![]() |
| Ilustrasi anak punk. |
Cibubur, 26 Shafar 1438/26 November 2016
Sejumlah pengamen jalanan dari komunitas anak punk
berpenampilan seram, menyumbangkan sejumlah penghasilannya untuk membantu
meringankan penderitaan Muslim Rohingya Myanmar yang ditindas oleh militer.
Menurut salah satu mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam
(STAI) Al Fatah aktivis Peduli Bantu Rohingya, Dinda Ramadhanty, sekelompok
pengamen anak punk yang wajahnya bertato membaca pamflet yang dibawa tim
penggalangan dana lalu mereka menyumbangkan sebagian penghasilan amennya.
“Ada ibu-ibu bawa ukulele, ada cewek punk yang rambutnya
panjang warna pink,” kata Dinda kepada RajaDumay.com, Sabtu (26/11) sore.
Dinda mengatakan bahwa mereka hanya membaca pamflet lalu menyumbang, tidak mengatakan perkataan apapun kepada aktivis penggalangan dana.
Aksi penggalangan dana untuk membantu Muslim Rohingya ini
adalah aksi gabungan antara mahasiswa STAI Al Fatah dan pelajar Madrasah Aliyah
Al Fatah Cileungsi, Bogor di bawah koordinasi Pemuda Jama’ah Muslimin
(Hizbullah). Hari ini menerjunkan lebih dari 40 personel yang disebar di
beberapa titik jalan raya.
Penggalangan dana sendiri dijadwalkan akan berlangsung
selama sepekan ke depan.
Sejak 9 Oktober 2016 hingga sekarang, kekerasan telah
terjadi di kota Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Dikabarkan ratusan
Muslim etnis Rohingya telah dibunuh oleh militer Myanmar dalam operasi kontra
terorisme.
Militer Myanmar telah mengunci wilayat tersebut dari pihak
media asing dan lembaga bantuan kemanusiaan internasional.
Menurut citra satelit yang dimiliki Human Right Watch (HRW),
ada lebih seribu bangunan dan rumah yang rusak terbakar di dalam wilayah Maungdaw.
Kekerasan militer membuat warga Muslim Rohingya yang tinggal
di daerah itu berduyun-duyun pergi menyelamatkan diri mencoba menyeberangi
Sungai Naaf untuk mencari perlindungan di Bangladesh.


0 komentar:
Posting Komentar