![]() |
| Ilustrasi: hakim mahkama Agung Gambia. (Foto: dok. Starrfmonline.com) |
Banjul, 16 Rabi’ul Awwal 1438/16 Desember 2016 (MINA)
Presiden
Gambia Yahya Jammeh telah mengajukan gugatan hukum terkait dugaan terjadinya
kecurangan dalam pemilihan presiden yang mengalahkan dirinya dan memenangkan
pemimpin oposisi, Adama Barrow.
Namun, persidangannya tidak bisa dijalankan karena
terjadinya kekurangan hakim di Mahkama Agung yang merupakan badan mandat untuk
memutuskan kasus-kasus hukum pemilu. Demikian Daily Nation memberitakan yang dikutip MINA.
Sementara itu, militer dan polisi menduduki kantor Komisi
Pemilihan Independen (IEC) Gambia yang menuai kecaman dunia internasional
terhadap Presiden Jammeh.
Ketua IEC Alieu Momar Njie mengatakan kepada AFP pada Rabu
(14/12) bahwa ia belum diberitahu mengapa ia dilarang keluar dari kantornya
sendiri.
Menurut Njie, satu-satunya cara untuk meluluskan pengajuan
Jammeh adalah melalui pengadilan, tapi pengadilan tidak bisa berjalan tanpa
adanya hakim.
Tahun lalu Jammeh menembak sejumlah hakim tinggi setelah
mereka meringankan beberapa hukuman mati.
Sementara itu, para pengacara melakukan boikot dari sistem
pengadilan pada Rabu untuk memprotes melawan hukum ciptaan Jammeh.
Kelompok pengacara paling berpengaruh di negara itu 'Bar Association’, mengatakan, setiap
pengangkatan hakim oleh Jammeh hanya bertujuan untuk memutuskan kasus yang
melibatkan dirinya menjadi tidak adil.
Berdasarkan hak konstitusional, Presiden Jammeh mempunyak
hak untuk berkantor hingga tanggal 19 Januari 2017, sebelum digantikan oleh
presiden terpilih.
Hingga 18 Januari 2017, sangat diperlukan bagi kasus Jammeh
untuk didengar di pengadilan sebelum akhir masa jabatannya.
Karenanya, Jammeh perlu menunjuk enam hakim untuk Mahkamah
Agung, jabatan yang telah dibekukan sejak Mei 2015.
Seorang pemimpin oposisi, Halifa Sallah, mengatakan bahwa batas
waktu bagi Presiden Jammeh adalah 19 Januari 2017 untuk meninggalkan jabatannya.
"Kami telah mengatakan bahwa mulai 19 Januari, jika
Presiden Jammeh mengatakan 'saya tidak akan pergi', maka jelas akan terjadi
krisis konstitusional dan yang paling mungkin adalah konflik di negeri
ini," katanya. "Kami berpendapat bahwa presiden terpilih Barrow adalah
presiden Gambia berikutnya.
Pada Selasa sebelumnya, Presiden Liberia Ellen Johnson
Sirleaf mengatakan, delegasi kelas berat empat pemimpin Afrika, termasuk
dirinya, telah gagal mencapai konsensus dengan Jammeh dan Barrow terkait
transisi kekuasaan.


0 komentar:
Posting Komentar