![]() |
| Penyergapan tentara Pemerintah Yaman terhadap militan Houthi. (Foto: dok. Press TV) |
Riyadh, 21 Shafar 1438/21 November 2016
Sebuah
gencatan senjata selama 48 jam berakhir pada Senin (21/11) di Yaman setelah
gagal membendung kekerasan di seluruh negeri.
Kedua belah pihak yang saling bersenketa di Yaman saling
menyalahkan atas pelanggaran mematikan terhadap gencatan senjata yang didukung
Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari MINA, gencatan senjata yang bertujuan untuk mengakhiri kekacauan
dan pertumpahan darah, mulai berlaku sejak Sabtu (19/11) setelah intervensi
dari Menteri Luar Negeri AS John Kerry.
Koalisi pimpinan Arab Saudi mengatakan, gencatan senjata
berakhir pada tengah hari Senin dan menuduh oposisi Houthi berulang kali
melanggar kesepakatan.
"Tidak ada rasa hormat (keapda gencatan senjata), hanya
pelanggaran," kata juru bicara koalisi Mayor Jenderal Ahmed Assiri kepada AFP.
Ia mengatakan, ada lebih banyak orang tewas di kota Taez dan
adanya serangan-serangan dengan rudal, sehingga secara otomatis kondisi itu tidak
bisa untuk memperpanjang kesepakatan gencatan senjata.
"Di tingkat militer, untuk saat ini, kami tidak
memiliki perintah untuk memperpanjang gencatan senjata," kata Assiri.
Namun koalisi juga mengatakan, gencatan senjata bisa
diperpanjang jika oposisi mematuhi kesepakatan dan memungkinkan pengiriman
bantuan bisa masuk ke kota yang terkepung.
Namun kedua belah pihak tanpa henti saling menuduh telah
melanggar kesepakatan.
Militer dan sumber medis mengatakan, 15 oposisi Yaman dan
sembilan tentara loyalis Pemerintah tewas dalam bentrokan Ahad malam di Taez
dan sekitarnya.
Empat warga sipil juga tewas dan 11 lainnya luka-luka dalam
pengeboman.
Konflik Yaman sudah berlangsung selama 20 bulan.
PBB mengatakan, konflik telah menewaskan lebih dari
7.000 orang dan melukai hampir 37.000.


0 komentar:
Posting Komentar