*Dendam Tiga Wanita*
Satu hal yang harus Rala Badar terima, yang dia baru ketahui di kemudian hari, yaitu ternyata dia dan Akira beda keyakinan alias agama yang dianut. Akira adalah anak dari orangtua yang Muslim. Hal itu Rala Badar simpulkan ketika mendengar Akira menyebut nama “Allah” yang merupakan nama tuhannya orang Islam.
Akira memang tidak
melaksanakan ibadah seperti orang Muslim pada umumnya, tetapi dia selalu
membaca doa berbahasa Arab ketika hendak tidur.
Sama seperti mendiang
teman-temannya dulu, Akira tidak lama mendapat pendidikan agama. Masa itu harus
hancur oleh serangan Pasukan Zabaniyah yang membantai orangtua, guru dan
sahabat-sahabat seusianya. Itulah sebabnya dia belum mengerti tentang berbagai ritual
ibadah di dalam keyakinan orangtuanya.
Rala Badar sendiri
memiliki keyakinan agama yang bernama Yudasm yang meyakini semua alam dan
makhluk yang ada di dalamnya memiliki Tuhan. Agama ini tidak memiliki tata cara
ibadah apa pun, hanya keyakinan tentang keberadaan Tuhan. Uniknya, penganut
Yudasm tidak pernah tahu nama tuhan mereka karena menurut mereka Tuhan itu maharahasia,
sehingga pengabdinya pun tidak boleh tahu nama tuhannya, cukup meyakini
keberadaannya saja.
“Ayah! Maukah Ayah mengajariku bertarung dan bermain
pedang?” tanya Akira pada suatu pagi, ketika dia bangun dan melihat Rala Badar sedang
berlatih pedang.
“Apa?” tanya Rala Badar seolah-olah dia tidak mendengar
jelas kalimat permintaan anaknya. Namun kemudian, dia langsung menjawab, “Tapi,
ayahmu ini hanya bekas prajurit biasa, bukan seorang yang mahir. Ayah berlatih
hanya supaya tetap bugar.”
“Ayah mau jika aku tidak bisa melawan jika bertemu
buaya?” tanya Akira seraya tersenyum. Dia yakin pertanyaannya akan menyudutkan
sang ayah.
“Hahaha! Iya, iya. Kau harus bisa bertarung. Suatu hari
nanti kau pun harus bisa mengalahkan buaya,” kata Rala Badar membenarkan
kata-kata Akira.
Maka Rala Badar melatih Akira. Rala Badar harus terkejut,
karena ternyata Akira adalah bocah perempuan yang handal dan sangat cepat
menguasai apa yang diajarkannya. Rala Badar tidak mengalami kesulitan dalam
mengajarkan Akira. Untuk anak seusianya, apalagi anak perempuan, Akira
tergolong tangguh.
Meski Rala Badar tidak bisa dikalahkan oleh Akira, tetapi
anak itu sukses membuatnya kerepotan untuk beberapa kasus.
“Hahaha!” tawa Akira pada saat-saat dia bisa mendesak
ayahnya dalam sparing, apakah itu bermain pedang, tombak, adu ketahanan, hingga
tarung tangan kosong.
Memang Akira tidak pernah menang, tetapi Rala Badar
mengakui bahwa jika Akira duel dengan anak sebayanya, peluang untuk menang
sangat besar, kecuali dia berhadapan dengan anak yang memang sangat terlatih.
Mengingat kelemahan Akira, yaitu trauma di dalam air,
Rala Badar mengajaknya untuk mencoba menghilangkan trauma itu. Rala Badar
mengajak Akira berenang di sungai, tetapi dengan cara yang pelan-pelan.
Awalnya Akira takut. Namun, karena dibujuk dan didesak
terus oleh sang ayah, maka Akira mau.
Meski dia memasukkan tubuh dan kepalanya ke dalam air
yang dangkal, Akira ternyata langsung panik dan buru-buru mengeluarkan
kepalanya dari dalam air.
Ternyata, upaya itu membutuhkan waktu beberapa hari, hingga
akhirnya perjuangan Akira untuk tidak panik saat kepalanya masuk ke air
berhasil. Akira akhirnya bisa tidak berontak dan bisa mengontrol dirinya saat
seluruh tubuh dan kepalanya menyelam. Percobaan yang sama dilakukan di air
dalam, hasilnya Akira bisa tenang, tidak panik atau berontak.
Suatu hari, ketika Rala Badar pergi ke pasar bersama
Akira untuk menjual ikan, ada iring-iringan rombongan berkuda yang lewat di
jalan pasar. Hanya sekedar lewat.
Rombongan berkuda itu tidak berlari, tetapi berjalan
biasa dan dikawal oleh pasukan prajurit pejalan kaki dari Provinsi Banin.
Ternyata orang yang dikawal oleh sekitar sepuluh prajurit
berkuda dan tiga puluh prajurit pejalan kaki adalah seorang bocah lelaki
berusia belasan tahun. Dia mengenakan pakaian bagus dan semi militer. Jika para
prajurit mengenakan baju perang dari kulit tebal, maka dia hanya berpakaian
biasa tanpa baju pelindung. Penampilannya pun lebih pesolek dengan sejumlah
hiasan.
Wajah bocah lelaki itu agak mendongak menunjukkan bahwa
dirinya bukan anak biasa. Dagunya yang terangkat memberi sinyal bahwa dia anak
seorang yang penting, mungkin anak pejabat besar.
Rombongan itu juga membawa bendera biru terang bergambar
singa putih. Itu adalah bendera Pasukan Singa Banin, pasukan keamanan tingkat
provinsi.
Selain itu ada yang membawa panji berwarna putih model
vertikal. Pada kainnya ada tulisan “Putra Gubernur Banin”.
Karena panji yang berstatus itulah, orang-orang di pasar
segera menjura hormat secara umum kepada rombongan yang akan berlalu.
“Anak siapa itu, Balekh? Gagah sekali,” tanya Rala Badar
kepada seorang kenalannya sesama pedagang. Dia berdiri agak di belakang, jadi
tidak turut menghormat.
“Anak ketiga Gubernur Bonelo yang sekolah di Sekolah
Ksatria Banin. Dengar-dengar dari saudara saya yang kerja di kantor gubernur, putranya
ini lulus beberapa tahun lebih cepat karena cerdas dan begitu berbakat.
Karirnya pasti akan mengikuti kedua kakaknya,” jelas pedagang rempah yang
bernama Balekh.
“Wah, hebat,” puji Rala Badar.
“Kenapa kau tidak sekolahkan juga Akira di Sekolah
Ksatria Banin?” tanya Balekh sambil memandang kepada Akira sebentar, lalu
beralih kembali melihat rombongan anak gubernur melintas.
“Itu tidak pernah terpikirkan olehku. Sebab aku dengar, biaya
untuk masuknya saja mahal,” jawab Rala Badar.
“Betul, memang mahal. Namun, aku dengar-dengar, sekolah
itu memberi keringanan biaya bagi putra prajurit pemerintah atau veteran
prajurit. Dengan syarat, wajib lulus tes,” kata Balekh.
“Tes apa?” tanya Rala Badar.
“Tidak tahu. Aku pernah dengar, dulu Bonara mendaftarkan
putranya yang lelaki dengan modal veteran Pasukan Infanteri 100 seperti dirimu.
Tapi sayang, putranya tidak lulus tes. Tidak ada salahnya kau mencoba pergi
mendaftarkan Akira. Kau bawa saja tanda keprajuritanmu waktu ikut berperang.
Sebab, aku lihat Akira bukan anak biasa. Ini demi masa depan anak angkatmu
ini,” ujar Balekh.
Rala Badar yang masih menenteng keranjang berisi ikan
segar itu terdiam berpikir sambil wajahnya manggut-manggut pelan.
“Aku yakin, Rala. Jika putrimu ini bisa berguru di
Sekolah Ksatria Banin, suatu hari nanti dia bisa seperti anak Gubernur Bonelo,
kepulangannya saja dikawal oleh pasukan,” tandas Balekh. Lalu tanyanya kepada
Akira, “Akira, apakah kau mau menjadi gadis nelayan saja atau gadis yang punya
kedudukan tinggi? Jika hanya menjadi gadis nelayan, kau hidup hanya mengurus
dan membantu ayah tuamu ini. Namun, jika kau kelak memiliki kedudukan, bukan
kau yang disuapi oleh ayahmu, tapi kau yang nanti akan menyuapi ayahmu. Karena
uang akan mudah datang jika kita memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan.”
“Jelas aku ingin menjadi gadis berkedudukan tinggi,
Paman,” jawab Akira tegas.
“Dengarkan itu, Rala,” kata Balekh sembari melirik lelaki
yang jauh lebih tua darinya itu.
Rala Badar tidak banyak berkomentar, tetapi terlihat
jelas bahwa dia sedang berpikir. Banyak yang dipikirkannya.
Namun, barulah setelah pulang dari pasar, Rala Badar mengajak anaknya diskusi serius tentang peluang bersekolah di Sekolah Ksatria Banin. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar