Oleh: Rudi Hendrik,
jurnalis MINA
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أَمَّنۡ هُوَ قَـٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ
سَاجِدً۬ا وَقَآٮِٕمً۬ا يَحۡذَرُ ٱلۡأَخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ
قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِى ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
Artinya, “(Apakah
kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di
waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat
dan mengharapkan rahmat Rabb-nya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang
yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya
orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39] ayat
9).
Perilaku mencontoh
adalah salah satu karakter dasar manusia, karena perilaku ini adalah wujud
bahwa ilmu sampai dan diamalkan oleh seseorang. Perilaku mencontoh telah
dipraktekkan sejak masa bayi dan masa-masa selanjutnya. Bayi bisa berbicara dan
berbahasa, bisa berperilaku dan berbudaya, semua bermula dari mencontoh, baik
mencontoh secara lengkap atau mencontoh sebagian.
Seorang anak bisa
berbahasa seperti bahasa orang tua dan lingkungannya, karena ia mencontoh.
Seorang murid bisa pandai menulis dan membaca, karena ia mencontoh apa yang
diajarkan oleh gurunya. Dan seseorang bisa berperilaku baik dan buruk, karena
hasil dari mencontoh seseorang atau lingkungannya.
Dalam mempraktikkan
perilaku dasar dari manusia ini, Allah Subhanahu
wa Ta’ala memberikan tuntunan dalam hal mencontoh.
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ
أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ
وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا
Artinya,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] ayat 21).
Ayat yang mulia ini
adalah dalil pokok paling besar, yang menganjurkan kepada kita agar meniru atau
mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
dalam semua perbuatan, ucapan, dan sepak terjangnya.
Namun, orang-orang
kafir dan musuh-musuh Islam telah memamfaatkan karakter dasar manusia ini agar
mencontoh budaya dan prilaku yang bertentangan dengan apa yang Allah telah
anjurkan. Umat Islam yang besar jumlahnya digiring menjauhi dari mencontoh
akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dengan cara menciptakan budaya dan tontonan yang menyenangkan perasaan
dan emosi, padahal hakikatnya budaya itu menjerumuskan kepada keburukan.
Melalui perkembangan
teknologi, komunikasi dan informasi yang begitu cepat dan pesat, orang-orang
kafir menciptakan berbagai macam tontonan dan tren kemasakinian yang tujuan
utamanya agar dicontoh oleh generasi manusia sehingga membentuk budaya yang
jauh dari meniru Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan apa yang diajarkan oleh para ulama.
Gaya busana, musik,
film, budaya jahiliyah dan hal-hal asing yang baru, diciptakan oleh para pakar
orang-orang kafir dengan kemasan yang semenarik mungkin dan bumbu yang mempermainkan
perasaan. Dan pada faktanya, berbagai tren kekinian yang mereka ciptakan dan
tontonkan banyak dicontoh oleh umat Islam, khususnya generasi Muslim hingga
kepada level anak-anak.
Contoh kecil, dalam
beberapa seri film animasi Amerika, selalu ditampilkan adegan atau dialog yang
selalu berulang-ulang. Hal itulah yang sering kali berhasil membuat anak-anak
Muslim untuk menirunya dalam kehidupan sehari-hari.
Termasuk ketika
generasi muda berduyun-duyun meniru gaya tampilan para bintang pop Korea Selatan
(K-Pop) yang dalam beberapa tahun terakhir menginvansi budaya banyak negara
dunia, sehingga lepas dari identitas karakternya sebagai pemuda Muslim.
Kisah burung buta dan pincang
Dalam sebuah
tulisannya, Yusuf Qardhawi pernah menceritakan kisah seorang saleh yang bernama
Al-Bakhi.
Suatu hari,
Al-Bakhi berangkat melakukan ekspedisi perdagangan. Sebelum pergi, ia berpamit
diri kepada sahabatnya yang terkenal ahli zuhud bernama Ibrahim bin Adham.
Hanya beberapa
hari, Al-Bakhi telah kembali dari perjalanannya. Ibrahim yang melihatnya di
masjid, merasa heran lalu bertanya, “Kenapa kamu buru-buru pulang?”
Al-Bakhi menjawab,
“Dalam perjalanan saya melihat suatu keanehan sehingga saya memutuskan segera
mengakhiri perjalanan.”
Ibrahim bertanya,
“Apa yang kamu lihat?”
“Ketika sedang
beristirahat di suatu bangunan yang sudah rusak, saya menjumpai seekor burung
pincang dan buta. Melihat burung itu, saya bertanya dalam hati, ‘bagaimana
burung itu bertahan hidup, sementara ia berada di tempat yang jauh, tidak bisa
melihat dan bergerak?’,” jelas Al-Khatib.
Al-Bakhi
melanjutkan kisahnya bahwa kemudian datanglah burung lain membawa makanan
untuknya. Dalam sehari burung itu bolak-balik mengirimkan makanan sampai
kebutuhan burung buta itu tercukupi.
“Yang memberi
rezeki kepada burung buta di tempat yang jauh ini, tentu bisa pula memberi
rezeki kepada saya,” pikir Al-Bakhi. “Kemudian saya pulang.”
Ibrahim lalu
berkata, “Sungguh aneh apa yang kamu lakukan, wahai Al-Bakhi. Mengapa kamu rela
menjadikan dirimu seperti burung buta dan pincang, yang hidup atas belas
kasihan dan bantuan orang lain? Kenapa kamu tidak mencontoh burung yang satunya
lagi, yang berusaha mencari rezeki untuk dirinya dan untuk temannya yang cacat?
Tahukah kamu, tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di
bawah?”
Al-Bakhi lalu
berdiri dan mencium tangan Ibrahim seraya berkata, “Kamulah guru kami, wahai
Abu Ishaq.”
Akhirnya Al-Bakhi
melanjutkan perdagangannya.
Dari kisah di atas,
menunjukkan selalu ada dua pilihan yang bisa dicontoh oleh seseorang. Pertama,
mencontoh yang baik. Kedua, mencontoh yang tidak lebih baik (buruk).
Mencontoh orang
yang membaca Al-Quran lebih baik dari pada meniru orang yang sibuk membuat
status di media sosial. Mencontoh orang yang bersedekah lebih baik dari pada
meniru orang yang membelanjakan uangnya hanya demi hobi, kesenangan dan
syahwat.
Namun kini, manusia
lebih banyak mencontoh yang lebih buruk daripada yang lebih baik. Kondisi ini
telah Allah peringatkan dalam firman-Nya,
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ
يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ
Artinya,
“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan
menyesatkan kalian dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am [6] ayat 116).
Karenanya,
tidak sama orang-orang yang mencontoh kebaikan dan melakukannya dengan orang
yang mencontoh keburukan dan melakukannya. Tidak sama orang yang mengetahui dan
orang yang tidak mengetahui. (QS. Az-Zumar [39] ayat 9).
Allah
Mahabenar.
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)


0 komentar:
Posting Komentar