*Petualangan Tina dan Ayu*
Tina Cihuy, Ayu Nostalgia dan Salman Alfarisy yang
dikenal dengan nama Trio Antik, hanya bisa duduk diam dalam keheranan di atas
karpet merah nan tebal. Ketiga istri muda dan cantik Kadesa Panen Sate sibuk
menyuguhkan makanan.
Kini Trio Antik dihadapkan dengan berbagai macam
hidangan yang dimiliki oleh keluarga Kepala Desa Waykutuk. Mereka bertiga
seakan-akan adalah tamu besar yang penting dan terhormat.
“Silakan dinikmati hidangan sealakadarnya ini, Nona Tina,
Nona Ayu, Tuan Salman,” kata Mamu Unam.
“Jika ada sajian yang kurang, katakan saja, nanti akan
kami penuhi,” kata Mamu Kania.
“Anggap saja kami semua ini adalah abdi kalian. Jangan
sungkan untuk memerintah kami,” kata Mamu Sunar.
“Benar,” sahut Kadesa Panen Sate seraya tersenyum
ramah. “Silakan, silakan, silakan!”
Hidangan itu begitu ramai dan terlihat penuh
kenikmatan. Seolah semua jenis lauk pauk rumah makan padang ada di dalam
hidangan tersebut.
“Enggak salah, nih?” ucap Ayu Nostalgia masih tidak
percaya dengan apa yang ia hadapi.
“Na-na-nanti disu-su-su….”
“Disusui?” terka Ayu memotong kegagapan Salman.
“Bu-bu-bukan. Disuruh ba-ba-bayar,” ralat Salman.
“Ini maksudnya apa ya, Om?” tanya Tina.
“Kalian adalah utusan Setan Kuning, jadi kami harus
perlakukan sebaik-baiknya,” jawab Kadesa Panen Sate.
“Tapi kami enggak kenal Setang Kucing,” sangkal Tina.
“Setan Kuning, Tina!” ralat Ayu dengan berbisik.
“Be-be-betul. Se-se-setan Kuning gak kenal ki-ki-kita!”
tandas Salman.
“Bukankah kalian masuk lewat buku Setan Kuning?” tanya
Kadesa Panen Sate.
“Belut!” jawab Tina.
“Betul maksudnya. Hehehe!” ralat Ayu seraya
cengengesan.
“Kalian juga muncul di Kolam Keramat, ‘kan?” tanya
Kadesa Panen Sate lagi.
“Belut!” jawab Tina lagi.
“Mungkin!” jawab Ayu.
“Kok mungkin?” tanya Mamu Kania.
“Ko-ko-ko….”
“Kolor?” terka Ayu memotong perkataan Salman yang
dianggap kelamaan.
“Hahaha! Ko-ko-kolamnya tidak ada na-na-namanya!”
tandas Salman.
“Tapi kolam itu namanya Kolam Keramat,” kata Mamu
Kania.
“Oooh!” desa Ayu Nostalgia.
Salman hanya manggut-manggut tanda mengerti.
“Silakan,” kata Kadesa Panen Sate.
“Apa boleh buat,” kata Ayu sambil mengambil ayam
goreng.
“Kok bisa ada bonyok makanan? Kan bukan restowan?” tanya
Tina, masih belum mengerti.
“Makan saja, jangan banyak tanya. Kapan lagi. Biar
kamu gemuk serupa saya, Tina!” kata Ayu.
“Hahaha! Iya, ka-ka-kapan lagi,” timpal Salman pula
sambil mengambil bubur merah putih.
“Itu kan bubur buat kuntilanak, Sal!” seru Tina cepat
memperingatkan Salman.
“Hah!” kejut Salman lalu buru-buru meletakkan kembali
mangkok berisi bubur merah putih.
“Yu, dengarin sawah (saya). Bisa jadi, yang kita lewat
(lihat), beda sama yang merek lewat (mereka lihat),” kata Tina tegang, dengan
sengaja menggunakan bahasa sandi. Kali ini dia memang dengan sengaja dan sadar
memelesetkan beberapa kata dari ucapannya.
Tina melakukan itu agar Kadesa Panen Sate dan ketiga
istrinya tidak mengerti. Hanya Ayu yang mengerti Tina.
“Mungkin wajan-wajan merek adalah toples. Wajan
aslinya adalah wajan-wajan ketan. (Terjemah: Mungkin wajah-wajah mereka adalah
topeng. Wajah aslinya adalah wajah-wajah setan),” kata Tina serius.
“Makam-makam yang disusuhi, mungkin asinya encing, urat, gaun, tahu ayam, tahu
kambing, tahu sapi, tapi kita lewat makam emak. (Terjemah: Makan-makan yang
disuguhi, mungkin aslinya cacing, ulat, daun, tahi ayam, tahi kambing, tahi
sapi, tapi kita lihat makanan enak).”
“Ekk!” Tiba-tiba Ayu berhenti mengunyah. Dia meletakkan
kembali sisa ayamnya di piringnya.
“Ayu, Salaman, kita harus kasur. Saya sudah merinding.
Siap?” kata Tina, lalu bertanya.
Ayu mengangguk.
“Ka-ka-kabur?” tanya Salman dengan berbisik kepada
Ayu.
Ayu mengangguk.
Sementara Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya hanya
senyum-senyum melihat ketiga tamunya yang kasak-kusuk.
“Hutang ketiga,” kata Tina mengingatkan
rekan-rekannya. Dia lalu menghitung, “Sapu, dia, tina. Kasuuur! (Terjemah:
Satu, dua, tiga. Kabuuur!).”
Tina, Ayu dan Salman kompak berdiri lalu cepat
berbalik dan lari terbirit-birit ke luar lewat pintu, bukan jendela.
Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya hanya terkejut
dan heran melihat tindakan Trio Antik tersebut.
Ketiga remaja SMP itu terus berlari terbirit-birit
meninggalkan kediaman Kadesa Panen Sate. Terlihat yang paling tersiksa dalam
berlari itu adalah Ayu. Namun, dia harus berjuang demi merasa aman dari rasa
takut.
Mereka akhirnya berhenti berlari setelah merasa jauh
dari kediaman Kadesa Panen Sate dan memastikan tidak ada yang mengejar.
Ketiganya terengah-engah di bawah pohon beringin besar.
Seolah-olah jantung mereka terasa akan copot dalam beberapa puluh pompaan lagi.
“Jantung saya copot, jantung saya copot!” ucap Ayu
megap-megap sambil membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut yang lemas.
“Kalau comot mah, susah mati kamu, Yu,” kata Tina yang
juga megap-megap dan berkeringat seperti Ayu dan Salman.
“Sudah mati, bukan susah mati, Tina,” ralat Ayu lemas.
“Ke-ke-kenapa?” tanya Salman yang kaburnya hanya
karena rasa solidaritas. “Kenapa jadi ka-ka-kasur, eh, kaaabuuur?”
Ia pun meringis kelelahan.
“Memang kalian enggak gurita? Pas tahu kita masuk
lewat buku, kita langsing diperlakukan seperti raja dan ratu,” kata Tina. Dia
pun menganalisa, “Masa iya, rumah keluarga serep tikus gitu punya banyak makanan
seperti restoran? Kalian pernah dengar cerita tiga arak kambing yang kesemut
nenen sihir. Anak kancing lalu dikasih makam banyak-banyak biar gelut?”
“Biar daging dan lemaknya banyak seperti saya?” tanya
Ayu.
“Iya. Setelah itu, direbus buat bikin sop kemping,”
kata Tina.
“Sop kambing. Mana ada sop kemping,” ralat Ayu.
“Ma-ma-maksudnya kita dimakan dulu, la-la-lalu nanti
dimasak sop?” tanya Salman.
“Dikasih makan dulu, bukan dimakan dulu. Ketularan
Tina nih. Cukup satu saja yang seperti Tina,” kata Ayu.
“Hahaha!”
“Kalian ingat tidak, film Buntet-nya Suzanna?” tanya
Tina.
“Sa-sa-santet kaliii!” ralat Salman dengan tatapan
sewot.
“Iya,” ucap Tina.
“Hahaha! Bu-bu-buntet mah si So-so-somali.”
“Hahaha!” tawa Ayu terbahak.
“Di film itu ada adegan caping dan ulat, dimakan
karena dilihatnya makanan enek,” kata Tina.
“Enak, bukan enek,” ralat Ayu.
“Iya, maksud saya itu. Nah, saya curiga, makanannya
seperti itu.”
“Te-te-terus bagaimana?” tanya Salman.
“Kita perang,” jawab Tina lantang.
“Hah! Pe-pe-perang?” kejut Salman.
“Maksud Tina pulang, Salman,” kata Ayu meralat.
“Ooh.”
“Tina, coba mikir sedikit. Cara pulangnya bagaimana?”
kata Ayu kesal.
“Ke kolom lagi. Kita nyemplung lagi ke kolom,” kata
Tina enteng.
“Enggak mau. Mau bunuh saya?” tolak Ayu. “Kamu
kebanyakan nonton film Suzanna sih. Sudah ketemu orang, eh malah ngajak kabur.”
“Be-be-bentar lagi malam loh,” kata Salman
mengingatkan.
“Saya ada ide,” kata Ayu.
“Apa?”
“A-a-apa?”
“Masih hafal gak sama manteranya?” tanya Ayu.
“Apa ya?” pikir Tina. “Balik bolak balik,
nungging-nungging jangkrik!”
“Sa-sa-salah!” seru Salman.
“Kamu hafal?” tanya Ayu.
“Tong tong tong, ba-ba-balik bolak balik, ja-ja-jangkrik
nungging-nungging, hoi!”
“Sarah!” Giliran Tina yang menyalahkan Salman.
“Trus yang be-be-benar?”
“Kayak tadi,” jawab Tina.
“Saaalah!” bantah Salman.
Bress!
Tiba-tiba ketiganya ditimpa jala besar lagi lebar yang
jatuh dari atas pohon beringin.
“Tangkap! Cepat tangkap!” teriak satu suara lelaki
besar tiba-tiba.
Trio Antik seketika panik di dalam jeratan jala. (RH)

.jpeg)
Wkwkwk🤣🤣🤣 manteranya itu setelah di bolak balik langsung nungging... Buka buka woi gitu 🤣🤣🤣🤣🤣
BalasHapusgi mana mau bener, kalau manteranya digagapin
Hapus