| Ilustrasi pesilat wanita. |
Novel Muslimah Bintang Tujuh
Episode "Bintang Turun ke Langit"
Oleh Rudi Hendrik
Bab sebelumnya: Kesumat Cinta di Atas Jembatan
Dengan sigap Pak Yudi
memutar stir mobil Kijang biru miliknya, berbalik arah di atas jembatan.
Sementara ketujuh orang yang diangkutnya tidak berhenti teriak-teriak
kepadanya.
“Cepat, Pak! Jangan sampai kehilangan!” teriak Firman, pemuda 18 tahun yang masih
berpakaian serba hitam. Ada logo di dada kanan yang berupa bordiran kuning
bergambar dua batang tangan yang saling menyilang di atas tulisan putih
berbunyi “Tapak Emas”. Firman adalah
lelaki paling tegang di dalam mobil itu, menyikapi peristiwa penculikan
terhadap seorang gadis di jembatan tadi.
“Kehilangan. Mirip Bang Haji Rhoma aja, kehilangan,” kata
Tio, lelaki tertua di antara kedelapan orang itu. Dia lebih tenang. Dia dan Pak
Yudi adalah guru silat Tapak Emas.
“Hahaha!”
Yang tertawa oleh kata-kata Guru Tio hanya Barada,
gadis cantik berjilbab hitam yang duduk di pojok belakang. Usianya 17 tahun,
kelas dua SMK. Ia orang pertama di antara mereka yang menyaksikan insiden
penamparan seorang lelaki terhadap pacarnya yang kemudian berlanjut dengan
penculikan di atas jembatan. Barada memang seorang gadis yang sangat gampang
tertawa. Bahkan ketika yang lain tidak ingin tertawa sedikit pun, ia tidak
segan untuk tertawa sendiri.
“Kalau lolos, bisa habis tuh cewek!” kata Firman, tetap bernada
tinggi serius.
“Iya, Pak!” timpal Irwan
pula, remaja lelaki yang berusia 14 tahun berkulit sawo matang. Orang termuda
di antara mereka.
“Sebagai orang yang dibekali ilmu silat, kita harus menjadi
yang terdepan dalam membela kebenaran dan menumpas kejahatan. Terlebih-lebih
korbannya adalah seorang wanita,” ujar Sugiono, pemuda 21 tahun berbadan kekar
dan lebar. Kulitnya putih. Bekas luka sobek di keningnya tidak mengurangi
ketampanannya.
“Hahaha!”
Gadis berjilbab bernama Barada kembali tertawa, tapi lebih
kencang. Hanya dirinya yang tertawa, sebab selainnya, tidak ada yang tahu apa
yang lucu.
“Kenapa sih?” hardik Ria
yang duduk di sisi Barada. Gadis berambut lurus sebahu itu kerutkan kening
kepada Barada yang setahun lebih muda darinya. “Sedikit-sedikit tertawa,
sedikit-sedikit tertawa, tertawa kok pas gak ada yang lucu?”
“Firman, Sugiono dan Irwan cenelnya sama, seleranya pun
sama. Coba kalau yang diculik nenek-nenek, saya rasa tidak sesemangat ini. Apa
lagi Mas Sugiono, atas nama pembela kebenaran dan keadilan, ayo selamatkan
gadis-gadis. Hahaha!” ujar Barada.
“Wah, Badar sembarangan. Kita semua niat ikhlas mau
menolong, kebetulan saja ya, kebetulan saja lho, korbannya perempuan!” kilah
Firman menegaskan, meskipun ia tahu Barada yang biasa dipanggil Badar itu hanya
bercanda.
“Hahaha!” kali ini yang tertawa adalah Pak Yudi, Guru Tio
dan Ria.
“Mas Sugiono membidik gadis lain atas nama membela kebenaran
dan keadilan,” ucap Ria kepada gadis cantik putih berjilbab yang sejak tadi
hanya diam. Ria menggoda gadis itu.
“Ih, apaan, ah!” ucap gadis berjilbab pink merengut, tapi
menunduk malu. Ia adalah Nursyamsiah,
tunangannya Sugiono.
“Kalau gua, mana mungkin punya niat demikian, gua kan lelaki
kecil dan imut,” kilah Irwan yang memang masih remaja.
“Tapi saya yakin, Irwan berharap gadis itu punya adik
perempuan,” kata Guru Tio.
“Hahaha!” meledaklah tawa semuanya, termasuk Irwan.
“Pak Yudi, salip, Pak!” seru Firman, karena pengejaran
mereka terhadap sebuah mobil Avanza hitam terhalang oleh tiga mobil lainnya di
depan.
“Salip gigimu!” rutuk Pak Yudi, karena dari arah yang
berlawanan ada truk. “Mau penyok dicium truk?”
“Tenang, Man, tenang. Percayakan semua kepada yang di atas,”
kata Guru Tio. “Jangan kamu percayakan kepada Pak Yudi.”
Tiiit! Tit tit tit!
Suara klakson sebuah mobil di depan sana terdengar bising.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Sementara klakson itu terus berbunyi
berulang-ulang.
Ternyata, mobil nomor tiga ke depan, terus membunyikan
klakson terhadap mobil di depannya, sebuah mobil Avanza hitam yang juga sedang
dikejar oleh Pak Yudi. Mobil Carry silver yang dikendarai oleh seorang lelaki
itu bergerak maju dan memepet samping kanan mobil Avanza.
“Woi! Berhenti!” teriak pengendara Carry kepada pengendara
mobil Avanza yang adalah seorang pemuda botak.
Yang terjadi adalah, pengemudi Carry ternyata melihat juga
aksi penculikan yang dilakukan oleh keempat lelaki di dalam mobil Avanza hitam.
Pengemudi botak tidak tinggal diam. Dia banting stir melawan
pepetan mobil Carry dan mendorongnya ke tengah jalan dua arah itu. Pengemudi
Carry cepat mengerem, sebab dari arah depan ada metro mini yang juga melakukan
rem mendadak, sehingga para penumpangnya sebagian terperosok jatuh dari
duduknya.
Tiiit...!
Metro mini berklakson panjang.
Sementara Avanza hitam buang arah ke kiri, berbelok ke jalan
yang lebih kecil. Adapun mobil Carry tidak bisa mengejar lagi, karena terjebak
dan terhalang oleh kendaraan lain.
Kekacauan itu membuat arus kendaraan terhenti sejenak,
termasuk mobil Pak Yudi.
“Penculik itu belok!” pekik Barada.
Pak Yudi segera keluar dari aspal dan lewat di pinggiran,
tapi mobil itu harus terhenti di pertigaan, karena terhalang tiang rambu jalan.
Terilhami oleh film-film Hollywood, Firman segera buka pintu
dan keluar. Dia berlari menghadang seorang wanita muda berjilbab yang
mengendarai sepeda cewek yang keranjang depannya berisi beberapa botol jamu.
Penghadangan Firman membuat si gadis hitam manis pembawa
jamu itu terkejut takut. Pikirannya langsung menduga Firman adalah orang jahat
yang mengincar makhluk lemah.
“Maaf, Mbak. Saya orang baik. Saya sedang mengejar pencuri.
Tolong pinjam sepedanya!” kata Firman terburu-buru.
“Tidak mau!” tolak si gadis ketakutan dan tidak percaya.
“Kalau Mbak tidak percaya, nih, pegang hp mahal saya!” kata
Firman lalu cepat memberikan hp mahalnya. “Ini darurat!”
Sedikit agak kasar, Firman merampas sepeda itu dan langsung
menaikinya.
Dengan semangat membara dan berapi-api, Firman menggoes
penuh kebut untuk mengejar mobil Avanza yang sudah cukup jauh. Semangat
kepahlawanan 10 November saat itu sedang memenuhi dada Firman. Sementara mobil
Pak Yudi masih tertahan di pertigaan.
Demikian tingginya semangat Firman, kecepatan sepedanya
bahkan menyalip sepeda motor di depannya yang mengalami masalah ban kempes.
Sebuah sepeda motor melesat lewat di samping Firman, membuat
pemuda itu terkejut.
Motor itu dikendarai oleh seorang lelaki tak dikenal, tapi
orang yang duduk di belakangnya adalah Sugiono. Pemuda berkulit putih berbadan
kekar itu melambaikan tangan kepada Firman yang dilaluinya. Ia menggunakan jasa
ojeg pangkalan untuk mengejar mobil Avanza tadi.
“Bodoh!” rutuk Firman, maksudnya memaki dirinya sendiri.
“Kenapa gua gak pakai ojeg, malah pakai sepeda cantik? Senyumnya (Sugiono)
mengejek banget.”
Meski kalah taktik oleh Sugiono, tapi Firman justeru
mempercepat goesannya. Dan sepeda itu pun tetap melesat stabil, karena memang
sejak tadi Firman sudah berada dalam performa puncaknya.
“Dada Firman!”
“Oh,” keluh Firman dengan mimik putus asa, saat melihat
mobil Kijang Pak Yudi melesat melaluinya. Lebih memilukannya lagi nasib Firman,
dari jendela mobil, Barada melambai sambil tertawa. Dan lebih menyakitkannya
lagi, mereka yang berada di dalam mobil semua tertawa.
“Aduh, sakit perut saya,” kata Barada yang tertawanya terus
berkepanjangan.
Sementara itu, nun jauh di depan sana.
Tiiit! Tiiit! Tiiit!
Pengemudi botak Avanza menekan klakson panjang-panjang
dengan wajah panik dan marah. Masalahnya, sebuah truk sedang berusaha masuk ke
sebuah bangunan dengan hati-hati. Sebab, jika buru-buru akan beresiko
tersangkut tembok pagar.
Klakson itu membuat lelaki yang mengatur parkir truk jadi
berbalik dan melotot ke arah mobil Avanza. Si botak pun terpaksa menghentikan
mobilnya, tapi klakson tetap ia mainkan. Saking kesalnya, lelaki tukang parkir
memungut batu besar lalu berlagak akan melempar mobil si botak. Ancaman itu
membuat si botak terpaksa berhenti memencet klakson dan harus menunggu hingga
truk masuk ke dalam.
“Tahan!”
Tiba-tiba seseorang berteriak kepada sopir truk. Orang itu
tidak lain adalah Sugiono yang baru sampai dengan tukang ojegnya.
Buru-buru Sugiono turun dan berlari kepada sopir truk.
“Pak, tahan truknya. Orang di mobil itu culik perempuan,
jangan dikasih jalan dulu!” kata Sugiono, lalu segera menghampiri si pengatur
parkir dan merebut batu besar di tangan lelaki yang sudah emosi kepada
pengemudi Avanza.
Sugiono lalu bergerak ke depan mobil Avanza, diperhatikannya
ke dalam mobil. Dilihatnya seorang perempuan muda cantik berambut ikal duduk
bersender diapit oleh dua pemuda, tapi gadis itu dalam kondisi terpejam
matanya.
Tingkah Sugiono itu membuat keempat lelaki dalam mobil
Avanza tampak gusar sekaligus panik.
“Keluar!” teriak Sugiono lantang kepada para lelaki di dalam
mobil.
“Woi! Lu nyari ribut!” teriak lelaki gondrong yang duduk di
samping pengemudi Avanza, tidak kalah galak.
Saat itu juga, mobil Pak Yudi sampai dan berhenti di
belakang mobil para penculik. Secara serentak, orang-orang yang ada di dalam
mobil Kijang tersebut keluar, termasuk ketiga wanitanya, lalu mendatangi mobil
di depannya. Tapi Barada dan Nursyamsiah yang turut keluar, hanya berdiri
bersender di mobilnya, menunggu apa yang akan terjadi.
Beg!
Pak Yudi bergerak cepat ke sisi mobil lalu langsung menonjok
kaca pintu di sisi lelaki kepala botak. Hal itu sungguh mengejutkan si botak.
“Keluar!” perintah Pak Yudi sambil menggedor-gedor kaca
pintu.
Guru Tio juga memukul-mukul kaca pintu belakang sisi kanan
yang tertutup. Di sisi kiri mobil para penculik, Irwan dan Ria turut pula
memukul-mukul pintu mobil.
“Kalau gak keluar, gua lempar!” teriak Sugiono mengancam.
Jiwa-jiwa muda selaku orang-orang yang berani ambil risiko
di bidang kejahatan, keempat pemuda di dalam mobil akhirnya memutuskan keluar
setelah ada komando dari si botak.
Bag bik buk!
Namun, baru saja mereka mengeluarkan kepalanya, bogem-bogem
matang sudah menghajar mereka, membuat mereka kelabakan dan tersudut, sehingga
keempatnya kembali memilih masuk duduk di dalam mobil dengan wajah-wajah marah
mengerenyit kesakitan.
Meski keempatnya orang-orang keras yang menyukai keributan,
tapi masalahnya orang-orang yang memukul mereka adalah orang-orang yang biasa
memukul dalam latihan pencak silat.
“Keluar!” teriak Sugiono lagi sambil tetap mengancamkan batu
di tangannya.
“Hajaar!” teriak si botak memberi komando kepada
teman-temannya untuk keluar melawan.
Bag bik buk!
Namun sayang, baru saja kepala mereka bergerak keluar, untuk
kedua kalinya mereka dihajar telak ramai-ramai, memaksa mereka berempat masuk
lagi ke dalam mobil.
Orang-orang itu saling berpandangan sendiri lagi. Beberapa
lebam kini menghiasi wajah mereka. Nyali mereka telah ciut setelah dua kali
secara massal mereka dipukuli. Mereka tidak menyangka begitu mudahnya mereka
dihajar.
Lebih parahnya lagi, sopir truk dan teman-temannya dari
dalam bangunan muncul menenteng balok kayu, batangan besi, hingga ada yang
membawa sikat closet. Jumlah mereka lebih sepuluh orang dan menunjukkan sikap
perlawanan kepada orang-orang di dalam mobil Avanza. Situasi itu kian
menguburkan nyali keempat penculik tersebut.
Teet tiit tuuut!
Sementara itu, truk yang ditinggal oleh sopirnya, tetap
memalangi jalan, menimbulkan kemacetan di jalan yang tidak terlalu lebar itu.
“Kalian boleh pergi, asal perempuan itu dilepas!” kata Guru
Tio kepada si botak, sedikit keras agar suaranya bisa menembus pintu mobil yang
tertutup semua.
“Ampun, Bang, ampun!” seru si botak sambil angkat kedua
tangannya tanda menyerah.
“Keluar!” teriak Sugiono lagi.
Akhirnya keempat penculik itu sepakat untuk menyerah. Mereka
keluar dari mobil dengan tangan diangkat.
“Minggir!” tiba-tiba seorang jagoan muncul bersama sepeda
cantiknya.
Dengan tajam ia mengerem, lalu matanya liar mencari musuh.
“Mana? Mana?!” teriaknya.
“Sudah selesai, Pahlawan,” kata Barada tertawa sambil lewat
di samping Firman yang datang terlambat.
Barada dan Nursyamsiah mendekat ke mobil Avanza.
“Permisi, giliran Muslimat yang kerja!” teriak Barada kepada
rekan-rekan lelakinya. Ia dan Nursyamsiah bermaksud mengevakuasi korban
penculikan yang tidak sadarkan diri karena telah dibius.
Sementara keempat penculik disuruh berjongkok di depan
mobilnya. Warga sekitar pun kian ramai berkumpul menonton apa yang terjadi.
Kemacetan semakin parah di sore hari itu.
“Masya Allah!” pekik Barada terkejut saat melihat gadis yang
pingsan di dalam mobil Avanza hitam itu.
“Kenapa, Badar?” tanya Guru Tio.
“Ini teman sekolah saya, Guru Tio,” jawab Barada. “Ayo
bantu, Nur!”
Nursyamsiah segera membantu Barada mengeluarkan tubuh gadis
yang tidak lain adalah Rina Viona,
teman satu sekolah Barada, meski beda kelas. Ria pun turut membantu menggotong
tubuh Rina, dibawa masuk ke dalam mobil Kijang Pak Yudi.
Di sisi lain, Guru Tio melakukan komunikasi dengan warga,
tampaknya dia mencari seseorang. Dan muncullah seorang lelaki gemuk berpeci
putih, dia adalah tokoh di lingkungan itu. Antara Guru Tio dan tokoh warga itu
terjadi komunikasi. Setelah itu, Guru Tio pergi kembali ke mobil.
Penumpang Kijang Pak Yudi semuanya kembali ke mobil, tinggal
Firman dan Sugiono.
“No, tunggu!” Firman cepan mencekal lengan Sugiono ketika
hendak kembali ke mobil.
“Kenapa?” tanya Sugiono kerutkan kening kepada temannya itu.
“Bantu gua balikin sepeda ini. Gua pinjam hp lu, hp gua di
cewek yang punya sepeda sebagai jaminan,” jawab Firman.
“Ah, lagian ada-ada aja, ngejar mobil pakai sepeda!” rutuk
Sugiono sambil menyerahkan hp miliknya.
Sugiono pun lalu meninggalkan Firman yang punya kewajiban
untuk memulangkan sepeda yang dipinjamnya.
Akhirnya, Rina dibawa pergi oleh Barada dan rombongan.
Keempat penculik diamankan oleh warga, dipimpin oleh tokoh warga. Termasuk
mobil Avanza juga diamankan. Truk yang menutup jalan mulai bergerak masuk ke
halaman bangunan untuk parkir. Beberapa orang mengatur kembali lalu lintas.
Firman pun ditinggal sendiri. Meski demikian, ada senyum
tercipta di bibirnya. Di atas ubun-ubunnya tercipta ilusi gambaran wajah
perempuan hitam manis berjilbab pemilik sepeda.
Firman lalu menelepon nomornya sendiri, karena hp-nya ada di
tangan si mbak pemilik sepeda.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Firman penuh kesyahduan saat
telepon nun jauh di sana membuka sambungan.
“Wa ‘alaikum salam.”
Mendengar jawaban itu, mendelik Firman. Salamnya dijawab
oleh suara anak kecil. (RH)
(Bersambung: ....)

0 komentar:
Posting Komentar