Bingung Pulang, Bab8 Petualangan Tina dan Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*

Tina Cihuy, Ayu Nostalgia dan Salman Alfarisy yang dikenal dengan nama Trio Antik, hanya bisa duduk diam dalam keheranan di atas karpet merah nan tebal. Ketiga istri muda dan cantik Kadesa Panen Sate sibuk menyuguhkan makanan.

Kini Trio Antik dihadapkan dengan berbagai macam hidangan yang dimiliki oleh keluarga Kepala Desa Waykutuk. Mereka bertiga seakan-akan adalah tamu besar yang penting dan terhormat.

“Silakan dinikmati hidangan sealakadarnya ini, Nona Tina, Nona Ayu, Tuan Salman,” kata Mamu Unam.

“Jika ada sajian yang kurang, katakan saja, nanti akan kami penuhi,” kata Mamu Kania.

“Anggap saja kami semua ini adalah abdi kalian. Jangan sungkan untuk memerintah kami,” kata Mamu Sunar.

“Benar,” sahut Kadesa Panen Sate seraya tersenyum ramah. “Silakan, silakan, silakan!”

Hidangan itu begitu ramai dan terlihat penuh kenikmatan. Seolah semua jenis lauk pauk rumah makan padang ada di dalam hidangan tersebut.

“Enggak salah, nih?” ucap Ayu Nostalgia masih tidak percaya dengan apa yang ia hadapi.

“Na-na-nanti disu-su-su….”

“Disusui?” terka Ayu memotong kegagapan Salman.

“Bu-bu-bukan. Disuruh ba-ba-bayar,” ralat Salman.

“Ini maksudnya apa ya, Om?” tanya Tina.

“Kalian adalah utusan Setan Kuning, jadi kami harus perlakukan sebaik-baiknya,” jawab Kadesa Panen Sate.

“Tapi kami enggak kenal Setang Kucing,” sangkal Tina.

“Setan Kuning, Tina!” ralat Ayu dengan berbisik.

“Be-be-betul. Se-se-setan Kuning gak kenal ki-ki-kita!” tandas Salman.

“Bukankah kalian masuk lewat buku Setan Kuning?” tanya Kadesa Panen Sate.

“Belut!” jawab Tina.

“Betul maksudnya. Hehehe!” ralat Ayu seraya cengengesan.

“Kalian juga muncul di Kolam Keramat, ‘kan?” tanya Kadesa Panen Sate lagi.

“Belut!” jawab Tina lagi.

“Mungkin!” jawab Ayu.

“Kok mungkin?” tanya Mamu Kania.

“Ko-ko-ko….”

“Kolor?” terka Ayu memotong perkataan Salman yang dianggap kelamaan.

“Hahaha! Ko-ko-kolamnya tidak ada na-na-namanya!” tandas Salman.

“Tapi kolam itu namanya Kolam Keramat,” kata Mamu Kania.

“Oooh!” desa Ayu Nostalgia.

Salman hanya manggut-manggut tanda mengerti.

“Silakan,” kata Kadesa Panen Sate.

“Apa boleh buat,” kata Ayu sambil mengambil ayam goreng.

“Kok bisa ada bonyok makanan? Kan bukan restowan?” tanya Tina, masih belum mengerti.

“Makan saja, jangan banyak tanya. Kapan lagi. Biar kamu gemuk serupa saya, Tina!” kata Ayu.

“Hahaha! Iya, ka-ka-kapan lagi,” timpal Salman pula sambil mengambil bubur merah putih.

“Itu kan bubur buat kuntilanak, Sal!” seru Tina cepat memperingatkan Salman.

“Hah!” kejut Salman lalu buru-buru meletakkan kembali mangkok berisi bubur merah putih.

“Yu, dengarin sawah (saya). Bisa jadi, yang kita lewat (lihat), beda sama yang merek lewat (mereka lihat),” kata Tina tegang, dengan sengaja menggunakan bahasa sandi. Kali ini dia memang dengan sengaja dan sadar memelesetkan beberapa kata dari ucapannya.

Tina melakukan itu agar Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya tidak mengerti. Hanya Ayu yang mengerti Tina.

“Mungkin wajan-wajan merek adalah toples. Wajan aslinya adalah wajan-wajan ketan. (Terjemah: Mungkin wajah-wajah mereka adalah topeng. Wajah aslinya adalah wajah-wajah setan),” kata Tina serius. “Makam-makam yang disusuhi, mungkin asinya encing, urat, gaun, tahu ayam, tahu kambing, tahu sapi, tapi kita lewat makam emak. (Terjemah: Makan-makan yang disuguhi, mungkin aslinya cacing, ulat, daun, tahi ayam, tahi kambing, tahi sapi, tapi kita lihat makanan enak).”

“Ekk!” Tiba-tiba Ayu berhenti mengunyah. Dia meletakkan kembali sisa ayamnya di piringnya.

“Ayu, Salaman, kita harus kasur. Saya sudah merinding. Siap?” kata Tina, lalu bertanya.

Ayu mengangguk.

“Ka-ka-kabur?” tanya Salman dengan berbisik kepada Ayu.

Ayu mengangguk.

Sementara Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya hanya senyum-senyum melihat ketiga tamunya yang kasak-kusuk.

“Hutang ketiga,” kata Tina mengingatkan rekan-rekannya. Dia lalu menghitung, “Sapu, dia, tina. Kasuuur! (Terjemah: Satu, dua, tiga. Kabuuur!).”

Tina, Ayu dan Salman kompak berdiri lalu cepat berbalik dan lari terbirit-birit ke luar lewat pintu, bukan jendela.

Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya hanya terkejut dan heran melihat tindakan Trio Antik tersebut.

Ketiga remaja SMP itu terus berlari terbirit-birit meninggalkan kediaman Kadesa Panen Sate. Terlihat yang paling tersiksa dalam berlari itu adalah Ayu. Namun, dia harus berjuang demi merasa aman dari rasa takut.

Mereka akhirnya berhenti berlari setelah merasa jauh dari kediaman Kadesa Panen Sate dan memastikan tidak ada yang mengejar.

Ketiganya terengah-engah di bawah pohon beringin besar. Seolah-olah jantung mereka terasa akan copot dalam beberapa puluh pompaan lagi.

“Jantung saya copot, jantung saya copot!” ucap Ayu megap-megap sambil membungkuk dengan kedua tangan memegang lutut yang lemas.

“Kalau comot mah, susah mati kamu, Yu,” kata Tina yang juga megap-megap dan berkeringat seperti Ayu dan Salman.

“Sudah mati, bukan susah mati, Tina,” ralat Ayu lemas.

“Ke-ke-kenapa?” tanya Salman yang kaburnya hanya karena rasa solidaritas. “Kenapa jadi ka-ka-kasur, eh, kaaabuuur?”

Ia pun meringis kelelahan.

“Memang kalian enggak gurita? Pas tahu kita masuk lewat buku, kita langsing diperlakukan seperti raja dan ratu,” kata Tina. Dia pun menganalisa, “Masa iya, rumah keluarga serep tikus gitu punya banyak makanan seperti restoran? Kalian pernah dengar cerita tiga arak kambing yang kesemut nenen sihir. Anak kancing lalu dikasih makam banyak-banyak biar gelut?”

“Biar daging dan lemaknya banyak seperti saya?” tanya Ayu.

“Iya. Setelah itu, direbus buat bikin sop kemping,” kata Tina.

“Sop kambing. Mana ada sop kemping,” ralat Ayu.

“Ma-ma-maksudnya kita dimakan dulu, la-la-lalu nanti dimasak sop?” tanya Salman.

“Dikasih makan dulu, bukan dimakan dulu. Ketularan Tina nih. Cukup satu saja yang seperti Tina,” kata Ayu.

“Hahaha!”

“Kalian ingat tidak, film Buntet-nya Suzanna?” tanya Tina.

“Sa-sa-santet kaliii!” ralat Salman dengan tatapan sewot.

“Iya,” ucap Tina.

“Hahaha! Bu-bu-buntet mah si So-so-somali.”

“Hahaha!” tawa Ayu terbahak.

“Di film itu ada adegan caping dan ulat, dimakan karena dilihatnya makanan enek,” kata Tina.

“Enak, bukan enek,” ralat Ayu.

“Iya, maksud saya itu. Nah, saya curiga, makanannya seperti itu.”

“Te-te-terus bagaimana?” tanya Salman.

“Kita perang,” jawab Tina lantang.

“Hah! Pe-pe-perang?” kejut Salman.

“Maksud Tina pulang, Salman,” kata Ayu meralat.

“Ooh.”

“Tina, coba mikir sedikit. Cara pulangnya bagaimana?” kata Ayu kesal.

“Ke kolom lagi. Kita nyemplung lagi ke kolom,” kata Tina enteng.

“Enggak mau. Mau bunuh saya?” tolak Ayu. “Kamu kebanyakan nonton film Suzanna sih. Sudah ketemu orang, eh malah ngajak kabur.”

“Be-be-bentar lagi malam loh,” kata Salman mengingatkan.

“Saya ada ide,” kata Ayu.

“Apa?”

“A-a-apa?”

“Masih hafal gak sama manteranya?” tanya Ayu.

“Apa ya?” pikir Tina. “Balik bolak balik, nungging-nungging jangkrik!”

“Sa-sa-salah!” seru Salman.

“Kamu hafal?” tanya Ayu.

“Tong tong tong, ba-ba-balik bolak balik, ja-ja-jangkrik nungging-nungging, hoi!”

“Sarah!” Giliran Tina yang menyalahkan Salman.

“Trus yang be-be-benar?”

“Kayak tadi,” jawab Tina.

“Saaalah!” bantah Salman.

Bress!

Tiba-tiba ketiganya ditimpa jala besar lagi lebar yang jatuh dari atas pohon beringin.

“Tangkap! Cepat tangkap!” teriak satu suara lelaki besar tiba-tiba.

Trio Antik seketika panik di dalam jeratan jala. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. Wkwkwk🤣🤣🤣 manteranya itu setelah di bolak balik langsung nungging... Buka buka woi gitu 🤣🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus