Taslima, Meninggalkan Myanmar dalam Kondisi Hamil Besar

Muslimah Rohingya tiba di Provinsi Aceh pada 20 Mei 2015. (Fota: AP)
Kisah perjalanan Muslim Rohingya ke India (Bagian pertama)

Muslim Rohingya. Dengan Pemerintah Myanmar tidak mengakui mereka sebagai warga negara, mereka sekarat, dengan 100.000 orang menjadi tunawisma.

Sekitar 14.000 orang yang terdaftar menjadi pengungsi di India, menyambung hidup di daerah kumuh hingga hari ini, bebas dari politik.

Pada tanggal 9 Oktober 2016, ratusan pria bersenjata menyerang tiga pos penjaga perbatasan Myanmar yang berbatasan dengan Bangladesh di Negara Bagian Rakhine, daerah tempat 800.000 dari 1 juta Muslim yang menyebut diri mereka Rohingya.

Serangan itu menewaskan sembilan polisi Myanmar dan delapan penyerang.

Myanmar menyalahkan kelompok militan Aqa Mul Mujahidin (Harakah Al Yaqin atau Organisasi Iman) lalu militer meluncurkan tindakan keras terhadap etnis Rohingya. Demi keselamatan mereka, ribuan Muslim Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh.

Kelompok Krisis Internasional (ICG) memperkirakan bahwa sekitar 27.000 dari mereka telah melakukan eksodus ke Bangladesh hingga bulan November. Mungkin jumlahnya bisa dua kali lipat sekarang.

Di Myanmar, kata “Rohingya” adalah kata yang tabu. Pemerintah dan warga Buddha Myanmar menyebut mereka "Bengali", sebutan untuk pendatang baru ilegal dari Bangladesh. Namun, sebutan dan definisi itu telah membuat marah dan ditolak oleh Pemerintah Bangladesh.

Myanmar juga tidak mengakui Rohingya sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis di bawah pakta kewarganegaraan 1982.

Perpindahan besar terakhir Muslim Rohingya ke India terjadi pada 2012. UNHCR mengatakan, sekitar 14.000 Muslim Rohingya tersebar di enam lokasi di India, yaitu: Jammu, Nuh di distrik Mewat Negara Bagian Haryana, Delhi, Hyderabad, Jaipur dan Chennai.

UNHCR telah memberikan sertifikat Status Pengungsi kepada sekitar 11.000 Rohingya di India, sisanya 3.000 adalah "pencari suaka". Pemerintah India telah memberikan Visa Jangka Panjang kepada 500 orang Rohingya. Fasilitas itu akan membantu mereka membuka rekening bank dan masuk di sekolah dengan aman.

Dalam keadaan hamil besar, Taslima melarikan diri dari desa Prangla di Rakhine, Myanmar, dalam kondisi cuaca Agustus 2010 yang lembab, dihantui "pembunuhan" terhadap seorang teman dekatnya. Seluruh keluarganya yang berjumlah 11 orang berkumpul bersama di belakang jip yang mereka sewa.
 
"Putri saya dua tahun tidak mau berhenti menangis," kenang Taslima yang dulu keluarganya menjual semua barang-barangnya untuk mendapatkan Rs 6 lakh. "Jika kami tetap tinggal, kami akan terbunuh," kata Taslima.

Sekarang, Taslima berusia 25 tahun dan menjadi ibu bagi empat anak, yang termuda berusia sembilan bulan. Taslima tinggal di sebuah pondok yang terbuat dari bambu, dengan lembar terpal membentang di atasnya, di Kamp No.2 distrik Mewat, Negara Bagian Haryana, India, lebih dari 3.000 km dari kampung halamannya.

Ada enam kamp Rohingya di distrik Mewat, semua dalam radius 1km. Kamp tempat Taslima adalah yang terbesar dengan 108 keluarga (327 orang).

Taslima bercerita, mereka menghadapi penyiksaan konstan di Myanmar. Kemudian, temannya dibunuh oleh tentara Myanmar.

"Saya tidak bisa tinggal di sana lagi," kata Taslima. "Dari desa, kami mengambil jip menuju Mundu, empat jam perjalanan. Perjalanan kami biayanya Rs 5.000. Kami menunggu di Mundu sampai tengah malam, dan kemudian mengambil perahu ke Teknup di Bangladesh. Perejalanan itu dua jam di perahu kecil yang kami sewa Rs 10.000 per orang. Kami telah mendengar, petugas keamanan di Bangladesh menembak jatuh orang Rohingya saat mereka turun dari perahu, tapi untungnya malam itu tidak ada. Saya ingat, saya berdoa sepanjang waktu," katanya.

Taslima sekeluarga, termasuk suaminya Mohammad Noor (30 tahun), tinggal di sebuah kamp pengungsi di Cox Bazar, Bangladesh, selama dua tahun. Ia mengumpamakan di sana seperti neraka yang tidak ada listrik, tidak ada air, dan panas sepanjang waktu. Sementara di kamp di India, ia merasa seperti berada di kampungnya.

Untuk berangkat ke India, orang-orang Rohingya harus bekerja selama sebulan di Cox Bazar untuk mengumpulkan uang sebesar Rs 40.000. Kemudian mereka bisa menyeberangi sungai Ichamati dengan perahu dan tiba di Basirhat di Bengal Barat. Mereka membayar Rs 1.300 per orang.

“Tapi saat kami tiba, polisi menangkap kami. Kami harus memberi mereka semua uang kami, sekitar Rs 25.000. Ketika kami sampai di stasiun kereta api Sitapur dekat Kolkata, kami tidak punya uang lagi. Kami meminta-minta di peron selama dua hari hingga bisa membeli tiket ke Delhi," kata Taslima.

Barulah di Delhi Taslima sampai ke kantor UNHCR. 


Sumber: Express News Service
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar