Pemerintah Mesir dan Ikhwanul Muslimin Mulai Dialog

Poster presiden terguling Muhammad Mursi diciumi oleh pendukungnya dari Ikhwanul Muslimin. (Foto: AFP / Marwan Naamani) 
Giza, Mesir, 24 Shafar 1438/24 November 2016

Surat kabar Al-Shorouq, memberitakan bahwa Pemerintah Mesir dan organisasi Ikhwanul Muslimin (IM) sedang dalam dialog untuk mengakhiri tahun-tahun kerusuhan di negara itu.

Seorang pemimpin IM yang tinggal di Arab Saudi mengatakan dalam kondisi anonimitas bahwa kesepakatan itu akan melarang organisasi tersebut mengambil bagian dalam politik Mesir selama lima tahun dan memastikan akan menghentikan "kegiatan anti-pemerintah" dengan imbalan pembebasan para tahanan.

"Kesepakatan itu akan dilakukan di bawah naungan dan dengan jaminan dari Arab Saudi," lapor surat kabar yang berkantor di Giza, Mesir itu dengan mengutip sumber.

Dikutip dari MINA, sumber menambahkan bahwa kesepakatan itu akan menguntungkan kedua belah pihak karena akan memperbaiki catatan hak asasi manusia pemerintah dan stabilitas bisa membantu memperbaiki buruknya situasi ekonomi yang dihadapi negara.

Menurut sumber, pemerintah Mesir telah menghubungi mantan anggota tim kepresidenan presiden terguling Muhammad Mursi untuk membahas inisiatif tersebut.

Langkah ini dinilai bahwa Pemerintah Mesir bisa melunakkan sikapnya.

Gerakan Ikhwanul Muslimin telah masuk dalam daftar hitam dan dikenai tindakan keras oleh pemerintah yang telah menewaskan ratusan pendukungnya dan membuat ribuan lainnya dipenjara atau dihukum mati.

Menurut cedekiawan politik The New Arab, Wael Kandil, ada kemungkinan langkah itu diambil Presiden Abdel Fattah El-Sisi untuk memperbaiki hubungan dengan Arab Saudi.

"Perhatian utama Sisi ini adalah untuk mendapatkan kembali apa yang hilang dari Arab Saudi, yang menjadi pengirim bulanan bahan bakar Aramco," kata Kandil.

Meskipun Arab Saudi pada April lalu memberikan Mesir 700.000 ton minyak per bulan selama lima tahun, tapi Arab Saudi baru-baru ini menghentikan pasokan produk minyak sulingannya.


Kebijakan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Pemerintah Riyadh dan Kairo terkait konflik regional, termasuk perang Suriah.
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar