![]() |
| Di Dhaka, pada 25 November 2016, Muslim Bangladesh protes pembunuhan militer Myanmar terhadap Muslim Rahingya. (AFP) |
Bangkok, 1
Rabi’ul Awwal 1438/1 Desember 2016
Pejabat PBB dan pemimpin
masyarakat Muslim Rohingya mengatakan pada Rabu (30/11), lebih dari 10.000 etnis
Rohingya dari Myanmar telah menyeberangi perbatasan ke Bangladesh.
Eksodus Muslim
Rohigya dari kota Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, Myanmar, disebabkan kekerasan
militer yang telah meningkat selama dua bulan terakhir.
Dikutip dari Radio Free Asia, pihak berwenang
Bangladesh mengatakan, mereka sekarang memungkinkan beberapa pengungsi yang
rentan untuk masuk dengan dalih kemanusiaan.
Sebelumnya, para
pejabat Bangladesh telah menyatakan bahwa mereka menyegel perbatasan yang
menghubungkan dengan Myanmar dan mendorong kembali ratusan orang yang mencoba
untuk menyeberang.
Eksodus ke
Bangladesh dari Rakhine adalah yang terbesar sejak 2012, ketika ribuan dari Muslim
Rohingya yang minoritas lolos dari kekerasan di negara berwarga mayoritas
Buddha tersebut.
"Berdasarkan
laporan oleh berbagai lembaga kemanusiaan, kami memperkirakan bahwa mungkin ada
10.000 pendatang baru dalam beberapa pekan terakhir," kata Vivian Tan,
juru bicara Badan Pengungsi PBB di Bangkok, Thailand.
"Situasi ini
cepat berubah dan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi," tambahnya.
Hafez Ahmed,
seorang pemimpin Rohingya di Kamp Kutupalang di Cox Bazar, Bangladesh,
mengatakan kepada BenarNews, jumlah
pengungsi bisa menjadi dua kali lipat dari angka yang diberikan oleh PBB.


0 komentar:
Posting Komentar