Anak-Anak yang Disergap dan Diculik Tengah Malam

Serdadu penjajah Israel membekuk seorang anak lelaki Palestina. (Foto: dok. Globalresearch.ca)

Bab 1 Buku "Palestina Membuka Mata Dunia"

Rasa nyeri yang menusuk bahu dan pahanya, membangunkan Obada dari tidurnya pukul tiga pagi. Dalam sorotan lampu, gerakan remaja Palestina berusia 15 tahun itu membuat delapan orang bertopeng yang mengepungnya di tempat tidur, menodongkan senapan ke arahnya.

Obada yang tiba-tiba bangun dalam kondisi dikepung para tentara dan ditodong senjata jelas merasa ketakutan. Ia pun ditangkap dan dibawa pergi dari rumahnya di desa Al-Araqa, dekat Jenin di Tepi Barat utara.

Para prajurit menyeret Obada ke luar rumah tanpa mengizinkannya mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya.

Obada juga tidak diberi tahu alasan ia ditangkap di tengah malam seperti itu.

Dalam proses penangkapannya, Obada dipukuli dengan gagang senapan, ditutup matanya dan tangannya diikat dengan tali plastik hingga mengiris dagingnya karena begitu kuatnya ikatan.

Obada dipenjara selama 12 hari. Selama dua pekan penahanannya, dia dipukuli berulang kali. Dikunci semalaman di toilet yang kecil dan diserang dengan tembakan setrum ketika ia melakukan protes.

Selama 12 hari itu, satu-satunya masa istirahat dari pengasingan adalah ketika Obada diambil dari selnya kemudian dibawa ke ruang interogasi. Di ruang itu ia diikat erat ke kursi, ditampar dan diancam.

Obada berulang kali ditanya tentang hubungannya dengan dua teman sekolahnya, Nihad dan Fuad Waked yang telah dibunuh beberapa hari sebelumnya oleh tentara Israel.

Penangkapan terhadap Obada oleh tentara penjajah Israel itu terjadi pada Februari 2016.

Obada adalah salah satu dari lebih 100 anak Palestina yang dalam beberapa bulan di awal 2016 telah mendapati dirinya diseret dari tempat tidurnya di bawah todongan senjata di tengah malam oleh tentara Israel.1

Terhitung April 2016, ada 440 anak Palestina dalam tahanan militer penjajah Israel, itu adalah jumlah tertinggi sejak tentara penjajah Israel mulai mengeluarkan angka jumlah tahanan anak pada 2008. Angka ini lebih banyak dua kali lipat dari jumlah tahun 2015.

Kelompok hak asasi mengatakan, meskipun dua tahun lalu tentara Israel berjanji untuk menghentikan serangan malam setelah ada kecaman dunia internasional, tapi dalam prakteknya, mereka tetap menggunakan cara itu seperti biasa.

Menurut organisasi Perlindungan untuk Anak Internasional (DCIP), tujuan dari penangkapan tengah malam seperti yang dialami Obada untuk menakut-nakuti warga Palestina, sehingga mereka akan tunduk dan tidak menentang penjajahan Israel.

Kisah Obada tentang penangkapan dan penahanannya sama dengan kesaksian anak-anak lainnya.

Tiga per empat dari anak-anak yang ditahan mengalami serangan secara fisik selama penahanan mereka.

Hampir 90 persen kasus, orang tua anak tidak tahu di mana anak mereka telah diciduk, dan 97 persen dari interogasi, tidak ada orang tua atau pengacara yang diizinkan untuk mendampingi.

Sekitar 60 persen dari anak-anak itu kemudian dipindahkan ke penjara di Israel. Itu melanggar hukum internasional.

Setelah tiga bulan dipenjara, seharusnya anak yang ditahan mendapat kunjungan pertama dari keluarga mereka yang berjuang untuk mendapatkan izin masuk ke Israel.

Pelanggaran tersebut sangat kontras dengan hak yang dijamin untuk anak-anak.

Jumlah penangkapan telah mengalami peningkatan pesat sejak Oktober 2015. Per April 2016, ada lebih dari 100 orang yang ada di penjara berusia antara 12 hingga 15 tahun.

Di bulan April, pengadilan militer penjajah Israel menjatuhkan hukuman kepada seorang gadis Palestina 12 tahun dari Beit Fajjar, dekat Hebron, dan memvonisnya empat setengah bulan penahanan.

Menurut versi penjajah Israel, gadis di bawah umur bernama Dima Al-Wawi itu ditangkap karena mendekati sebuah pos pemeriksaan militer dengan memegang pisau.

Namun, setelah pemerintah penjajah Israel mendapat kritikan keras, pada Ahad 14 April 2016 pemerintahan penjajah akhirnya membebaskan tahanan perempuan termuda di penjara Israel itu. Dima Al-Wawi dibebaskan dua bulan sebelum masa hukumannya selesai.

Meningkatnya penangkapan yang dramatis bertepatan dengan gelombang serangan dan protes oleh warga Palestina di wilayah penjajahan sejak Oktober 2015.

Sebagian besar anak-anak Palestina di tahanan dihukum karena melempar batu. Selain hukuman penjara, masing-masing diberi hukuman percobaan, biasanya beberapa tahun, yang bisa diaktifkan jika mereka ditahan kembali. Sekitar 90 persen juga menerima denda.

Banyak keluarga dari anak-anak Palestina yang ditahan penjajah Israel tidak mampu membayar denda, sehingga anak-anak mereka harus menjalani hukuman lagi sebagai penggantinya.

Hukuman percobaan seperti menggantung pedang di atas kepala mereka. Akibatnya, banyak anak yang sudah kembali kepada keluarganya takut meninggalkan rumah atau pergi ke sekolah, karena takut akan ditangkap lagi di pos pemeriksaan dan dikirim kembali ke penjara.

Anak-anak Palestina yang dibebaskan bisa berakhir di bawah tahanan rumah yang dikenakan selama bertahun-tahun setelah pembebasan mereka.

Sementara itu, lembaga anak PBB sangat terganggu oleh tewasnya 500 anak dan ribuan lainnya terluka pada serangan penjajah Israel ke Jalur Gaza pada 2014.

Israel meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak pada tahun 1991. Tapi laporan 2013 oleh Unicef, menyimpulkan bahwa pelanggaran terhadap anak Palestina di bawah umur terjadi di dalam tahanan militer. Unicef mengatakan, pelanggaran itu "meluas, sistematis dan melembaga".

Menurut DCIP, Israel adalah satu-satunya negara di dunia yang secara sistematis mendakwa antara 500 hingga 700 anak di pengadilan militer setiap tahun.2


Sumber:
1)      Perlindungan untuk Anak Internasional (DCIP), kelompok pemantau pelanggaran Israel terhadap hak-hak anak Palestina.

2)      Al Jazeera
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar