Kejutan di Sore Hari (4A)

Ilustrasi seorang muslimah.
Novel "Cinta Seleher Botol"
Oleh Rudi Hendrik

Bab Keempat: Kejutan di Sore Hari

Berbeda dengan suasana siang hari sebelumnya. Menjelang waktu Magrib ini, suasana ruangan tamu begitu rapi dan bersih. Aroma harum pewangi ruangan kelas mahal tercium menenteramkan hidung di seluruh seantero ruangan yang ada di rumah mewah tersebut.

Di atas dua meja tamu yang terpisah di ruangan tamu yang luas, tersedia beberapa toples bagus berisi kue-kue kering dan cokelat bungkus. Lampu-lampu di seluruh sudut dalam dan luar rumah telah menyala setengah jam lebih awal dari sebelumnya.

Sebagai nyonya besar yang sangat memperhatikan penampilan yang sempurna, Irma Lulubana telah tampil cantik sempurna untuk kacamata dunia mode. Beberapa kali dua pembantu perempuan dan satu pembantu lelakinya harus bekerja untuk merubah tata letak benda yang menurut sudut pandang Irma tidak pas di hati dan mengganjal di mata.

Di meja makan pun telah penuh berbagai macam hidangan santap malam. Meski Rani telah memberi tahu ibunya bahwa Sando mengajaknya makan malam di luar, tetap saja sang ibu berniat memaksa calon menantunya makan malam bersama di rumah itu.

Urusan ruang tamu dan meja makan, mutlak seratus persen wewenang Irma selaku nyonya di rumah itu. Rani Liota hanya perlu berhias diri dan tampil sempurna di malam ini. Karena itulah, sejak siang ia belum keluar-keluar dari kamarnya. Hanya Irma yang sesekali masuk ke kamarnya mengecek kondisi putri sulungnya itu. Ternyata, perkembangan suasana hati Rani sedang bagus, setelah harus melalui masa-masa tangisan, sehingga kelopak matanya sedikit bengkak.

Teet!

Terdengar suara klakson mobil dari depan pintu gerbang halaman rumah. Pembantu lelaki yang masih muda bernama Iwan segera keluar untuk membukakan pintu gerbang yang memang selalu dikunci.

Meski mengenal suara klakson mobil itu, tetapi Irma tetap bergerak mengintip lewat kaca jendela. Mungkin saja mobil lain yang datang, bukan mobil anak keduanya.

Setelah gerbang dibuka, sebuah mobil sedan Honda City warna merah terang segera masuk ke halaman dan parkir di samping mobil Rush biru tua milik Dedy Sirana.

Seorang gadis belia cantik turun dari pintu kiri mobil. Ia memakai pakaian serba hijau dengan jilbab besar warna hijau lebih mudah. Bahu kanannya menyandang tas kain tebal hitam. Tangan kanannya juga membawa beberapa paper bag hasil belanja. Ia adalah Barada.

Dari pintu kanan mobil turunlan dua kaki bersepatu model sneakers cokelat dari bahan kulit mahal yang berkaos kaki putih. Kedua kaki itu dibalut oleh celana gombrong warna biru laut, sama dengan warna baju longgarnya yang berlengan panjang. Ia mengenakan jilbab longgar warna putih, serasi sekali dengan putihnya kulit si gadis yang tidak lain adalah Rina Viona. Ia tampil tidak hanya cantik, tapi juga anggun dan sejuk di mata.

“Mas Iwan!” panggil Rina kepada pembantu laki-lakinya.

Iwan segera berlari kecil datang mendekat.

“Ini buat Mas Iwan,” kata Rina sambil menyerahkan pelastik bening yang membungkus lipatan sebuah baju batik biru muda.

“Ada angin dari arah mana nih, Neng Rina?” tanya Iwan sambil cengengesan, tapi tetap tangannya menerima pemberian itu.

“Jangan ngejek gua, Mas. Anggap aja gua lagi dapat wangsit,” kata Rina tanpa senyum, tapi justeru membuat Barada tertawa kecil, membuat lesung pipinya muncul manis.

Rina lalu melangkah menuju pintu utama rumah. Tangannya juga menjinjing beberapa paper bag hasil belanjaan. Barada mengikuti.

Assalamu ‘alaikum!” salam Rina setelah membuka pintu.

Wa ‘alaikum salam!” jawab Irma yang menunggu di dalam.

Ketika melihat keberadaan ibunya Rina, Barada pun mengucapkan salam kepada Irma. Suara agak seraknya khas terdengar. Setelah itu Barada membungkuk melakukan ojigi, budaya hormat orang Jepang. Irma hanya tersenyum. Kemudian Barada menghampiri Irma dan mencium tangannya.
Meski sudah beberapa hari ini Rina selalu mengucapkan salam saat ia memasuki pintu rumah, tapi ini kali pertama Irma mendengar dan melihat puterinya itu mengucapkan salam.

“Mama cantik sekali,” puji Rina sambil menghampiri ibunya, lalu mencium pipi kanan dan kiri.

Mendapat pujian dan perlakuan kasih seperti itu dari Rina, Irma hanya mendelik terpukau.

“Ada bencana di mana ini? Tumben-tumben anak ini pakai cium gua,” membatin Irma heran. Lain kata hatinya, lain pula kata lisannya, “Tentu, mamamu ini kan yang tercantik di rumah ini. Tapi sejak kamu pakai jilbab, sepertinya Mama kala saing.”

Mereka pun tertawa bersama, termasuk kedua pembantu yang masih siap siaga menerima perintah suatu waktu.

“Rina beli hadiah untuk Mama. Suprise!” kata Rina dengan senang.

“Oh ya? Suprise banget bagi Mama!” kata Irma begitu senang, seolah tidak percaya.

Rina kemudian memberikan satu paper bag bawaannya kepada ibunya. Dengan begitu bahagia, Irma menerima dan bahkan segera mengeluarkan isinya. Namun, setelah dibuka-buka, senyum Irma berubah hilang berganti kerutan kening. Di tangannya kini ada selembar kain hitam saja yang ada hiasan bordiran benang emas di sepanjang tepiannya.

“Apa ini, Rin? Selendang?” tanya Irma, heran diberi hadiah hanya selembar kain selendang.

Rina pun tertawa, kemudian katanya, “Itu kerudung buat Mama. Saat ini memang belum bisa dipakai, tapi Rina yakin, nanti bulan puasa bisa dipakai.”

“Ah, kamu ini. Tapi Mama benar-benar terima kasih sudah diperhatikan,” kata Irma dengan senyum bahagia.

“Mbak Lina, Bu Diyah, ada hadiah juga nih dari Rina!” panggil Rina kepada kedua pembantunya.

“Ah?” sahut pembantu yang berusia 30-an, seakan tidak jelas mendengar perkataan Rina. Inti sebenarnya adalah mereka tidak percaya bahwa Rina membelikan mereka hadiah. Ingatannya masih jelas ketika wajahnya dilempar buku oleh Rina dua pekan yang lalu.

“Iya, sini!” tandas Rina. “Anggap saja sebagai sogokan permintaan maaf Rina kepada kalian berdua.”

Sambil senyum-senyum, Mbak Lina dan Bu Diyah yang berusia 40-an datang mendekati Rina. Rina memberikan masing-masing pembantu perempuannya itu sebungkus pakaian baru.

“Terima kasih, Neng Rina!” ucap keduanya, benar-benar merasa bersukur. Mereka berharap Rina benar-benar berubah menjadi baik, apalagi jika sudah berjilbab yang seolah menjadi penyimpulan bahwa pemakainya adalah wanita yang baik dan salihah.

“Aroma rumah segar betul, mau ada tamu besar ya, Ma?” tanya Rina.

“Calon kakak iparmu,” jawab Irma berbisik, tapi tetap didengar oleh semuanya.

“Kakak ipar?” ucap ulang Rina dengan wajah merengut berpikir.

“Siapa, Ma?” tanya seseorang dari sisi lain.


Semuanya segera beralih memandang kepada sumber suara.


Bersambung: Kejutan di Sore Hari (4B)
Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar