Politik Bukan Sunnah, Maka Akan Jadi Fitnah

Ilustrasi. (dok. ROL)
Oleh Yusuf Ibrahim

Imam Jama'ah Muslimin (Hizbullah) Wali Al-Fatah mendapat keterangan dari beberapa ulama yang beliau kenal semasa hidupnya, di antaranya K.H Maksum dari Muhammadiyah, bahwa sunnah dalam menegakkan Islam itu adalah Jama'ah Imaamah (bersatu di bawah satu pemimpin umat), maka beliau pun menyadari bahwa politik bukanlah jalan untuk menegakkan dinul Islam.

Wali Al-Fatah bukannya tidak mengetahui tentang Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dengan negara Islam-nya yang telah diproklamirkan pada tahun 1949, karena keduanya dan Soekarno adalah sama-sama murid H. Oemar Said Tjokroaminoto. Namun dengan keterangan yang telah beliau dapatkan dari beberapa ulama, selain menyadari kekeliruannya pribadi, beliau melihat pula kekeliruan dari apa yang ditegakkan oleh Kartosoewirjo, yaitu Negara Islam Indonesia (NII).

Dalam pandangan Wali Al-Fatah, apa yang dilakukan oleh Bung Karno ataupun Pak Kartosoewirjo, konsepnya adalah sama, yaitu mendirikan negara dan itu adalah politik. 

Sementara itu, Wali Al-Fatah adalah Doktor di bidang politik, jadi beliau tahu benar apa itu politik dan tahu dengan pasti dari mana asal-muasal ilmu politik, yang berasal dari konsepsi akal manusia.

Perbedaan antara Bung Karno dan Pak Kartosoewirjo adalah pada paham atau ideologinya. Bung Karno mengikuti ideologi Pancasila dan Pak Kartosoewirjo mengikuti ideologi Islam, tapi sifat kedua-duanya adalah nasionalis, sehingga menggunakan kata Indonesia. Dan konsep utamanya pun sama, yaitu politik yang formatnya adalah negara. 

Inti dari ilmu politik yang wujudnya negara adalah satu, yaitu bagaimana meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Hal itu jelas bukan sunnah Rasulullah Shllallahu 'Alaihi Wasallam dan sunnah Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin yang mereka semuanya itu hanya mengikuti wahyu Allah dan tidak ada sedikit pun ingin berkuasa karena kekuasaan itu adalah milik Allah dan Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-Nya. Oleh karena itu, sunnah mereka bukan negara melainkan sunnahnya adalah jama'ah imamah.

Berbekal keterangan dan dalil yang beliau dapatkan dari para ulama tersebut, Wali Al-FAtah sempat beberapa kali mengunjungi Pak Kartosoewirjo untuk menasehati dan meluruskan perjuangan Pak Kartosoewirjo, namun selalu dihalangi oleh bawahan Pak Kartosoewirjo, sehingga Wali Al-Fatah tidak dapat menyampaikan nasehatnya kecuali hanya dapat menyampaikan pesan singkat agar disampaikan kepada Pak Kartosoewirjo, yaitu, "Sesuatu yang bukan sunnah akan menjadi fitnah."

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar