Kadesa Panen Sate, Bab7 Petualangan Tina dan Ayu


*Petualangan Tina dan Ayu*

Kapasitas fisik Ayu Nostalgia yang terbatas karena ekstra lemak, membuat Trio Antik harus kehilangan Somali, lelaki cebol yang suka berbohong.

Namun, arah pelarian Somali menuntun Tina, Ayu dan Salman sampai ke Desa Waykutuk yang ada di balik bukit. Perkampungan itu memiliki rumah-rumah berbahan batu dan kayu dengan model yang seragam.

Suasana desa itu tampak sepi dari aktivitas manusia, hanya hewan ternak yang bebas berkeliaran di lingkungan desa itu.

“Itu mereka, Kadesa! Orang-orang asing yang sudah melecehkanku!” Somali berteriak di halaman sebuah rumah besar.

Tampak seorang lelaki berusia kisaran separuh abad dengan brewok tipis yang hitam. Lelaki bertubuh besar dan kekar itu duduk bersila di balai-balai papan di halaman rumahnya. Lelaki bertelanjang dada itu adalah Kepala Desa Waykutuk, Kadesa Panen Sate.

Di sekitar Kadesa Panen Sate ada tiga orang wanita muda-muda dan cantik-cantik. Kulit mereka putih-putih dan bersih-bersih. Satu wanita sibuk memijiti paha Kadesa Panen Sate, namanya Mamu Unam. Satu wanita sibuk memijiti bahu Kadesa, namanya Mamu Kania. Dan satu wanita lagi sibuk mengupas kulit apel, namanya Mamu Sunar. Ketiga wanita muda lagi cantik itu adalah istri-istri Kadesa Panen Sate.

“Mereka masih anak-anak,” kata Kadesa Panen Sate setelah melihat Trio Antik.

“Setiap hari kamu selalu bawa masalah, Somali,” kata Mamu Unam.

“Pasti kamu yang bikin ulah!” tukas Mamu Sunar.

“Kamu mungkir lagi dari baktimu. Seharusnya kamu ada di laut sekarang,” kata Mamu Kania.

Tina dan dua sahabatnya memasuki halaman rumah Kadesa Panen Sate.

“Ru-ru-rupanya kamu di sini se-se-sembunyi!” teriak Salman sambil menunjuk Somali.

“Kok bicaranya begitu?” tanya Mamu Kania.

“Itu yang namanya gagap,” jawab Mamu Sunar.

“Somay!” panggil Tina pula.

“Hei! Nama saya Somali, bukan Somay!” protes Somali.

“Sunil Shetty! Hahaha! Sunil Shetty, bintang film India. Foto dong, Tina!” kata Ayu girang.

Seenaknya saja Ayu pergi duduk di balai sambil berpose minta difoto bersama Kadesa Panen Sate, yang mirip aktor Bollywood Sunil Shetty.

“Ayu! Dikira kita lagi ribuan. Woi! Kita lagi nyasar!” teriak Tina.

“Kamu siapa, main dekat-dekat suami kita?” tanya Mamu Unam sambil mendorong kepala Ayu.

“Adduh! Galak banget!” keluh Ayu, lalu buru-buru menjauh.

“Su-su-suami kita?” ucap ulang Salman terkejut.

“Itu bergiga istri Om?” tanya Tina tidak percaya.

“Iya, mau jadi yang keempat?” jawab Kadesa Panen Sate, lalu menawarkan.

“Hehehe! Saya masih selokan,” kata Tina tertawa cengengesan.

“Sekolah, Tina, bukan selokan. Dikira ikan gendut,” ralat Ayu.

“Hahaha!” tawa semuanya, kecuali Tina dan Ayu.

“Om doyan bengek. Hehehe!” kata Tina.

“Bengek?” ucap ulang Kadesa Panen Sate tidak mengerti.

“Eh, doyan banget maksudnya,” ralat Tina.

“Hahaha!” tawa Ayu dan Kadesa Panen Sate.

“Eh, kalian dari desa mana?” tanya Kadesa.

“Dari Negeri Indonesia, Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selamat, Kemacetan Kalianda!” jawab Tina lengkap.

“Mamu Sunar enggak ngerti,” kata Mamu Sunar.

“Hahaha! Ca-ca-cantik-cantik be-be-be….”

“Bego?” terka Ayu memotong perkataan Salman.

“Iya. Hahaha!” teriak Salman lalu tertawa terbahak sendiri.

“Diam!” bentak Kadesa Panen Sate marah.

Ketiga remaja itu sontak diam dan gemetar di tempat. Tina dan Ayu berpelukan dengan wajah pias. Salman yang bingung tidak ada teman berpelukan, memilih memeluk badannya sendiri.

“Berani-beraninya menghina istri-istri Kadesa. Mau ditangkap?” kata Somali.

“Si-si-si Ayu tuh!” tuding Salman.

“Kamu yang bilang, saya hanya mempercepat!” sangkal Ayu.

“Jangan selang nyalahin. Kita harus bersagu. Bersapu kita teguh, berdebat kita cerai,” kata Tina.

“Hahaha! Panggil prajurit desa, tangkap!” perintah Kadesa Panen Sate yang didahului dengan tawanya.

“Kadesa lupa ya? Semua prajurit desa pergi menjala di laut,” kata Mamu Kania.

“Saya lupa. Kalau begitu tunggu prajurit desa pulang,” kata Kadesa Panen Sate. Lalu tanyanya kepada Trio Antik, “Jawab dengan jujur. Kalian dari mana?”

“La-la-lampug,” jawab Salman.

“Di mana itu?” tanya Kadesa Panen Sate.

“Di Indonesia,” jawab Ayu.

“Di mana itu?” tanya Kadesa lagi.

“Adduh, semua enggak tahu,” keluh Tina.

“Begini ceritanya, Om Sunil….”

“Nama saya Panen Sate, bukan Sunil!” hardik Kadesa memotong perkataan Ayu.

“Hahaha…!” tawa Ayu dan Salman.

“Kenapa tertawa, hah?!” bentak Kadesa Panen Sate lagi.

“Sejak kapan sate dipanen, Om?” tanya Ayu. Terlalu lucunya nama kepala desa lebih berat dibanding rasa takut yang juga melanda mereka.

“Hei! Jangan kurang acar!” teriak Somali pula.

“Ajar!” ralat Ayu.

“Acar!” Somali ngotot.

“Ajar!” tandas Ayu lagi.

“Acar!”

“Hentikan!” teriak Kadesa Panen Sate keras.

Ayu dan Somali berhenti berdebat.

“Kalian siapa?” tanya Kadesa Panen Sate.

“Saya Tina….”

“Eeeh! Jangan meledek. Itu nama ibu saya!” tukas Somali memotong perkenalan Tina.

“Heh, siapa yang meledek, Cebok!” balas Tina. “Nama saya memang Tina. Ibu kamu tuh yang Tina gayungan!”

“Gadungan, bukan gayungan, Tina. Memangnya Nenek Gayung,” ralat Ayu.

“Nama ibu saya memang Tina. Tina Bo Hai. Bukan Tina Gayungan!” debat Somali.

“Hahaha! Tina Bo Hai!” kata Ayu sambil menepak pantat Tina.

Pak!

“Aww!” pekik Tina terkejut.

“Hentikan! Hen ti kan!” teriak Kadesa Panen Sate.

Tina dan Somali berhenti berdebat.

“Ibu kamu Tina Bo Hai!” kata Kadesa Panen Sate sambil menunjuk Somali. Dia pun menunjuk Tina. “Kamu Tina!”

“Benar!” seru Tina dan Somali bersamaan sambil sama-sama menunjuk Kadesa Panen Sate.

“Jangan ribut lagi masalah tukar nama!” tandas Kadesa Panen Sate.

“Nah, yang gendut ini namanya Ayu Nistagia….”

“Ayu Nostalgia, Tinaaa! Sejak kapan saya nista?” ralat Ayu dengan menggeram.

“Iya, maksud saya itu. Nah yang garap ini namanya Salaman Alfarisi, putra jerigen kepala dan pisang,” kata Tina lagi.

“Sa-sa-salman Alfa-fa-farisy!” ralat Salman pula.

“Ya,” ucap Tina mengangguk tanpa dosa.

“Putra jerigen kepala? Maksudnya tukang penggal kepala?” tanya Kadesa tidak mengerti.

“Maksud Tina itu juragan kelapa, Om,” ralat Ayu.

“Ayu, lanjutkan ceritamu!” perintah Kadesa Panen Sate.

“Begini ceritanya, Om Sate. Waktu kita lagi ngerjain PR di rumah Tina, Salman baca mantera dalam buku Pintu Setan Kuning….”

“Buku Pintu Setan Kuning?” ucap ulang Mamu Kania cukup terkejut.

“Iya,” jawab Tina.

Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya, ditambah Somali, terkejut.

“Kalian keluar dari Kolam Keramat?” tanya Kadesa Panen Sate.

“Kolam keramas?” Tina tidak mengerti.

“Kolam Keramat, Tina!” ralat Ayu.

“Somali, cepat panggil Dukun Rajo!” perintah Kadesa Panen Sate bernada tegang.

“Suap! Eh, siap!” sahut Somali.

“Ada apa, Om Sate? Kok sepertinya cawat gitu?” tanya Tina yang melihat perubahan warna muka Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya.

“Hahaha! Cawat punya siapa, Tina? Gawat, bukan cawat!” ralat Ayu yang tidak bisa menahan tawanya.

“Ah, tidak apa-apa. Hahaha!” jawab Kadesa Panen Sate lalu tertawa pelan tapi terkesan dipaksakan. Ia kemudian bersikap ramah. “Kami ucapkan selamat datang di Desa Waykutuk ini!”

“Iya, selamat datang, semoga kalian bisa betah di sini,” kata Mamu Unam.

“Ayu, ada yang aneh!” bisik Tina.

“Iya,” angguk Ayu.

“Ha-ha-ha.…”

“Kenapa tertawa, Sal?” tanya Tina.

“Ha-ha-hati-hati!” kata Salman setengah berbisik. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar: