*Sembilan Ketukan*
Di sore hari,
menjelang magrib.
Eko Subagyo sudah
selesai mandi dan sudah rapi. Dia duduk santai di depan rumahnya, bersama
beberapa orang tetangga.
Sutrisno: Ko, temanin
saya, yuk!
Eko: Ke mana?
Sutrisno: Temanin
saya mandi.
Eko: Enggak enggak
enggak. Mandi saja sendiri. Tenang saja, kuntilanaknya enggak akan muncul jam
segini.
Sutrisno: Ya
sudahlah.
Sutrisno agak tenang
sedikit, meski masih terbayang sosok kuntilanak semalam.
Sutrisno pun pergi ke
kamar mandi, terlebih kulitnya sudah terasa sangat lengket.
Byur byur byur!
Sutrisno meyiram
tubuhnya. Kemudian pakai sabun.
Tok tok tok! (3X)
Alangkah terkejutnya
Sutrisno. Dia seketika terdiam seperti orang kemasukan. Jantungnya berdetak
kencang laksana mau copot. Ia berasa ingin mati.
Sembilan ketukan
berbunyi di pintu kamar mandi.
Sutrisno diam saja
dengan posisi sedang memegang gayung berisi air. Sabun masih melekat di
badannya.
Eko: Hahahak!
Setelah diam dua
menit lamanya, akhirnya Sutrisno mendengar suara tawa Eko di luar kamar mandi.
Sutrisno: An****!
Sa**! Mon***! Kutu Busuk! (Nama-nama binatang)
Sutrisno: Parah kamu,
Ko! Brensek! (Marah bukan main)
Byur byur byur!
Sutrisno buru-buru
menyiram badannya.
Sutrisno: Sialan anak
ini! Kerjain saya! Awas nanti! (Marah-marah sendiri)
Selesai mandi,
Sutrisno buru-buru membuka pintu dan keluar.
Sutrisno: Hah!
Sutrisno terkejut
lemas dan refleks melangkah mundur masuk ke kamar mandi lagi.
Bduk!
Saat mundur, kaki
Sutrisno tersandung semen pembatas di bawah pintu kamar mandi, membuatnya jatuh
terduduk di lantai.
Sebelumnya, Sutrisno
melihat satu sosok perempuan pakai rok putih dan berambut panjang. Tubuh
perempuan itu menggantung di atap rumah seperti gantung diri. Kedua tangannya
terjuntai dan kakinya tidak terlihat. Kepalanya goyang-goyang, tapi wajahnya
tidak terlihat.
Kuntilanak: Hihihi …!
Kuntilanak itu
tertawa kencang sekali.
Sutrisno: Ekooo!
Ekooo!
Sutrisna teriak
histeris ketakutan sambil memejamkan mata.
Eko datang berlari ke
kamar mandi karena mendengar teriakan Sutrisno.
Eko: Tri, kamu
kenapa, Tri?!
Saat Sutrisna membuka
matanya, di pintu kamar mandi sudah ada Eko Subagyo.
Beberapa tetangga
yang sedang nogkrong di depan rumah juga datang untuk melihat apa yang terjadi.
Tetangga 1: Kenapa,
kenapa, kenapa?
Eko: Biasa, ada yang
suka sama Mas Tri. (Sambil tersenyum lebar)
Tetangga 2: Kenapa
sih?
Eko: Itu ada yang
dikasih lihat sama kuntilanak. Hahaha!
Sutrisno masih pucat,
belum bisa ngomong.
Tetangga 1: Ambilkan
air minum!
Sutrisno yang masih
pakai handuk lalu diberi minum, diberi rokok.
Setelah Sutrisno
cukup tenang, barulah Eko dan yang lainnya bertanya lagi.
Eko: Kamu kenapa,
Tri?
Sutrisno pun
bercerita bahwa dia melihat kuntilanak menggantung di atap rumah.
Sutrisno: Gara-gara
Eko sih, sialan banget, pakai ketok-ketok pintu.
Eko: Kok saya, Tri?
Jangan sembarangan kamu, Tri!
Sutrisno: Kamu kan
tadi, yang ketok-ketok pintu kamar mandi? Orang kamu ketawa. Kamu ketok-ketok saja
jantung saya sudah mau copot, terus kamu ketawa. Siapa kalau bukan kamu?
Eko: Sumpah demi
Allah, Tri! Saya enggak ketok-ketok pintu kamar mandi. Dari tadi saya di depan
sama anak-anak.
Sutrisno: Jangan
sumpah-sumpahan begitulah!
Eko: Kalau enggak
percaya, tanya nih sama anak-anak.
Eko: Saya tadi masuk,
gak? (Bertanya kepada tetangga)
Tetangga 1: Eko di
sini kok dari tadi bareng kita.
Sutrisno: Loh, terus
yang tadi ngetok siapa?
Eko: Ya enggak tahu.
Itu kali kuntilanaknya pinjam suaraku. Dia yang ngetok-ngetok biar kamu tenang.
Ramai-Ramai: Hahaha
…! (RH)


Itu berarti orang kampung situ udh biasa dengan keberadaan kuntilanak itu ya?
BalasHapuskayaknya, apalagi si eko
Hapus