![]() |
| KH. Arif Hizbullah. (Foto: Zaenal Mutaqin/MINA) |
Bogor (Khilafah Terakhir) --- Pengasuh Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah Al-Fatah Maos, Kabupaten Cilacap, KH. Arif Hizbullah, mengatakan bahwa syariat khilafah tidak bisa dipisahkan dari pola yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Menurut alumni Universitas Islam Malaya itu, khilafah tidak boleh dipisahkan dari kalimat “'ala minhajin nubuwwah” sebagai identitas yang sangat penting untuk membedakan dengan khilafah palsu.
“Khilafah tidak bisa dipisahkan dari manhaj Rasulullah. Kalau dipisahkan, maka akan muncul definisi yang bermacam-macam tentang khilafah dan ujungnya akan muncul khilafah palsu,” kata Arif saat mengisi kegiatan Tablig Akbar Jamaah Muslimin (Hizbullah) di Masjid At-Taqwa, pada hari Ahad, 21 Mei 2017 lalu di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.
Kata dia, sesuatu yang palsu identik dengan hal yang berbahaya bagi umat Islam. “Jangankan khilafah dipalsukan, nabi saja bisa dipalsukan,” tegasnya.
Ia menegaskan, apabila media terus-terusan memberitakan bahwa syatiat khilafah sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan di era saat ini, maka hal tersebut bisa menimbulkan perpecahan dan itu sangat berbahaya.
“Orientasi khilafah bukan pada kekuasaan. Jadi media tidak perlu memberitakan hal-hal yang negatif tentang khilafah. Adapun perbedaan makna khilafah di antara kelompok umat Islam, jangan dijadikan alasan untuk menjelekkan citra khilafah,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini umat Islam perlu belajar dan memahami makna khilafah yang seusai dengan manhaj Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.


0 komentar:
Posting Komentar