Pengetuk Kamar Mandi, Bab8 Sembilan Ketukan


*Sembilan Ketukan*

 

Di sore hari, menjelang magrib.

Eko Subagyo sudah selesai mandi dan sudah rapi. Dia duduk santai di depan rumahnya, bersama beberapa orang tetangga.

Sutrisno: Ko, temanin saya, yuk!

Eko: Ke mana?

Sutrisno: Temanin saya mandi.

Eko: Enggak enggak enggak. Mandi saja sendiri. Tenang saja, kuntilanaknya enggak akan muncul jam segini.

Sutrisno: Ya sudahlah.

Sutrisno agak tenang sedikit, meski masih terbayang sosok kuntilanak semalam.

Sutrisno pun pergi ke kamar mandi, terlebih kulitnya sudah terasa sangat lengket.

Byur byur byur!

Sutrisno meyiram tubuhnya. Kemudian pakai sabun.

Tok tok tok! (3X)

Alangkah terkejutnya Sutrisno. Dia seketika terdiam seperti orang kemasukan. Jantungnya berdetak kencang laksana mau copot. Ia berasa ingin mati.

Sembilan ketukan berbunyi di pintu kamar mandi.

Sutrisno diam saja dengan posisi sedang memegang gayung berisi air. Sabun masih melekat di badannya.

Eko: Hahahak!

Setelah diam dua menit lamanya, akhirnya Sutrisno mendengar suara tawa Eko di luar kamar mandi.

Sutrisno: An****! Sa**! Mon***! Kutu Busuk! (Nama-nama binatang)

Sutrisno: Parah kamu, Ko! Brensek! (Marah bukan main)

Byur byur byur!

Sutrisno buru-buru menyiram badannya.

Sutrisno: Sialan anak ini! Kerjain saya! Awas nanti! (Marah-marah sendiri)

Selesai mandi, Sutrisno buru-buru membuka pintu dan keluar.

Sutrisno: Hah!

Sutrisno terkejut lemas dan refleks melangkah mundur masuk ke kamar mandi lagi.

Bduk!

Saat mundur, kaki Sutrisno tersandung semen pembatas di bawah pintu kamar mandi, membuatnya jatuh terduduk di lantai.

Sebelumnya, Sutrisno melihat satu sosok perempuan pakai rok putih dan berambut panjang. Tubuh perempuan itu menggantung di atap rumah seperti gantung diri. Kedua tangannya terjuntai dan kakinya tidak terlihat. Kepalanya goyang-goyang, tapi wajahnya tidak terlihat.

Kuntilanak: Hihihi …!

Kuntilanak itu tertawa kencang sekali.

Sutrisno: Ekooo! Ekooo!

Sutrisna teriak histeris ketakutan sambil memejamkan mata.

Eko datang berlari ke kamar mandi karena mendengar teriakan Sutrisno.

Eko: Tri, kamu kenapa, Tri?!

Saat Sutrisna membuka matanya, di pintu kamar mandi sudah ada Eko Subagyo.

Beberapa tetangga yang sedang nogkrong di depan rumah juga datang untuk melihat apa yang terjadi.

Tetangga 1: Kenapa, kenapa, kenapa?

Eko: Biasa, ada yang suka sama Mas Tri. (Sambil tersenyum lebar)

Tetangga 2: Kenapa sih?

Eko: Itu ada yang dikasih lihat sama kuntilanak. Hahaha!

Sutrisno masih pucat, belum bisa ngomong.

Tetangga 1: Ambilkan air minum!

Sutrisno yang masih pakai handuk lalu diberi minum, diberi rokok.

Setelah Sutrisno cukup tenang, barulah Eko dan yang lainnya bertanya lagi.

Eko: Kamu kenapa, Tri?

Sutrisno pun bercerita bahwa dia melihat kuntilanak menggantung di atap rumah.

Sutrisno: Gara-gara Eko sih, sialan banget, pakai ketok-ketok pintu.

Eko: Kok saya, Tri? Jangan sembarangan kamu, Tri!

Sutrisno: Kamu kan tadi, yang ketok-ketok pintu kamar mandi? Orang kamu ketawa. Kamu ketok-ketok saja jantung saya sudah mau copot, terus kamu ketawa. Siapa kalau bukan kamu?

Eko: Sumpah demi Allah, Tri! Saya enggak ketok-ketok pintu kamar mandi. Dari tadi saya di depan sama anak-anak.

Sutrisno: Jangan sumpah-sumpahan begitulah!

Eko: Kalau enggak percaya, tanya nih sama anak-anak.

Eko: Saya tadi masuk, gak? (Bertanya kepada tetangga)

Tetangga 1: Eko di sini kok dari tadi bareng kita.

Sutrisno: Loh, terus yang tadi ngetok siapa?

Eko: Ya enggak tahu. Itu kali kuntilanaknya pinjam suaraku. Dia yang ngetok-ngetok biar kamu tenang.

Ramai-Ramai: Hahaha …! (RH)

 

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar: