‘alaikum salam,” jawab Dedy akhirnya, meski agak terlambat menjawabnya.

“Ayo!” ajak Rina lalu kembali menaiki tangga ke lantai dua.

“Mari, Pak!” pamit Barada seraya berikan senyum ramah kepada orang tua yang sedikit pun tidak senyum kepadanya.

Dedy terdiam sejenak, seolah menunjukkan bahwa ia berpikir.

“Aneh,” pikir Dedy. Sebab, baru kali ini Rina bawa teman yang aneh, karena berhijab. Terlebih malam hari.

Sementara itu, Rina dan Barada sudah ada di dalam kamar.

“Nih kamar gua, Badar!” kata Rina kepada Barada yang tak henti-hentinya melihat ke sana, melihat ke sini.

Sementara di kasur, sudah berserak beberapa setel pakaian Muslimah, termasuk pakaian Muslimah untuk seragam sekolah.

“Oke, saya sudah terkagum-kagum melihat rumah kamu, Rin. Jadi, sekarang apa? Kenapa kamu sampai memaksa saya datang malam ini juga?” ujar Barada.

“Lu tahu gua kan, Badar?” tanya Rina, menatap serius dekat ke wajah Barada.

“Hahaha!”

Tiba-tiba Barada tertawa melihat sikap Rina. Baginya Rina bertingkah lucu, meski Rina sendiri tidak bermaksud “mendadak lawak”.

“Lihatnya jangan begitu, ah!” kata Barada lalu memilih duduk di kursi belajar Rina yang bisa berputar-putar seperti kursi direktur.

Sementara Rina memilih duduk di pinggir kasur.

“Badar, lu lihat gua sekarang. Inilah gua sehari-hari. Lu lihat gua di sekolah, itulah gua. Dan gua rasa lu tahu, kalau gua Ketua Geng Bintang Tujuh,” ujar Rina.

“Lalu?” tanya Barada.

“Sebenarnya gua enggak yakin, tapi gua mau pakai jilbab,” kata Rina.

Barada terkejut. Punggungnya yang bersandar segera ia tegakkan. Wajahnya berubah serius memandang Rina.

“Hahaha! Cup cup!”

Barada tertawa keras lalu tiba-tiba menyergap Rina dan mencium pipi kanan dan kiri gadis berambut ikal itu.

“Ih, apaan sih!” pekik Rina yang kelabakan, seolah sedang diperkosa.

Barada terus tertawa, malah tambah tertawa melihat Rina kelabakan dengan sikapnya.

Alhamdulillaaah!” ucap tahmid Barada bernada panjang sambil angkat tangannya ke depan wajah dan pandangan menerawang langit-langit kamar seperti orang berdoa mohon hujan turun sekarang juga.

Hingga akhirnya tawa Barada berhenti. Lalu dengan wajah serius ia bertanya lebih serius kepada Rina, “Kamu serius?”

“Iya, gua serius. Gua mau jadi gila kayak elu!” kata Rina agak sewot karena disangka bercanda.

“Hahaha!” Barada lagi-lagi tertawa, membuat Rina hanya merengut masam.

Di sini Barada bebas tertawa lepas, karena memang tidak akan ada yang menegurnya jika tertawa kencang.

“Tadi sore saya benar-benar kaget, ditelepon dokter Rumah Sakit Sumber Waras dan menyebut saya gila beberapa kali,” kata Barada menyindir Rina.

“Bagaimana lu enggak gila, di jaman serba mobile begini, serba digital begini, serba aplikasi begini, serba teknologi begini, elu enggak megang hp?!” debat Rina sewot.

Sambil tertawa datar Barada berkata, “Itu besok aja dibahasnya. Sekarang, bagaimana dengan niatan kamu itu?”

“Gua serius, tapi gak yakin. Masalahnya, kalau orang tanya ke gua, kenapa gua tiba-tiba pakai jilbab, terus gua kagak bisa jawab, bunuh diri gua jadinya!”

“Baik. Saya tanya ke kamu, kenapa kamu mau pakai jilbab?” kata Barada yang kembali duduk ke kursi yang bisa berputar.

“Pengen aja. Gara-gara kenal elu, ketemu nyokap elu, dan lihat para hijabers. Ah, gua enggak bisa jawab!” kata Rina yang justeru bingung sendiri. “Tapi gua merasa, kalau pakai jilbab itu repotnya ampun, menentang perkembangan zaman, mengekang kebebasan, dijauhin cowok, panas, boros dan bla bla bla. Atau begini, kenapa elu mau repot-repot pakai jilbab? Atau, apa keuntungan buat gua kalau berhijab?”

“Baik, kamu dengarkan baik-baik omongan saya. Pertama, kamu adalah manusia. Pencipta manusia adalah Allah. Allah buat aturan agar manusia yang diciptakan-Nya memenuhi fungsinya yang sebenarnya. Salah satu aturan yang Allah khususkan untuk perempuan, kamu, saya, dan perempuan seluruhnya, adalah menutup aurat. Yang artinya, jika tidak menutup aurat, maka perempuan itu tidak berfungsi dengan benar, maka akan rusak. Jadi, selama kamu tidak menutup aurat di waktu yang telah ditetapkan, yaitu baligh, maka pada hakekatnya kamu dalam kondisi rusak,” jelas Barada. “Baik, sampai di sini apakah kamu bisa terima?”

“Penjelasan elu pedas, Badar. Jadi menurut elu, selama ini gua cewek yang rusak?” kata Rina dengan wajah mengerenyit.

“Menurut kamu?” Barada balik bertanya.

Rina terdiam menatap Barada. Penjelasan Barada memang menusuk perasaannya. Ketegangan tercipta di antara kedua gadis itu. Penjelasan Barada seketika menyiram padam semangat positif Rina.

Rina benar-benar terdiam. Pikiran dan perasaannya berkecamuk. Apakah ia salah berkonsultasi kepada Barada?

“Kalau kamu enggak mau tersinggung, kemungkinan kamu tidak bisa berjilbab, karena perasaanmu akan banyak diuji ketika kamu memakai pakaian kemuliaan itu,” kata Barada.

Rina masih terdiam. Barada menunggu.

Hingga akhirnya, Rina menarik napas dalam-dalam, lalu katanya kepada Barada, “Lanjutkan!”

“Yang ketiga....”

“Kedua!” sela Rina meralat hitungan Barada.

“Ya, kedua,” kata Barada sambil menahan tawa.

Melihat Barada menahan tawa, akhirnya Rina tertawa geli sendiri. Akhirnya Barada pun tidak bisa menahan tawanya.

“Yang kedua, karena berhijab adalah aturan, maka jika kamu melaksanakannya, berarti kamu menjadi hamba yang taat kepada Tuhan. Jika sebaliknya, kamu adalah hamba yang tidak taat. Pilih mana, hamba yang taat atau yang tidak taat?”

“Gak perlu gua jawab,” jawab Rina.

“Yang ketiga,” kata Barada sambil senyum. “Berhijab adalah kewajiban wanita. Jika perempuan Muslim tidak berhijab, berarti dia tidak melaksanakan kewajibannya. Yang namanya wajib, dilaksanakan dapat penghargaan dari Allah berupa kupon pahala, dan jika tidak dilaksanakan akan mendapat stempel dosa. Kupon pahala akan ditukar dengan nikmat kubur ketika mati dan surga ketika di akhirat. Stempel dosa otomatis siksa kubur dan neraka. Kamu pilih kupon atau stempel?”

“Elu udah tahu jawabannya,” tandas Rina.

“Keempat. Sebagai KTP rohani. Waktu pertama lihat kamu, lihat Ala, lihat Bu Cindy, saya tidak akan tahu apa agama kamu dan mereka. Sebab, penampilan kamu sama dengan wanita agama lain. Dengan berhijab, orang yang pertama melihat kamu akan langsung tahu bahwa kamu orang Islam. Kelima, menjadi mulia. Apa perlu dijelaskan juga yang kelima ini?”

“Iya, dong. Itu kan poin bagus!” seru Rina.

“Pilih mana, kue yang dijual pakai baki keliling kampung, atau kue yang dijual di toko kue?”

“Elu udah tahu jawabannya,” tandas Rina.

“Enggak, kamu harus jawab!” tegas Barada.

“Kue di toko, lebih bersih,” jawab Rina.

“Pilih ngemut permen yang sudah bertahun-tahun terbuka atau yang baru dibuka dari bungkusnya?” tanya Barada lagi.

“Yang baru dibuka.”

“Pilih pakai gelas yang dipakai minum banyak orang atau gelas baru?”

“Gelas baru,” jawab Rina.

“Jadi, dengan berhijab, kamu menjadi wanita bersih, wanita terjaga, wanita suci. Dan itulah kemuliaan. Kira-kira, laki-laki memilih wanita yang sudah banyak dipegang berbagai tangan lelaki lain atau wanita yang belum pernah dipegang lelaki lain selain dirinya?”

“Yang belum pernah,” jawab Rina cepat.

“Yang kedelapan,” hitung Barada.

“Ngawur!” rutuk Rina sembari tertawa kecil.

“Yaa, pokoknya yang selanjutnya. Dengan berhijab kita terlindungi. Banyak kekerasan terhadap wanita, pelecehan dan pemerkosaan, disebabkan karena si korban sebelumnya memancing lelaki yang mudah terpancing dengan memperlihatkan kulit mulusnya dan tonjolan tubuhnya. Pilih mana, diperkosa atau dihormati?”

“Pertanyaan enggak bermamfaat!” rutuk Rina lagi yang justeru membuat Barada tertawa. Namun, dari serangkaian penjelasan Barada, hati Rina merasa bahagia, karena ada pembenaran dan dukungan positif terhadap niatnya untuk berjilbab.

“Selanjutnya, menjadi cantik,” kata Barada.

“Lu kira gua sekarang enggak cantik?” tanya Rina memotong.

“Bagi saya tidak,” jawab Barada mantap.

“Buktikan kalau gua enggak cantik. Sebab, seluruh anak YAKIN mengakui kecantikan gua!” tantang Rina.

“Anggaplah saya punya dua pisang kuning emas dengan kualitas yang sama. Baru lihat saja langsung tergiur untuk memakannya. Kedua pisang ini kita anggap cantik dan sangat legit. Tapi ketika disajikan, pisang yang satu sudah tanpa kulit dan yang satu masih terbungkus kulit. Dua-duanya cantik. Saya lalu ambil yang sudah tanpa kulit dan saya melihat kecantikan pisang itu hanya sekali. Kemudian saya ambil pisang yang masih berkulit. Ketika saya ambil, dia cantik. Setelah saya buka kulitnya, kecantikannya kian menggugah selera saya untuk menikmatinya. Kesimpulannya, pisang pertama cantiknya hanya sekali, pisang kedua cantiknya dua kali. Paham?”

“Maksud lu, kalau gua enggak pakai hijab, cantik gua cuma sekali? Kalau pakai hijab, cantik gua dua kali lipat?” tanya Rina memperjelas.

“Dan kalau pisang pertama dipegang oleh tangan berkuman, langsung tercemar. Tapi kalau pisang kedua, ketika dipegang oleh tangan berkuman, isinya masih terlindungi. Artinya kesucian terjaga. Yah, yang selanjutnya, kesucian terjaga.”

Rina manggut-manggut sambil tersenyum. Dalam hati muncul rasa kagum terhadap Barada.

“Selanjutnya, ehm ehm!” kata Barada lalu berdehem-dehem.

Sambil tetap tersenyum memandang Barada, Rina raih hp-nya lalu menelepon.

“Mbak Lina, semuanya sudah pada makan?” tanya Rina kepada pembantunya melalui telepon.

“Sudah, Neng,” jawab pembantu di ruang makan di lantai bawah.

“Hidangan baru sudah disiapkan?” tanya Rina lagi.

“Sudah, Neng.”

Rina lalu menutup teleponnya dan bangkit berdiri.

“Yuk, ke bawah!” ajak Rina.

Barada menurut. Mereka keluar kamar dan kembali menuruni tangga menuju ke bawah.

“Lu masih ngakui kalau gua masih cantik. Lu belum ngebuktiin kalau gua enggak cantik, Badar,” kata Rina sambil turun.

“Wah, berat nih,” kata Barada.

Untuk masuk ke ruang makan, mereka harus melewati ruang tamu dan ruang santai. Di sofa depan televisi besar di lemari besar, duduk santai ayah Rina, Dedy Sirana. Tampaknya ia sudah kenyang setelah usai makan malam. Di sisi kirinya duduk wanita bertubuh langsing berambut pendek. Riasannya membuat wajah usia 40-annya tampak lebih mudah. Wanita berkulit putih bersih itu mengenakan pakaian tidur longdress lengan pendek warna merah muda. Ia adalah Irma Lulubana, ibu dari Rina. Ia sibuk dengan iPad besarnya.

Kemunculan Rina dan Barada membuat Irma beralih memandang keduanya. Mimik wajah Irma agak berubah heran ketika melihat penampilan Barada.

“Ini nyokap gua, Badar,” kata Rina memperkenalkan ibunya.

“Bu,” sapa Barada lalu membungkuk seperti orang Jepang. Selanjutnya ia menghampiri Irma dan mengulurkan tangannya untuk salaman. “Badar, Bu.”

Barada memperkenalkan namanya setelah menempelkan tangan Irma ke dahinya.

“Oh ya. Badar baru kali ini main ke sini, ya?” tanya Irma berubah ramah.

“Iya, Bu. Kalau sampai depan gerbang dua kali, Bu,” kata Barada lalu tertawa ringan.

“Kok Rina enggak pernah cerita kalau punya guru spiritual?” kata Irma.

“Itu teman sekolah gua, Ma,” sahut Rina.

“Oh!” desah Irma dengan wajah ditarik sedikit mundur. “Ya udah, sana makan dulu!”

“Iya, Bu. Mari, Pak!” jawab Barada lalu menyapa Dedy juga.

“Hm,” Dedy hanya bergumam seraya mengangguk kecil. Dingin sikapnya.

Rina dan Barada berlalu ke ruang makan. Seperginya keduanya, Irma segera berbisik kepada suaminya.

“Pa, kenapa temannya yang ini lain sendiri?”


“Semoga bagus buat Rina,” kata Dedy singkat lalu diam dan kembali fokus ke TV besar di depannya. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar