*Petualangan Tina dan Ayu*
Kapasitas fisik Ayu Nostalgia yang terbatas karena
ekstra lemak, membuat Trio Antik harus kehilangan Somali, lelaki cebol yang
suka berbohong.
Namun, arah pelarian Somali menuntun Tina, Ayu dan Salman
sampai ke Desa Waykutuk yang ada di balik bukit. Perkampungan itu memiliki
rumah-rumah berbahan batu dan kayu dengan model yang seragam.
Suasana desa itu tampak sepi dari aktivitas manusia,
hanya hewan ternak yang bebas berkeliaran di lingkungan desa itu.
“Itu mereka, Kadesa! Orang-orang asing yang sudah
melecehkanku!” Somali berteriak di halaman sebuah rumah besar.
Tampak seorang lelaki berusia kisaran separuh abad
dengan brewok tipis yang hitam. Lelaki bertubuh besar dan kekar itu duduk
bersila di balai-balai papan di halaman rumahnya. Lelaki bertelanjang dada itu
adalah Kepala Desa Waykutuk, Kadesa Panen Sate.
Di sekitar Kadesa Panen Sate ada tiga orang wanita
muda-muda dan cantik-cantik. Kulit mereka putih-putih dan bersih-bersih. Satu
wanita sibuk memijiti paha Kadesa Panen Sate, namanya Mamu Unam. Satu wanita
sibuk memijiti bahu Kadesa, namanya Mamu Kania. Dan satu wanita lagi sibuk
mengupas kulit apel, namanya Mamu Sunar. Ketiga wanita muda lagi cantik itu
adalah istri-istri Kadesa Panen Sate.
“Mereka masih anak-anak,” kata Kadesa Panen Sate
setelah melihat Trio Antik.
“Setiap hari kamu selalu bawa masalah, Somali,” kata
Mamu Unam.
“Pasti kamu yang bikin ulah!” tukas Mamu Sunar.
“Kamu mungkir lagi dari baktimu. Seharusnya kamu ada
di laut sekarang,” kata Mamu Kania.
Tina dan dua sahabatnya memasuki halaman rumah Kadesa
Panen Sate.
“Ru-ru-rupanya kamu di sini se-se-sembunyi!” teriak Salman
sambil menunjuk Somali.
“Kok bicaranya begitu?” tanya Mamu Kania.
“Itu yang namanya gagap,” jawab Mamu Sunar.
“Somay!” panggil Tina pula.
“Hei! Nama saya Somali, bukan Somay!” protes Somali.
“Sunil Shetty! Hahaha! Sunil Shetty, bintang film
India. Foto dong, Tina!” kata Ayu girang.
Seenaknya saja Ayu pergi duduk di balai sambil berpose
minta difoto bersama Kadesa Panen Sate, yang mirip aktor Bollywood Sunil
Shetty.
“Ayu! Dikira kita lagi ribuan. Woi! Kita lagi nyasar!”
teriak Tina.
“Kamu siapa, main dekat-dekat suami kita?” tanya Mamu
Unam sambil mendorong kepala Ayu.
“Adduh! Galak banget!” keluh Ayu, lalu buru-buru
menjauh.
“Su-su-suami kita?” ucap ulang Salman terkejut.
“Itu bergiga istri Om?” tanya Tina tidak percaya.
“Iya, mau jadi yang keempat?” jawab Kadesa Panen Sate,
lalu menawarkan.
“Hehehe! Saya masih selokan,” kata Tina tertawa
cengengesan.
“Sekolah, Tina, bukan selokan. Dikira ikan gendut,”
ralat Ayu.
“Hahaha!” tawa semuanya, kecuali Tina dan Ayu.
“Om doyan bengek. Hehehe!” kata Tina.
“Bengek?” ucap ulang Kadesa Panen Sate tidak mengerti.
“Eh, doyan banget maksudnya,” ralat Tina.
“Hahaha!” tawa Ayu dan Kadesa Panen Sate.
“Eh, kalian dari desa mana?” tanya Kadesa.
“Dari Negeri Indonesia, Provinsi Lampung, Kabupaten
Lampung Selamat, Kemacetan Kalianda!” jawab Tina lengkap.
“Mamu Sunar enggak ngerti,” kata Mamu Sunar.
“Hahaha! Ca-ca-cantik-cantik be-be-be….”
“Bego?” terka Ayu memotong perkataan Salman.
“Iya. Hahaha!” teriak Salman lalu tertawa terbahak
sendiri.
“Diam!” bentak Kadesa Panen Sate marah.
Ketiga remaja itu sontak diam dan gemetar di tempat. Tina
dan Ayu berpelukan dengan wajah pias. Salman yang bingung tidak ada teman
berpelukan, memilih memeluk badannya sendiri.
“Berani-beraninya menghina istri-istri Kadesa. Mau
ditangkap?” kata Somali.
“Si-si-si Ayu tuh!” tuding Salman.
“Kamu yang bilang, saya hanya mempercepat!” sangkal
Ayu.
“Jangan selang nyalahin. Kita harus bersagu. Bersapu
kita teguh, berdebat kita cerai,” kata Tina.
“Hahaha! Panggil prajurit desa, tangkap!” perintah
Kadesa Panen Sate yang didahului dengan tawanya.
“Kadesa lupa ya? Semua prajurit desa pergi menjala di
laut,” kata Mamu Kania.
“Saya lupa. Kalau begitu tunggu prajurit desa pulang,”
kata Kadesa Panen Sate. Lalu tanyanya kepada Trio Antik, “Jawab dengan jujur.
Kalian dari mana?”
“La-la-lampug,” jawab Salman.
“Di mana itu?” tanya Kadesa Panen Sate.
“Di Indonesia,” jawab Ayu.
“Di mana itu?” tanya Kadesa lagi.
“Adduh, semua enggak tahu,” keluh Tina.
“Begini ceritanya, Om Sunil….”
“Nama saya Panen Sate, bukan Sunil!” hardik Kadesa
memotong perkataan Ayu.
“Hahaha…!” tawa Ayu dan Salman.
“Kenapa tertawa, hah?!” bentak Kadesa Panen Sate lagi.
“Sejak kapan sate dipanen, Om?” tanya Ayu. Terlalu
lucunya nama kepala desa lebih berat dibanding rasa takut yang juga melanda
mereka.
“Hei! Jangan kurang acar!” teriak Somali pula.
“Ajar!” ralat Ayu.
“Acar!” Somali ngotot.
“Ajar!” tandas Ayu lagi.
“Acar!”
“Hentikan!” teriak Kadesa Panen Sate keras.
Ayu dan Somali berhenti berdebat.
“Kalian siapa?” tanya Kadesa Panen Sate.
“Saya Tina….”
“Eeeh! Jangan meledek. Itu nama ibu saya!” tukas Somali
memotong perkenalan Tina.
“Heh, siapa yang meledek, Cebok!” balas Tina. “Nama
saya memang Tina. Ibu kamu tuh yang Tina gayungan!”
“Gadungan, bukan gayungan, Tina. Memangnya Nenek
Gayung,” ralat Ayu.
“Nama ibu saya memang Tina. Tina Bo Hai. Bukan Tina
Gayungan!” debat Somali.
“Hahaha! Tina Bo Hai!” kata Ayu sambil menepak pantat
Tina.
Pak!
“Aww!” pekik Tina terkejut.
“Hentikan! Hen ti kan!” teriak Kadesa Panen Sate.
Tina dan Somali berhenti berdebat.
“Ibu kamu Tina Bo Hai!” kata Kadesa Panen Sate sambil
menunjuk Somali. Dia pun menunjuk Tina. “Kamu Tina!”
“Benar!” seru Tina dan Somali bersamaan sambil
sama-sama menunjuk Kadesa Panen Sate.
“Jangan ribut lagi masalah tukar nama!” tandas Kadesa
Panen Sate.
“Nah, yang gendut ini namanya Ayu Nistagia….”
“Ayu Nostalgia, Tinaaa! Sejak kapan saya nista?” ralat
Ayu dengan menggeram.
“Iya, maksud saya itu. Nah yang garap ini namanya Salaman
Alfarisi, putra jerigen kepala dan pisang,” kata Tina lagi.
“Sa-sa-salman Alfa-fa-farisy!” ralat Salman pula.
“Ya,” ucap Tina mengangguk tanpa dosa.
“Putra jerigen kepala? Maksudnya tukang penggal
kepala?” tanya Kadesa tidak mengerti.
“Maksud Tina itu juragan kelapa, Om,” ralat Ayu.
“Ayu, lanjutkan ceritamu!” perintah Kadesa Panen Sate.
“Begini ceritanya, Om Sate. Waktu kita lagi ngerjain
PR di rumah Tina, Salman baca mantera dalam buku Pintu Setan Kuning….”
“Buku Pintu Setan Kuning?” ucap ulang Mamu Kania cukup
terkejut.
“Iya,” jawab Tina.
Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya, ditambah Somali,
terkejut.
“Kalian keluar dari Kolam Keramat?” tanya Kadesa Panen
Sate.
“Kolam keramas?” Tina tidak mengerti.
“Kolam Keramat, Tina!” ralat Ayu.
“Somali, cepat panggil Dukun Rajo!” perintah Kadesa
Panen Sate bernada tegang.
“Suap! Eh, siap!” sahut Somali.
“Ada apa, Om Sate? Kok sepertinya cawat gitu?” tanya Tina
yang melihat perubahan warna muka Kadesa Panen Sate dan ketiga istrinya.
“Hahaha! Cawat punya siapa, Tina? Gawat, bukan cawat!”
ralat Ayu yang tidak bisa menahan tawanya.
“Ah, tidak apa-apa. Hahaha!” jawab Kadesa Panen Sate
lalu tertawa pelan tapi terkesan dipaksakan. Ia kemudian bersikap ramah. “Kami
ucapkan selamat datang di Desa Waykutuk ini!”
“Iya, selamat datang, semoga kalian bisa betah di
sini,” kata Mamu Unam.
“Ayu, ada yang aneh!” bisik Tina.
“Iya,” angguk Ayu.
“Ha-ha-ha.…”
“Kenapa tertawa, Sal?” tanya Tina.
“Ha-ha-hati-hati!” kata Salman setengah berbisik. (RH)


Kalo tak salah ingat mereka pernah kaya mau jd tumbal atau apa gitu ya
BalasHapusIya, nanti
Hapus