![]() |
| Lambang Kerajaan Samudera Pasai Aceh (kanan) dan Pancasila RI (kiri). (Dok. Jakarta45) |
Dalam catatan sejarah, lambang Garuda
Pancasila dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian
disempurnakan oleh Presiden RI Soekarno (Bung Karno) dan Sultan Hamid II
Lambang Garuda Pancasila
sekarang tak bisa dipisahkan dari kemiripan lambang Kerajaan Samudera
Pasai.
R Indra S Attahashi
menjelaskan, lambang Kerajaan Samudera Pasai berisi "kalimat tauhid"
dan "rukun Islam" dengan rincian: kepala burung adalah kaligrafi basmalah, sayap dan kakinya
kaligrafi ucapan dua kalimat syahadat, dan badan burung berisi rukun Islam.
Seperti yang kita ketahui,
Kerajaan Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang
didirikan oleh Sultan Malikussaleh (Meurah Silu) pada abad ke-13 atau pada
tahun 1267.
Kerajaan Samudera Pasai pada
saat itu dikenal sebagai pusat studi Islam di kawasan Asia Tenggara, hal ini
dikemukakan oleh seorang petualang bernama Ibnu Battutah dalam bukunya Tuhfat al-Nazha. Lambang
kerajaan Islam Samudera Pasai ini dirancang oleh seorang Sultan Samudera Pasai
yaitu Sultan Zainal Abidin. Lambang burung tersebut memiliki makna yaitu
"Syiar Islam yang Kuat".
Indra melanjutkan penjelasannya
bahwa lambang itu disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin Teuku Cik
Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda Aceh yang diangkat pasca
peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Pada saat itu di Aceh Tamiang ada kerajaan
sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu.
Indra menjelaskan, lambang
Kerajaan Samudera Pasai itu sudah ada dalam silsilah keluarganya lebih dari 100
tahun lalu. Dari kakek atau nenek, lambang itu diwariskan dari generasi ke
generasi yang selalu dikisahkan bahwa itu lambang Kerajaan Samudera Pasai.
Lambang itu dilukis oleh Teuku
Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki Utsmani yang ke Aceh ketika
Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan dari Panglima Tujuh Syarif
Attahashi.
Lambang Garuda Pancasila ini
ternyata terinspirasi dari lambang kerajaan Samudera Pasai. Namun terlepas dari
itu semua, sejarawan LIPI Aswi Warman Adam menegaskan kalau klaim itu
menunjukkan kecintaan bangsa Indonesia.
Jadi, jangan beri ruang mereka
yang berani menghina Pancalisa, sebab itu sebenarnya menghina syahadat dan
rukun Islam. Mohon dibagikan ini agar semua orang tahu, semoga
bermanfaat.


0 komentar:
Posting Komentar