![]() |
| Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Peter Maurer. |
Yerusalem, KHILAFAH TERAKHIR - Kombinasi kekerasan yang meningkat, memburuknya
kesehatan dan akses yang buruk ke zona konflik di Negara Bagian Rakhine di
Myanmar, memicu krisis kemanusiaan yang "tidak terkendali", Presiden
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Peter Maurer mengatakannya.
"Kami telah melihat peningkatan besar dalam kekerasan,
tidak hanya antara aktor bersenjata tapi juga warga sipil, yang menghancurkan keluarga
dan membiarkan orang merasa benar-benar ditinggalkan dan dicabut haknya," kata
Maurer dalam konferensi persi di Yerusalem, Kamis (26/10).
Lebih dari 603.000 orang Rohingya telah menyeberang dari
Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus, ketika militer dan polisi melakukan
operasi pembersihan militan, tapi justru menargetkan ratusan ribu warga sipil.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut, pembunuhan, pembakaran
dan pemerkosaan yang dilakukan oleh tentara dan gerombolan warga Buddha etnis Rakhine
operasi pembersihan etnis terhadap Rohingya.
"Saya khawatir bahwa konteks ketakutan dan kekerasan yang
terus berlanjut ini tidak terkendali dan hanya akan menyebabkan perpindahan
lebih banyak orang," kata Maurer.
Pemerintah Myanmar telah memblokir badan-badan kemanusiaan
selain organisasi Palang Merah untuk mengakses bagian utara negara bagian
Rakhine, pusat terjadi kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.
Menurutnya, menjadi satu-satunya lembaga kemanusiaan yang diizinkan
beroperasi di Myanmar memberikan tantangan besar untuk mengakses desa-desa yang
dibakar dan ditinggalkan penghuninya.
"Beberapa rekan saya harus berjalan kaki selama enam
hingga tujuh jam ke sebuah desa,” katanya dan menambahkan bahwa petugasnya
hanya menemukan desa yang kosong.
Namun, pihak berwenang Myanmar baru saja memberi wewenang
kepada staf Palang Merah menggunakan dua helikopter untuk bisa lebih melacak
orang-orang yang kehilangan tempat tinggal.
Mi’raj News Agency
(MINA)


0 komentar:
Posting Komentar