Dituding Lakukan Genosida, Pemeritah Myanmar Protes PBB

Demonstrasi Muslim Rohingya yang meminta diselamatkan oleh masyarakat internasional. (Foto: AFP)
Jenewa, 29 Shafar 1438/29 November 2016 (MINA)

Klaim pejabat HAM PBB yang menyebut bahwa negara Myanmar sedang melakukan kampanye genosida terhadap Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, membuat pemerintah mengajukan protes pada Senin (28/11) kepada badan dunia itu.

Htin Linn, utusan tetap Myanmar untuk PBB di Jenewa, Swiss, mengajukan protes terhadap John McKissick, Kepala Badan Pengungsi PBB (UNHCR) di dekat kota perbatasan Bangladesh, Cox Bazar. Demikian Radio Free Asia memberitakan.

Dalam sebuah wawancara yang dengan BBC pada 24 November, McKissick menuduh tentara dan polisi penjaga perbatasan Myanmar membunuh penduduk desa, memperkosa perempuan dewasa dan anak perempuan, serta membakar rumah-rumah di komunitas Muslim Rohingya selama operasi keamanan dan pencarian militan bersenjata di kota Maungdaw dan Buithidaung.

Militer Myanmar telah membantah tuduhan dan menyalahkan etnis Rohingya yang membakar rumah mereka sendiri.

Pasukan keamanan telah "terlibat dalam hukuman kolektif terhadap minoritas Rohingya" setelah serangan terhadap pos penjaga perbatasan Myanmar pada 9 Oktober 2016. Beberapa penduduk setempat dan pejabat Myanmar menyalahkan kelompok militan Rohingya.

"Sekarang sangat sulit bagi Pemerintah Bangladesh untuk mengatakan perbatasan terbuka karena ini lebih lanjut akan mendorong Pemerintah Myanmar untuk melanjutkan kekejaman dan memaksa mereka keluar sampai mereka mencapai tujuan akhir mereka, yaitu pembersihan etnis minoritas Muslim di Myanmar," kata McKissick kepada BBC.

Htin Linn telah meminta pertemuan dengan Komisaris Tinggi UNHCR Filippo Grande yang berada di luar kota, sehingga dia hanya bertemu dengan Asisten Komisaris Tinggi Volker Turk pada 25 November untuk mengajukan protes.

"Jika dugaan tersebut memang dibuat oleh UNHCR, maka Pemerintah Myanmar menyampaikan keberatan kuat terhadap UNHCR untuk tuduhan tidak adil yang dibuat tanpa bukti (melawan) pemerintah Myanmar yang juga sama saja dengan pelanggaran kode etik dari PBB," kata pernyataan yang dimuat pada 26 November di halaman Facebook dari Kantor Konselor Negara Myanmar.

Menurut pernyataan itu, tuduhan tersebut memiliki efek merusak bagi pemerintah Myanmar.

Turk menjawab bahwa pejabat di UNHCR terkejut dengan komentar McKissick, dan Turk menegaskan bahwa pernyataan itu tidak mewakili posisi resmi lembaga.
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar